Since You Married Me

Since You Married Me
Rahasia Ginna



Zaya agak merenung beberapa saat. Ia memang marah dan kesal saat ini, tentu saja ia sangat ingin memberikan Aaron sebuah hukuman agar lelaki itu belajar dari kesalahannya. Tapi ia tidak tahu harus menghukum suaminya itu seperti apa. Lagipula, jika Zaya benar-benar menghukum Aaron, apakah ibu mertuanya ini sungguh tidak keberatan?


"Apa aku boleh menghukum putra semata wayang Mama itu?" Tanya Zaya meyakinkan.


"Bukankah aku pernah bilang padamu jika aku tidak pernah pandang bulu? Siapapun orang-orang di sekitarku yang berbuat salah, aku akan menghukum mereka. Dan jika aku yang bersalah, aku juga akan datang untuk meminta hukuman." Jawab Ginna.


"Baru setelah itu kita bisa benar-benar memaafkan dan melupakan kesalahan yang dibuat. Jika sebuah kesalahan langsung dimaafkan tanpa sebuah hukuman, besar kemungkinan kesalahan itu akan terus diulangi. Jadi, jika saat ini kau ingin menghukum Aaron. Rasanya itu hal yang sah-sah saja." Tambah Ginna lagi.


Zaya tampak mencerna kata-kata Ginna.


Apa yang dikatakan Ginna masuk akal juga. Jika sekarang ia tak memberikan hukuman untuk Aaron, besar kemungkinan suaminya itu akan mengulangi hal yang sama di lain waktu. Sepertinya Zaya memang harus melakukan sesuatu yang bisa memberikan efek jera pada suaminya itu.


"Menurut Mama, hukuman apa yang harus diberikan pada suami yang lebih mempercayai perempuan lain daripada istrinya sendiri?" Tanya Zaya kemudian.


Ginna tak langsung menjawab. Ia terlihat berpikir sembari menghela nafasnya. Sepertinya Aaron melakukan kesalahan yang serius jika dilihat dari kacamata Ginna.


"Suami yang lebih percaya pada perempuan lain ketimbang istrinya sendiri, apalagi sampai membahayakan nyawa istri, dia layak untuk ditinggal pergi." Ujar Ginna kemudian.


"Hah?" Zaya terperangah. Ia sungguh terkejut mendengar kata-kata Ginna yang barusan di dengarnya. Apa maksudnya Ginna menyuruh Zaya untuk pergi meninggalkan Aaron?


"Aku tidak bilang untuk selamanya. Kenapa ekspresi wajahmu berlebihan seperti itu?' Tanya Ginna.


Zaya buru-buru menetralkan raut wajahnya. Ia tersenyum meringis dengan agak malu.


"Maaf, Ma. Aku hanya sedikit kaget." Kilah Zaya kemudian.


"Mungkin Aaron harus merasa kehilangan sebentar, agar dia bisa sedikit lebih peka. Setelah itu, aku yakin dia akan lebih berhati-hati dalam bersikap. Jika dia sungguh mencintai istri dan anaknya, dia pasti takut kalian pergi hingga sebisa mungkin tak mengulangi kesalahannya lagi." Ginna menjelaskan.


Zaya terdiam dan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Sebenarnya aku memang berpikir seperti itu, Ma. Aku juga ingin pergi untuk sementara waktu. Selain untuk menghukumnya, aku juga perlu menenangkan pikiranku. Tapi aku tidak tahu mau pergi kemana dengan perut besar seperti ini. Lagipula Aaron pasti akan menemukan tempat persembunyianku sebelum dia sempat merasa kehilangan." Desah Zaya.


Zaya kemudian termenung dengan pandangan menerawang ke depan.


Ginna menoleh kearah Zaya.


"Aku akan katakan sebuah rahasia padamu. Tapi ini diantara kita saja." Ujarnya..


Zaya menoleh dengan penuh tanda tanya.


"Aku punya sebuah tempat persembunyian yang selalu aku datangi jika aku sedang tidak ingin bertemu dengan Papanya Aaron."


Zaya menautkan kedua alisnya. Ia jadi bertanya-tanya, apakah ibu mertuanya ini juga sering merasakan apa yang dialaminya saat ini?


"Sebenarnya pada dasarnya semua makhluk bernama suami itu sama saja. Mereka seringkali tidak peka dan cenderung egois. Kita para istri dituntut untuk banyak menoleransi semua keburukan itu jika ingin rumah tangga selalu utuh. Tapi tetap saja, ada kalanya kita lelah dan ingin rehat untuk menenangkan diri sejenak."


Zaya tertegun. Sepertinya perjalanan rumah tangga ibu mertuanya ini juga tidak mudah. Pantas saja jika Ginna terlihat begitu berpengalaman dan menjadi sangat bijak. Pasti telah banyak hal yang dilaluinya selama menjadi Nyonya di keluarga Brylee.


"Setelah keluar dari rumah sakit, apa aku boleh pergi ke tempat persembunyian Mama itu?" Tanya Zaya.


"Tentu saja. Saat ini aku sudah lama tidak kesana. Tempat itu adalah vila pribadiku yang terletak di pinggiran kota. Ada orang yang merawatnya, dan jika kau kesana, orang itu akan merangkap jadi pelayanmu juga. Pemandangan sekitarnya indah, jadi sangat cocok untuk di jadikan tempat untuk menjernihkan pikiran. Disana juga ada fasilitas kesehatan dengan peralatan medis yang memadai. Jika kau mau kesana, aku akan menyuruh seseorang untuk mengantarmu."


Zaya tersenyum.


"Terima kasih, Ma." Ujar Zaya lirih. Dengan ragu disentuhnya tangan ibu mertuanya itu.


Ginna kembali menoleh dan melihat kearah Zaya.


"Yang perlu kau lakukan hanyalah jaga dirimu baik-baik dan lahirkan cucuku dengan selamat. Diusiaku yang kini sudah mulai tua, tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain melihat cucu-cucuku tumbuh. Tampaknya Aaron tidak tertarik untuk punya anak dari wanita lain, jadi aku tak punya pilihan selain mendukungmu." Balas Ginna.


Zaya tertawa kecil. Ibu mertuanya ini selalu punya gayanya tersendiri saat menyampaikan kepeduliannya. Tapi tentu saja Zaya masih bisa merasakan ada kasih sayang yang ditunjukkan Ginna meski dengan bahasa yang tak biasa.


Tak lama kemudian, Aaron dan Carlson kembali masuk kedalam ruang perawatan Zaya.


Zaya melirik sekilas pada Aaron. Tidak tampak luka lebam pada wajah tampannya. Sepertinya Carlson tidak cukup tega untuk menghajar putra semata wayangnya itu. Yah, walau bagaimana pun, Aaron tetaplah pewaris tunggal di keluarga mereka. Tentu saja dia berharga.


Zaya pun mengutarakan keinginannya untuk tidak pulang kerumah dulu untuk sementara waktu ini. Zaya ingin menenangkan diri dan pergi menyendiri tanpa Aaron.


Tentu saja Aaron tak terima dengan berbagai alasan, salah satunya berkaitan dengan kehamilan Zaya. Aaron tak ingin terjadi sesuatu pada Zaya di luar sana.


"Tempatnya aman dan dekat dengan fasilitas kesehatan. Akan ada yang mengurusku juga disana. Jadi tidak akam terjadi apa-apa padaku." Ujar Zaya menjawab kekhawatiran Aaron.


"Bagaimana dengan Albern. Dia harus sekolah?" Tanya Aaron masih berusaha membujuk Zaya agar tidak pergi.


"Mama akan kembali mengurus Albern untuk sementara ini. Jika dia menanyakanku, Mama yang akan memberikan penjelasan padanya." Ujar Zaya.


Aaron menoleh pada Ginna.


"Tidak masalah." Ujar Ginna santai.


Aaron mendesah. Entah kenapa dia merasa jika saat ini istri dan ibunya sedang bersekongkol untuk membuatnya menderita.


"Sayang, kenapa kau begitu ingin pergi? Apa sekarang kau tidak menganggapku sebagai suamimu lagi?" Aaron tampak putus asa karena tak berhasil membujuk Zaya.


Zaya mengangkat wajahnya dan menatap Aaron tajam.


"Justru karena aku masih menganggapmu sebagai suamiku, makanya aku memberitahumu jika aku mau pergi. Seandainya tidak, mungkin sekarang aku sudah pergi diam-diam dan membiarkanmu kebingungan mencariku." Ujar Zaya tajam.


Aaron kembali menghela nafasnya. Ia tidak tahu harus membujuk Zaya bagaimana lagi. Dia pun menoleh pada Ginna, harapan terakhirnya.


"Ma, mungkin Zaya akan lebih mendengarkanmu. Katakanlah sesuatu." Pinta Aaron dengan agak memelas.


Ginna melipat kedua tangannya di depan dada, lalu sedikit mengangkat wajahnya yang cantik.


"Memangnya aku harus mengatakan apa? Seorang suami lebih percaya pada perempuan lain ketimbang istrinya sendiri, Jika istrinya itu aku, aku pasti akan meninggalkannya dan tak akan pernah kembali lagi." Ujarnya dengan enteng.


"Mama!"


"Sayang!"


Aaron dan Carlson menyergah Ginna secara bersamaan.


Bersambung...


Mamposss kau Aaron😁😅


Tetep like, komen dan vote


Happy reading❤❤❤