
Zaya menghapus airmata yang jatuh di pipi Aaron, tapi berganti pipinya yang menjadi basah juga. Entah kenapa, melihat Aaron menangis membuat hatinya menjadi sakit dan tak bisa untuk tidak meneteskan airmata juga.
"Selama bertahun-tahun aku menantikanmu membalas perasaanku, Honey. Aku tidak menyangka jika akhirnya kamu akan mencintaiku juga. Rasanya ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Saat ini kamu telah membuatku menjadi perempuan paling beruntung di dunia ini. Seandainya waktuku ternyata tidak banyak untuk bersamamu, aku tidak akan mengeluh lagi. Aku akan menganggap itu adalah harga yang harus aku bayar untuk bisa mendapatkan cintamu. Aku tidak menyesal sama sekali..."
Airmata Aaron semakin deras mengalir. Lelaki itu terisak sambil semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh istrinya itu.
"Tolong jangan berkata seperti itu, Sayang. Jangan pernah katakan jika kau akan meninggalkanku. Aku tidak akan sanggup hidup di dunia yang tidak ada dirimu di dalamnya. Jika kau mati, maka aku juga akan mati. Dan putra kita akan sendirian."
Aaron tercekat dan tak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi. Aaron tergugu.
"Jika kau tidak ingin dia hidup sebatang kara, maka tetaplah disini bersamaku. Jangan pergi kemana pun...." Lirihnya serak sambil terus mendekap istrinya dengan erat. Dia tak sanggup lagi mengendalikan ledakan emosi yang menderanya. Tak di pedulikannya jika saat ini ada dua bawahannya yang juga sedang bersama mereka.
Aaron kalah. Rasa takut kehilangan yang begitu besar membuatnya menjelma menjadi sosok yang lemah. Tak ada lagi Aaron Brylee yang kuat dan mampu menghadapi segalanya. Saat ini dia hanyalah seorang suami yang sangat takut kehilangan istri tercintanya.
Tapi siapa yang tahu jika Jeff dan Jennifer juga diam-diam menyeka airmata mereka. Mereka begitu tersentuh dengan perasaan cinta Aaron dan Zaya yang begitu dalam satu sama lain. Mereka pun berharap bisa saling mencintai seperti itu juga.
"Jangan menangis, Honey. Ada Albern disini." Zaya kembali menghapus airmata Aaron sambil berusaha tersenyum. Wajahnya telah semakin pucat dan suaranya kian melemah.
Aaron mengenggam jemari Zaya yang menyentuh wajahnya dan membawanya pada bibirnya. Aaron mengecup tangan itu dengan penuh perasaan hingga airmata yang kembali mengalir. Dipandangnya istrinya itu dengan wajah sendu.
"Bertahanlah, Sayang. Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit. Jika aku tidak cukup pantas menjadi alasanmu untuk bertahan, bertahanlah demi putra kita." Pinta Aaron dengan nada memohon.
Zaya mengangguk dengan mata yang semakin meredup. Meski ia tidak tahu apakah dirinya bisa benar-benar bertahan, Zaya bertekad untuk terus berusaha untuk tidak memejamkan matanya. Zaya ingin bertahan. Bukan hanya untuk Aaron dan Albern, tapi juga untuk dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai ke rumah sakit yang di tuju. Zaya langsung mendapatkan pertolongan di ruang gawat darurat. Lalu ia setelah mendapatkan transfusi darah, Zaya selanjutnya di bawa kebagian Obgyn untuk memeriksa kondisi bayi dalam kandungannya.
Ternyata kondisi yang disebabkan benturan pada perutnya tadi cukup parah. Di ketahui jika rahimnya robek sehingga terjadi pendarahan. Kondisi bayinya sendiri masih cukup baik, tapi harus segera di lakukan operasi sesar agar sang bayi bisa selamat.
Sudah di pastikan jika Zaya tidak bisa melahirkan secara normal.
Tapi sekarang yang menjadi masalah adalah dokter bedah yang ada saat ini hanya dua orang, dan sekarang sedang membedah pasien masing-masing. Hai itu di karenakan sekarang sedang akhir pekan, sehingga hanya sebagian dokter saja yang ada di rumah sakit, sedangkan sebagian besar sedang libur.
Sebenarnya dokter bedah yang saat ini sedang tak ada di tempat sudah di hubungi oleh pihak rumah sakit, dan dokter tersebut sudah dalam perjalanan.
Tapi karena butuh waktu untuk dokter itu sampai, sedangkan kondisi Zaya sudah semakin melemah, Aaron pun tak bisa menahan diri lagi untuk tidak marah. Bahkan Direktur rumah sakit tersebut tak lepas dari amukan Aaron.
"Maafkan kami, Tuan Aaron. Tidak lama lagi dokter bedahnya pasti akan sampai. Anda tidak perlu khawatir. Istri Anda pasti akan baik-baik saja." Dokter yang menjadi Direktur di rumah sakit itu mecoba untuk menenangkan Aaron.
Tapi bukannya menjadi tenang, Aaron malah terlihat semakin marah.
"Tidak perlu khawatir katamu? Apa kau tidak lihat kondisi istriku yang sudah semakin lemah. Kau bilang agar aku tidak perlu khawatir? Apa begini cara rumah sakitmu menangani pasien?" Suara Aaron terdengar menggelegar di lorong rumah sakit.
"Dokter bedah yang saya hubungi tadi sedang dalam perjalanan, Tuan. Dia pasti akan segera sampai." Direktur Rumah Sakit tersebut masih berusaha menenangkan Aaron.
"Jika sampai dokter itu terlambat dan istriku kenapa-napa. Akan aku pastikan jika rumah sakit ini akan tutup untuk selamanya." Ujar Aaron dengan nada yang sangat serius.
Direktur rumah sakit itu menelan salivanya dengan susah, lalu dia membungkuk hormat pada Aaron dengan sangat dalam sebagai permohonan maafnya.
Bersamaan dengan itu Carlson dan Ginna juga datang dan langsung menghampiri Aaron.
"Apa yang terjadi?" Tanya Ginna pada putranya itu
"Zaya terpeleset, dan perutnya terkena benturan." Jawab Aaron.
Ginna dan Carlson mendesah bersamaan.
"Bagaimana kau bisa seceroboh ini menjaga istrimu,Aaron." Sergah Carlson pada Aaron. Aaron tak menjawab dan hanya menunduk sedih.
Albern yang sedari tadi duduk dipangkuan Jennifer di salah satu kursi rumah sakit pun langsung turun dan berhambur kearah Ginna.
"Grandma..." Bocah itu memeluk Ginna sambil terisak. Tangisnya akhirnya pecah setelah dari tadi berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
"Jangan menangis, Sayang. Tenanglah." Ginna jongkok dan membawa Albern kedalam pelukannya.
"Mama berdarah. Al takut." Ujarnya sambil masih terus menangis di pelukan Ginna.
"Mama Al akan baik-baik saja. Jangan takut." Ujar Ginna lagi sambil mengusap punggung cucunya itu.
Tak lama kemudian, setelah semua persiapan selesai, Zaya pun di pindahkan ke ruang operasi. Kali ini Aaron tak bisa berkomunikasi lagi dengan Zaya karena istrinya itu telah tak sadarkan diri.
Setelah Zaya di dorong masuk kedalam ruang operasi, semua orang termasuk Aaron hanya bisa menunggu di luar.
Sebelum benar-benar mulai melakukan operasi, dokter bedah itu pun menemui Aaron terlebih dahulu.
"Tuan, kondisi istri Anda saat ini bisa di bilang kritis. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan istri Anda maupun anak yang ada dalam kandungannya. Tapi seandainya nanti kami diharuskan untuk memilih, siapa yang harus kami utamakan untuk di selamatkan terlebih dahulu? Anaknya atau ibunya?" Tanya dokter itu pada Aaron.
Pertanyaan itu bagaikan petir yang menyambar tubuh Aaron hingga dia tercekat dan tak bisa berkata-kata.
"Apa yang Anda bicarakan, Dokter? Tentu saja kalian harus lebih dulu menyelamatkan ibunya. Mereka bisa punya anak lagi nanti." Jawab Ginna dengan tegas.
"Tapi, Nyonya. Rahim menantu Anda mengalami kerusakan. Meski ia bisa pulih nanti, tapi kemungkinan besar menantu Anda tidak bisa mengandung lagi." Ujar dokter itu lagi.
Kali ini Ginna terdiam dan melihat kearah Aaron untuk memberikan jawabannya.
Aaron terdiam beberapa saat dengan ekspresi yang sulit di lukiskan. Dia memejamkan matanya sebelum akhirnya membuka mulutnya.
"Selamatkan Ibunya."
Bersambung...
Tetep like, komen dan vote
Happy reading❤❤❤