Since You Married Me

Since You Married Me
Akhir Dari Seorang Anna



"Lepaskan dia, Anna." Aaron meminta dengan sedikit merendahkan suaranya. Dia berusaha menahan amarahnya dan berbicara dengan lebih lembut pada Anna.


Perempuan itu sudah tidak waras. Dia semakin menempelkan pecahan keramik ditangannya pada leher Zaya, hingga leher mulus itu tergores dan mulai mengeluarkan darah.


Sedikit saja Aaron salah bertindak, maka nyawa Zaya yang jadi taruhannya. Aaron tampak berpikir keras untuk bisa menyelamatkan istrinya. Tampaknya dia harus membujuk Anna agar mau melepaskan Zaya.


"Jangan nekat, Anna. Turunkan benda tajam ini dari leherku. Kamu tidak harus bertindak seperti ini." Zaya mencoba mengajak Anna bicara.


"Diam, kau!" Sergah Anna. Perempuan itu terlihat marah saat mendengar suara Zaya, sehingga Aaron memberi isyarat agar Zaya tak bicara lagi.


"Apa yang kau inginkan, Anna?" Tanya Aaron kemudian.


Anna menoleh padanya.


"Aku menginginkanmu, Kak Aaron. Apa masih kurang jelas? Aku ingin menyingkirkan perempuan tak tahu malu ini, lalu aku akan menikah denganmu." Jawab Anna dengan gamblang. Tak ada yang ia tutup-tutupi lagi kali ini.


"Jika aku bersedia menikah denganmu, apa kau mau mendengarkan perkataanku?" Tanya Aaron tiba-tiba.


Jelas saja Zaya membeliakkan matanya mendengar itu. Tapi Aaron kembali memberikan isyarat agar ia tenang dan tetap tak bersuara.


"Kak Aaron sungguh bersedia menikah denganku?" Tanya Anna dengan mata berbinar.


"Iya. Tapi lepaskan dulu dia." Pinta Aaron.


Anna tampak berpikir.


"Tidak! Dia harus mati! Jika dia dibiarkan hidup, pasti dia akan terus menggoda Kak Aaron dan menganggu kita." Ujar Anna akhirnya sambil semakin menekan benda tajam di tangannya, hingga Zaya tampak meringis karena kesakitan.


"Jangan!" Aaron berteriak tanpa sadar.


Anna menoleh kearahnya.


"Maksudku kau tak boleh melakukan itu. Aku suka perempuan yang baik dan lembut. Jadi, jika kau ingin jadi istriku, kau tidak boleh menyakiti siapapun, termasuk dia." Ujar Aaron.


"Jadi sekarang lepaskan dia. Jangan mengotori tanganmu. Bagaimana jika nanti tanganmu sampai lecet?" Aaron berusaha untuk membujuk Anna dengan kata-kata manis. Sungguh dia sendiri pun sangat muak mendengar kalimat yang keluar dari mulutnya itu.


Zaya mendengus.


Bagaimana jika nanti tanganmu sampai lecet? Cih, terdengar sangat menjijikan di telinga Zaya. Meskipun ia tahu jika saat ini Aaron tengah berusaha menyelamatkan nyawanya dari Anna, tapi tetap saja kalimat itu terdengar berlebihan.


Sedangkan Anna terlihat senang dengan apa yang dikatakan Aaron tadi. Ia tampak sedikit melonggarkan benda yang ia acungkan pada Zaya hingga tak terlalu menempel di permukaan kulit.


Zaya bisa sedikit bernafas lega karena benda tajam itu sedikit menjauh. Tapi permukaan kulit dileher sebelah kirinya terasa perih. Sepertinya ia terluka.


"Kak Aaron sungguh peduli padaku?" Tanya Anna meyakinkan.


"Tentu saja." Aaron berusaha untuk tersenyum, meski terlihat kaku dan sangat di paksakan.


"Berarti selama ini Kak Aaron juga menyukaiku, sama seperti aku menyukai Kak Aaron?" Tanya Anna lagi.


"Iya. Aku sangat menyukaimu. Mari kita bicarakan hal ini lebih jauh lagi."


"Lepaskan dia. Bukankah kita perlu membicarakan tentang rencana pernikahan kita? Kemarilah. Mari kita bicara." Aaron mendudukkan dirinya di sofa, lalu menepuk tempat di sebelahnya, meyuruh Anna untuk duduk di sana juga.


Anna tampak berpikir. Lalu tak lama kemudian ia menurunkan benda tajam yang sedari tadi ia acungkan pada Zaya.


Anna melepaskan Zaya, lalu melangkah mendekati Aaron masih dengan pecahan keramik ditangannya.


Akhirnya Zaya bisa bernafas lega karena Anna telah menjauhkan pecahan keramik itu dari lehernya. Para pelayan yang sedari tadi menyaksikan kejadian itu pun juga ikut merasa lega.


Tapi kemudian mereka kembali khawatir saat Anna duduk disamping Aaron dengan masih membawa pecahan keramik yang kini warnanya telah ada corak merah karena noda darah Zaya.


Zaya mengisyaratkan salah satu pelayan untuk memanggil keamanan yang berjaga di gerbang rumah. Pelayan itu pun mengangguk dan menyelinap keluar.


Sebenarnya Bu Asma telah menghubungi polisi beberapa saat yang lalu. Hanya saja, tampaknya mereka masih dalam perjalanan dan akan sampai tidak lama lagi.


"Kak Aaron, sekarang aku siap membicarakan rencana pernikahan kita. Apa kita akan mengadakan pesta pernikahan yang mewah?" Tanya Anna antusias.


Aaron tak menjawab. Dia menatap Anna dengan tatapan dalam yang sulit diartikan.


"Apa kita bisa memesan gaun pernikahan impianku? Lalu cincin pernikahannya? Apa boleh aku mendesainnya sendiri?" Tanya Anna lagi.


Aaron masih diam tak bergeming.


"Ayolah, Kak Aaron. Katamu tadi kita akan membicarakan tentang rencana pernikahan kita." Anna terlihat agak kesal karena Aaron tak menjawab pertanyaanya.


Tiba-tiba Aaron mencengkram kedua lengan Anna dengan kuat, hingga Anna tak berkutik dibuatnya.


"Kak Aaron, apa yang Kakak lakukan?" Tanya Anna bingung sambil meronta, berusaha untuk melepaskan diri. Tapi Aaron semakin mengeratkan cekalannya pada lengan Anna.


"Kak Aaron, apa kamu tadi menipuku?" Tanya Anna lagi dengan marah. Wajahnya kembali berubah menjadi menyeramkan.


Bersamaan dengan itu, dua orang keamanan yang biasa berjaga di gerbang rumah Aaron datang dan ikut mengamankan Anna yang kembali menjadi histeris.


"Apa sudah ada yang menghubungi polisi?" Tanya Aaron pada para pelayan.


"Sudah saya hubungi, Tuan. Mereka sedang di perjalanan, sebentar lagi juga tiba." Bu Asma yang menjawab.


Aaron mengangguk, lalu dia menoleh kearah Zaya yang sedari tadi mematung.


Aaron mendekati istrinya itu.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Aaron.


Zaya tampak tertegun dan tak merespon Aaron. Ia tak menyadari ada darah yang meleleh dari luka di lehernya.


Aaron langsung mengambil beberapa lembar tisu dan menekan luka Zaya agar darahnya berhenti keluar.


"Siapkan mobil!" Perintah Aaron.


Dia langsung membopong tubuh Zaya dan membawanya keluar rumah. Disana sudah ada mobil polisi yang baru saja sampai.


Tiga orang polisi turun dari mobil dan langsung menghampiri Aaron.


"Tuan Aaron, Pelayan rumah Anda tadi memberitahukan kami jika ada orang yang berbuat rusuh di rumah Anda." Seorang polisi dengan pangkat yang lebih tinggi menyapa Aaron.


"Dia sudah diamankan oleh keamanan rumah di dalam." Jawab Aaron.


Ketiga polisi itu kemudian masuk kedalam rumah, lalu segera membekuk Anna. Anna semakin histeris saat tangannya di borgol dan digiring oleh para petugas itu menuju mobil polisi.


"Pastikan perempuan gila itu mendekam dipenjara seumur hidupnya. Dia telah berani melakukan percobaan pembunuhan pada istriku. Semua pelayan rumahku akan menjadi saksinya."


"Anda tidak perlu khawatir, Tuan Aaron. Perempuan ini akan mendapatkan hukuman atas perbuatannya. Saya pastikan istri Anda akan mendapatkan keadilan." Jawab salah satu petugas pada Aaron.


Kemudian Aaron masuk kedalam mobilnya dan meluncur untuk membawa Zaya kerumah sakit. Sedangkan Anna dipaksa masuk kedalam mobil polisi untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya.


Sepanjang perjalanan, Anna masih terus menjerit histeris, meneriakkan nama Aaron, juga terus berteriak akan membunuh Zaya beserta anak yang ada dalam kandungannya.


Anna yang selama ini cerdas dan menarik, saat ini tak lebih dari seorang perenpuan gila.


Bersambung...


Thanks buat yang udah like, komen dan vote, terutama yg udah baik bgt ngasih tip koin.


Peluk dulu satu-satu😁


Happy readingā¤ā¤ā¤