
Jeff menjemput Jennifer di kamar kos-kosannya. Malam ini penampilan jeff tampak berbeda. Dia terlihat tampan dengan pakaian casual yang membalut tubuhnya saat ini. Cukup membuat terpana kaum hawa yang menggilai Oppa-oppa Korea.
Jennifer melihat pacarnya itu dengan tatapan yang sulit di jelaskan.
"Kamu mau mengajakku kemana?" Tanya Jennifer sambil memperhatikan penampilan Jeff.
"Kencan." Jawab Jeff singkat. Di tariknya lengan kekar Jennifer, hingga membuat Jennifer mau tidak mau mengikuti pemuda itu.
Jeff membukakan pintu mobilnya untuk Jennifer. Jennifer pun akhirnya masuk meski awalnya agak ragu.
Jeff tersenyum. Lalu ia juga masuk dam duduk di belakang kemudi. Dipasangkannya safety belt pada Jennifer, lalu baru dia memasangkan alat keamanan itu pada dirinya sendiri juga
Kemudian mobil pun melaju.
"Sebenarnya kita mau kemana, Jeff?" Tanya Jennifer penasaran.
"Ke suatu tempat." Jawab Jeff sok misterius.
Jennifer berdecak.
"Jeff, please... Jangan pernah memberikanku surpise, atau apapun itu namanya. Kamu tahu kalau aku tidak suka kejutan, kan? Jangan sampai nanti aku malah menonjokmu karena terkejut." Ujar Jennifer dengan serius.
Jika orang lain mungkin akan bergidik ngeri mendengar kata-kata Jennifer, tapi tidak demikian dengan Jeff. Pemuda tampan itu malah tertawa kecil seakan Jennifer sedang mengatakan sebuah lelucon.
"Apa kamu tega menonjokku?" Tanya Jeff sambil menoleh sekilas pada Jennifer.
"Yah... sebenarnya tidak tega. Tapi bagaimana kalau aku sampai tidak sengaja menonjokmu. Aku punya kebiasaan memukul orang saat sedang terkejut." Ujar Jennifer lagi masih dengan ekspresi wajah serius.
Kali ini Jeff malah tertawa dengan semakin keras.
" Jeff, aku tidak sedang melucu. Aku serius!" Sergah Jennifer.
"Yang bilang kamu sedang melucu itu siapa? Aku tahu kalau kamu sedang serius." Ujar Jeff setelah berhasil menghentikan tawanya.
"Lalu kenapa kamu malah tertawa? Apa kamu sedang mengejekku?" Jennifer tampak marah.
"Tentu saja tidak." Jeff melihat kearah Jennifer sejenak sambil mengulas senyuman mautnya. Senyum yang seketika membuat dada Jennifer berdesir. Sampai detik ini Jennifer masih tidak bisa mempercayai jika sosok tampan di hadapannya ini adalah pacarnya. Rasanya masih seperti mimpi.
"Aku sama sekali tidak mengejekmu, Jenn. Aku hanya tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa saat mendengar kata-katamu. Tidak peduli kamu sedang mengatakan apa, kedengarannya selalu menyenangkan di telingaku." Ujar Jeff pada Jennifer.
Jennifer melengos. Bukan karena marah, melainkan karena malu. Wajah Jennifer merona mendengar kata-kata Jeff barusan, dan dia tidak ingin Jeff sampai mengetahuinya.
"Jangan marah, Jennifer Sayang." Jeff berusaha membujuk pacarnya itu. Tapi Jennifer masih tak bergeming. Dia masih berusaha untuk menghilangkan desiran halus yang sedari tadi dirasakannya.
Jeff kembali menoleh sekilas kearah Jennifer.
"Ayolah, Jenn. Jangan marah lagi. Nanti cantikmu bisa hilang kalau kamu terus-terusan marah." Ujar Jeff lagi.
Jennifer terhenyak. Kalimat Jeff tadi seperti belati yang menikam tepat di jantungnya. Meskipun itu merupakan kalimat pujian, tapi terasa seperti sebuah penghinaan di telinga Jennifer.
"Berhentilah mengatakan aku cantik, Jeff. Aku ini tidak cantik." Sergah Jennifer marah. Kali ini kelihatannya tersinggung mendengar rayuan Jeff barusan.
Jeff menautkan kedua alisnya.
"Tapi bagiku kamu itu cantik." Jeff bersikeras.
Jeff kembali melihat sekilas kearah Jennifer. Kali ini tatapannya terlihat tidak senang.
"Kenapa aku harus mendengarkan pendapat orang lain," Tanya Jeff.
Jennifer menghela nafasnya sambil masih melengos kearah lain.
"Tentu saja sesekali kamu perlu mendengarkan orang-orang di sekitarmu. Kamu tampan, muda dan cerdas, tapi kenapa malah menyukai perempuan seperti aku. Aku merasa sangat tidak pantas bersanding dengan kamu, Jeff." Suara Jennifer kali ini terdengar memelan.
Jeff terlihat marah mendengar Kalimat yang keluar dari mulut Jennifer barusan. Lalu secara tiba-tiba di tepikannya mobil yang di kendarainya ke pinggir jalan.
Jeff langsung membuka sabuk pengamannya dan mendekatkan tubuhnya kearah Jennifer yang terlihat bingung.
Wajah mereka berdua sangat dekat hingga bisa saling merasakan hembusan nafas masing-masing. Jeff menatap Jennifer dalam dengan sorot mata yang mampu menenggelamkan gadis gagah itu.
Deg. Deg. Deg.
Jantung Jennifer tiba-tiba berpacu dengan sangat cepat. Hormon adrenalinnya bekerja seakan saat ini dia sedang melakukan Bungee Jumping, olahraga ekstrim favoritnya.
Dan kemudian...
Jeff mengusap pucuk kepala Jennifer lembut dan penuh perasaan, membuat dada Jennifer berdesir hebat.
"Aku menyukaimu, Jenn. Tidak, maksudku, aku mencintaimu. Karena penyakitku, sudah lama aku tidak bisa merasakan emosi seperti ini pada seorang perempuan. Aku mengira akan sendirian selama sisa hidupku. Aku merasa sangat tidak nyaman saat berdekatan dengan perempuan manapun, terutama dengan perempuan yang di katakan orang-orang cantik." Jeff kembali menatap Jennifer.
"Bagiku mereka semua sangat mengerikan seperti monster. Aku harus menahan rasa tidak nyamanku setiap kali harus berinteraksi dengan perempuan seperti itu. Tapi tidak saat aku berada di dekatmu, Jenn. Aku merasa sangat nyaman dan juga aman. Kamu membuatku merasakan sesuatu yang ku kira tidak akan pernah lagi aku rasakan. Aku tidak tahu dan tidak mau tahu apa pendapat orang-orang tentang dirimu. Tapi bagiku, kamu adalah satu-satunya perempuan cantik yang mampu membuatku kembali jatuh cinta setelah trauma mengerikan yang aku alami terhadap perempuan."
Jennifer membeku. Dia tak bisa berkata-kata mendengar penuturan Jeff barusan. Dia sebenarnya sudah tahu tentang trauma dan fobia yang di derita Jeff. Tapi Jennifer tidak menyangka jika dirinya benar-benar bisa membuat Jeff jatuh cinta.
"Jadi, Jenn, aku mohon jangan dengarkan apa yang orang-orang katakan tentang kita. Aku mencintaimu, dan aku membutuhkanmu. Aku ingin kamu menjadi bagian dari hidupku. Aku juga ingin kelak kamu menjadi ibu dari anak-anakku." Ujar Jeff lagi dengan bersungguh-sungguh.
Mata Jennifer langsung membulat kembali seperti sebelumnya.
"Kamu sedang melamarku?" Tanya Jennifer dengan raut terkejut.
"Iya, tapi nanti. Sekarang uang tabunganku belum cukup untuk menikahimu." Jawab Jeff.
"Tapi Jeff, aku ini lebih tua darimu." Jennifer seolah sedang mengingatkan jika dirinya sudah tua.
"Lalu kenapa? Selisih umur kita juga hanya tiga tahun." Jawab Jeff santai.
"Tapi aku punya banyak kebiasaan buruk." Ujar Jennifer lagi.
"Aku nyaman dengan semua kebiasaan burukmu itu."
"Tapi, Jeff..."
"Berhentilah mengatakan tapi, Jenn. Akan aku pastikan jika kamu hanya akan menikah denganku. Kita lihat saja nanti." Jeff berujar dengan nada tidak ingin di bantah.
Jennifer terdiam. Tapi sejurus kemudian senyuman terbit di wajahnya. Mungkin memang dia tidak perlu merasa khawatir lagi. Sangat jelas terlihat jika Jeff sangat serius dengan kata-katanya.
Jennifer hanya berharap dia tidak akan merasa kecewa nantinya.
Happy reading❤❤❤