
"Kak Evan, masuk dulu." Suara Zaya membuyarkan lamunan Evan.
Evan kembali tersenyum. Lalu dengan agak ragu, Evan menuruti kata-kata Zaya. Dia mendudukkan dirinya dikursi tamu yang berhadapan dengan Aaron.
Mata keduanya kembali bertemu. Aaron menatap Evan dengan tajam dan tak terbaca. Sedangkan Evan mencoba untuk lebih santai dan bersikap biasa. Tapi tetap saja, aroma persaingan tercium dari kedua lelaki ini.
"Mama, Om ini siapa?" tanya Albern tiba-tiba.
Zaya agak terkejut, lalu buru-buru ia tersenyum pada putranya itu.
"Sayang, ini teman Mama. Namanya Om Evan."
"Kak Evan, kenalkan, ini Albern. Putraku yang tempo hari aku ceritakan."
Evan tersenyum kepada Albern. Lalu dia berinisiatif menyalami tangan Albern. Albern menyambut tangan Evan dengan tatapan menyelidik. Matanya memperhatikan Evan dengan sangat seksama, seolah ingin memberikan penilaian terhadap teman Mamanya itu.
Albern memang tipikal anak yang tidak akan menerima hal baru begitu saja. Pikirannya sangat kritis. Ia akan mempertanyakan sesuatu yang dianggapnya tidak sesuai.
"Hai, Albern. Senang bisa berkenalan denganmu." Evan berusaha untuk bersikap ramah. Sedangkan Albern hanya menanggapinya dengan mengangguk tipis.
Jabat tangan mereka pun terlepas.
"Apa Mama tidak ingin memperkenalkan Om ini dengan Papa juga?" tanya Albern dengan polos.
Zaya agak terkejut.
"Oh, eh, iya..." ujarnya terbata.
"Kak Evan, kenalkan juga. Ini Papanya Albern...., Aaron." sambungnya lagi dengan canggung.
Evan kembali melihat kearah Aaron. Kali ini dengan mengulas senyum tipis.
Evan mengulurkan tangannya pada Aaron.
"Evan." ujarnya mantap dan percaya diri.
Aaron menjabat tangan Evan dengan tatapan yang mengintimidasi, seolah ingin mengatakan jika Evan bukanlah tandingannya.
"Aaron." Suaranya terdengar berat dan dalam. Penuh dengan kharisma.
Evan melepas jabat tangan mereka sembari tetap tersenyum. Tampaknya dia tak merasa gentar dengan segala kesempurnaan Aaron. Dia bahkan terlihat sangat tenang dan mampu membuat Aaron merasa terusik.
Zaya merasakan hawa yang berbeda sejak kedatangan Evan. Entah kenapa, rasanya jadi begitu tegang seolah ia sedang berada di arena pertempuran.
"Se-sebentar, aku buatkan minum dulu." ujar Zaya gugup sambil berlalu menuju dapur. Agak lega rasanya bisa menyingkir dari suasana canggung diruang tamunya tadi meski hanya sebentar.
Tak lama kemudian Zaya kembali keluar dengan membawa minuman dan makanan kecil. Ia mendudukan dirinya kembali disisi Albern.
Zaya melirik Evan dan Aaron bergantian. Kedua orang ini masih mengeluarkan aura permusuhan yang sangat kental. Zaya tidak tahu ada permasalahan apa sebenarnya diantara kedua orang ini. Tapi yang jelas, sangat terlihat jika keduanya sama-sama tidak saling menyukai.
Evan mengalihkan pandangannya kepada Zaya.
"Apa kita jadi pergi?" tanyanya lembut.
Zaya tampak agak gugup saat akan menjawab pertanyaan Evan.
"Sebenarnya... aku tidak tahu kalau Albern akan menginap disini malam ini. Makanya aku menyetujui untuk menonton film bersama Kakak." ujarnya pelan, berusaha untuk menolak Evan.
Tiba-tiba Albern bangkit dan merangkul lengan Zaya.
"Mama... Al sangat lelah, mau tidur sekarang." rengeknya.
"Eh?"
Zaya agak keheranan. Tidak pernah selama ini putranya merengek seperti itu. Albern adalah anak yang mandiri dan cerdas. Diusianya yang masih kecil ini, bocah itu selalu bersikap tenang layaknya orang dewasa. Tapi kenapa sekarang dia merengek seperti anak kecil pada umumnya?
Zaya buru-buru meraba dahi Albern.
"Aaron, apa Albern sedang tidak sehat?" tanyanya cemas.
Aaron melihat kearah Albern sambil menautkan kedua alisnya.
"Saat akan pergi kesini tadi dia baik-baik saja." jawab Aaron.
Albern semakin mengeratkan rangkulannya.
"Al, tidak sakit, Ma. Al cuma lelah dan ingin beristirahat sekarang." rengeknya lagi.
Zaya semakin bingung. Pasalnya saat ini masih terlalu awal untuk pergi tidur, dan biasanya Albern juga tidak pernah tidur seawal ini. Tapi karena putranya itu sudah merengek, ia pun tidak ada pilihan selain menurutinya.
"Kak Evan, maaf, ya. Sepertinya malam ini kita tidak jadi keluar. Aku harus menemani Albern tidur." ujar Zaya akhirnya dengan nada menyesal.
"Tidak apa-apa. Albern pasti merindukanmu, temanilah dia. Kita bisa keluar lain kali." ujar Evan lembut.
Zaya mengangguk sambil tersenyum lega. Kemudian ia menuntun Albern menuju kamarnya, meninggalkan Aaron dan Evan diruang tamu.
Kedua orang itu kembali saling menatap. Kali ini tak ada senyum lagi dibibir Evan. Wajahnya tampak lebih serius dan tidak menunjukkan raut manis lagi. Evan seperti ingin menegaskan, jika Aaron tidak membuatnya gentar untuk mendekati Zaya.
"Berhentilah bermain-main dengannya, Dokter Evan. Dia bukanlah wanita yang tepat untuk kau ajak bersenang-senang." suara Aaron memecah keheningan.
Evan mengerutkan keningnya mendengar panggilan Aaron padanya. Sepertinya lelaki itu telah menyelidiki latar belakangnya. Kemudian dia menarik satu sudut bibirnya membentuk senyuman miring.
"Bukankah Anda yang saat ini sedang bermain-main dengannya, Tuan Aaron?" sarkasnya.
"Anda bahkan mengajak serta putra Anda untuk bermain-main dengannya, bukan? Kenapa? Apa tujuh tahun tidak cukup bagimu untuk mempermainkannya?" tanya Evan lagi dengan nada memprovokasi.
Aaron mengepalkan tangan hingga buku-buku tangannya memutih.
"Jaga bicaramu." sergahnya. Tampak wajahnya mengeluarkan aura mematikan yang akan membuat ngeri siapapun yang melihatnya.
Evan kembali tersenyum.
"Jangan khawatir, Tuan Aaron. Saya bisa menjamin jika saat ini saya sangat serius dengan mantan istri Anda itu." balas Evan dengan sedikit menekankan kata 'mantan' pada kalimatnya. Kemudian tanpa menunggu tanggapan dari Aaron, Evan pun melenggang pergi dari tempat itu.
Kini tinggalah Aaron seorang, berdiri mematung dengan menahan amarah yang terasa akan meledak saat itu juga. Mendengar kata 'mantan istri' yang diucapkan oleh Evan tadi benar-benar membuat darahnya mendidih. Padahal dia sangat tahu jika itu adalah faktanya, tapi Aaron seolah tidak bisa menerima kebenaran yang ada.
Beberapa saat kemudian, Zaya kembali keruang tamu setelah mengantarkan Albern tidur dikamarnya.
Zaya tampak sedikit terkejut saat mendapati Aaron lah yang masih berada diruang tamunya, bukannya Evan.
"Albern sudah tidur?" tanya Aaron.
Zaya mengangguk mengiyakan.
"Sepertinya dia memang kelelahan." ujar Zaya.
Kemudian Zaya melirik kearah teras rumah, mencari dengan matanya jika saja Evan masih belum pergi dan masih diluar.
"Dia sudah pergi." ujar Aaron seolah mengetahui apa yang ada dibenak Zaya.
Aaron melangkahkan kakinya mendekati Zaya, lalu berhenti saat jarak mereka sudah sangat dekat. Aaron menatap Zaya dalam, membuat Zaya menautkan kedua alisnya karena bingung.
"Sejauh apa hubunganmu dengannya, Zaya?" tanya Aaron kemudian.
Zaya diam dan tak langsung menjawab. Ia heran dengan pertanyaan yang diajukan oleh Aaron. Kenapa lelaki itu harus peduli dengan kehidupan pribadinya? Toh sekarang mereka tidak hubungan lagi, kan?
"Itu tidak ada hubungannya denganmu. Aku tidak harus menjawabnya." kilah Zaya.
Nafas Aaron tampak memburu mendengar jawaban dari Zaya. Tanpa sadar tangan kokohnya mencekal kedua lengan Zaya dan menyudutkan perempuan itu kedinding.
Zaya memberontak, berusaha keluar dari kungkungan tubuh Aaron. Tapi tentu saja tenaga Aaron jauh lebih besar dan usaha Zaya itu sia-sia saja.
"Lepaskan aku, Aaron. Apa yang kau lakukan?" sergah Zaya dengan marah. Ia terus memberontak dengan mengeluarkan segenap tenaganya.
"Jika kau ingin aku melepaskanmu, jawab aku! Sejauh apa hubunganmu dengannya?" tanya Aaron lagi. Kali ini dengan nada tak ingin dibantah.
Bukannya menjawab, Zaya malah melotot marah kepada Aaron.
"Itu urusanku, bukan urusanmu. Urus saja urusanmu sendiri!" serunya.
Emosi Aaron pun semakin naik saat mendengar kata-kata Zaya itu.
"Mulai sekarang segala urusanmu menjadi urusanku. Aku harus tahu setiap hal yang menyangkut tentang dirimu. Kau harus mengatakan semuanya padaku!" balas Aaron tak kalah marah.
Zaya tampak terkejut dan sedikit terperangah. Ditatapnya Aaron dengan keheranan.
"Kamu pasti sudah tidak waras." desisnya sarkas.
Aaron terdiam untuk beberapa saat.
"Benar. Aku memang sudah tidak waras. Aku kehilangan akal karena terlalu merindukanmu." gumamnya sambil masih menatap Zaya dalam.
Kemudian tanpa Zaya duga, Aaron mendekatkan wajahnya, seperti hendak mencium Zaya.
Bersambung....
Jgn lupa like, komen dan vote ya...
Happy reading❤❤❤