Since You Married Me

Since You Married Me
Cemburu?



"Apa yang kau lakukan disini?" suara Aaron terdengar berat ditelinga Zaya.


Tampak lelaki itu telah berdiri tepat dihadapan Zaya tanpa mempedulikan Evan yang sedang menatapnya heran. Sorot matanya tajam menatap Zaya yang tampak sedikit terkejut.


Zaya mematung. Benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa terhadap Aaron sekarang ini. Bertemu Aaron saat bersama dengan Evan, tak pernah sekalipun terbayangkan sebelumnya oleh Zaya.


Evan maju selangkah. Lalu sambil sedikit tersenyum kearah Zaya, Evan menarik lembut tangan Zaya dan mengarahkan Zaya untuk mundur kebelakangnya.


Zaya hanya menurut. Entah kenapa, saat ini ia seperti kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.


"Maaf, Tuan. Anda menghalangi jalan kami." ujar Evan berusaha sopan.


Aaron seperti tak menghiraukan kata-kata Evan. Matanya masih tak berpaling dari Zaya yang kini berada dibalik badan Evan.


"Apa Tuan mengenal teman wanita saya?" tanya Evan kemudian.


Kali ini Aaron merespon. Tatapan nyalangnya kini beralih pada Evan. Entah kenapa, Evan merasa ada aroma permusuhan yang menguar dari dalam diri lelaki dihadapannya itu.


Karena melihat Zaya yang tampak tak meresponnya, Aaron pun menyingkir, membiarkan Zaya dan Evan berlalu untuk mendapatkan meja. Seketika dia sadar jika saat ini dia tengah membahas sebuah proyek dengan seorang klien. Lalu dia pun kembali ke mejanya, menemui kembali kliennya yang sempat dia tinggalkan.


Sesekali Aaron melirik kearah Zaya yang terlihat sedang menikmati makanannya. Tangannya tampak ia taruh diatas meja.


Tiba-tiba saja Aaron mendelik. Lelaki yang sedang bersama Zaya terlihat mengusap-usap punggung tangan Zaya. Dan yang membuat Aaron kesal adalah, Zaya tampak tak menolak perlakuan lelaki itu padanya. Malah terlihat mengulas senyum sambil melihat balik kearah lelaki itu.


Hati Aaron terasa panas. Entah kenapa, dia sangat tidak suka melihat pemandangan didepannya itu. Tanpa sadar Aaron meremas berkas yang ada dihadapannya. Berkas yang harusnya mendapatkan tanda tangan dari kliennya itu berakhir menjadi sebuah bola.


Sontak saja klien Aaron merasa marah dan tersinggung. Lelaki paruh baya itu pun pergi meninggalkan Aaron sebelum adanya kesepakatan bisnis diantara mereka.


Aaron terkesiap. Dia kembali ke alam sadarnya saat kliennya itu sudah tak ada lagi dihadapannya.


Aaron menghembuskan nafas kasar dan merutuki kebodohannya. Bagaimana bisa dia mengacaukan pertemuan pentingnya kali ini hanya karena kekesalannya melihat Zaya bersama lelaki lain.


Dan kenapa juga dia harus kesal melihat Zaya bersama lelaki lain? Bukankah saat ini mereka sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi? Lagipula, bukankah tujuannya menceraikan Zaya karena ingin perempuan itu bisa menemukan kebahagiaannya dengan lelaki lain? Lalu sekarang, Zaya tampak sudah punya teman lelaki dan menjalin hubungan baru, harusnya Aaron sekarang merasa senang karena tujuannya berhasil, kan?


Aaron kembali membuang nafasnya dengan kasar. Mungkin saat ini tubuhnya sedang sangat lelah, hingga otaknya menjadi tidak terlalu berfungsi.


Dia pun segera beranjak dan pergi dari restoran itu dengan langkah lebar. Sepertinya dia perlu air yang benar-benar dingin untuk menguyur kepalanya. Entah kenapa, saat ini dia merasakan hawa panas yang benar-benar membuatnya gerah. Aaron merasa sangat marah tanpa dia tahu apa penyebabnya.


Sementara itu, sepeninggal Aaron, Zaya tampak menghela nafas lega. Ia benar-benar tidak nyaman saat tadi Aaron masih ditempat itu. Suasana hatinya yang tadinya sudah kurang bagus, bertambah jadi tak menentu dengan kehadiran Aaron dihadapannya.


Zaya sendiri tidak mengerti, kenapa sosok Aaron masih saja mempengaruhi suasana hatinya. Bukankah belakangan ia tidak memikirkan Aaron lagi? Apa jangan-jangan sebenarnya ia masih belum bisa menyingkirkan lelaki itu dari hatinya?


Ah, entahlah. Kepala Zaya tiba-tiba saja pusing jika sudah memikirkan Aaron.


Zaya tidak menyadari jika diam-diam Evan memperhatikan mimik wajahnya. Evan yakin ada sesuatu antara Zaya dan lelaki yang menghadang jalan mereka tadi. Tapi melihat ekspresi Zaya yang tidak terlihat baik, Evan pun menahan dirinya untuk tidak bertanya.


Setelah makan siang yang tidak terlalu mengenakkan itu, Evan langsung mengantar Zaya pulang kerumahnya.


Mobil Evan berhenti tepat didepan pagar rumah Zaya. Tapi Evan terlihat tak beranjak dari tempatnya. Dia tetap duduk di belakang kemudi dengan raut wajah tak terbaca.


Lalu saat Zaya berinisiatif untuk membuka pintu mobil sendiri, Evan menahan tangan Zaya yang memegang handel pintu mobil.


Zaya menoleh dengan penuh tanda tanya.


Evan menatap kearahnya, dan tatapan mereka bertemu untuk beberapa saat.


"Lelaki di restoran itu, apa dia mantan suamimu?" tanya Evan akhirnya.


Zaya menghela nafasnya sembari menatap kearah depan.


" Iya." jawabnya kemudian.


Evan ikut menghela nafas dalam. Sudah dia duga jika lelaki tadi adalah mantan suami Zaya.


"Sepertinya ada yang belum terselesaikan diantara kalian." ujar Evan lagi.


Zaya tersenyum penuh ironi.


"Kami bahkan belum memulai apapun." balasnya masam.


Kemudian Zaya membuka pintu mobil dan beranjak.


"Terima kasih untuk hari ini, Kak. Maaf aku tidak bisa mengajakmu mampir, aku sangat lelah dan ingin langsung beristirahat." ujar Zaya sembari turun dari mobil Evan.


Evan hanya bisa mengangguk.


Setelah melambaikan tangannya pada Evan, Zaya pun masuk kedalam rumahnya tanpa menoleh kebelakang lagi.


Evan menatap tubuh Zaya hingga hilang dibalik pintu. Melihat keadaannya sekarang, tidak akan mudah baginya untuk masuk kedalam hati Zaya. Sangat terlihat jika Zaya masih sangat mencintai mantan suaminya itu, meski Zaya sendiri tampak berusaha untuk membuang perasaannya.


Tapi Evan tak ingin menyerah. Ia akan terus mendekati Zaya dan mengambil hati wanita itu sedikit demi sedikit. Evan akan membuat Zaya jatuh cinta padanya dan melupakan mantan suami brengseknya itu. Itulah yang ada dibenak Evan sekarang. Dan dia bertekad untuk mewujudkannya.


___________________________________________


Asisten Dean tampak bingung dan tidak tahu mesti melakukan apa. Pasalnya selama lima belas tahun bekerja untuk Aaron, baru kali ini dia menghadapi situasi seperti ini.


Saat ini tuannya itu benar-benar dalam kondisi yang kacau. Sejak kembali dari meeting dengam seorang klien siang tadi, Aaron mendadak jadi hilang kendali.


Dia memporak-porandakan meja kerjanya hingga ruang kerjanya jadi sangat berantakan. Anna yang tidak sengaja memergoki hal itupun tidak luput dari kemarahan Aaron. Hingga sekertarisnya itu harus menerima punishment tanpa tahu apa kesalahannya.


Lalu setelah beberapa saat, Aaron pun tampak telah lebih tenang. Meski begitu, baik Anna maupun Asisten Dean masih tidak berani untuk membuka suara, bahkan untuk sekedar mengingatkan jadwal Aaron sekalipun.


Mereka berdua masih memilih untuk dipotong gaji daripada harus kehilangan nyawa. Kemarahan Aaron tadi benar-benar membuat mereka takut, hingga menyingkirkan rasa penasaran mereka tentang penyebab kemarahan Aaron itu sendiri. Tidak ingin tahu banyak hal adalah kunci penting agar bisa tetap aman bekerja pada Aaron. Dan itulah yang sudah dipegang teguh olah Anna dan Asisten Dean selama bertahun-tahun ini.


Aaron menghela nafas panjang. Jangankan kedua bawahannya itu, bahkan dirinya sendiri pun tidak mengerti dengan apa yang telah dia lakukan.


Dirinya tiba-tiba hilang kendali dan melakukan hal yang tidak masuk akal sejak melihat Zaya bersama lelaki lain siang tadi.


Aaron sendiri bingung dan bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan dirinya. Benarkah dia marah karena tahu Zaya sudah menjalin hubungan dengan lelaki lain. Lalu jika memang seperti itu, apa yang sebenarnya saat ini dia rasakan.


Apakah sekarang dia sedang cemburu?


Bersambung.....


Kamu ga cemburu, Bang. Cuma jealous ajašŸ˜…


Jgn lupa votenya ya, maaf masih blm bisa bls komen satu2 gegara sibuk mendampingi para bocil author belajar secara daring.


Semoga corona cepat berlalu, amin...


Happy readingā¤ā¤ā¤