Since You Married Me

Since You Married Me
Binatang Penyengat



Seharian Zaya tidak mau keluar dari kamarnya. Setelah semalam Albern dengan jujur mengatakan dirinya seperti zombi, Zaya merasa sangat malu dan tidak berani menampakkan wajahnya di depan putranya itu maupun di depan para pelayan.


Ia berusaha untuk menghilangkan sembab dimatanya dengan mengompresnya menggunakan air hangat. Dan untuk bibirnya sendiri, Zaya mengolesinya dengan semacam salep agar tidak begitu bengkak lagi.


Zaya kesal pada Aaron. Ia beranggapan karena suaminya itulah semua ini bisa terjadi. Seandainya saja Aaron tidak meminta hal yang aneh-aneh kemarin, tentu saja Zaya tak perlu merasa malu pada putranya sendiri.


Sebenarnya sembab dimatanya masih bisa dimaklumi, tapi bengkak di bibirnya membuat wajahnya benar-benar terlihat aneh. Benar yang dikatakan Albern jika Zaya terlihat seperti zombi.


Zaya berulang kali menggerutu sambil mengompres matanya.


Menjelang siang hari Wajah Zaya sudah jauh lebih baik. Tapi ia masih tidak mau beranjak dari kamarnya dan tetap mengurung diri.


Tiba-tiba suara ketukan pintu mengejutkan Zaya.


Zaya membuka pintu kamarnya. Tampak Bu Asma yang berada dibalik pintu.


"Nyonya, apa saat ini Nyonya sedang merasa tidak sehat?" Tanya Bu Asma pada Zaya.


Zaya agak tercenung, lalu buru-buru menggeleng.


"Saya baik-baik saja, Bu." Jawab Zaya.


Bu Asma tampak menghela nafas lega.


"Dari tadi pagi Nyonya tidak keluar kamar. Saat sarapan tadi juga Nyonya memilih untuk sarapan di kamar. Saya jadi khawatir kalau saat ini Nyonya sedang sakit."


Zaya merasa agak tidak enak. Dia tidak menyangka dengan mengurung diri dikamar saja bisa membuat orang lain mengkhawatirkannya. Buru-buru ia menyungging senyuman pada Bu Asma.


"Saya hanya sedang malas turun kebawah saja, Bu. Bukan karena saya tidak sehat." Ujarnya berusaha menenangkan.


Bu Asma juga ikut tersenyum.


"Saya lega kalau begitu, Nyonya. Sekarang lebih baik Nyonya turun. Nyonya Besar datang dan sedang menunggu Nyonya di bawah."


Zaya membeliakkan matanya.


"Mama?" Gumamnya agak terkejut.


Bu Asma mengangguk mengiyakan.


"Benar, Nyonya. Nyonya besar datang untuk menemui Nyonya. Sepertinya Nyonya besar mau mengajak Nyonya ke suatu tempat."


Zaya semakin membeliak. Ia benar-benar tidak siap menghadapi ibu mertuanya itu saat ini. Meski wajah Zaya sudah jauh lebih baik di bandingkan dengan semalam, tapi tetap Zaya tidak percaya diri. Apalagi jika sampai Ginna benar-benar mengajaknya pergi ke suatu tempat. Zaya benar-benar tidak siap. Tapi mau menolak juga tidak mungkin, bukan?


"Mari, Nyonya." Ajak Bu Asma sambil berlalu dari hadapan Zaya. Zaya tercenung agak lama sebelum akhirnya ikut turun menyusul Bu Asma.


Ginna tampak menunggu Zaya di ruang keluarga. Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu tampak telah berpenampilan rapi dan modis. Seperti yang dikatakan Bu Asma, Ginna tampaknya akan pergi kesuatu tempat. Tapi yang jadi pertanyaan, benarkah ia disini karena ingin mengajak Zaya?


"Apa Mama sudah lama menunggu? Maaf aku tidak tahu Mama datang." Ujar Zaya menyapa Ginna.


"Aku baru sampai." Jawab Ginna.


"Asma bilang jika kau tidak turun sejak pagi. Kenapa? Apa kau sakit?" Tanya Ginna kemudian. Entah kenapa Zaya mendengar ada nada khawatir dari kalimat Ginna barusan.


"Aku tidak apa-apa, Ma. Hanya sedang ingin sarapan dikamar saja." Kilah Zaya.


"Apa kau habis menangis?" Tanya Ginna kemudian.


"Hah?" Zaya agak terkejut mendengar pertanyaan Ginna. Dia tidak tahu harus menjawab apa.


"Saat hamil perasaan perempuan memang lebih sensitif. Tapi cobalah untuk tidak terlalu terbawa perasaan, karena perasaan seringkali menipumu. Berusahalah untuk selalu berpikir menggunakan logika. Dengan begitu kau tidak akan mudah terpengaruh dengan perasaanmu sendiri." Ujar Ginna menasehati.


Zaya mengangguk sembari mencerna kata-kata ibu mertuanya itu. Sepertinya memang benar jika ia harus lebih mengedepankan logika. Jika tidak, kedepannya ia mungkin akan banyak salah paham pada Aaron seperti kemarin. Tentu saja itu bukan hal yang baik, dan Zaya berharap ia tidak akan mengulanginya lagi.


"Aku akan mengingat kata-kata Mama." Ujar Zaya akhirnya.


Ginna mengangguk. Kemudian ia kembali mengamati wajah Zaya. Kali ini bibir Zaya yang menjadi perhatian Ginna.


"Ada apa juga dengan bibirmu? Kelihatannya juga agak bengkak. Apa kau baru saja melakukan sulam bibir?" Tanya Ginna.


Zaya buru-buru menggeleng.


"Tidak, Ma. Ini... karena bibirku di sengat binatang." Jawab Zaya asal. Tidak mungkin ia mengatakan penyebab sebenarnya bibirnya bengkak pada Ginna. Mau di taruh dimana mukanya jika sampai Ginna tahu.


"Di sengat binatang?" Ginna tampak menautkan kedua alisnya.


"Memangnya kau habis pergi kemana sampai bisa disengat binatang seperti itu?" Tanya Ginna lagi.


"Tidak ada. Hanya di rumah saja." Zaya mulai tidak bisa berbohong lebih banyak lagi. Ia berharap Ginna tidak bertanya lebih jauh lagi.


Ginna tampak mengamati sekelilingnya dengan seksama.


"Bagaimana bisa ada binatang penyengat di dalam rumah? Itu cukup berbahaya. Lain kali bisa saja Albern yang akan tersengat." Gumam Ginna serius.


"I-iya, itu cukup berbahaya. Mudah-mudahan setelah ini binatang penyengatnya tidak muncul lagi." Zaya menimpali dengan asal. Ia benar-benar ingin Ginna segera mengakhiri pembicaraan tentang binatang penyengat ini sekarang juga. Jika tidak, ia takut kebohongannya akan terbongkar.


"Tidak bisa hanya berharap dia pergi. Kau harus memanggil tukang kebun dan memintanya menyemprotkan pembasmi serangga di setiap sudut rumah. Tapi pastikan yang aman terhirup manusia." Ujar Ginna lagi masih dengan ekspresi serius.


"Baiklah, Ma. Nanti aku akan meminta tukang kebun untuk melakukannya." Sahut Zaya lagi. Kali ini ia menjawab dengan sedikit tersenyum, atau lebih tepatnya meringis. Entah bagaimana ia harus mengakhiri pembicaraan yang sungguh tak ada gunanya ini. Andai Ginna tahu penyengat yang Zaya maksud adalah Aaron, apa Ginna masih akan menyarankan untuk menyemprotnya dengan cairan pembasmi serangga?


"Oh iya, Ma. Kenapa Mama sampai repot datang kesini untuk menemuiku? Apa ada hal yang ingin Mama sampaikan padaku?" Zaya berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Ah, iya." Ginna terlihat seperti baru mengingat sesuatu.


"Aku kesini untuk mengajakmu menghadiri jamuan makan malam salah satu kolega perusahaan kita. Kemungkinan Aaron tidak bisa menghadiri undangan karena ada hal penting lain yang harus dikerjakannya. Jadi kita yang akan menggantikannya."


Zaya agak tertegun. Menghadiri jamuan makan malam bersama ibu mertuanya? Tak pernah terbesit didalam benak Zaya sebelumnya jika ia akan menghabiskan waktu berdua saja dengan Ginna. Meski berharap kedepannya hubungannya dengan Ginna akan menjadi lebih baik, Zaya tak pernah membayangkan jika dirinya dan Ginna bisa menjadi dekat.


"Ayo, bersiaplah. Kita harus pergi ke salon dan mencari gaun terlebih dahulu." Suara Ginna membuyarkan lamunan Zaya.


Zaya kembali tertegun, sebelum akhirnya ia menuruti Ginna untuk bersiap-siap. Sejurus kemudian seulas senyuman terbit diwajahnya. Mungkin memang sudah saatnya Ginna membuka diri pada Zaya, dan tentu saja Zaya tidak berkeberatan jika ibu mertuanya ini ingin lebih dekat dengannya. Zaya hanya berharap ini adalah awal yang baik bagi hubungan mereka.


Bersambung...


Enak ya Zaya, diajakin mertua nyalon sm shoping2. Emak jg mau...😭😭😭


Jgn bosen buat like, komen dan vote


Happy reading❤❤❤