
Zaya melihat pantulan dirinya dicermin. Tampak dihadapannya seorang pengantin wanita dengan balutan gaun pengantin modern, tersenyum pada dirinya sendiri.
Seorang make up artist memoles wajah Zaya dengan make up flawless, membuat wajah cantiknya itu terlihat semakin sempurna.
Secara keseluruhan, penampilan Zaya sangat luar biasa. Ia tampak seperti bidadari yang turun dari khayangan.
Cantik, anggun dan mempesona.
Tak lama kemudian Kara dan Fina membimbing Zaya menuju tempat dimana ia dan Aaron akan mengikat janji.
Zaya memasuki ruangan.
Sontak dadanya menjadi berdegup tak beraturan. Ternyata undangan yang datang lebih banyak dari bayangannya. Dan saat ini semua mata mereka tengah tertuju hanya kepadanya, Sang Ratu hari ini.
Zaya menatap kedepan. Disana telah ada Aaron sedang berdiri menunggunya. Tak jauh dari sana juga ada Albern yang telah mengembangkan senyumnya sejak tadi.
Hati Zaya semakin membuncah. Perasaan bahagia itu tiba-tiba menjadi tak terbendung lagi, meluap tak tertahankan membanjiri setiap relung hatinya.
Haru, senang, bahagia...
Semua rasa itu bercampur menjadi satu, mengiringi langkah Zaya menuju kearah Aaron.
Kini mereka bersanding, saling memandang dan berhadapan. Menyambut tangan satu sama lain menuju gerbang kehidupan yang baru.
Prosesi pernikahan pun dimulai.
Zaya dan Aaron. Hari ini, sekali lagi mereka mengucapkan janji untuk saling mencintai, menghargai, dan melengkapi satu sama lain selama sisa hidup mereka.
Janji yang dulu pernah mereka ucapkan tanpa cinta, dan kali ini mereka mengulanginya dengan segenap cinta.
Zaya dan Aaron. Hari ini, sekali lagi mereka bersatu dalam sebuah ikatan suci, menjadi sepasang manusia yang bersatu. Sah dihadapan Tuhan dan juga hukum.
Dan kali ini mereka juga berjanji, apapun yang terjadi, mereka tak akan pernah meninggalkan satu sama lain lagi.
Riuh tepuk tangan para undangan menyambut pasangan pengantin ini saat mereka dinyatakan sah sebagai suami istri lagi.
Acara pun terus bergulir. Satu persatu tamu undangan datang untuk memberikan selamat pada Aaron dan Zaya.
Kemudian Zaya melihat seseorang yang dikiranya tidak akan datang kepesta pernikahannya hari ini. Evan.
Lelaki itu melangkah menuju pelaminan, tempat Zaya dan Aaron menerima ucapan selamat dari para undangan.
Evan berdiri dihadapan Zaya sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Seulas senyuman pun tersungging dibibirnya
"Selamat, Dee. Semoga kamu selalu bahagia. Jadilah istri yang baik untuk suamimu." Evan mengucapkan selamat dengan tulus. Jelas terlihat ada luka dimata lelaki itu, tapi sebisa mungkin ia menahannya dan menutupinya dengan senyuman.
Zaya menatap Evan. Tangannya tak kunjung menyambutkan uluran tangan dari Evan, tapi kemudian ia langsung memeluk Evan erat.
"Terima kasih, Kak. Aku pikir Kakak tidak akan datang." Gumam Zaya sambil masih memeluk Evan.
Evan membiarkan Zaya sedikit lebih lama didalam pelukannya. Kemudian dia mengurai pelukan Zaya dan kembali tersenyum. Tangannya terulur menyentuh pipi Zaya.
"Hari ini kamu cantik sekali. Akhirnya impianmu menjadi pengantin yang cantik menjadi kenyataan." Ujar Evan.
Zaya terdiam. Ia ingat impian masa kecilnya itu. Ia mengatakannya saat ia kecil dulu berjanji akan menikah dengan Evan. Zaya hanya berharap setelah ini Evan bisa melupakannya dan membuka hati untuk perempuan lain.
Tiba-tiba Zaya merasakan pinggangnya direngkuh oleh seseorang. Ia menoleh. Terlihat Aaron sedang dalam mode waspadanya. Lelaki itu menatap kearah Evan yang belum berpaling dari Zaya.
"Apa Anda tidak ingin mengucapkan selamat untukku juga, Dokter Evan?" Suara Aaron mau tak mau membuat Evan menoleh.
Evan pun berusaha untuk menguasai dirinya yang mulai terbawa perasaan. Apapun yang dirasakannya saat ini, dia tidak ingin sampai membuat keributan. Bagaimanapun hari ini adalah hari bahagia Zaya. Evan tidak boleh sampai mengacaukannya.
"Kak Evan..." Panggil Zaya saat Evan hendak undur diri.
"Aku tetap Dee-nya Kak Evan. Kak Evan akan tetap menjadi Kakakku." Ujar Zaya.
Evan menoleh. Ia kembali berusaha tersenyum dan mengangguk. Kemudian dia kembali meneruskan langkahnya dan menghilang di antara tamu-tamu yang lain.
Zaya masih terpaku meski Evan sudah tidak ada lagi. Hatinya jadi ikut sedih melihat Evan tadi.
Kemudian Zaya dikejutkan dengan para undangan yang sedikit heboh. Rupanya Aaron sudah tidak disampingnya. Lelaki itu menaiki panggung dan meminta perhatian dari para tamu undangan. Entah apa yang akan disampaikannya.
Suara instrumen musik pun terdengar, membuat mata Zaya membulat sempurna. Apakah Aaron akan bernyanyi?
Dan ya, benar saja. Lelaki itu mulai melantunkan sebuah lagu milik salah satu penyanyi kesukaan Zaya. Lagu yang berisi tentang ungkapan cinta seorang lelaki kepada perempuan yang dipujanya.
Zaya meremang. Suara Aaron terdengar sangat merdu. Zaya baru tahu jika Aaron memiliki suara emas bak penyanyi profesional. Ini pertama kali Zaya mendengar lelaki itu bernyanyi. Mungkin semua undangan yang hadir disini pun demikian.
Airmata Zaya menetes tak terasa. Ia bisa merasakan besarnya cinta dan ketulusan Aaron lewat lagu yang dinyanyikannya itu. Sungguh hati Zaya hangat dan penuh dibuatnya.
Lagu pun berakhir. Tapi Aaron masih belum turun dari panggung. Tampaknya masih ada yang ingin disampaikannya didepan semua orang.
"Istriku, kemarilah." Aaron memanggil Zaya masih dengan menggunakan mikrofon.
Zaya pun medekat.
Aaron menyambut Zaya dan langsung merengkuh pinggangnya.
"Istriku, sudahkah hari ini aku mengatakan jika aku mencintaimu?"
Pertanyaan Aaron disambut riuh tepuk tangan dari para undangan.
Zaya terpana. Ia pun mengerti. Sepertinya Aaron sedang ingin menunjukkan pada semua orang jika dia sangat mencintai perempuan yang dinikahinya hari ini.
Kemudian Aaron menatap kembali kearah para undangan. Sepertinya Aaron belum selesai dengan deklarasi cintanya.
"Aku mencintai istriku yang kunikahi hari ini. Dan jika ada yang penasaran apa aku juga mencintai istri pertama yang dulu aku nikahi. Maka jawabannya adalah ya. Aku juga mencintai istri pertamaku dulu. Aku mencintai keduanya sama besar..."
Aaron menghentikan kalimatnya sejenak hingga membuat suasana hening. Semua orang menunggu kelanjutan dari kalimat Aaron.
"Karena keduanya adalah wanita yang sama. Istri yang kunikahi dulu, dan yang kunikahi sekarang, keduanya adalah wanita yang sama. Dia adalah ibu dari Albern Brylee, calon pewaris Brylee Group selanjutnya."
Aaron kembali mengambil jeda sejenak.
"Kisah cinta kami memang berliku. Menikah, bercerai, kemudian sekarang menikah kembali. Tapi satu hal yang pasti, tidak peduli berapa kali aku akan menikah, tapi perempuan yang kunikahi tetap hanya satu, hanya Zaya Diandra. Perempuan yang sudah menguasai hatiku sepenuhnya. Sekarang dan juga nanti."
Riuh tepuk tangan dari para tamu undangan menyambut kalimat terakhir yang diucapkan Aaron. Kini semua orang tahu siapa sosok ibu kandung Albern yang selama ini disembunyikan oleh Aaron. Dan ternyata itu adalah orang yang dinikahi Aaron hari ini.
Terlepas dari bagaimana orang-orang menanggapi pengakuan Aaron tadi, Zaya tetap merasa terharu. Airmatanya tak henti mengalir membasahi pipinya. Lelaki ini akhirnya benar-benar mengakuinya dihadapan semua orang.
Zaya berhambur kedalam pelukan Aaron. Rasa bahagia yang begitu membuncah membuatnya tak bisa menahan diri lagi untuk tidak memeluk lelaki ini.
Zaya bahagia. Benar-benar bahagia.Tak ada kata yang mampu melukiskan bagaimana bahagianya ia hari ini.
Bersambung...
Maaf telat, soalnya semalem tiba2 ada kerjaan mendadak.
Jgn lupa vote ya sayang
Happy reading❤❤❤