Since You Married Me

Since You Married Me
Sosok Dari Masa Lalu



Zaya membekap mulutnya yang agak terbuka dengan telapak tangannya sendiri. Matanya masih menatap seseorang yang tengah berdiri dihadapannya itu. Kenangan masa lalu tentang orang itu pun muncul seperti film yang diputar kembali.


"Kak Evan.... Apa benar kamu Kak Evan?" gumam Zaya dengan suara lirih.


Dadanya tiba-tiba saja bergemuruh, seakan ingin meluapkan sesuatu yang telah sangat lama terpendam. Sosok dihadapannya ini, benarkah dia kakak laki-laki yang selalu melindungi Zaya saat dia kecil dulu? Benarkah dia orang selama ini Zaya nantikan? Apa dia benar-benar Evan, kakak yang dulu meninggalkannya karena diadopsi oleh keluarga kaya?


Lelaki itu tersenyum sambil menatap Zaya penuh arti.


"Akhirnya aku menemukanmu, Dee." ujarnya.


Zaya tertegun. Airmata tiba-tiba saja lolos dari pelupuk matanya.


Dee, hanya Evan yang memanggilnya dengan panggilan itu. Evan mengambilnya dari kata 'Diandra', nama belakang Zaya. Dulu dia sengaja membuat panggilan itu agar bisa memanggil Zaya dengan panggilan khusus yang tidak sama dengan orang lain.


"Kak Evan..." Tangis Zaya pecah tanpa bisa ditahan lagi. Lelaki dihadapannya ini benar-benar Evan. Lelaki yang telah membuatnya patah hati karena kehilangan saat usianya masih sangat kecil. Lelaki yang selalu Zaya rindukan meski wajahnya telah samar diingatan Zaya.


Zaya tak menyangka, setelah lebih dari dua puluh dua tahun, akhirnya ia bisa bertemu lagi dengan malaikat pelindungnya itu.


Evan mendekat dan mendudukkan dirinya disamping Zaya. Bibirnya masih menyungging senyuman manis. Lalu mereka saling menatap satu sama lain.


Evan mengulurkan tangannya dan mencubit hidung Zaya, persis seperti yang sering dilakukannya dulu.


"Ternyata kamu masih cengeng seperti dulu." ujarnya.


Zaya meringis. Ia tertawa disela isakannya.


Sosok Evan tampak masih sama seperti yang ada diingatannya. Lelaki itu akan mencubit hidung Zaya saat Zaya sedang menangis. Lalu dia akan memberikan Zaya permen coklat untuk membujuk Zaya agar berhenti menangis.


"Mau permen coklat?" suara Evan tiba-tiba membuyarkan lamunan Zaya. Tampak lelaki itu menyodorkan beberapa bungkus permen yang ada ditelapak tangannya kepada Zaya.


Zaya melihat permen-permen itu dengan emosional. Dengan agak tergetar tangannya terulur untuk mengambil salah satu, tapi saat jemarinya menyentuh ujung bungkus permen itu, tangisnya kembali pecah, lalu tanpa sadar ia menunbruk tubuh Evan dan memeluknya.


"Kenapa sangat lama? Kakak bilang mau menjemputku saat sudah berhasil. Kakak bilang akan sering mengunjungiku. Kenapa kakak berbohong?" isaknya sambil masih memeluk erat Evan.


Dengan sedikit ragu Evan membalas pelukan Zaya. Kemudian tangannya menepuk-nepuk lembut punggung Zaya untuk menenangkannya. Hal yang juga dia lakukan untuk menenangkan Zaya saat mereka kecil dulu.


"Maaf, karena tidak pernah mengunjungimu." ujar Evan akhirnya.


"Tapi aku menepati janjiku untuk menjemputmu, aku datang kepanti lima tahun yang lalu. Tapi orang-orang disana tidak ada yang tahu keberadaanmu dan semuanya juga tidak ada yang punya nomor kontakmu." terang Evan.


Zaya terdiam dan mengurai pelukannya. Ia menatap mata Evan seperti ingin melihat apa saat ini Evan sedang berbohong. Dan Zaya tak menemukan kebohongan itu


"Aku mencarimu, Dee. Sejak aku kembali, aku selalu berusaha untuk menemukanmu. Aku bahkan memasang fotomu diakun sosial mediaku, berharap kamu melihatnya dan memberiku kabar. Tapi aku tidak bisa menemukanmu selama lima tahun ini." tambah Evan lagi.


Zaya tercenung mendengarnya.


"Benarkah?" lirihnya.


Evan mengangguk mengiyakan.


Zaya tercenung. Mungkin saja Evan memang mencarinya lima tahun lalu. Saat itu Zaya sendiri sudah menjadi istri Aaron. Rumah Aaron sudah seperti lubang persembuyian baginya. Tentu saja tidak akan ada orang yang akan menemukannya.


"Orang tua angkatku pindah ke Singapura tepat seminggu setelah mengadopsiku. Itulah sebabnya aku tidak bisa mengunjungimu." ujar Evan lagi.


Zaya hanya terdiam dan mencerna kata-kata Evan.


"Maaf jika aku terlalu lama. Aku tidak bisa menemukanmu selama ini. Dan jujur saja, aku sudah kehabisan cara untuk mencarimu. Untung saja sekarang, tanpa disengaja aku malah bertemu denganmu." ujar Evan lagi.


Zaya masih terdiam dan tak tahu harus merespon apa. Jadi selama ini sosok kakak masa kecilnya itu mencarinya. Ada perasaan hangat tiba-tiba menjalar dihatinya. Ternyata seĺama ini Evan bukannya sengaja melupakannya, hanya saja keadaan yang tidak memungkinkan mereka untuk bertemu.


Zaya lega. Lelaki yang ia anggap sebagai malaikat pelindungnya sewaktu kecil dulu, ternyata masih tetap menjadi sosok yang sama setelah sekian lama.


"Jadi... Kakak sekarang seorang dokter?" tanya Zaya akhirnya.


Evan mengangguk.


"Iya. Dokter Spesialis Jantung." tambahnya.


Zaya tersenyum. Ia senang mendengar ternyata Evan berhasil meraih cita-citanya. Menjadi Dokter Spesialis Jantung adalah cita-cita Evan yang pernah Evan utarakan sendiri pada Zaya. Bukannya tanpa alasan, itu karena kedua orang tua kandung Evan sama-sama meninggal karena penyakit jantung.


"Kamu juga sepertinya sudah sukses, Dee. Punya sebuah kafe yang cukup maju dan sudah memiliki beberapa cabang. Aku benar-benar bangga. Dee yang dulu suka menangis karena diganggu teman-temannya, sekarang sudah berhasil jadi pebisnis muda yang punya banyak karyawan." Evan kembali tersenyum kepada Zaya.


"Dan juga, dia sekarang telah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Untung saja aku telah menemukannya." lanjut Evan lagi dengan nada bicara yang sarat akan makna.


Zaya menoleh kearah Evan. Tampak Evan juga sedang melihat kearahnya. Tatapan mereka pun bertemu untuk beberapa saat.


"Bagaimana Kakak tadi bisa mengenaliku?" tanya Zaya.


Evan tak langsung menjawab. Ia mengalihkan pandangannya kearah lain dan terlihat sedikit menerawang.


"Aku selalu mengingat wajahmu, Dee. Bagiku senyum dan tawamu tadi yang sempat aku lihat sebelum kamu pingsan, tidak ada bedanya dengan senyum dan tawamu saat kamu kecil dulu. Tak peduli mau kamu usia berapa, aku pasti akan selalu mengenalimu." ujarnya.


Evan kembali melihat kearah Zaya yang agak tertegun.


"Tapi sepertinya kamu yang tidak mengenaliku lagi. Iya,kan?" tanyanya.


Zaya agak kaget dengan pertanyaan Evan. Sejujurnya ia memang tidak mengingat wajah Evan lagi. Satu-satunya yang membuatnya sadar jika lelaki dihadapannya ini Kakak pelindungnya dulu, adalah tanda lahir yang ada dipunggung tangan Evan.


"Memang tidak ingat, ya?" tanya Evan lagi.


Zaya kali ini agak kelagapan dibuatnya.


Evan tertawa kecil sambil mengacak-acak rambut Zaya. Satu hal lagi yang sering dilakukannya pada Zaya saat mereka kecil dulu.


" Tidak apa-apa. Karena sekarang kita sudah bertemu, akan ada banyak waktu kedepannya untuk kita menghabiskan waktu bersama-sama, agar kamu bisa mengingat wajahku lagi. Dan kali ini aku tidak akan membiarkan kamu untuk melupakannya." Evan menatap Zaya dalam dan penuh makna.


Zaya pun membalas tatapan Evan dan berusaha mencari arti sesungguhnya dari kalimat terakhir yang diucapkan Evan padanya. Tapi karena tetap tak terlalu memahaminya, Zaya akhirnya memilih untuk mengabaikan kata-kata itu. Yang terpenting adalah kini ia telah kembali bertemu dengan sosok dari masa lalu yang selalu ia tunggu kedatangannya.


Zaya berharap, setelah ini hari-harinya akan menjadi semakin indah.


Bersambung.....


Jangan lupa buat selalu like, komen dan vote ya reader sayang....biar author jadi makin semangat...😘😘😘😘😘


Happy reading❤❤❤