
Aaron agak termangu mendengar laporan Asisten Dean tentang lelaki yang beberapa hari lalu bersama Zaya.
Dia adalah seorang Dokter spesialis jantung yang selama ini berdomisili di Singapura. Lulusan Fakultas kedokteran terbaik dari Universitas terkemuka dinegara itu.
Dia mempunyai karir yang baik disana, tapi lima tahun yang lalu memutuskan untuk kembali ketanah air untuk urusan pribadi.
Dan fakta yang agak menganggu Aaron adalah, lelaki itu ternyata teman masa kecil Zaya. Mereka berasal dari panti asuhan yang sama dan sangat dekat saat kecil dulu. Apakah itu semacam kekasih masa kecil, Aaron tidak tahu pasti. Tapi yang jelas dulu mereka selalu bersama-sama, sampai kemudian si anak lelaki diadopsi oleh keluarga kaya.
Mereka pun terpisah hingga dewasa.
Lalu kini, setelah sekian lama berpisah, mereka akhirnya bertemu lagi dan kembali menjalin pertemanan. Bahkan akhir-akhir ini terlihat semakin akrab.
Lalu benarkah hubungan mereka hanya sebatas pertemanan?
Aaron mendadak menjadi sangat gelisah. Melihat dari kedekatan mereka tempo hari, tidak menutup kemungkinan jika dikemudian hari hubungan mereka akan menjadi lebih dari sekedar teman. Aaron sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya jika hal itu sampai terjadi.
Lantas apa yang apa yang harus dia lakukan sekarang?
Aaron memejamkan matanya, memikirkan apa yang sebaiknya dia lakukan untuk kembali mendekati Zaya.
Tiba-tiba saja ponselnya berdenting. Sebuah pesan masuk, dan ternyata pengirimnya adalah Albern.
'Pa, bolehkah Al mengunjungi Mama?'
Aaron agak tercenung membaca isi pesan itu. Kemudian senyuman tipis terbit diwajahnya. Aaron merasa seperti semesta sedang membantunya. Kenapa tidak terpikirkan olehnya jika putranya adalah kunci utama untuk mendekati Zaya.
Meski dirasanya memang agak tidak pantas memanfaatkan anaknya sendiri. Tapi semua ini pada akhirnya untuk kebaikan Albern juga, kan?
Aaron pun menjadi sedikit lebih bersemangat.
"Dean." panggilnya kemudian.
Asisten Dean mendekat.
"Ya, Tuan." jawabnya.
"Apakah aku masih ada jadwal pertemuan sore ini?" tanya Aaron.
"Tidak, Tuan. Tapi nanti malam Anda harus menghadiri sebuah undangan pesta dari salah satu klien kita."
Aaron tampak mengetuk-ngetukkan jari diatas meja kerjanya sembari berpikir.
"Atur orang untuk menggantikanku kesana. Siapkan juga hadiah sebagai permintaan maafku karena tidak bisa datang langsung kepesta itu. Tolong urus semuanya. Aku ada urusan penting malam ini." pintanya kemudian.
Asiaten Dean tidak punya pilihan selain mengiyakan. Ia tidak ingin mendapat amukan dari tuannya itu seperti beberapa hari yang lalu.
Sejak bercerai dengan Zaya, sosok Aaron memang berubah drastis. Dia mudah sekali berada dalam mood yang buruk, hingga hari-hari Asisten Dean dan Anna menjadi lebih sulit dari sebelumnya.
Aaron tampak menghela nafas untuk menetralkan debaran didadanya. Entah kenapa saat ini rasanya dia seperti seorang remaja pria yang akan menemui kekasihnya. Jantungnya pun berpacu agak cepat dari biasanya.
Ingin rasanya Aaron menertawakan dirinya sendiri.
Dia merasa agak konyol saat ini. Bagaimana bisa, hanya dengan memikirkan akan bertemu dengan Zaya saja pipinya terasa memanas. Jangan bilang jika saat ini dia sedang merona?!
Apakah seperti ini orang yang sedang jatuh cinta? Astaga.... Benar-benar memalukan!
Aaron pun kembali memejamkan matanya. Dia memikirkan kalimat seperti apa yang harus ia katakan kepada Zaya agar perempuan itu tidak menolak kehadirannya. Aaron tidak ingin pertemuannya kali ini akan membuat Zaya semakin tidak menyukainya.
Ya. Aaron memang masih agak bingung harus memulai dari mana.
___________________________________________
Zaya mematut dirinya dicermin. Ia memulas wajahnya dengan make up tipis. Kemudian ia menata rambutnya yang tergerai agar terlihat lebih rapi. Terakhir Zaya mengambil sepasang flat shoes dan memakainya.
Sempurna. Kini penampilannya terlihat sangat manis. Tinggal menunggu kedatangan Evan saja.
Ya. Zaya memang sedang ada janji untuk keluar bersama Evan. Sudah beberapa kali Evan mengajaknya menonton film, tapi Zaya selalu menolak. Hingga akhirnya, sekarang ia tak kuasa untuk menolak lagi. Kebetulan sedang ada film baru yang ingin ditontonnya. Zaya pun menerima ajakan Evan kali ini untuk keluar dan menonton film.
Suara bel rumahnya berbunyi.
Bergegas Zaya keruang depan untuk membukakan pintu. Evan telah datang menjemputnya.
Tapi kemudian Zaya terkesiap. Sosok yang ada dibalik pintu ternyata bukan Evan, melainkan seseorang yang sangat tidak ingin zaya temui belakangan ini.
Aaron?
Aaron tertegun. Zaya nampak sangat berbeda malam ini. Wajahnya manisnya tampak dipoles make up tipis yang makin mempertegas kecantikannya.
Tanpa sadar dada Aaron kembali berdebar. Rasanya dia jadi seperti seorang remaja yang sedang berhadapan dengan gadis pujaannya. Perasaan gugup tiba-tiba datang padanya, membuatnya menjadi sedikit salah tingkah. Sungguh tidak sesuai dengan usianya sekarang.
"Mama..." suara Albern memecah keheningan, menyelamatkan Aaron dari melakukan tindakan konyol.
Zaya tersenyum. Ia baru menyadari kehadiran Albern karena terlalu fokus pada Aaron.
"Sayang..." Zaya berjongkok dan memeluk bocah itu.
Albern tersenyum dan membalas pelukan Zaya.
"Al merindukan Mama." ujarnya didalam pelukan Zaya.
Zaya mengurai pelukannya dan merangkum wajah Albern dengan kedua telapak tangannya.
"Mama juga merindukan Al, Sayang. Tapi Mama menahan diri untuk tidak menemui Al, karena Mama takut mengganggu konsentrasi Al belajar." ujarnya lembut.
"Tapi sekarang ujian sekolah Al sudah selesai. Jadi Al bisa menginap dirumah Mama lagi, kan?"
Mata Zaya melebar.
"Al mau menginap disini lagi?" tanyanya senang
Albern menjawab dengan Anggukan penuh semangat. Senyum Zaya pun mengembang sempurna dibibir tipisnya.
Aaron kembali terkesiap. Senyum Zaya membuat desiran halus disekujur tubuhnya, seolah ada yang menghembuskan angin di permukaan kulitnya.
Dia hanya bisa melangkah kaku mengiringi Zaya saat perempuan itu menuntun putra mereka masuk kedalam rumah.
"Apa Al sudah makan?" tanya Zaya kepada Albern.
Bocah itu mengangguk.
"Tapi Papa belum." ujarnya kemudian.
Sontak Zaya menoleh kearah Aaron, hingga Aaron menjadi sedikit kaget.
"Kamu...belum makan?" tanya Zaya ragu.
Aaron tidak tahu mesti mengangguk atau menggeleng.
"Tentu saja sudah. Tadi aku dan Albern makan bersama." ujarnya kemudian. Sebisa mungkin untuk berusaha tenang.
"Tapi Papa cuma makan dua suap." Albern menimpali dengan cepat.
Zaya menautkan kedua alisnya. Tidak pernah Aaron seperti itu sebelumnya. Setahu Zaya, selama ini Aaron sangat memperhatikan nutrisi yang masuk kedalam tubuhnya. Makanan yang dikonsumsi haruslah memenuhi asupan kalori yang dia dibutuhkan. Hingga apapun yang tersaji dipiringnya pasti akan selalu dia habiskan.
Andai Zaya tahu jika Aaron tadi kesulitan menelan makanannya karena gelisah membayangkan akan bertemu dengannya. Pasti saat ini Zaya akan tertawa terbahak-bahak.
Aaron menghembuskan nafasnya, mencoba menetralkam sesuatu yang semakin bergejolak didalam sana.
Tiba-tiba bel rumah kembali berbunyi.
Seketika Zaya sadar jika saat ini ia sedang ada janji dengan Evan. Lalu segera ia melangkah untuk membuka pintu.
Dan benar saja. Evan telah berdiri diambang pintu dengan mengulas senyum manisnya. Penampilannya terlihat sangat menawan, jelas terlihat jika dia akan berkencan dengan seorang gadis.
Detik berikutnya, senyum Evan memudar. Tatapannya bersirobok pada tatapan tak bersahabat dari arah dalam rumah. Seorang anak kecil juga tampak disana. Evan langsung tahu jika bocah itu adalah anak lelaki Zaya.
Dan seketika Evan pun menyadari jika kencan terselubungnya kemungkinan besar akan gagal.
Bocah laki-laki itu menatap Evan sama seperti Papanya. Sorot mata mereka berdua sangat waspada seolah Evan adalah ancaman.
Evan tersenyum masam. Sepertinya upayanya untuk menjadikan Zaya kekasihnya akan mengalami hambatan. Sepasang ayah dan anak dihadapannya inilah hambatan terbesarnya.
Bersambung....
Hmm..... Kira2 apa yg selanjutnya akan terjadi???
jgn lupa like, komen dan voteš
Happy readingā¤ā¤ā¤