Since You Married Me

Since You Married Me
Semakin Membingungkan



Zaya masih terperangah saat Evan berhenti tepat dihadapannya. Mulutnya bahkan sampai sedikit terbuka saking tak percaya dengan apa yang tengah dilihatnya saat ini. Secara impulsif Zaya melihat sekelilingnya, memastikan jika saat ini ia benar-benar berada didekat Menara Eiffel bukannya Tugu Monas.


Bagaimana bisa lelaki dihadapannya ini tiba-tiba muncul? Dari mana dia tahu jika saat ini Zaya sedang berada disini? Dan lagi, meski dia tahu sekalipun, dia punya pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja, kan?


"Kak Evan, bagaimana bisa ada di sini juga?" Tanya Zaya tanpa sadar. Ia sungguh penasaran bagaimana Evan bisa muncul begitu saja saat ini.


"Ternyata kehadiranku tidak diharapkan, ya?" Tanya Evan. Meski dia berusaha tersenyum dan membuat ucapannya terdengar seperti candaan, tapi tetap saja terdapat kesedihan didalam kata-katanya tersebut.


"Bu-bukan begitu maksudku." Zaya jadi tergagap dan merasa tidak enak.


"Aku cuma heran kenapa Kakak tiba-tiba muncul di sini. Bukankah seharusnya sekarang Kakak sedang berada di rumah sakit.." Tambah Zaya lagi dengan hati-hati.


"Aku sedang cuti untuk ikut merayakan annyversary orang tua angkatku yang ke tiga puluh lima tahun. Mereka disana, sedang foto-foto." Evan menunjuk kearah dua orang pasangan paruh baya yang berada sedikit agak jauh dari mereka.


'Benarkah?"


Zaya melihat pasangan paruh baya tersebut. Dalam sekali lihat saja Zaya dapat mengenali pasangan itu adalah orang sama dengan orang yang menjemput Evan dipanti asuhan dulu. Mereka benar-benar orang tua angkat Evan.


Jadi Evan disini untuk orang tua angkatnya, bukan untuk menyusul Zaya? Zaya sangat lega dengan kenyataan itu. Tapi sejurus kemudian ia kembali berpikir, adakah di dunia ini sebuah kebetulan yang sangat sempurna seperti ini?


Belum sempat Zaya berpikir lebih jauh, tiba-tiba Zaya merasakan jemari mungil meraih tangannya.


"Mama.."


Zaya menoleh. Tampak Albern sedang menengadah kearahnya sambil menggenggam jemarinya dengan erat.


Sedangkan Kara yang tadinya ada disampingnya kini sudah menyingkir dan berada didekat Dean. Lalu Aaron yang sebelumnya sedang mengajak Albern main sekarang juga sudah berdiri tak jauh dari Zaya.


"Sepertinya kalian sedang liburan keluarga?" Tanya Evan lagi.


"Benar." Kali ini Aaron yang menyahut. Lelaki itu kemudian berjalan kearah Zaya dan Evan lebih dekat lagi.


"Apa kabar Dokter Evan? Senang bisa bertemu denganmu disini." Aaron mengulurkan tangannya kepada Evan sambil menatapnya dengan tajam.


Evan tersenyum. Kemudian membalas uluran tangan Aaron dan menatap balik lelaki itu.


"Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan Anda lagi, Tuan Aaron. Saya juga kebetulan sedang berlibur bersama kedua orang tua angkat saya. Benar-benar menyenangkan kita bisa bertemu disini." Ujar Evan sambil menjabat tangan Aaron.


Keduanya sama-sama tersenyum. Tapi entah kenapa sorot mata mereka berdua sama-sama terlihat seperti tatapan membunuh.


Baik Evan maupun Aaron, keduanya nampak seperti seseorang yang tengah dalam mode siaga untuk mempertahankan sesuatu yang sudah menjadi miliknya. Aura mengerikan terpancar dari diri keduanya.


Jabat tangan yang mengandung tegangan listrik itu pun terlepas. Tapi tetap saja ketegangan menyelimuti Evan dan juga Aaron.


Zaya benar-benar merasa tidak nyaman. Ia berpikir keras bagaimana caranya agar bisa lepas dari situasi tak mengenakkan ini.


"Mama, Al lapar." Tiba-tiba suara Albern menyadarkan Zaya. Sebesit ide pun muncul agar dirinya bisa melarikan diri.


"Kak Evan, maaf. Sepertinya aku harus mengajak Albern pergi dulu. Tampaknya dia sudah lapar lagi dan ingin makan siang sekarang." Ujar Zaya kemudian.


Aaron yang ikut mendengarnya pun tersenyum senang, lalu berjongkok kearah Albern.


"Jagoan, mau makan apa siang ini?" Tanya Aaron pada Albern dengan lembut.


"Anything, Papa." Jawab Albern polos.


Aaron tertawa.


"Oke, oke." Ujarnya disela tawa.


"Zaya, kebetulan sudah ada orang tua angkatku. Bagaimana kalau siang ini kita makan siang bersama? Mereka sangat ingin berkenalan denganmu." Ajak Evan tiba-tiba.


Zaya terkejut. Ia bingung bagaimana harus menolak Evan. Secara tidak sadar ia menoleh kearah Aaron seolah tengah meminta bantuan padanya.


"Kedengarannya menyenangkan, Dokter Evan. Bagaimana kalau kami juga ikut. Mungkin orang tuamu ingin berkenalan denganku dan Albern juga." Ujar Aaron kemudian.


Zaya mendelik mendengarnya. Bukannya membantu Zaya menolak, lelaki ini malah menawarkan diri untuk ikut bergabung juga.


Aaron malah membuat situasi ini semakin tidak nyaman.


"Ide bagus." Gumamnya.


"Semakin banyak orang, pasti akan semakin meriah." Tambah Evan lagi.


Zaya benar-benar tak percaya mendengarnya.


Kedua lelaki yang jelas-jelas tidak saling menyukai ini akan berada satu meja makan. Entah kegilaan apa yang akan terjadi nanti. Dan lagi-lagi Zaya tak berdaya untuk keluar dari situasi tak mengenakkan ini.


Ide gila itu benar-benar berlanjut.


Dan disinilah Zaya sekarang. Duduk dihadapan meja bundar besar di dalam sebuah restoran yang cukup mewah, bersama Evan serta kedua orang tuanya, juga Aaron dan Albern.


Evan bahkan secara terang-terangan memperkenalkan Albern sebagai putra semata wayang Zaya dan Aaron sebagai mantan suami Zaya kepada orang tua angkatnya.


Dan anehnya, kedua orang tua angkat Evan tampak sangat santai dan menyambut mereka dengan ramah. Seakan tak terlalu mempermasalahkan jika Zaya, perempuan yang disukai anaknya adalah perempuan yang punya masa lalu yang tak sederhana.


Yang lebih anehnya, mereka malah terkesan memuji apa yang tengah Zaya dan Aaron lakukan saat ini.


"Aku banyak melihat anak-anak sangat menderita selepas perceraian orang tuanya. Mereka yang telah bercerai biasanya tidak mau bersinggungan satu sama lain lagi, bahkan demi anak mereka sekalipun. Tapi apa yang kulihat saat ini sungguh membuka mataku terbuka, ternyata masih banyak anak muda saat ini yang tidak berpikiran egois dan lebih mementingkan tumbuh kembang anak mereka. Meski mereka telah bercerai." Ibu angkat Evan memuji secara terang-terangan.


Zaya hanya tersenyum menanggapi. Ia sungguh tidak tahu harus menjawab apa.


"Kami akan melakukan apapun untuk putra kami, Albern. Bahkan yang lebih dari ini sekalipun." Aaron menimpali.


Kedua orangtua angkat Evan mengangguk-angguk. Sedangkan Zaya tampak mencerna kata-kata Aaron tadi. Entah kenapa baginya kalimat itu terdengar seperti mempunyai makna ganda bagi Zaya.


"Kalian orangtua yang sangat bertanggung jawab. Beruntung sekali Albern punya Mama dan Papa seperti kalian. Albern pasti akan sangat bangga pada kalian." Kali ini Ayah angkat Evan yang membuka suara.


Lagi-lagi Zaya hanya bisa tersenyum menanggapi.


Setelah waktu yang tidak bisa dibilang sebentar, makan siang itu pun selesai. Albern minta diantar oleh Aaron ketoilet, sedangkan Evan dan Ayah angkatnya juga permisi sebentar untuk untuk hal lain. Hingga hanya menyisakan Zaya dan Ibu angkat Evan di meja itu.


Zaya benar-benar canggung dan tak tahu harus bagaimana untuk memulai pembicaraan.


"Tadinya aku bertanya-tanya, kenapa anak itu mau menghadiri perayaan annyversary kami disini. Biasanya dia tidak akan meninggalkan rumah sakit untuk alasan apapun." Ibu Angkat Evan membuka pembicaraan.


"Tapi sekarang aku tahu alasannya. Ternyata annyversary kami hanyalah alibinya saja, tujuan sesungguhnya dia datang kesini pastilah karena dirimu." Tambah Ibu Angkat Evan lagi sambil menatap kearah Zaya.


Zaya membeku. Ternyata benar dugaannya jika tak ada sebuah kebetulan yang begitu sempurna di dunia ini. Pertemuannya dengan Evan di tempat ini sudah direncanakan sebelumnya, bukan murni ketidaksengajaan seperti yang dikatakan oleh lelaki itu.


Zaya hanya bisa tersenyum kecut menanggapi.


"Sejak kami mengadopsinya, anak itu tidak pernah bosan menceritakan dirimu pada kami. Awalnya aku mengira dia hanya menganggapmu sebagai adiknya. Tapi lama kelamaan aku menangkap ada yang tak biasa dari cara dia menyayangimu. Semakin dewasa, dia semakin menghindari berteman dengan perempuan. Bahkan jika ada yang terang-terangan menyukainya, dia akan menolaknya mentah-mentah dan meminta perempuan itu untuk menjauhinya."


Ibu Angkat Evan berhenti sejenak dan menghela nafas. Lalu pandangannya agak menerawang kedepan.


"Lalu aku menyadari satu hal, ternyata dia tidak hanya sekedar menyayangimu. Tapi dia sudah tergila-gila padamu, Zaya."


Ibu Angkat Evan beralih menatap Zaya yang nampak kaget dan bingung.


"Evan, putraku itu. Dia tidak ingin menikahi wanita lain selain dirimu." Tambahnya lagi dengan nada dalam dan penuh penekanan.


Zaya tercekat. Ia sungguh sulit untuk mencerna apa yang baru saja didengarnya.


Baru saja Aaron memintanya untuk memberi kesempatan lagi. Lalu sekarang Evan datang dengan obsesinya untuk menikahi Zaya.


Zaya bingung dan tak tahu harus bersikap bagaimana pada kedua lelaki itu. Situasi ini telah menjadi semakin membingungkan.


Bersambung....


Semalem ada kendala teknis jd baru bs up sekarang.


jgn lupa vote ya...


Happy reading❤❤❤