Since You Married Me

Since You Married Me
Apakah Kau Mau Kembali Bersamaku Lagi?



Zaya baru terbangun saat Aaron dan Albern telah rapi. Sontak Zaya terkejut mendapati dua orang ini berada dikamarnya.


"Kenapa kalian disini? Jam berapa ini?" tanya Zaya dengan raut bingung.


"Ini jam delapan pagi. Kau tidur sejak sampai dan melewatkan makan malam. Sekarang bersiaplah, kita akan turun untuk sarapan." ujar Aaron.


Zaya membelalak matanya.


Dia tidur sepanjang malam dan baru terjaga sekarang. Benar-banar tidak bisa dipercaya. Bagaimana bisa ia tidur selama itu dan baru bangun sekarang. Pastilah tubuhnya benar-benar lelah setelah perjalanan kemarin.


Tapi kemudian Zaya menyadari sesuatu. Alben dan Aaron berada dikamarnya sekarang. Apa itu artinya mereka bertiga tidur dalam satu kamar?


"Ka...lian...apa semalam tidur disini?" tanya Zaya ragu.


"Semalam kau tidur bersama Albern, aku tidur dikamar sebelah. Kenapa memangnya?" Aaron balik bertanya.


Zaya buru-buru menggeleng dan mencari alasan yang tepat untuk pertanyaan Aaron. Ia lega karena ternyata ia hanya tidur dengan Albern. Tak tahu bagaimana harus menghadapi Aaron sekarang seandainya mereka tidur satu kamar semalam. Meski Albern sebelumnya pernah mengatakan ingin mereka tidur bersama-sama, tapi hal itu tidak harus terjadi sungguhan, bukan?


Setelah itu, Aaron dan Albern keluar dari kamar Zaya dan memberikan Zaya waktu untuk bersiap-siap. Lalu setelah mandi dan berpenampilan rapi, Zaya pun keluar dan turun bersama Albern dan Aaron untuk sarapan di restoran hotel.


Tampak sudah ada Kara dan Dean menunggu untuk sarapan bersama. Mereka pun mengisi perut terlebih dahulu sebelum akhirnya memulai waktu bersenang-senang.


Disneyland terletak agak dipinggiran kota Paris, sehingga butuh sedikit waktu bagi mereka untuk sampai ditempat itu. Dan setelah beberapa saat, akhirnya sampailah mereka ditaman hiburan milik Walt Disney tersebut.


Tampak kastil indah yang didominasi warna merah muda menyambut mereka saat masuk kesana. Belum lagi wahana-wahana lain yang membuat Albern takjub dan tak henti bergumam. "Wow..."



Albern melonjak-lonjak kegirangan.


Untuk sesaat bocah itu seakan lupa dengan image dirinya yang biasa ia tampilkan. Tidak ada Albern yang tenang. Saat ini yang ada adalah seorang bocah enam tahun yang kegirangan yang bertingkah ceria dan mengemaskan khas anak-anak.


Zaya benar-benar bahagia melihatnya.


Tidak sia-sia rasanya ia pergi sejauh ini jika bisa melihat tawa bahagia putranya itu.


"Uncle Dean, ayo ambil foto Al bersama Mama dan Papa." serunya saat menemukan spot foto yang menarik.


Dean yang membawa sebuah kamera digital ditangannya pun mengacungkan jempol tanda mengiyakan. Sepertinya hari ini Asisten pribadi Aaron itu bertugas sebagai fotografer dadakan yang bertugas mengambil gambar Zaya, Aaron dan Albern.


Kara yang selalu menempel pada Dean pun tak kalah hebohnya. Gadis itu sibuk berselfi ria dengan kamera ponselnya dan sesekali juga mengajak Dean untuk berpose.


Banyak tempat instagramable yang membuat Kara tak bisa menahan diri untuk tidak terus membidikan kameranya. Benar-benar tak menyesal ia ikut kesini meski awalnya sempat menolak.


Karena hari sudah agak siang, mereka memutuskan untuk makan siang dulu di restoran yang ada disana sebelum akhirnya kembali melanjutkan keseruan.


Albern bermain dibeberapa wahana. Dan tak terasa hari sudah menunjukkan pukul lima sore.


Yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Parade para tokoh Disney dimulai dan para pengunjung berkumpul dipinggir jalanan yang masih berada diarea taman hiburan raksasa itu untuk menyaksikan parade.


Parade diawali dengan iringan tokoh kartun Disney seperti Mickey Mouse, Donal Duck, Pluto dan masih banyak lagi yang lainnya.



Lalu dilanjutkan dengan iringan kereta para Pincess dan Prince dalam film-film animasi Disney.



Albern bersorak kegirangan. Apalagi saat para tokoh Disney tersebut melambai-lambai kearahnya. Bocah itu benar-benar terlihat sangat bahagia.


Zaya yang melihat keceriaan Albern ikut larut dalam kegembiraan. Ibu dan anak itu sesekali terpekik riang bersama riuh sorakan para pengunjung lain.


Zaya memeluk Albern sambil tertawa bersama. Dan ia tidak menyadari jika mata Aaron lekat menatap mereka berdua. Diam-diam lelaki itu juga mengabadikan momen itu dikamera ponselnya.


Bidikannya tepat menangkap momen saat Zaya mendekap Albern dan Albern yang juga memeluknya sambil tertawa cerah. Foto itu kemudian langsung dijadikan Aaron sebagai wallpaper dilayar ponselnya.


Aaron memandangi wallpaper baru ponselnya itu dengan hati yang penuh dan hampir membuncah. Kemudian dialihkan lagi pandangannya kearah ibu dan anak yang sedang bersorak dengan sangat gembira itu.


Sebesit rasa penyesalan pun muncul dihatinya karena tidak sejak lama membahagiakan kedua orang penting dihadapannya itu. Tapi saat ini mungkin belum begitu terlambat. Aaron akan berusaha sebaik mungkin untuk menebus kesalahannya dulu jika saja Zaya mau memberinya kesempatan.


Dan pertanyaan yang mengusik Aaron sekarang adalah, masihkah Zaya mau memberikan kesempatan padanya?


Mereka kembali ke hotel saat waktu makan malam tiba. Mereka pun makan malam terlebih dahulu sebelum kembali kekamar masing-masing.


Setelah membersihkan diri, Albern langsung tertidur karena kelelahan. Sedangkan Zaya menikmati keindahan Menara Eiffel dari balkon kamarnya.



Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


Zaya bergegas membuka pintu kamarnya, dan nampaklah Aaron berdiri diambang pintu. Sepertinya lelaki ini baru saja selesai mandi. Terlihat dari wajahnya yang sudah lebih segar dan pakaiannya yang telah berganti dengan yang lebih santai. Tak lupa aroma sabun yang harum semerbak tercium dari tubuh Aaron.


Pandangan mereka bertemu beberapa saat, lalu segera Zaya memalingkan wajahnya kearah lain.


"Boleh aku masuk?" tanya Aaron.


Zaya kemudian mundur dan memberi Aaron jalan.


"Silahkan." ujarnya.


Aaron melangkah masuk dan mendudukkan dirinya disofa yang ada dikamar itu.


Lalu setelah kembali menutup pintu, Zaya juga mendekat dan ikut duduk disofa itu.


"Ini adalah hasil bidikan Asisten Dean tadi siang. Aku sudah mengcopy-nya, mungkin kau mau menyimpannya." ujar Aaron sambil menyerahkan sebuah flashdisk.


Zaya menerimanya sembari tersenyum tipis.


"Terima kasih." gumamnya.


Kemudian Aaron berdiri dan melihat Albern yang tengah tertidur.


Aaron mengamati wajah putranya itu tanpa berkata-kata. Lalu dia kembali melangkah, dan kali ini kearah balkon.


Aaron berdiri tepat ditempat Zaya berdiri sebelumnya. Matanya menatap lurus kearah Menara Eiffel yang berdiri kokoh.


"Bukankah disini pemandangannya sangat indah?" gumamnya.


Zaya mendekat kearah Aaron, lalu ikut memandangi Menara Eiffel seperti yang Aaron lakukan.


"Benar. Pemandangannya sangat indah." balas Zaya ikut bergumam.


Mereka pun sama-sama terdiam setelahnya.


"Hari ini Albern terlihat sangat bahagia, aku senang akhirnya dia bisa kembali tertawa." tiba-tiba suara Aaron terdengar memecah kesunyian.


Zaya merespon dengan sedikit menoleh kearah Aaron.


"Belakangan ini Albern banyak bersedih, dan semua ini adalah kesalahanku." ujar Aaron lagi.


Zaya menautkan kedua alisnya, mencoba meraba kemana arah perkataan Aaron tadi.


"Zaya, sebelum kita bercerai, kau ingat pernah bertanya apakah kehidupanku dan Albern akan lebih baik jika kau pergi dari hidup kami?"


Aaron menoleh kearah Zaya.


"Saat itu sejujurnya aku tidak tahu apa jawabannya." gumamnya.


Tiba-tiba tatapan Aaron berubah menjadi sangat dalam dan menghanyutkan.


"Tapi sekarang aku sudah menyadari semuanya, Zaya. Seandainya aku bilang sejak kau pergi kehidupan kami menjadi jauh lebih buruk, apakah kau mau kembali bersamaku lagi?"


Bersambung....


Jadi penasaran gimana reaksi dan jawaban dari Zaya😅


Jgn lupa like, komen dan vote selalu ya sayang😙😙😙


Happy reading❤❤❤