
Dua minggu menjelang pernikahan, Aaron secara resmi memperkenalkan Zaya sebagai calon Nyonya Muda Keluarga Brylee di perusahaannya. Dia meminta semua karyawannya menghormati Zaya seperti mereka menghormati dirinya. Aaron juga meminta agar jangan sampai Zaya memperoleh kesulitan apapun setiap ia datang keperusahaan.
Semua orang merasa takjub dibuatnya. Mereka jadi penasaran dengan sosok yang bisa menaklukan hati Aaron. Pastilah perempuan yang akan dinikahi oleh Aaron kali ini bukanlah perempuan biasa. Buktinya saja, belum apa-apa ia sudah diperlakukan seperti seorang ratu oleh bos mereka itu.
Bahkan istri pertama Aaron dulu, yang telah memberikannya seorang putra saja tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu. Para karyawan Aaron pun mulai bergunjing jika mantan istri Aaron dulu tidak dicintai oleh Aaron.
Andai mereka semua tahu jika Zaya adalah wanita yang sama dengan wanita yang diceraikan Aaron dulu, mungkin mereka akan sangat bingung dibuatnya.
"Ingin melihat ruang kerjaku?" Tanya Aaron pada Zaya setelah pertemuan dengan para petinggi Brylee Group telah selesai.
"Apa boleh?" Zaya malah balik bertanya.
"Tentu saja boleh. Dilain hari, kau juga bisa datang kapan saja jika merindukanku." Jawab Aaron dengan nada menggoda.
Zaya tersenyum dengan wajah yang mulai merona.
"Aku tidak akan merindukanmu." Balas Zaya.
"Oh, ya?" Aaron menautkan kedua alisnya.
Zaya kembali tersenyum sambil melangkah mendekati Aaron. Tangan Zaya terulur menyentuh lembut rahang lelaki itu.
"Bukankah kamu sudah berjanji untuk selalu bersamaku. Kamu tidak akan pernah meninggalkanku, kan? Jadi buat apa aku merindukanmu?" Ujar Zaya lembut sambil membelai wajah Aaron.
Aaron tampak terkesiap dengan perlakuan Zaya itu. Kemudian jemarinya mengenggam tangan Zaya yang membelainya. Aaron membawa tangan halus itu pada bibirnya, lalu mengecupnya dengan lembut dan penuh perasaan.
Dipandangnya Zaya dengan tatapan yang teramat sangat dalam. Sungguh Aaron mencintai perempuan ini. Tak sanggup rasanya membayangkan harus kehilangannya lagi.
Aaron telah takluk, setakluk-takluknya. Jika saat ini ada yang mempredikatkan dirinya sebagai seorang budak cinta, sungguh Aaron tak berkeberatan. Dia tidak akan menyangkal jika saat ini dia telah sangat memuja sosok lembut dihadapannya ini, karena memang seperti itulah keadaanya.
Justru Aaron akan senang jika orang-orang tahu Zaya telah memiliki Aaron seutuhnya. Karena dengan begitu tak akan ada yang berani mengusik hubungan mereka berdua.
"Ayo, kita keruang kerjaku." Ajak Aaron sambil masih menggenggam tangan Zaya.
Zaya tak menolak, ia mengiringi langkah Aaron dari belakang. Tapi tak lama kemudian Aaron berhenti, membuat Zaya mau tak mau ikut berhenti juga.
"Berjalanlah disampingku, Sayang. Kau calon istriku, bukan bawahanku." Pintanya lembut.
Hati Zaya berbunga mendengarnya. Entah mengapa, ia merasa Aaron semakin manis saja setiap harinya. Sampai-sampai Zaya sering bertanya-tanya sendiri, benarkah lelaki yang akan menikahinya ini Aaron Brylee yang sama dengan yang menikahinya dulu.
Seulas senyum manis tersungging dibibir Zaya. Ia mengangguk dan segera mengambil posisi disebelah Aaron. Lalu mereka kembali melangkah dengan tangan yang saling bergandengan.
Setelah masuk lift dan naik tiga lantai, sampailah mereka ke ruangan yang dituju.
Ruang kerja Aaron sangat luas. Menggunakan desain minimalis yang didominasi warna putih, abu-abu dan hitam. Terdapat sebuah kamar khusus yang biasa digunakan Aaron untuk beristirahat jika dia sedang sangat sibuk tak sempat pulang.
Sementara Zaya yang tampak masih mengamati sekeliling, Aaron pun duduk dikursi kebesarannya.
Zaya menoleh dan mendekati lelaki itu.
"Duduk di sini." Pinta Aaron lagi sambil menepuk pahanya.
Zaya mendelik.
"Jangan macam-macam!" sergahnya.
Aaron terkekeh.
"Tak ada yang akan berani masuk ke ruangan ku," goda Aaron.
"Tetap saja tidak mau. Kamu pikir, aku perempuan macam apa?" tanya Zaya.
Zaya akhirnya duduk di sebuah sofa yang ada di depan meja kerja Aaron.
Mau tak mau, Aaron yang sedang modus pun menyerah. Sepertinya dia memang tak akan bisa melakukan apa-apa pada Zaya sebelum mereka menikah.
"Aku lega karena akhirnya bisa memperkenalkanmu pada orang-orang di perusahaan," ujar Aaron sambil menghenyakkan tubuhnya di atas sofa juga.
"Aku tidak keberatan meskipun tidak diperkenalkan secara resmi pada mereka," sahut Zaya.
"Tidak. Kali ini kau harus dikenal sebagai nyonya muda Brylee."
"Jika itu maumu, aku juga tidak keberatan," sahut Zaya lagi.
"Kau tidak ingin memberiku hadiah untuk hal itu, Sayang?" tanya Aaron, berusaha menggoda lagi.
"Aku akan memberimu hadiah, tapi semua hadiah itu akan aku akumulasi setelah nanti kita resmi menikah." Zaya memberikan jawaban telak.
Aaron mendesah, lalu merebahkan kepalanya di sandaran sofa.
"Baiklah," ujarnya kemudian dengan pasrah.
Tak penting apa yang bisa dia lakukan dengan Zaya saat ini. Yang terpenting adalah perempuan itu telah kembali ke sisinya.
Bersambung....
Maaf telat gaess, emak lg ada tugas negara yang harus ditunaikan.
Jgn lupa votenya yak,
Happy reading❤❤❤