
Aaron dan Dean menghentikan pembicaraan mereka, lalu mendekat kearah Zaya dan Kara.
Buru-buru Zaya menarik kembali tangannya dari wajah Kara dan tersenyum canggung kearah Aaron dan Dean. Sedangkan Kara juga ikut memasang wajah tanpa dosa seolah tak terjadi apa-apa.
"Kalian sedang membicarakan apa?" Tanya Aaron pada Zaya.
"Tidak ada." Zaya menggeleng cepat masih dengan senyuman canggungnya.
"Zaya hanya memberikan beberapa nasihat padaku, Tuan Aaron." Kara menimpali.
"Oh, ya?" Tanya Aaron lagi.
"Iya, benar, Tuan. Zaya memberitahuku cara menjadi istri yang baik. Dia juga bahkan mengajarkan bagaimana cara melayani dan menyenangkan suami." Tambah Kara lagi sambil melirik kearah Zaya. Tampaknya ia sedang balas dendam karena Zaya tadi mengerjainya.
Zaya mendelik sambil mencubit lengan Kara.
"Auww!" Kara sedikit terpekik karena cubitan Zaya, lalu tersenyum kearah Dean dan Aaron dengan sedikit meringis.
"Maaf, ada semut menggigit tanganku." Ujarnya sambil berusaha terus tersenyum.
Diluar dugaan, Aaron malah tertawa kecil dan terlihat senang.
"Dean, istrimu berguru pada orang yang tepat. Setelah ini kau pasti akan puas dengan layanan yang diberikannya padamu." Aaron terkekeh sambil menepuk pundak Dean.
"Iya, Tuan." Asisten Dean menjawab sambil tersenyum canggung.
Kara agak melebarkan matanya mendengar apa yang dikatakan Aaron. Ia menoleh kearah Zaya seolah sedang meminta penjelasan. Tapi Zaya hanya mengangkat bahunya tanda tidak tahu.
"Aku katakan satu hal sebagai lelaki yang telah lebih dulu menikah, Dean. Jika ingin rumah tanggamu tentram, selain harus setia, kau juga harus pandai merayu." Ujar Aaron sambil masih terkekeh.
Zaya mencebikkan bibirnya sambil melengos kearah lain.
"Memangnya aku suka rayuan apa?" Gumamnya.
"Dan satu lagi." Aaron mencondongkan tubuhnya kearah Dean.
"Jangan pernah mengakhiri permainan jika istrimu belum mencapai puncak, nanti dia bisa marah dan tidak mau kau ajak bermain lagi." Bisik Aaron dengan nada rendah.
Dean tampak melebarkan matanya, lalu menoleh kearah Kara. Sedangkan Aaron kembali terkekeh sambil menepuk-nepuk lagi pundak Dean.
"Kalau begitu, selamat berjuang, Dean. Semoga beruntung." Ujar Aaron lagi sambil mendekat kearah Zaya. Lalu dibimbingnya istrinya itu duduk di sebuah kursi untuk beristirahat.
Beberapa saat kemudian, Asisten Jennifer dan Sekertaris Jeff juga datang. Mereka telihat telah semakin dekat dibandingkan terakhir kali terlihat.
Jeff terlihat tampan hari ini. Jennifer juga tampil dengan lebih feminim, meski tentu tak mengurangi kadar otot didalam tubuhnya.
Jeff dan Jennifer berjalan berdampingan, layaknya pasangan pada umumnya. Tapi jika pada pasangan lain si lelaki terlihat begitu melindungi perempuannya, kali ini berbeda. Tampak terlihat jika Jennifer yang sangat melindungi Jeff. Bahkan saat kaki Jeff tersandung dan hampir tersungkur, dengan sigap Jennifer menangkap tubuh Jeff.
Benar-benar terlihat seperti seorang ksartia yang menyelamatkan seorang gadis cantik. Dan yang lebih mengesankan, saat Jennifer mengatakan kata-kata manisnya pada Jeff.
"Setiap melihatmu, entah kenapa aku merasa selalu ingin melindungimu."
Sebuah kalimat yang sepantasnya diucapkan oleh seorang lelaki pada perempuannya, bukan sebaliknya.
Jeff hanya tersipu mendengar apa yang dikatakan Jeff padanya. Seperti seorang anak gadis yang mendengarkan rayuan seorang pemuda.
Dari kejauhan, Zaya tersenyum melihat interaksi Jenniifer dan Jeff. Tampaknya tawaran Jeff tempo hari sudah di terima Jennifer, meski belum ada seminggu sejak Jeff mengutarakan isi hatinya.
"Honey." Panggil Zaya pada Aaron.
Aaron menoleh.
"Sepertinya, setelah ini kita akan menghadiri pernikahan bawahanmu yang satunya lagi."
___________________________________________
Kara bersandar di pintu kamar mandi sembari menetralkan debaran di dadanya. Dihelanya nafas beberapa kali agar ia menjadi lebih tenang dan rileks.
Sekilas Kara melihat pantulan dirinya melalui kaca wastafel. Penampilannya terlihat cukup menggoda. Ia mengenakan gaun tidur yang telah disiapkan Zaya untuk malam pengantinnya. Meski bukan lingarie, gaun tidur ini membuat lekuk tubuhnya telihat semakin menggiurkan.
Sudah dipastikan Dean tak akan bisa menahan diri jika melihat Kara saat ini.
Kara memutar knop pintu kamar mandi untuk keluar. Tapi sejurus kemudian, ia kembali teringat kata-kata Zaya tentang disodok tongkat bisbol. Tiba-tiba Kara merasa ngilu sendiri dan mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar mandi.
"Sayang." Terdengar suara Dean telah memanggilnya.
"Ya." Jawab Kara dari dalam kamar mandi.
"Kenapa kamu lama sekali? Apa ada masalah?" Tanya Dean lagi sambil mendekati pintu kamar mandi.
"Aku masuk, ya?"
Dean penasaran kenapa Kara butuh waktu yang begitu lama hanya untuk mandi. Dia takut ada hal yang tak diinginkan terjadi.
"Tidak perlu. Aku sebentar lagi keluar." Jawab Kara dari dalam.
Tak berselang lama, pintu kamar mandi pun terbuka. Tampak Kara keluar dengan sedikit malu-malu.
Dean terkesiap. Gaun tidur tipis yang dikenakan Kara membuat ia menelan liurnya tanpa sadar.
Istrinya ini terlihat sangat cantik dan juga...seksi.
Kara duduk dipinggiran tempat tidur dengan sedikit menundukkan wajahnya, ia terlihat malu dan juga agak cemas, membuat Dean tak bisa menahan diri lebih lama lagi untuk tak mendekatinya.
Dean juga mendudukkan dirinya di pinggiran tempat tidur, bersebelahan dengan Kara. Jarak mereka mungkin hanya satu senti, atau bisa juga dibilang tak ada jarak lagi. Saking dekatnya, Dean sampai bisa mencium aroma harum dari sabun yang digunakan Kara tadi.
Tangan Dean terulur menyentuh pipi Kara dengan lembut. Lalu tangan satunya memegang dagu Kara dan mengangkat wajah istrinya itu agar melihat kearahnya.
Kara mendongak. Tatapan mereka bertemu dan terkunci untuk beberapa saat. Dapat Dean dengar detak jantung Kara yang lebih cepat dari biasanya.
Dean tersenyum dan mencium kening Kara.
"Jangan gugup. Kita lakukan pelan-pelan saja." Bisiknya di telinga Kara.
Kara menelan salivanya.
"Apa rasanya akan sakit?" Tanya Kara.
"Mungkin. Tapi aku akan berusaha selembut mungkin agar kamu merasa nyaman." Jawab Dean sambil membelai wajah Kara.
Tatapan mereka menjadi semakin dalam dan perlahan wajah Dean semakin mendekat pada wajah Kara.
Cup.
Sebuah ciuman mendarat di bibir Kara. Dean memagut dengan lembut bibir atas dan bawah secara bergantian, lalu menyesapnya dengan penuh perasaan.
Perlahan Kara terhanyut dengan perlakuan lembut suaminya itu. Tanpa sadar ia mengalungkan tangannya ke leher Dean dan memejamkan matanya. Kara pun mulai membalas pagutan bibir Dean dan membuka mulutnya untuk memberi akses bagi Dean agar bisa semakin dalam menciumnya.
Semakin lama ciuman itu semakin panas dan menggairahkan. Tangan Dean yang tadinya hanya mengusap punggung Kara, kini mulai merambah ke dada Kara.
Kara menggeliat dan sedikit mendesah, membuat Dean menjadi semakin bergairah.
Tapi kemudian Kara merasa sedikit tidak nyaman ditubuh bagian bawahnya. Perlahan perutnya mulai terasa sakit, hingga ia tak bisa menikmati lagi cumbuan Dean yang telah semakin gencar.
Kara teringat jika sedari kemarin adalah jadwal siklus bulanannya. Jika kemarin tidak datang, maka hari ini jangan-jangan...
Kara menghentikan ciuman panas mereka, lalu berlari kekamar mandi, meninggalkan Dean yang termangu dengan keheranan.
Lima menit kemudian, Kara keluar dari kamar mandi dan berjalan kearah Dean dengan ekspresi yang sulit di jelaskan.
"Sayang, maaf, kita tidak bisa melanjutkan yang tadi." Ujar Kara dengan ragu-ragu.
Dean menautkan kedua alisnya.
"Aku berdarah." Ujar Kara lagi.
"Berdarah? Kamu terluka?" Tanya Dean dengan wajah cemas.
Kara menggeleng.
"Bukan. Maksudku aku baru saja kedatangan tamu bulananku. Aku sedang menstruasi." Jawab Kara pelan.
Dean terdiam. Dia membeku layaknya patung. Terasa seperti ada yang sangat menyakitkan disalah satu bagian tubuhnya. Dean sungguh tak menyangka, malam pengantin yang dinantikannya selama ini, menjadi malam pengantin berdarah.
Bersambung...
Sabar ya Deanš
Happy readingā¤ā¤ā¤