
Aaron langsung berlari kedalam vila setelah mendengar teriakan istrinya itu. Tadi Zaya mengatakan jika ia ingin ke kamar kecil dan masuk ke dalam saat semua orang sedang ada di halaman belakang vila.
Tapi tak berselang lama, terdengar jeritan dari arah dalam vila, hingga semua orang berhambur kedalam untuk melihat.
Aaron terkejut bukan kepalang saat mendapati Zaya sudah terkulai tak berdaya sambil meringis kesakitan. Darah segar mengalir di kedua pahanya hingga mengotori lantai.
Dengan sigap Aaron membopong tubuh Zaya dan membawanya keluar.
"Siapkan mobil. Cepat!" Teriak Aaron.
Sekartaris Jeff langsung menyiapkan mobil dan bertindak sebagai sopir, sedangkan Jennifer tampak menjaga Albern yang terlihat sangat ketakutan.
Aaron masuk kedalam mobil. Lalu masih dengan menggendong Albern, Jennifer juga masuk dan duduk di kursi sebelah sopir.
"Ke rumah sakit terdekat!" Seru Aaron pada Jeff. Mobil pun langsung meluncur menuju rumah sakit terdekat.
Sepanjang perjalanan Aaron terus mendekap tubuh Zaya. Dia terlihat sangat cemas melihat istrinya itu terus merintih.
"Perutku...." Lirih Zaya dengan bibir tergetar karena menahan sakit
"Bertahanlah, Sayang. Kita akan segera sampai di rumah sakit." Aaron berusaha menenang, meski dia sendiri sebenarnya cemas bukan main.
"Honey, bagaimana putri kita? Saat terpeleset tadi perutku terbentur cukup keras. Aku takut dia kenapa-napa." Zaya menangis sambil memegangi perutnya yang saat ini sakit tak terkira.
Tapi Zaya tak menghiraukan rasa sakit yang di rasakannya. Yang di pedulikannya saat ini hanyalah nasib anak yang ada di dalam perutnya saja.
"Putri kita tidak akan kenapa-napa. Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit." Jawab Aaron.
Zaya kembali meringis sambil memegangi perutnya yang terasa semakin sakit. Darah segar juga terus keluar dari jalan lahirnya, hingga membuat Aaron terlihat semakin cemas.
"Lebih cepat lagi, Jeff!" Teriak Aaron. Dia mulai tak sabar karena mobil mereka tak kunjung tiba di rumah sakit.
"Baik, Tuan." Jeff menambah kecepatan mobilnya.
Tak berapa lama kemudian, mereka sampai di rumah sakit yang dituju. Zaya pun langsung mendapatkan pemeriksaan pada kandungannya.
"Bagaimana keadaannya, Dokter?" Tanya Aaron cemas.
Dokter yang baru saja memeriksa kondisi Zaya tampak menghela nafasnya.
"Maaf, Tuan. Kondisi istri Anda cukup serius. Istri Anda mengalami benturan yang cukup keras pada perutnya hingga menyebabkan terjadinya pendarahan hebat. Istri Anda harus segera di operasi untuk menyelamatkan bayi yang berada dalam kandungannya saat ini. Tapi masalahnya, rumah sakit ini hanyalah rumah sakit kecil, kami tidak bisa menangani pasien dengan kondisi serius seperti ini. Istri Anda harus di bawa ke rumah sakit pusat yang memiliki dokter bedah dan peralatan medis yang lebih memadai." Ujar Dokter itu dengan sangat menyesal.
Mendengar hal itu, tanpa banyak bicara lagi, Aaron langsung kembali mengangkat tubuh Zaya dan membawanya kembali ke dalam mobil.
"Butuh berapa lama untuk sampai ke rumah sakit besar terdekat?" Tanya Aaron pada Jeff.
"sekitar dua jam, Tuan." Jawab Jeff.
"Dalam waktu setengah jam kita harus sudah sampai di sana." Perintah Aaron dengan nada tak ingin dibantah.
"Baik, Tuan." Jeff langsung mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi.
Albern yang sedari tadi berada dipangkuan Jennifer, meringkuk ketakutan tanpa berani mengeluarkan suara.
"Jangah khawatir, Tuan Muda. Semuanya akan baik-baik saja. Tidak akan terjadi apa-apa pada Mama dan adik Tuan Muda." Bisik Jennifer di telinga Albern untuk menenangkan bocah itu.
Sedangkan Zaya yang kehilangan banyak darah, mulai tak merintih lagi. Ia mulai kehilangan kesadarannya seiring dengan perutnya yang semakin melilit hebat.
"Bangun, Sayang, jangan pejamkan matamu. Tetaplah sadar sampai kita tiba di rumah sakit." Pinta Aaron sambil menepuk-nepuk pipi Zaya.
Mata Zaya yang tadinya mulai terpejam, kembali terbuka.
"Tetaplah bersamaku, Sayang. Jangan tidur." Pinta Aaron lagi.
Zaya mengedipkan matanya, menahan hasrat ingin tertidur. Matanya terasa begitu berat sehingga ia ingin sekali memejamkan matanya.
"Honey..." Zaya memanggil Aaron pelan.Tangannya terulur menyentuh pipi suaminya itu.
"Ya, Sayang."
"Jika terjadi sesuatu, berjanjilah kamu akan menyelamatkan putri kita" Pinta Zaya sambil menatap Aaron.
Aaron terdiam karena menahan ledakan emosi yang tiba-tiba saja memenuhi dadanya, hingga rasanya sulit untuk sekedar menghela nafas.
"Kalian berdua akan baik-baik saja. Jangan berpikir yang macam-macam, Sayang." Ujar Aaron sembari mengeratkan pelukannya pada Zaya.
Aaron berusaha menghibur dirinya sendiri. Sejujurnya di dalam hatinya, Aaron juga ketakutan setengah mati. Melihat darah Zaya yang terus saja mengalir dan wajah Zaya yang mulai memucat, pikiran buruk tentu saja memenuhi kepalanya. Tapi sebisa mungkin Aaron meredam semua itu dan kembali berpikir positif.
Aaron belum membahagiakan Zaya dengan benar, maka tidak boleh terjadi sesuatu pada istrinya itu.
"Sayang." Aaron kembali memanggil Zaya. Dia harus membuat Zaya agar tetap sadar hingga sampai ke rumah sakit nanti.
"Sayang." Aaron kembali menepuk-nepuk pipi Zaya. Zaya pun kembali membuka matanya yang tadi terpejam lagi dan melihat kearah wajah cemas dan sedih Aaron.
"Ya.." Jawabnya pelan. Suaranya telah semakin melemah.
"Tetaplah terjaga, Sayang. Jangan tertidur." Pinta Aaron.
"Tapi aku mengantuk..."
"Jangan. Jangan pejamkan matamu, tetap lihat aku seperti ini." Suara Aaron mulai tergetar karena menahan sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya.
"Ceritakanlah sesuatu padaku. Mungkin ada hal yang ingin kau ceritakan, aku akan mendengarnya." Ujar Aaron lagi. Kali ini dia berusaha tersenyum pada Zaya.
"Menceritakan apa?" Tanya Zaya.
"Apa saja, sayang, apapun yang ingin kau ceritakan, mungkin kau punya sesuatu yang mengganjal dihatimu. Mengeluh tentangku juga boleh." Ujar Aaron lagi.
Zaya terdiam sesaat.
"Baiklah." Ujarnya kemudian.
Zaya kembali terdiam beberapa saat, terlihat seperti sedang menyusun kata-kata.
"Saat aku hamil Albern dulu, aku sangat suka ketika kamu menggenggam tanganku." Ujar Zaya pelan.
"Aku selalu menunggu waktu di saat kita memeriksakan kehamilanku ke rumah sakit, dan yang paling aku nantikan adalah saat kamu menggenggam tanganku ketika kita berjalan di koridor rumah sakit."
Zaya terdiam lagi beberapa saat, sedangkan Aaron tertegun mendengarkan penuturan Zaya tadi.
"Aku selalu menyiapkan kado ulang tahun untukmu setiap tahun, tapi aku selalu menyimpannya kembali dan tidak jadi memberikannya padamu. Aku terlalu takut untuk mengucapkan selamat ulang tahun padamu, karena aku pikir kamu akan merasa terganggu saat mendengarnya."
Aaron semakin tercekat. Dadanya semakin terasa sesak mendengarkan kata-kata Zaya tentang masa lalu mereka. Begitu banyak hutang kebahagiaan yang harus ia lunasi pada istrinya ini. Itu membuatnya semakin tidak ingin kehilangan Zaya.
"Apakah aku sudah pernah mengatakan padamu sebelumnya jika aku juga sering memandangi wajahmu diam-diam saat kamu sedang tertidur."
Aaron tersenyum dan melihat kearah Zaya dengan tatapan yang sulit di jelaskan.
"Aku mencintaimu, Honey... Sejak dulu...." Zaya juga menatap Aaron dengan tatapan yang dalam.
Aaron tak bisa menahan gejolak di dalam dadanya lebih lama lagi, airmatanya jatuh tanpa bisa dia cegah. Untuk pertama kali dalam hidupnya sejak dia menjadi lelaki dewasa, logikanya kalah karena sebuah perasaan.
Bersambung...
Tetep like, komen dan vote
Happy reading❤❤❤