
Zaya terdiam agak lama. Otaknya kembali dipaksa untuk berpikir atas yang dilakukan Aaron kali ini. Semalam lelaki itu menciumnya tanpa permisi, lalu sekarang mengirimkan banyak bunga sebagai ungkapan permintaan maaf.
Sebenarnya apa yang saat ini Aaron coba lakukan? Apa Aaron sedang memainkan sebuah permainan?
Tidak pernah sebelumnya Aaron melakukan hal-hal berbau romantis seperti ini sebelumnya, meski saat sedang meminta maaf sekalipun. Zaya menjadi semakin tidak mengerti dibuatnya, ia penasaran apa sebenarnya tujuan Aaron melakukan ini.
Zaya pun kembali mengeluarkan ponselnya lalu mencari nomor kontak seseorang. Awalnya ia ragu untuk mendial nomor kontak itu, tapi karena tidak ingin berlarut-larut ia terpaksa menekan tombol panggil dilayar ponselnya.
Panggilan tersambung. Zaya tampak tegang menunggu orang itu mengangkat telfonnya.
Kara yang melihat ekspresi serius Zaya pun memutuskan untuk kembali kedapur dan memberi Zaya ruang. Meski tak dipungkiri, setelah kembali sejak menghilang tujuh tahun lalu, sosok Zaya menyimpan banyak kejutan dan penuh dengan teka-teki. Hingga membuat Kara selalu saja penasaran dengan fakta yang Zaya simpan.
Beberapa saat berlalu, tetapi tidak ada tanda jika seseorang diseberang sana akan mengangkat telfonnya. Lalu saat Zaya hendak memutus sambungan telfon itu, panggilan itu akhirnya dijawab.
"Halo." suara berat Aaron yang khas membuat Zaya terkesiap. Untuk sesaat Zaya kehilangan kata-kata dan lupa dengan maksudnya menelfon Aaron.
"Zaya?" suara Aaron yang kembali terdengar membawa Zaya kembali ke alam sadarnya.
"I-iya." jawab Zaya dengan sedikit terbata.
"Ada apa?" tanya Aaron.
Zaya terdiam sesaat, menyusun kata yang tadi ingin disampaikannya pada Aaron.
"Kamu yang mengirimkan bunga ke kafeku?" tanya Zaya kemudian.
Aaron tak langung menjawab.
"Apa sudah sampai?" tanya Aaron balik tanpa menjawab pertanyaan dari Zaya.
"Jadi benar kamu yang mengirim bunga-bunga itu." simpul Zaya.
"Iya." jawab Aaron akhirnya.
"Apa kau menyukainya?" tanyanya kemudian.
Zaya terdengar menghela nafasnya.
"Kenapa kamu melakukan itu?" tanya Zaya tanpa menjawab pertanyaan dari Aaron.
Aaron terdiam sesaat.
"Tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin meminta maaf padamu atas kejadian semalam." jawab Aaron akhirnya.
Zaya tampak tak percaya dengan yang Aaron katakan.
"Ini tidak terdengar seperti dirimu, Aaron. Katakan apa sebenarnya tujuanmu melakukan semua itu. Apa kau sedang ingin bermain-main denganku?" tanya Zaya sarkas.
Aaron kembali terdiam
"Tidak!" jawabnya kemudian.
"Aku tidak pernah bermain-main denganmu, sekarang ataupun dulu." tambahnya lagi dengan tegas dan mantap.
Kini berganti Zaya yang terdiam dan tak tahu harus berkata apa.
"Aku tulus ingin meminta maaf padamu. Semua yang terjadi semalam benar-benar tidak disengaja. Tolong jangan salah paham, Zaya. Maafkan aku." ujar Aaron lagi. Suaranya terdengar sangat lembut, hingga lagi-lagi Zaya tidak tahu harus menanggapinya seperti apa.
Entah kenapa, Zaya merasa saat ini Aaron menjadi sosok yang berbeda dengan yang selama ini dikenalnya. Dan Zaya bingung harus menghadapi Aaron yang sekarang ini seperti apa.
Zaya berdehem menetralkan kecanggungannya.
"Baiklah. Tidak perlu mengingatnya lagi. Anggap saja tidak terjadi apa-apa. Tapi jika di lain waktu kita bertemu lagi, aku harap kita bisa saling menjaga jarak." ujar Zaya akhirnya.
Aaron tampak terdiam dan tak langsung menjawab.
"Baiklah, jika itu keinginanmu." jawabnya kemudian.
Zaya menautkan kedua alisnya. Kenapa Zaya merasa suara Aaron barusan terdengar sedikit sedih. Apa Zaya telah mengatakan hal jahat yang menyakitinya? Tapi Zaya merasa tidak ada yang salah dengan kata-katanya.
Ah, sudahlah. Untuk apa juga ia mengkhawatirkan sesuatu yang tidak perlu. Yang penting sekarang Zaya sudah menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan pada Aaron. Lalu setelah ini ia tidak perlu memusingkan hal apapun lagi yang berkaitan dengan Aaron. Ya, lebih baik seperti itu.
"Apa masih ada hal yang mau kau sampaikan padaku?" Terdengar Aaron kembali bertanya.
"Ti-tidak ada." jawab Zaya dengan sedikit terbata.
Zaya agak terkejut mendengarnya.
"Ah, iya. Silahkan." jawabnya. Lalu sambungan telfon pun terputus.
Tapi Zaya masih tercenung sambil menatap layar ponselnya dengat raut wajah tak percaya.
Aaron mengangkat telfon darinya saat sedang meeting?
Zaya semakin tak paham saja dibuatnya. Selama ini Aaron tidak akan menjawab telfon dari siapapun saat dia sedang meeting. Kalaupun merasa panggilan itu penting dan harus dijawab, maka yang akan menjawabnya adalan Asisten Dean, bukan Aaron.
Lalu kenapa sekarang dia menjawab sendiri telfon dari Zaya seolah Zaya lebih penting dari meetingnya itu sendiri.
Lagi-lagi Zaya harus berpikir agak keras untuk memahami situasinya dengan Aaron sekarang.
Sudahlah, Zaya. Lupakan.
Zaya menenangkan dirinya sendiri.Tidak perlu baginya sekarang memusingkan hal seperti ini. Antara dia dan Aaron sekarang sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, jadi tidak usah terlalu memikirkan tentang perubahan sikapnya. Aaron hanyalah masa lalu, dan sekarang fokusnya adalah masa depan.
Benar. Zaya harus berhenti memikirkan apapun yang berkaitan dengan Aaron lagi. Yang harus dipikirkannya adalah bagaimana kehidupannya kelak dimasa depan. Jika ia ingin bahagia, maka ia sendirilah yang harus membuat hidupnya bahagia, bukan orang lain.
___________________________________________
Zaya meletakkan ponselnya sembari berpikir dan menimbang-nimbang. Barusan Kara menghubungi Zaya dan memintanya datang kerumah Kara.
Kara memasak makan malam sendiri dirumahnya dan mengundang kekasih yang belum lama ini dipacarinya untuk makan malam bersama. Itulah sebabnya ia meminta Zaya untuk ikut bergabung.
Sepertinya gadis itu ingin mengenalkan kekasih barunya itu pada Zaya. Sore tadi Kara bahkan sesumbar jika kekasihnya itu sangat tampan dan menggemaskan.
Zaya jadi penasaran, setampan dan semenggemaskan apa lelaki itu sampai bisa menaklukan kucing liar seperti Kara.
Yang Zaya tahu, meski Kara terkesan mudah akrab dengan semua orang, tapi ia bukanlah gadis yang mudah terpesona dan jatuh cinta dengan seorang pria. Bahkan dia dulu pernah menolak mentah-mentah seorang pemuda tampan yang meyukainya karena menganggap pemuda itu adalah seorang playboy.
Pastilah kekasih Kara itu punys trik yang sangat jitu hingga bisa membuat Kara tak kuasa untuk menolak.
Karena rasa penasaran itu, disinilah Zaya sekarang. Ia berdiri didepan pintu kediaman Kara dan mengetuknya beberapa kali.
Tak lama pintu terbuka. Tampak Kara menyambut dengan senyum semringah. Sepertinya ia sangat bahagia malam ini, terlihat dari wajahnya yang lebih berseri dari biasanya.
"Ayo, masuk." ajaknya sambil merangkul Zaya dan membimbingnya keruang makan.
Tampak meja makan telah tertata rapi dengan hidangan makan malam dan piring yang disiapkan untuk tiga orang. Tak lupa Kara juga menyalakan lilin diatas meja untuk menambahkan kesan romantis.
Zaya jadi merasa bersalah karena harus menjadi orang ketiga bagi Kara dan Kekasihnya malam ini.
"Ayo, duduk. Pacarku juga baru datang." ujar Kara sambil menarik kursi untuk Zaya.
Zaya duduk sambil memperhatikan sekeliling.
"Dimana dia?" tanya Zaya penasaran.
"Tunggu sebentar, dia sedang ditoilet." jawab Kara sambil ikut duduk dikursi yang berhadapan dengan Zaya.
Tak lama kemudian, pintu toilet rumah Kara pun terbuka. Seorang lelaki keluar dari sana disambut senyuman manis dari Kara.
"Sayang, kemarilah. Aku kenalkan kamu pada sahabatku." ujar Kara pada lelaki itu.
Zaya pun mengangkat wajahnya dan ikut melihat kearah lelaki itu.
Tapi kemudian Zaya terkejut, begitu pun dengan lelaki itu.
Zaya membulatkan matanya sembari bangkit dari duduknya. Sedangkan lelaki itu hanya bisa mematung ditempatnya semula.
"Asisten Dean...?"
"Nyonya...?"
Mereka berguman bersamaan, ditanggapi dengan tatapan keheranan dari Kara.
Bersambung.....
Satu part lagi ntar malem ya, jgn lupa like, komen dan votenya.
Happy reading❤❤❤