
Setelah sarapan Aaron dan Zaya pergi melihat-lihat pemandangan sekitar vila dengan berjalan kaki. Tentu saja sebelum itu mereka sempat memberi tahu Bu Nia terlebih dahulu jika mereka akan pergi.
Zaya mengajak Aaron menyusuri sungai kecil yang ada disana, sebelum akhirnya mereka duduk di tengah hamparan bunga yang sedang bermekaran.
Zaya merebahkan dirinya di rerumputan yang empuk, yang akhirnya di ikuti juga oleh Aaron. Mereka berdua seperti tokoh Bella Swan dan Edward Cullens dalam film Twilight yang sedang memadu kasih di padang rumput.
Zaya menghirup udara pagi yang segar dalam-dalam. Seakan ingin menyimpan sebanyak-banyaknya oksigen di dalam paru-parunya. Tak lama kemudian, seulas senyuman hadir di wajah cantiknya. Entah kenapa, hanya dengan berbaring di rerumputan bersama Aaron seperti ini saja, hatinya terasa begitu bahagia. Rasanya ia tak menginginkan apapun lagi. Hidupnya kini benar-benar terasa lengkap.
"Honey." Suara Zaya memecah kesunyian.
Aaron menoleh.
"Apa seperti ini rasanya berpacaran?" Tanya Zaya.
Aaron menautkan kedua alisnya.
"Entahlah, aku tidak pernah berpacaran sebelumnya." Jawab Aaron.
"Aku juga." Zaya tertawa kecil. Sejak tadi, entah sudah berapa banyak ia tertawa.
"Tapi rasanya saat ini kita seperti orang yang sedang berpacaran saja." Ujar Zaya lagi
"Benarkah?" Aaron melihat kearah Zaya.
"Lalu apalagi yang di lakukan orang yang sedang berpacaran?" Tanya Aaron ingin tahu.
"Mm... Apa, ya?" Zaya tampak berpikir.
"Mungkin berciuman?" Guman Zaya ragu.
"Seperti ini?" Aaron bangkit dan mencium Zaya dengan lembut.
Agak lama bibir mereka saling bertautan, sebelum akhirnya saling melepaskan karena sama-sama kehabisan nafas.
"Setelah ini apalagi yang dilakukan orang yang berpacaran?" Tanya Aaron lagi.
Zaya yang sedang menertalkan nafasnya pun menggeleng.
"Aku tidak tahu lagi, yang aku lihat saat teman-teman sekolahku berpacaran dulu cuma itu." Jawab Zaya jujur sambil tertawa renyah.
"Kenapa kau sangat tertarik dengan berpacaran jika yang bisa di lakukan hanyalah sekedar berciuman. Tidak seru sama sekali, Sayang." Aaron berkomentar.
Zaya menoleh dan melihat kearah Aaron.
"Lalu yang seru itu seperti apa?" Tanya Zaya.
"Tentu saja seperti yang kita lakukan semalam." Jawab Aaron gamblang.
"Astaga..." Zaya bergumam pada dirinya sendiri.
"Kenapa?" Tanya Aaron dengan wajah tanpa dosa.
"Tidak ada." Jawab Zaya cepat.
"Untung saja kamu tidak pernah berpacaran, Honey." Ujar Zaya.
"Kalau tidak aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya." Tambahnya lagi dengan nada prihatin.
"Apa maksudnya itu?" Tanya Aaron pura-pura marah.
Zaya tertawa sambil mengacungkan dua jari tanda damai.
"Tapi, Sayang. Sedari tadi aku bertanya-tanya tentang satu hal." Ujar Aaron kemudian dengan serius.
"Apa itu?" Tanya Zaya penasaran.
"Kita berbaring diatas rumput seperti ini? Apakah nanti tubuh kita tidak gatal?" Aaron bertanya dengan serius.
Sontak Zaya tertawa sambil bangkit dari posisi berbaringnya.
"Benar juga. Kenapa tidak terpikirkan olehku sebelumnya." Ujar Zaya sembari mengibas-ngibaskan sedikit punggungnya dengan tangan.
Mereka berdua sama-sama tertawa, sebelum kemudian kembali melanjutkan jalan-jalannya.
Diperjalanan keduanya bertemu dengan penjual buah stroberi yang baru di petik. Aaron membeli dua kotak stroberi, lalu mengajak Zaya duduk di sebuah bangku yang terletak tak jauh dari sana.
Keduanya duduk berdampingan sambil sama-sama memangku sekotak stroberi. Terlihat seperti sepasang remaja yang sedang menghabiskan waktu bersama setelah berhasil kabur dari sekolah.
Aaron memakan stroberi miliknya dengan nikmat, sedangkan Zaya memperhatikan Aaron memakan buah berwarna merah itu sambil memicingkan matanya. Zaya memang tidak terlalu suka dengan rasa asam, walaupun dalam keadaan hamil seperti sekarang ini.
"Apa rasanya?" Tanya Zaya penasaran.
"Manis." Jawab Aaron sambil mengigit satu buah lagi. Dia mengunyah buah itu seolah-olah rasanya memang manis. Zaya pun jadi tergelitik untuk mencobanya juga. Diambilnya satu dari kotak miliknya, lalu digigitnya buah stroberi itu dengan ragu.
"Manis apanya? Ini asam, Honey!" Protes Zaya marah.
Aaron terkekeh.
"Tapi punyaku manis." Kilah Aaron.
"Masa?" Tanya Zaya tak percaya. Diambilnya stroberi yang berada ditangan Aaron, yang telah digigit Aaron sebelumnya, dan di cobanya juga.
Reaksi Zaya sama seperti sebelumnya.
"Ini juga asam, kamu bohong." Sungutnya.
Aaron kembali terkekeh. Lalu kembali memasukan satu lagi buah stoberi kedalam mulutnya.
"Tapi kenapa kalau aku yang makan rasanya jadi manis? Mungkin karena aku memakannya sambil melihatmu." Ujar Aaron dengan santai.
Zaya mendelik mendengar kalimat Aaron.
Lelaki ini, benarkah dia Aaron, suaminya? Kenapa sekarang dia menjelma menjadi perayu ulung seperti ini? Zaya merasa ada yang salah dengan suaminya ini. Jangan-jangan dia demam karena kehujanan semalam.
Dirabanya kening Aaron untuk merasakan suhu tubuhnya.
"Kamu sakit, ya?" Tanya Zaya. Tapi tangannya sendiri tidak merasakan panas di permukaan kulit suaminya itu.
"Tidak." Jawab Aaron.
"Lalu kenapa dari semalam kamu agak aneh?" Tanya Zaya lagi.
"Aneh bagaimana?" Aaron menautkan kedua alisnya.
"Ya aneh saja. Kamu tidak seperti biasanya. Apa jangan-jangan kamu ini kloning suamiku, bukan suamiku yang asli?" Zaya menatap Aaron dengan tatapan curiga.
Mata Aaron sedikit membulat. Tapi sejurus kemudian senyum jahilnya terbit.
"Bagaimana jika memang aku Aaron palsu? Dan yang tidur denganmu semalam adalah bukan suami aslimu. Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Aaron dengan ekspresi serius.
Mata Zaya membeliak dengan mulut sedikit terbuka. Ia terlihat sangat syok mendengar apa yang Aaron katakan.
Aaron tertawa melihat ekspresi lucu istrinya itu. Diacak-acaknya rambut Zaya dengan gemas.
"Apa kau sungguh percaya ada hal semacam itu?" Tanya Aaron disela tawanya. Sedangkan Zaya yang baru menyadari jika ia dijahili oleh suaminya itu mendengus kesal.
"Aku hanya sedang mengikuti tutorial yang beberapa hari lalu ku baca." Jelas Aaron kemudian.
"Tutorial?" Ulang Zaya.
"Iya. Tutorial bagaimana menjadi suami yang disukai para istri."
"Bagaimana? Apa sejauh ini kau menyukainya?" Tanya Aaron kemudian dengan tersenyum pada Zaya.
Zaya menatap suaminya itu dengan perasaan yang sulit dilukiskan.
Aaron telah sangat berusaha untuk selalu membahagiakannya. Meski terkadang Aaron juga pernah membuatnya marah.
Tapi yang seringkali Zaya lupakan adalah, Aaron tidak pernah sekalipun melakukan hal yang menyakitinya dengan sengaja. Lelaki di hadapannya ini selalu berusaha untuk yang memberikan yang terbaik untuknya dalam segala hal.
Jika ada sesuatu yang akhirnya menyakiti Zaya, itu sudah pasti diluar kendali Aaron. Dan kini dia bahkan mengikuti sebuah tutorial yang membuatnya melakukan hal diluar kebiasaannya hanya untuk menyenangkan Zaya? Dia bahkan tidak mempedulikan kenyamanan sendiri, dan Zaya terkadang masih suka mengeluh tentangnya?
Airmata tiba-tiba saja mengalir dari pelupuk mata Zaya. Ia begitu terharu dengan apa yang telah Aaron lakukan, sekaligus sedih karena telah banyak menyusahkan suaminya ini.
"Kenapa menangis, Sayang. Apa kau tidak menyukainya? Katakan saja jika kau tidak merasa nyaman dengan tutorial yang ini. Aku akan mencoba yang lain juga." Ujar Aaron lembut sambil menghapus airmata Zaya.
Zaya menggelengkan kepalanya sambil memeluk Aaron dengan erat.
"Jangan melakukan apapun lagi, Honey. Aku minta maaf karena telah terlalu banyak menuntut padamu. Mulai sekarang cintai saja aku dengan caramu. Aku tidak akan mengeluh lagi." Zaya terisak dipelukan Aaron.
Aaron membalas pelukan Zaya sambil tersenyum. Di usapnya kepala Zaya dengan penuh kasih sayang.
"Aku tidak keberatan melakukan apapun selama itu bisa membuatmu bahagia." Ujar Aaron sambil mencium pucuk kepala Zaya.
"Tidak, Honey. Jadilah dirimu sendiri. Sekarang aku berjanji padamu, aku tidak hanya akan mencintai kelebihanmu saja, tapi juga semua kekuranganmu. Kamu sudah menerimaku apa adanya, aku pun akan melakukan hal yang sama."
Aaron kembali tersenyum dan semakin menenggelamkan Zaya kedalam pelukannya. Dia sungguh bahagia mendengar apa yang diucapkan istrinya barusan. Tak ada kata yang bisa melukiskan perasaannya saat ini.
Bersambung...
Tetep like, komen dan vote
Happy reading❤❤❤