Since You Married Me

Since You Married Me
Belajar Meredam Perasaan



Setelah melewati perdebatan yang cukup panjang, akhirnya dengan berat hati Aaron mengizinkan Zaya untuk ikut menghadiri rapat para pemegang saham. Tentu saja dengan berbagai macam syarat dan aturan yang tidak bisa Zaya ingat satu-satu.


Zaya hanya mendengarkan apa yang Aaron katakan sembari sesekali mengangguk-anggukan kepalanya seolah ia mengerti. Padahal siapa yang tahu jika kata-kata Aaron hanya numpang lewat saja di telinga Zaya, pasalnya tak ada satu pun dari kata-kata Aaron tersebut yang masuk di akal.


Zaya hanya berdoa agar ia diberi kesabaran meghadapi suaminya ini. Sebenarnya di sudut hatinya yang paling dalam, ia merasa senang karena dicintai oleh suaminya dengan begitu besarnya. Tapi tetap saja sesuatu yang terlalu berlebihan tidaklah baik. Zaya ingin Aaron kembali normal seperti biasanya. Ia ingin Aaron mencintainya dengan sewajarnya saja.


Mereka pun akhirnya pergi ke kantor bersama-sama.


Sepanjang perjalanan, Aaron merengkuh tubuh Zaya dan menyandarkan kepala istrinya itu di bahunya. Ada kalanya Aaron merasa senang saat istrinya ini menjadi sosok yang dapat membuat kagum banyak orang. Tapi seringkali pikiran dangkal datang di benaknya. Membayangkan Zaya lemah dan tak punya kemampuan apa-apa hingga istrinya itu akan terus bersandar padanya.


Aaron mendesah. Dia menyadari jika otaknya sering tidak rasional belakangan ini.


Tentu saja Aaron menepis pemikiran picik tentang istrinya itu. Sebagai suami yang baik, dia pasti tidak akan mematahkan sayap Zaya untuk terbang tinggi.


Aaron hanya terlalu mencintai Zaya hingga perasaan itu justru sering menyiksa dirinya sendiri. Aaron sadar, mungkin ini adalah cara Tuhan menghukumnya setelah selama ini dia telah memberikan banyak kesedihan dalam hidup Zaya. Dia tersiksa karena perasaanya sendiri. Dan mungkin Aaron harus menanggung perasaan itu seumur hidupnya.


Tak terasa mereka telah sampai di kantor Aaron.


Aaron pun membimbing Zaya untuk turun dari mobil, lalu berjalan memasuki kantor masih dengan merengkuh pinggang istrinya itu. Aaron seakan tak ingin Zaya terlepas dari jangkauannya sedikit saja.


Para karyawan yang berpapasan dengan mereka menunduk hormat pada keduanya. Mereka sudah tidak heran lagi dengan kelakuan Aaron yang begitu posesif pada Zaya. Hampir seluruh perusahan tahu jika bos mereka adalah lelaki pecinta yang tergila-gila pada istrinya sendiri. Sampai-sampai mereka mempredikati bos mereka itu sebagai seorang budak cinta.


Dan melihat bagaimana lengketnya Aaron dan Zaya di berbagai kesempatan, sebagian dari karyawan Aaron juga menjuluki mereka dengan pasangan love bird. Pasangan yang selalu terlihat mesra dan tak pernah berjauhan.


Zaya dan Aaron memasuki ruangan yang di jadikan tempat berlangsungnya rapat. Disana telah hadir para pemegang saham, termasuk Ginna dan Carlson. Mereka duduk di tempat duduk tak jauh dari kursi Aaron. Sedangkan kursi Zaya sendiri berada tepat bersebelahan dengan Aaron. Tentu saja Aaron yang mengaturnya agar Zaya tetap berada didekatnya.


Setelah semua telah hadir, rapat pun akhirnya dimulai. Sejauh ini semuanya berjalan lancar. Zaya bahkan ikut andil memberikan masukan yang disetujui oleh para pemegang saham lainnya.


Zaya memiliki potensi yang sangat besar di bidang bisnis. Ia belajar dan menyesuaikan diri dengan sangat cepat. Hal itu membuat Aaron semakin merasa bersalah karena telah mengekangnya.


Mungkin setelah ini Aaron harus belajar untuk mengendalikan perasaannya lebih banyak lagi. Zaya berhak untuk semakin bersinar. Sebagai suami, Aaron sudah seharusnya mendukung apa yang menjadi potensi istrinya itu.


"Sayang, tunggulah di ruanganku dulu. Masih ada beberapa hal yang harus aku bahas dengan Papa." Pinta Aaron setelah rapat selesai.


Zaya mengangguk.


"Biar aku temani dia." Tiba-tiba Ginna datang dan meraih lengan Zaya. Ibu mertua Zaya itu pun membimbing Zaya menuju ruang kerja Aaron.


Disana Zaya segera merebahkan dirinya diatas sofa. Rapat tadi berlangsung agak lama hingga tubuhnya terasa lelah. Kakinya juga terasa kebas saat ini.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Ginna.


Zaya mengangguk.


"Aku hanya sedikit lelah, Ma." Ujar Zaya.


Kemudian mata Ginna tertuju pada kaki Zaya yang membengkak.


"Astaga, kakimu bengkak. Apa rasanya kram?" Tanya Ginna.


"Iya. Rasanya kram dan agak kebas. Mungkin karena tadi aku terlalu lama duduk dengan posisi kaki menggantung." Jawab Zaya.


"Harus segera di beri minyak gosok agar segera reda." Ujar Ginna sembari bangkit dan keluar dari ruang kerja Aaron, bertepatan dengan Sekertaris Jeff mengembalikan beberapa berkas di mejanya.


"Nyonya besar." Sekeetaris Jeff membungkuk kearah Ginna.


"Tolong carikan aku minyak gosok sekarang juga." Ujar Ginna pada bawahan Aaron itu dengan nada tak ingin dibantah.


"Baik, Nyonya Besar." Sekertaris Jeff membungkukkan badannya sekali lagi. Lalu dia pergi mencari apa yang di pinta Ginna tadi meski dengan raut wajah agak bingung.


"Ini yang Anda minta tadi, Nyonya Besar." Sekertaris Jeff memberikan minyak gosok itu pada Ginna.


"Terima kasih." Ujar Ginna sambil menerimanya. Sekertaris Jeff menanggapi dengan sedikit membungkukkan badannya.


Ginna hendak menggosokkan minyak itu ke kaki Zaya. Ia pun berjongkok di hadapan menantunya itu.


Sontak Zaya agak terkejut melihat hal itu. Buru-buru ia bangkit dari rebahannya dan menahan tangan Ginna.


"Biar aku sendiri saja, Ma." Cegahnya. Ia sungguh merasa tidak enak jika sampai Ginna menyentuh kakinya.


"Tidak apa-apa, biar aku saja. Memangnya kau bisa menyentuh kakimu sendiri dengan perut sebesar ini?"


Zaya terdiam sesaat. Benar apa yang Ginna katakan. Dengan perutnya yang besar, sangat sulit bagi Zaya untuk melakukan sesuatu dengan posisi merunduk.


"Tapi, Ma..." Zaya masih ragu untuk membiarkan ibu mertuanya itu meyentuh kakinya.


"Nyonya Besar, Nyonya. Maaf jika saya menyela. Bolehkah saya saja yang melakukannya?" Tiba-tiba suara Sekertaris Jeff menginterupsi, membuat Zaya dan Ginna menoleh kearahnya secara bersamaan dengan raut terkejut.


"Kebetulan saya pernah mempelajari cara memijat kaki bengkak pada ibu hamil saat Kakak perempuan saya hamil dulu. Saat itu suami Kakak saya sedang di tugaskan keluar kota sehingga saya yang menjaganya. Apa boleh saya membantu Nyonya agar kaki Nyonya tidak bengkak dan kram lagi?" Sekali lagi Sekertaris Jeff menawarkan diri.


Zaya masih melebarkan matanya karena kaget dengan tawaran Jeff tersebut. Tapi Ginna justru terlihat mempertimbangkan.


"Apa kau mempelajari dari ahlinya?" Tanya Ginna pada Jeff.


"Iya, Nyonya Besar. Saya mempelajarinya langsung dari seorang terapis khusus ibu hamil." Jawab Jeff.


"Kalau begitu pijat kaki menantuku supaya kakinya jadi lebih baik." Pinta Ginna.


Zaya semakin membeliakkan matanya saat mendengar permintaan ibu mertuanya itu.


"Baik, Nyonya Besar." Sekertaris Jeff membungkuk pada Ginna, kemudian mengambil posisi jongkok untuk mulai memijat kaki Zaya.


"Tidak perlu, Sekertaris Jeff. Biar nanti dirumah saja kaki saya di pijat." Zaya menolak.


"Sudah, tidak apa-apa. Kalau ditunggu nanti malah akan jadi semakin bengkak. Biarkan Sekertaris Jeff yang membantu agar kakimu lebih baik. Ini tidak akan lama." Ujar Ginna menenangkan.


"Lagi pula ada aku disini." Tambahnya lagi.


Zaya menghela nafasnya dan hanya bisa pasrah. Kalau boleh jujur, kakinya rasanya memang sudah semakin kram dan mulai terasa sakit, jika dibiarkan lebih lama lagi mungkin ia tidak akan bisa berjalan. Tapi Zaya takut Aaron melihatnya dan menjadi salah paham. Kini ia hanya bisa berharap Aaron tidak datang sebelum Jeff selesai memijat kakinya.


Sekertaris Jeff mulai memijat kaki Zaya. Dia terlihat fokus dan sangat serius melakukannya. Dan Zaya bisa merasakan kakinya mulai terasa lebih baik.


Tapi tiba-tiba mereka semua terkejut saat seseorang menarik kerah baju Sekertaris Jeff dan menyeret pemuda itu berdiri.


Bugghh!!


Satu bogem mentah melayang tepat di wajah tampan Jeff hingga membuat Zaya dan Ginna terpekik.


Sekertaris Jeff terhuyung dengan darah yang mengalir dari sudut bibirnya.


Bersambung....


Votenya dong😆


Happy reading❤❤❤