Since You Married Me

Since You Married Me
Janji Masa Kecil



Kedatangan Zaya dan Evan disambut gembira oleh semua penghuni panti. Mereka tampak sangat senang mendapatkan makanan ringan dan juga beberapa mainan.


Zaya dan Evan memang menyempatkan diri mampir ketoko mainan setelah dari minimarket tadi. Mereka juga membelikan beberapa mainan untuk anak-anak itu, karena Zaya tahu, mainan adalah barang mewah yang jarang didapatkan untuk anak-anak panti seperti mereka.


Pengurus panti juga sangat senang dan terharu melihat kedua anak asuhnya itu kini menjadi orang yang sukses. Mereka berdua bisa dibilang berhasil dan hidup mapan sekarang.


Zaya tersenyum memandang sekeliling bangunan panti. Tempat ini menyimpan begitu banyak kenangan, dan sebagian besar kenangan itu penuh dengan perjuangan.


Ya. Jika diingat-ingat, sedari kecil hingga beranjak dewasa, hidup Zaya memang tidaklah mudah. Ada begitu banyak keringat dan airmata mengiringi perjalanan Zaya setiap harinya.


Kini ia patut bersyukur, kehidupannya sekarang sudah jauh lebih baik jika dibandingkan dulu. Dan itu semua tidak lepas dari peran Aaron. Kehadiran Aaron didalam hidup Zaya memang seperti dua sisi mata uang. Dimana satu sisi merupakan sebuah tragedi dan musibah, tapi disisi lain juga merupakan anugerah bagi Zaya.


Itulah sebabnya, sebesar apapun kesalahan yang telah Aaron lakukan padanya, Zaya tidak akan pernah bisa membenci lelaki itu.


"Ayo, ikut." suara Evan membuyarkan lamunan Zaya.


Zaya tampak kaget saat Evan mengenggam lembut pergelangan tangannya dan menariknya menuju suatu tempat. Zaya pun hanya bisa pasrah. Mau tidak mau ia ikut melangkah mengikuti Evan yang berjalan didepannya.


Tak lama kemudian, Evan berhenti disebuah tempat yang sangat Zaya kenal. Itu adalah tempat dimana mereka berdua biasa menghabiskan waktu, entah itu bermain atau belajar bersama.


Zaya tersenyum. Tempat itu memang telah agak berubah, tapi Zaya masih bisa merasakan suasana yang sama seperti waktu itu. Kilasan memori masa kecilnya pun kembali berputar dikepalanya.


"Sudah dua puluh dua tahun...." gumam Zaya sambil menengadahkan wajahnya.


"Dua puluh dua tahun, tiga bulan, delapan hari...." timpal Evan.


Zaya menoleh. Dilihatnya Evan yang juga sedang melihat kearah langit. Ia tak menduga Evan akan mengingat waktu kepergiannya dulu sedetail itu.


"Aku telah pergi dari sini selama itu, Dee. Selama itu juga aku memendam sesuatu didalam diriku." sambung Evan lagi dengan nada bicara yang tak biasa.


Zaya terdiam, mencoba meraba kemana arah kata-kata Evan barusan.


"Kamu masih ingat janjimu ditempat ini kan, Dee?" tanya Evan kemudian sambil menghadap kearah Zaya.


Zaya menautkan kedua alisnya, tak paham dengan apa yang sedang Evan bicarakan.


"Bukankah disini dulu kamu pernah berjanji, saat dewasa nanti kamu hanya akan menikah denganku." ujar Evan mengingatkan.


Zaya tercenung. Tak tahu harus berkata apa. Janji menikah dengan Evan? Zaya berusaha untuk mencari-cari ingatan itu dimemori otaknya.


Dan, ya. Akhirnya Zaya ingat. Ia memang pernah mengatakan itu kepada Evan saat ia baru kembali dari menghadiri acara pernikahan saudara pengurus panti. Zaya sangat suka melihat pengantin wanitanya yang terlihat sangat cantik. Karena itulah, sepulang dari sana, Zaya mengatakan kepada Evan jika sudah besar nanti ia ingin menjadi pengantin dan menikah dengan Evan.


Ya. Zaya juga mengatakan jika ia tidak mau menikah dengan orang lain selain Evan, karena saat itu satu-satunya orang yang baik padanya hanyalah Evan. Lalu Zaya juga ingat, ia menyanggupi saat Evan memintanya untuk berjanji tidak mengingkari kata-katanya itu.


Zaya ingat semuanya sekarang, tapi bukankah itu hanya pembicaraan antara dua orang anak kecil yang tidak mengenal sebuah komitmen. Lalu kenapa Evan menanyakannya sekarang?


"Aku harap kamu tidak pernah melupakannya." ujar Evan lagi, kali ini terdengar ada penekanan didalam kata-katanya.


Zaya menelan liurnya dengan susah. Benar-benar tidak tahu harus berkata apa.


"Waktu itu umurku baru lima tahun, tidak begitu paham dengan apa yang sudah aku katakan." ujar Zaya akhirnya.


"Tidak mungkin Kakak menganggapnya serius, kan?" Zaya tertawa dengan canggung.


Evan kembali melihat kearah Zaya.


"Tapi aku memang menganggapnya serius." ujarnya.


Zaya menghentikan tawanya. Matanya sedikit membulat karena tak percaya.


"Ma-maksud Kakak?" tanya Zaya dengan sedikit terbata.


Evan tampak menghela nafas.


Zaya semakin terperangah. Matanya kini membulat sempurna karena merasa sangat terkejut.


"Kamu tidak akan mengingkari janjimu itu, kan, Dee?" tanya Evan lagi penuh harap.


Zaya tak bisa berkata-kata. Nafasnya sedikit tersengal karena terlalu syok dengan apa yang didengarnya.


Apa itu artinya selama ini Evan menganggapnya lebih dari sekedar adik? Bukankah waktu itu mereka masih sangat kecil, Zaya masih berusia lima tahun, dan Evan belum genap sepuluh tahun. Bagaimana mungkin Evan telah berpikir layaknya orang dewasa dan menanggapi kata-kata Zaya seserius itu? Bukankah itu terlalu sulit untuk dipercaya?


Zaya menghela nafas, mencoba menenangkan dirinya dari keterkejutan.


Zaya harus meluruskannya. Sepertinya ada semacam kesalahpahaman antara Evan dan dirinya. Zaya memang menyayangi dan mengharapkan kehadiran Evan. Tapi Zaya benar-benar hanya menganggap Evan sebagai seorang Kakak. Tak pernah terbayangkan dibenak Zaya untuk menikah dengan Evan, terlebih dengan keadaannya sekarang yang sudah punya seorang anak. Semua ini terasa tidak benar.


"Ada hal penting yang belum aku ceritakan pada Kakak." ujar Zaya akhirnya.


Ia menghela nafas sejenak dan mengatur kata-kata.


"Aku sudah pernah menikah, dan punya seorang anak laki-laki." lanjutnya kemudian.


Kini berganti Evan yang melihat kearahnya dengan wajah terkejut.


"Aku menikah tujuh tahun yang lalu. Sekarang anakku sudah berusia enam tahun lebih. Bahkan beberapa bulan lagi dia akan berulang tahun yang ketujuh." lanjut Zaya.


Tatapan mata Evan menjadi agak menajam.


"Benarkah?" tanyanya tak percaya.


Zaya mengangguk meyakinkan.


"Nama anak laki-lakiku Albern. Sekarang dia sedang sibuk dengan pelajaran tambahan jelang ujian sekolah, jadi dia sedang tidak bisa diganggu. Tapi jika nanti dia sudah senggang dan punya waktu untuk mengunjungiku, aku akan mengenalkannya pada Kakak."


Evan masih menatap Zaya dengan raut tidak percaya.


"Jika kamu memang sudah punya suami dan anak. Kenapa aku tidak pernah melihat mereka? Tidak mungkin kalian tinggal terpisah, kan? Lagipula pasti mereka sesekali akan datang ke kafemu meski hanya untuk sekedar mengantar atau menjemputmu. Lalu kenapa aku tidak pernah bertemu mereka disana?" tanyanya lagi dengan nada agak tajam.


Zaya tak langsung menjawab. Pandangannya menjadi agak redup dan sendu.


"Itu karena aku sudah bercerai dengan suamiku." lirihnya. Suaranya tergetar dan terdengar agak sedih.


"Kami bercerai hampir tiga bulan yang lalu, dan putraku tinggal bersama Papanya." lanjut Zaya lagi.


Evan terdiam dan tak menjawab lagi. Tatapannya tampak sangat nanar. Entah apa yang ada didalam pikirannya saat ini.


"Aku memang sudah tidak punya ikatan dengan siapapun lagi, Kak. Tapi jika ucapanku waktu itu terhitung janji, berarti sekarang aku telah mengingkari janji itu. Aku sudah menikah dengan orang lain." tutur Zaya lagi.


Evan masih diam dan tak menjawab.


"Dan jika sekarang Kakak masih tetap ingin menagih janji itu, aku sungguh minta maaf.... Sekarang pun aku tetap tidak bisa memenuhinya. Putraku sudah sangat terluka dengan perpisahan Mama dan Papanya. Aku tidak ingin menambah lukanya dengan membuatnya tahu aku sudah menjalin hubungan baru. Aku tidak bisa.... aku tidak ingin dia terluka semakin dalam. Dia masih sangat kecil untuk merasakan itu semua.... Aku tidak ingin hidupnya penuh kesedihan seperti aku...." Zaya menatap kosong kearah depan. Airmatanya jatuh mengingat kesedihan Albern. Zaya memang telah berusaha menata hatinya. Tapi saat mengingat putra kesayangannya itu, tetap saja ia merasa sedih dan ingin menangis.


Evan masih terdiam. Pandangannya jadi sedikit meredup. Kemudian perlahan Evan menundukkan wajahnya.


"Sepertinya aku memang sudah pergi terlalu lama..." lirihnya kemudian. Suaranya terdengar serak dan tergetar.


Evan mengulas senyum penuh ironi. Kenyataan yang didengarnya benar-benar tak terbayangkan olehnya. Hatinya sepertinya tidak siap menerima semua itu. Dia kecewa.


Bersambung.....


Rencananya author mau kebut satu part lagi, tolong votenya ya...😁😁😁


Happy reading❤❤❤