
Enam bulan berlalu.
Kondisi Zaya sudah pulih sepenuhnya. Baby Zi, begitu Zivanna biasa di sapa, juga tumbuh menjadi bayi yang sehat dan cantik.
Zaya memutuskan untuk merawat Baby Zi sendiri tanpa bantuan pengasuh. Hal ini dia lakukan karena Zaya ingin merasakan bagaimana rasanya merawat anak dengan kedua tangannya sendiri, tidak seperti Albern bayi dulu.
Aaron pun menerima keputusan sang istri tanpa banyak protes. Dia bahkan sering ikut membantu Zaya merawat Baby Zi saat sedang ada di rumah. Saat ini Aaron menjadi jauh lebih perhatian dari sebelumnya, seakan dia sedang melakukan penebusan untuk kesalahan yang dulu pernah dia lakukan.
Untuk Albern, bocah itu kini sibuk dengan sekolah dan pelajaran tambahannya. Putra sulung Zaya itu punya ketertarikan dan potensi yang besar di bidang sains, seperti Papanya dulu.
Pada ulang tahunnya yang ketujuh, Aaron menghadiahinya sebuah lab yang lengkap dengan seorang ilmuwan sebagai guru privat. Aaron sangat mendukung apa yang menjadi minat dan bakat Albern, meskipun di sisi lain bocah itu tetap harus mempelajari bisnis agar bisa menggantikan Papanya memimpin perusahaan kelak.
Brylee Group sendiri kini sudah kembali stabil. Setelah sebuah mega proyek yang sukses di selesaikan. Perusahaan itu mendapatkan profit yang sangat besar hingga membuat Brylee Group semakin berjaya dan kembali mengukuhkan namanya sebagai salah satu perusahaan besar yang bonafit.
Dan hari ini, tepat setelah enam bulan kelahiran putri bungsunya, Aaron mengadakan sebuah pesta besar yang diselenggarakan di sebuah hotel bintang lima.
Pesta itu adalah pesta untuk merayakan keberhasilan Brylee Group melewati masa-masa sulit, sekaligus memperkenalkan Zivanna Brylee secara resmi sebagai Nona Muda keluarga Brylee. Dan yang terakhir, hari itu juga merupakan hari ulang tahun Aaron, meski Aaron sendiri tak menyebutkan jika pesta yang diadakannya sebagai pesta ulang tahunnya.
Zaya tampil sangat menawan bersama putrinya yang juga terlihat cantik. Sedangkan Aaron sendiri selalu menjadi bintang utama seperti biasanya. Tapi kali ini, tentu saja tak ada perempuan yang berani mendekatinya lagi. Mereka semua yang menyukai Aaron harus menerima kenyataan jika Pemilik masa depan Brylee Group ini hanya memandang kearah istrinya saja. Seorang perempuan muda luar biasa yang mampu mencuri hati seluruh anggota keluarga Brylee. Zaya Diandra, atau yang saat ini lebih di kenal dengan sebutan Nyonya Muda Brylee.
Dan satu lagi yang kini mulai mencuri perhatian. Albern Brylee, putra sulung Zaya dan Aaron yang kini telah berusia tujuh tahun lebih. Bocah tampan itu sekarang mulai menampakkan pesonanya seperti sang Papa. Mawarisi ketampanan dan kecerdasan Papanya, Albern telah berhasil membuat orang-orang jatuh cinta bahkan hanya dengan sekali pandang.
Jangan lupakan kharisma dan aura dingin yang juga ia dapatkan dari Aaron. Orang-orang akan seketika gugup dan kehabisan kata-kata hanya dengan melihat tatapan Albern yang tajam. Bocah satu ini juga pasti akan sulit jatuh cinta seperti sang Papa kelak.
Lalu jika ditanya siapakan yang paling berbahagia malam itu, jawabannya tentu saja Tuan dan Nyonya Besar Brylee. Carlson dan Ginna, kedua orang tua Aaron itu kini bisa tersenyum lega saat melihat betapa bahagianya Aaron dan keluarga kecilnya saat ini.
Ginna yang awalnya sempat mencemaskan keadaan Aaron yang pernah terpuruk karena bercerai dari Zaya, kini bisa merasa senang. Pasalnya kini Aaron telah mencapai kesuksesan yang melampaui Kakek dan juga Papanya dulu. Dan yang membuat Ginna bersyukur adalah, Aaron tidak hanya mampu meraih kesuksesan dalam berbisnis, tapi Aaron juga sukses membina rumah tangganya. Putra tunggalnya itu kini berbahagia bersama seorang istri yang yang cantik dan baik, serta kedua putra-putrinya yang begitu mengagumkan. Sungguh Aaron telah menjadi seorang lelaki sukses yang sebenarnya.
Setelah pesta besar yang cukup melelahkan itu selesai, akhirnya Aaron dan Zaya kembali kerumah bersama Albern dan juga Baby Zi. Albern langsung tidur di kamarnya, sedangkan Baby Zi sendiri sudah tertidur sejak di pesta tadi dan langsung di tidurkan di kamarnya juga.
"Sayang." Aaron memanggil Zaya yang baru saja selesai mengganti gaun pestanya dengan gaun tidur.
"Kamu tidak ganti pakaian?" Tanya Zaya saat melihat suaminya itu masih memakai pakaiannya saat di pesta tadi.
"Kemarilah." Aaron menepuk pinggiran tempat tidur untuk menyuruh Zaya duduk di sampingnya.
Zaya menurut. Ia pun duduk disamping Aaron sambil melihat kearah wajah suaminya itu.
"Kenapa?" Tanya Zaya.
Aaron tak langsung menjawab. Di belainya wajah Zaya lembut dan di kecupnya kilas bibir Zaya.
"Aku mau kado ulang tahunku." Ujar Aaron.
Zaya menautkan kedua alisnya.
"Bukankah aku sudah memberikannya padamu siang tadi?" Tanya Zaya. Ia sedikit heran dengan pertanyaan Aaron, pasalnya siang tadi Zaya sudah memberikan sebuah jam tangan limited edition untuk suaminya itu.
"Bukan kado ulang tahunku tahun ini, tapi kado ulang tahunku di tahun-tahun sebelumnya yang tidak jadi kau berikan padaku." Jawab Aaron.
Zaya menatap Aaron dengan tatapan yang sulit di jelaskan.
"Kau tidak membuangnya, kan?" Tanya Aaron.
Zaya tertegun beberapa saat, lalu ia menggeleng pelan. Kemudian ia beranjak dan membuka laci paling bawah di meja riasnya, tempat Zaya meletakkan kado-kado yang tidak jadi ia berikan pada Aaron.
Dan ternyata kado-kado itu masih ada disana.
Zaya mengambil kotak-kotak yang berjajar rapi itu dan memberikannya pada Aaron.
"Aku pikir sudah tidak ada disini, ternyata masih ada." Ujar Zaya sambil kembali duduk di samping Aaron.
Aaron membuka kotak itu satu persatu. Ada yang berisi dasi. Ada yang berisi klip dasi. Ada juga yang berisi pena dan beberapa benda kecil lainnya yang biasa di gunakan Aaron setiap hari.
Aaron melihat benda-benda itu dengan tersenyum.
"Kenapa dulu kau tidak berani memberikannya padaku?" Tanya Aaron.
Zaya terdiam sejenak.
"Karena aku takut kamu merasa terganggu dan marah. Lagipula kado yang aku siapkan tidak ada yang berharga hingga membuat aku tidak percaya diri memberikannya padamu. Aku takut kamu akan menganggapnya sebagai lelucon." Jawab Zaya akhirnya sambil sedikit menunduk.
"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu? Apa kau tahu jika aku selalu menunggumu memberikan kado-kado ini padaku?" Tanya Aaron sambil mengangkat wajah Zaya dengan kedua tangannya.
Zaya melihat kearah Aaron.
"Benarkah?" Tanya Zaya.
"Aku selalu tahu saat kau menyiapkan kado-kado ini setiap tahunnya. Dan aku juga selalu menunggu kau memberikannya padaku, tapi ternyata aku tidak pernah menerimanya." Jawab Aaron.
"Kalau tahu begitu, aku tidak perlu takut kamu tidak menerima kadoku. Aku pasti akan memberikannya setiap kamu ulang tahun.
Bahkan bila perlu, aku akan memberikan kamu kado meski kamu tidak berulang tahun sekalipun." Ujar Zaya sambil tertawa kecil.
Aaron juga ikut tersenyum.
"Tapi sekarang aku tidak perlu kado yang lain lagi, Sayang. Kau telah memberikan kado paling indah di dunia ini, dua orang putra dan putri yang sangat mengagumkan. Aku tidak membutuhkan yang lain lagi." Aaron meraih Zaya kedalam pelukannya sambil mencium kening istrinya itu.
"Kalau boleh aku tahu, sebenarnya sejak kapan kau jatuh cinta padaku?" Tanya Aaron lagi.
Zaya terdiam sesaat sambil tetap tersenyum.
"Sejak kamu menikahiku." Jawab Zaya kemudian.
"Sejak kamu mengenggam tanganku dan menjadikan aku istrimu, sejak saat itu aku jatuh cinta padamu, meski kamu sendiri waktu itu begitu tak tersentuh." Tambah Zaya lagi. Lalu ia mendongakkan wajahnya kearah Aaron yang sedang menatapnya lekat.
"Kamu sendiri? Memangnya sejak kapan kamu jatuh cinta padaku?" Berganti Zaya yang bertanya. Ia jadi penasaran sejak kapan Aaron punya perasaan lebih terhadapnya, mengingat sikap Aaron yang dulu selalu dingin padanya.
Aaron tampak berpikir.
"Entahlah. Yang pasti sudah sejak lama aku punya perasaan lain terhadapmu, hanya saja aku terlalu bodoh untuk bisa mengartikannya sebagai rasa cinta. Bahkan mungkin aku sudah mulai tertarik padamu saat kita pertama bertemu dulu." Jawab Aaron.
"Saat kita pertama bertemu?" Tanya Zaya agak bingung.
"Iya. Saat kau menjual roti dan di ganggu anak-anak jalanan sampai roti daganganmu rusak semua. Jika itu orang lain, mungkin hanya Dean saja sudah cukup untuk membantu. Tapi entah kenapa saat itu aku sampai ikut turun dari mobil. Pasti saat itu aku sudah tertarik padamu, meski baru pertama kali bertemu."
Zaya membeliakkan matanya sambil menatap Aaron dengan ekspresi yang sulit untuk di jelaskan.
"Jadi selama ini kamu ingat kalau aku gadis penjual roti itu?" Tanya Zaya tak percaya.
Aaron mengangguk.
"Justru aku mengira kau yang tidak ingat kalau aku yang membeli roti rusakmu." Ujar Aaron dengan sedikit menggoda.
Zaya tercenung untuk beberapa saat, lalu tertawa kecil.
"Mana mungkin aku lupa dengan Tuan Muda yang membantuku waktu itu. Tuan Muda yang punya wajah sangat tampan dan juga hati yang baik. Aku bahkan bisa mengingat wajahmu meski telah bertahun-tahun kejadian itu berlalu." Jawab Zaya sambil meyentuh rahang Aaron.
"Dulu aku masih muda, sekarang aku sudah mulai menua, jadi wajahku mungkin tak setampan dulu." Jawab Aaron.
Zaya kembali tertawa.
"Benar, Honey. Wajahmu sudah tidak setampan dulu. Sudah ada kerutan di sini dan di sini. Dan di sini juga." Ujar Zaya sambil menunjuk beberapa tempat di wajah Aaron.
Aaron tersenyum dan merebahkan tubuh Zaya ketempat tidur secara tiba-tiba, hingga Zaya terkejut di buatnya.
"Berani-beraninya kau mengatakan wajah suamimu penuh dengan kerutan." Gumam Aaron sambil mengurung tubuh Zaya dalam kungkungannya.
Zaya terkesiap melihat Aaron yang sedang menatapnya dalam, seakan ingin menenggelamkannya ke dalam tatapan itu.
"Kau harus di hukum, Sayang." Gumam Aaron sambil mengusap lembut paha Zaya.
Zaya balas menatap Aaron sambil tersenyum menggoda.
"Dan aku dengan senang hati akan menerima hukuman darimu, Honey." Jawab Zaya dengan nada sensual. Dikalungkannya kedua tangannya ke leher Aaron yang berada diatasnya.
Aaron merasa semakin bergairah saat mendengar jawaban Zaya. Lalu dengan bersemangat, di pagutnya bibir istrinya itu hingga mereka berdua tenggelam dalam sebuah ciuman panas yang menggairahkan.
Aaron dan Zaya kembali menyatu untuk kesekian kalinya. Mereka berdua mengekspresikan rasa cinta dengan saling menyentuh dan memuaskan satu sama lain. Tak ada kata yang bisa menggambarkan apa yang mereka rasakan saat ini.
Aaron dan Zaya. Nama mereka mungkin telah tertulis untuk menjadi pasangan yang tak terpisahkan, jauh sebelum mereka lahir. Dan kini mereka telah memenuhi takdir itu. Mereka telah menjadi satu, baik tubuh, hati maupun jiwa, sampai maut nanti yang memisahkan.
___________________________________________
If you ask when i started to love you, my answer is... since you married me.
~Zaya Diandra~
Selesai...
Jangan buru2 di unfavorite ya say, karena emak udah janji buat ngasih ending yang baik buat semua tokoh, rencananya akan ada 4 extra part setelah ini.
Jgn lupa like, komen dan vote ya
Happy reading❤❤❤
.