Since You Married Me

Since You Married Me
Liburan Keluarga



Aaron dan Zaya tertegun sejenak, lalu saling pandang.


"Al mau makan jagung bakar di puncak?" Tanya Zaya.


Albern mengangguk dengan penuh harap.


"Weekend nanti ya, Ma. Kita ke puncak terus makan jagung bakar. Kata teman Al kalau makan jagung bakar di rumah rasanya tidak enak." Ujar bocah itu lagi.


Zaya terdiam sesaat, lalu sejurus kemudian ia tersenyum pada putranya itu.


"Oke, Sayang. Weekend nanti kita pergi ke puncak dan makan jagung bakar. Apa ada yang lain lagi?" Tanya Zaya pada Albern.


Albern tampak berpikir.


"Kalau marshmallow bakar dan sosis bakar juga, boleh tidak, Ma?" Tanya Albern kemudian.


Zaya kembali tersenyum dan mengangguk.


"Kita akan bakar sendiri nanti di puncak, biar Papa yang bakar. Oke?"


"Oke!" Albern menjawab dengan penuh semangat.


"Terima kasih, Mama." Albern memeluk Zaya dengan tersenyum cerah.


"Apa Papa juga tidak di peluk? Bukannya Papa yang akan bakar jagungnya nanti?" Tanya Aaron tak mau kalah.


Albern melepas pelukannya pada Zaya, lalu beralih kearah Aaron.


"Terima kasih, Papa." Albern juga berhambur kepelukan Aaron. Aaron memeluk putranya itu, lalu mengangkatnya tinggi hingga Albern tertawa dengan sangat cerah.


Zaya tersenyum melihat dua lelaki kesayangannya ini. Sungguh membahagiakan bisa melihat pemandangan dihadapannya saat ini. Hidupnya kini benar-benar terasa sempurna. Rasanya Zaya tak membutuhkan yang lain lagi.


Setelah melepas pelukan Aaron, Albern pun keluar dari kamar itu, meninggalkan Zaya dan Aaron berdua saja.


Zaya masih tak beranjak dari tempatnya, senyumnya juga masih tersungging di bibirnya. Entahlah, rasanya ia hanya terlalu bahagia.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?" Suara Aaron membuyarkan lamunan Zaya.


Zaya menoleh.


"Tidak ada." Jawab Zaya sambil masih mengulum senyumannya.


Aaron merengkuh tubuh Zaya masuk dalam pelukannya.


"Jelas kau sedang memikirkan sesuatu yang membuat hatimu senang. Katakan apa itu?" Tanya Aaron lagi sambil mencium pipi Zaya.


"Aku senang melihat Albern tertawa seperti tadi. Putra kita itu sangat serius seperti dirimu. Sangat jarang melihat dia ceria seperti anak-anak pada umumnya." Jawab Zaya.


Aaron mengangguk setuju.


"Tapi ngomong-ngomong, kenapa dia mendadak ingin makan jagung bakar di puncak? Apa ada temannya yang baru liburan dari puncak? Atau jangan-jangan dia sedang mengidam juga?" Tanya Aaron.


Zaya tertawa mendengar kalimat Aaron barusan.


"Dia itu ingin liburan, Honey, bukan sedang mengidam. Terakhir kamu mengajaknya berlibur saat kita pergi ke Paris waktu itu. Dan jadwal belajarnya sangat padat akhir-akhir ini. Aku rasa dia merasa agak penat dan ingin berlibur bersama kita." Ujar Zaya.


Aaron terdiam, kemudian mengangguk.


"Benar juga." Gumamnya.


"Tapi aku mengkhawatirkan kondisi kehamilanmu yang semakin dekat dengan persalinan." Lanjut Aaron lagi sambil menangkup wajah Zaya dengan kedua tangannya.


"Aku rasa kalau kita pergi weekend ini tidak akan masalah, Honey. Masih jauh dari jadwal persalinan, jadi masih aman. Kasihan Albern, dia sudah terlanjur senang."


Aaron menghela nafasnya dan mengangguk.


"Kalau begitu, baiklah. Aku akan menyuruh Jennifer mengatur semuanya." Ujar Aaron akhirnya.


Zaya pun tersenyum dan kembali masuk kedalam pelukan Aaron.


___________________________________________


Akhir pekan yang di nantikan Albern akhirnya datang juga. Aaron memboyong keluarga kecilnya ke puncak dan menyewa sebuah vila untuk mereka menginap selama dua hari.


Jennifer dan Jeff juga diajak, untuk berjaga-jaga seandainya Aaron membutuhkan sesuatu.


Albern melihat pemandangan sekitar dengan antusias. Tapi tak lama kemudian, bocah itu terlihat agak bingung.


"Mama, dimana kebun jagungnya?" Tanya Albern pada Zaya.


Zaya mengerutkan keningnya saat mendengar pertanyaan putranya itu.


"Kenapa Al menanyakan kebun jagung? Apa Al ingin lihat kebun jagung?" Tanya Zaya.


Albern menghela.


"Kita kan ke puncak mau makan jagung bakar, kalau kebun jagungnya tidak ketemu, lalu bagaimana kita mau bakar jagung?" Tanyanya agak kesal.


Mendengar itu Zaya pun tertawa kecil.


"Astaga, Sayang. Mama kira kenapa Al bertanya tentang kebun jagung. Kalau jagung yang akan kita bakar, tentu saja sudah ada di vila, tidak perlu ambil ke kebunnya. Aunty Jenn sudah menyiapkan semuanya. Benar, kan, Aunty?" Tanya Zaya pada Jennifer.


"Iya, Tuan Muda. Jagungnya sudah ada, tidak usah khawatir." Jawab Jennifer.


"Lalu, sosis sama marshmallownya?" Tanya Albern lagi.


"Tentu saja sudah siap semua, Jagoan. Bahkan tukang bakarnya pun sudah siap." Kali ini Aaron menimpali sambil mengangkat tubuh putranya itu dan mendudukkannya di pundaknya.


"Ah, Papa...Papa... Al mau turun." Albern menjerit-jerit di selingi dengan tawa saat ia berada di atas pundak Aaron. Tapi Aaron tetap membiarkan putranya itu berada di pundaknya sambil sesekali menggoda.


"Mau terbang seperti Iron Man?" Tanya Aaron saat Albern sudah agak tenang.


"Apa bisa?" Albern malah balik bertanya.


"Tentu saja bisa. Mau?"


"Mau, mau." Albern terlihat antusias.


"Oke... Are you ready?" Aaron mengambil ancang-ancang.


"Ready!"


"One, two..."


"Three. Let's go, Papa!" Albern berteriak penuh semangat bersamaan dengan Aaron yang berlari membawa tubuhnya diatas pundak untuk merasakan sensasi terbang.


"Woahhh...." Albern tertawa-tawa di atas pundak Aaron, sambil sesekali menjerit karena adrenalinnya terpacu. Hilang sudah Albern yang serius dan tenang. Kini putra Zaya dan Aaron menjadi heboh seperti anak-anak pada umumnya.


Untuk kesekian kalinya, Zaya hanya bisa mengulas senyumannya melihat pemandangan yang begitu membahagiakannya itu. Hatinya terasa hangat dan penuh. Ia berharap kebahagiaannya ini tidak akan cepat berlalu.


Malam harinya mereka membuat acara barbekyu. Tidak hanya jagung, sosis dan marshmallow, tapi Jennifer juga telah menyiapkan jamur dan daging yang telah di iris tipis untuk di bakar.


Dan yang istimewanya adalah koki yang akan memasak menu bakar-bakar mereka malam ini. Aaron Brylee, Direktur Utama Brylee Group yang sangat di segani di perusahaan, malam ini menjadi juru masak untuk istri dan anaknya.


Jennifer dan Jeff menjadi pegawai yang beruntung bisa mencicipi hasil masakan bos mereka itu.


Albern makan jagung bakar yang diinginkannya dengan lahap. Sepertinya bocah itu memang sangat ingin makan jagung bakar seperti yang dikatakannya beberapa hari yang lalu.Hingga ia benar-benar tak menyia-nyiakan jagung bakar dihadapannya.


Aaron tersenyum kearah Albern. Lalu pandangannya beralih kedua sejoli yang duduk tak jauh dari sana.


"Jadi kapan kalian akan menikah?" Tiba-tiba Aaron bertanya pada Jennifer dan Jeff yang sedang asyik makan jagung bakar sambil saling berceloteh.


Sontak Pertanyaan Aaron itu membuat keduanya terkejut dan salah tingkah. Mereka heran bagaimana bosnya ini bisa tahu hubungan yang sedang mereka jalani, padahal mereka sudah merahasiakannya dari semua orang.


Andai mereka tahu jika istri bos mereka ini punya mata langit yang bisa mengetahui banyak hal.


"Kami belum berpikir kearah sana, Tuan." Jawab Jennifer dengan malu-malu.


"Jika memang sudah cocok, lebih baik menikah saja, daripada nanti diambil orang lain." Ujar Aaron lagi.


Belum sempat Jennifer ataupun Jeff menanggapi, mereka semua dikejutkan oleh teriakan dari arah dalam Vila.


Aaron langsung bangkit dari duduknya.


'Zaya?'


Bersambung...


Happy reading❤❤❤