
Zaya menatap Aaron dengan tak kalah tajam sambil menyingkirkan tangan Aaron yang menahannya.
"Tidak ada maksud apa-apa. Aku mau pulang sendiri. Menyingkirlah dari sini!" Jawab Zaya sembari membuka pintu mobil dan bergegas masuk.
Belum sempat Zaya memerintahkan sopir untuk melajukan mobil, Aaron telah lebih dulu membuka pintu mobil tempat sopir duduk.
"Keluar, biar aku yang membawa mobil." Perintah Aaron. Sopir itu pun buru-buru keluar dan membiarkan Aaron yang mengambil kemudi.
Zaya hanya bisa menghela nafas dan tak bisa berbuat apa-apa. Pasalnya tepat saat tangannya akan membuka kembali pintu mobil untuk keluar, Aaron sudah melajukan mobil itu dengan kecepatan yang tak bisa di bilang lambat.
Sepertinya kebiasaan Aaron masih sama, suka mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi jika sedang marah. Zaya hanya berdoa agar tak terjadi apa-apa dengan mereka berdua. Ia belum ingin mati, apalagi dengan keadaan hamil seperti ini. Bisa-bisa ia jadi arwah gentayangan jika sampai hal itu terjadi.
Tak ada yang memulai pembicaraan di dalam mobil. Aaron tampak fokus menyetir, sedangkan Zaya membuang pandangannya kearah jendela, mengamati gedung-gedung di pinggir jalan yang dihiasi kerlip lampu.
Zaya tak tahu akan di bawa kemana oleh Aaron, pasalnya jalan yang mereka lalui bukanlah jalan menuju rumah mereka.
Tak berapa lama kemudian, Aaron menepikan mobilnya di pinggir jalan. Tampak Aaron membawa Zaya ke sebuah taman yang terletak di salah satu sudut kota. Taman itu dihiasi lampu-lampu cantik dan terdapat banyak bangku untuk para pengunjung.
Jika saja siang atau sore hari datang kesini, pasti akan ada banyak orang yang mengunjungi taman ini, tapi berhubung saat ini malam hari, suasananya terlihat agak sepi, hanya terdapat beberapa pasangan muda-mudi di beberapa pojok taman sedang memadu kasih.
Aaron turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Zaya.
Zaya menghela nafas dengan kasar sebelum akhirnya mengangkat wajahnya untuk melihat kearah Aaron.
"Aku ingin pulang. Kenapa kamu malah membawaku kesini?" Tanya Zaya tidak senang.
"Turunlah dulu. Kita perlu bicara." Pinta Aaron.
"Aku tidak mau turun. Aku mau pulang. Kamu bisa mengatakan apapun dirumah." Tolak Zaya.
"Dirumah ada Albern dan para pelayan. Akan lebih baik jika kita bicara disini." Ujar Aaron lagi.
"Memangnya kenapa jika ada Albern dan para pelayan? Apakah yang ingin kamu katakan bukan hal yang baik? Atau kamu mau mengakui jika kamu memang ada main di belakangku?" Zaya menatap Aaron tajam.
Aaron membeku mendengar kata-kata Zaya. Sejurus kemudian dia menghela nafas sembari memijat kepalanya dengan mata terpejam.
"Sayang, kumohon..., turunlah terlebih dahulu. Kau salah paham padaku. Kita harus membicarakan ini secara baik-baik." Pinta Aaron sekali lagi.
Zaya kembali melihat kearahnya dengan tatapan tajam.
"Memangnya apa yang ingin kamu bicarakan? Jangan-jangan tujuanmu membawaku kesini adalah ingin membunuhku karena aku sudah mengacaukan malam indahmu bersama Anna?" Tanya Zaya sarkas. Sungguh didalam hatinya sendiri ia juga terkejut dengan kalimat ajaib yang terlontar dari mulutnya itu.
"Zaya!" Aaron kembali menatap Zaya dengan tajam. Kemudian Aaron menarik tangan Zaya sehingga mau tak mau Zaya turun dari mobil itu.
Aaron melangkah memasuki taman sambil terus mengenggam tangan Zaya, lalu mendudukkan Zaya di salah satu bangku yang terdapat di taman. Setelah itu, Aaron juga duduk disebelah Zaya sambil kembali menghela nafasnya.
"Maafkan aku atas apa yang kau lihat malam ini. Aku tidak tahu jika kau datang bersama Mama. Jika aku tahu kau ada disana, tentu saja aku akan berdansa bersamamu." Aaron berusaha menjelaskan.
"Jadi jika aku tidak datang, kau boleh melakukan hal itu?" Tanya Zaya tajam.
"Tidak seperti itu, Sayang. Aku...."
"Aaron, katakan padaku yang sejujurnya. Apa kamu selalu seperti itu bersama Anna saat menghadiri jamuan atau pesta perusahaan selama ini?" Tanya Zaya sebelum Aaron sempat menyelesaikan kata-katanya.
Aaron terdiam sesaat.
"Tidak." Jawabnya kemudian.
Aaron menatap Zaya dengan tatapan yang sangat dalam.
"Tentu saja. Kau tahu aku tidak berbohong." Ujar Aaron lagi.
"Malam ini adalah pertama kalinya aku dan Anna sedekat itu. Itu pun karena saat ini perusahaan kita sedang dalam pemulihan sehingga aku tidak bisa mengambil resiko menyinggung rekan bisnis kita dengan menolak basa-basinya."
Zaya tersenyum masam.
"Jadi bagimu hal yang benar-benar menghancurkan hatiku ini hanya sekedar basa-basi? Lalu jika saat ini rekan bisnismu memintamu untuk tidur dengan seorang perempuan dengan alasan basa-basi, apa kamu akan menerimanya juga?" Zaya kembali bertanya dengam sarkas.
"Tentu saja tidak, Sayang. Hal itu tentu saja tidak bisa disamakan." Jawab Aaron.
"Tapi bagiku sama saja, Aaron. Hanya sekedar berdansa atau tidur bersama sekalian, bagiku sama saja. Itu artinya kamu menyentuh wanita lain selain aku. Hatiku benar-benar hancur menyaksikan itu. Terlebih kamu melakukannya saat aku sedang mengandung anakmu. Bukankah kamu tahu jika saat ini perasaanku jauh lebih sensitif dari sebelumnya. Apa perasaanku tidak ada artinya sedikit pun bagimu?" Zaya kembali menatap Aaron tajam. Kali ini setetes airnata jatuh membasahi pipinya.
Aaron menatap Zaya dengan penuh rasa bersalah. Sungguh bodoh dia tak peka dengan hal semacam ini. Karena kebodohannya itu, kini istrinya kembali menangis dan bersedih. Lagi-lagi Aaron hanya bisa menghela nafas sambil merutuki kebodohannya sendiri.
"Maafkan aku, Sayang. Aku tidak akan mengulangi hal itu lagi di lain waktu. Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku. Katakanlah."
"Apa kamu yakin?" Tanya Zaya.
Aaron mengangguk.
"Tentu saja. Aku akan melakukan apa saja asal kau mau memaafkanku."
Zaya terdiam sejenak sambil menatap Aaron.
"Ganti sekertarismu dengan yang baru, bila perlu ganti dengan yang berjenis kelamin laki-laki." Pinta Zaya.
Aaron tertegun mendengar permintaan Zaya. Dia tidak menyangka jika istrinya ini akan meminta hal semacam itu.
"Sayang, apa itu tidak terlalu berlebihan. Anna bukanlah tipe wanita penggoda, itulah sebabnya selama ini aku nyaman bekerja bersamanya. Sudah lebih delapan tahun dia bekerja padaku. Sejauh ini pekerjaannya sangat bagus dan memuaskan. Aku akan sangat kesulitan jika harus mencari penggantinya."
"Sulit bukan berarti tidak bisa, Aaron. Orang yang pekerjaannya bagus di bumi ini bukan dia seorang. Kamu pasti bisa mencari penggantinya jika kamu mau."
"Tapi tetap saja aku tidak bisa memecat dia tanpa alasan. Dia tidak sedang melakukan kesalahan. Lagipula dia sudah sangat berjasa pada perusahaan selama ini."
"Apa berusaha menggodamu tadi tidak termasuk sebuah kesalahan?"
Zaya menjadi semakin emosi, sedangkan Aaron tampak mulai kehilangan kesabaran.
"Zaya, kau sangat tidak masuk akal." Ujarnya kesal.
Zaya tersenyum masam. Airmata kembali menetes membasahi pipinya. Ia pun bangkit dari duduknya.
"Benar, aku sangat tidak masuk akal. Hal paling tidak masuk akal yang pernah aku lakukan adalah menikah lagi denganmu padahal kau tidak benar-benar peduli padaku." Ujarnya sambil meninggalkan Aaron.
Bersambung...
Kan emak bilang juga apa... makanya jgn pernah balik ama mantan. Di bungkus snack juga udah pada dikasih tulisan 'buanglah mantan pada tempatnya'
ya udahlah, ntar emak gebukin tuh si Aaron bareng ibu2 komplek yg udah nungguin di pengkolan😎😎😎
Likenya ya
Happy reading❤❤❤