
Johan membeku dengan ekspresi wajah yang sangat tidak enak dilihat. Seketika rasa bangganya tadi menguap entah kemana. Niatnya untuk membuat putrinya lebih unggul dibandingkan Zaya pun pupus sudah.
"Be-benarkah?" Tanyanya tanpa sadar. Dia seperti menolak percaya dengan apa yang dikatakan Aaron tadi.
Aaron tersenyum sembari meraih pinggang Zaya agar merapat kepadanya.
"Sayang, apa kau tidak mengingat Tuan Johan? Bukankah Beliau yang mereservasi kafemu waktu itu?" Tanya Aaron pada Zaya.
Zaya membalas senyuman Aaron.
"Tentu saja aku ingat. Kafe kami bahkan memberikan diskon 25% sebagai bagian dari promosi. Hanya saja Tuan Johan yang mungkin salah mengenali bawahanku sebagai pemilik kafe." Jawab Zaya sambil masih terus tersenyum.
Kali ini Johan dan Natasya benar-benar tak bisa berkata apa-apa dibuatnya. Mereka berdua masih terdiam dengan raut tak percaya.
Johan tak menyangka jika Zaya ternyata pemilik dari kafe yang dia rekomendasikan pada rekan-rekannya beberapa waktu yang lalu. Dia bahkan sempat meminta Natasya mencontoh kerja keras pemilik kafe itu dalam mengembangkan usahanya. Siapa sangka jika pengusaha itu adalah Sang Nyonya Muda keluarga Brylee yang dikiranya tak bisa apa-apa. Dia bahkan menyarankan Zaya untuk bertanya tentang bisnis pada Natasya tadi.
Rasanya seperti menaruh lumpur dimuka sendiri. Benar-benar memalukan!
"Istriku memang tidak menempuh pendidikan formal, tapi dia sudah memulai bisnisnya sejak beberapa tahun lalu, mulai dari nol hingga bisa menjadi seperti sekarang ini." Aaron menatap Zaya bangga.
"Awalnya hanya satu kafe dipusat kota dengan sedikit pegawai, hingga kini telah memiliki tujuh cabang, termasuk yang ada di Bali. Dan yang istimewanya adalah, istriku ini benar-benar merintis usahanya seorang diri tanpa bantuanku. Dia bisa berdiri dengan kedua kakinya sendiri tanpa bayang-bayang dari Brylee Group."
Natasya masih tidak bisa berkata apa-apa. Kebanggaan pada gelar dari Oxford yang ia tunjukkan pada Zaya tadi kini berubah menjadi rasa malu.
Zaya telah berhasil membuka banyak kafe dengan usahannya sendiri, sedangkan ia bahkan harus selalu memakai nama besar ayahnya untuk membuat rekan bisnisnya mau bekerja sama. Sangat jauh dengan pencapaian Zaya.
"Tuan Aaron... Nyonya Zaya.... Saya minta maaf. Saya hanya berniat menawarkan bantuan pada Nyonya tadi, tidak bermaksud untuk menyinggung." Ujar Johan akhirnya dengan raut wajah tidak enak. Lelaki paruh baya itu membungkuk dalam sebagai permohonan maafnya.
"Tidak apa-apa, Tuan Johan. Tidak perlu meminta maaf. Memang latar belakang saya selalu mengundang orang-orang untuk berpikir merendahkan. Tapi tentu saja saya tidak akan terpengaruh dengan apa yang orang pikirkan tentang saya."
Johan dan Natasya agak terkejut mendengar penuturan Zaya. Mereka tak menyangka Zaya akan mengatakan kebenaran tentang jati dirinya segamblang itu disuasana pesta seperti sekarang ini. Tidakkah Zaya peduli dengan reputasinya? Atau sekarang ini Zaya sedang berusaha untuk memprovikasi Aaron agar memberi pelajaran pada orang yang telah menyinggungnya?
Natasya tiba-tiba menjadi panik. Ia tidak ingin jika Aaron sampai marah dan mempersulit ayahnya.
"Nyonya, saya sungguh minta maaf karena telah bertanya tentang latar belakang pendidikan Nyonya. Saya benar-benar tidak bermaksud untuk menyinggung Nyonya." Natasya tampak memelas dengan wajah dibuat seolah-olah menyesal.
"Jika tidak bermaksud menyinggung istriku, lalu apa tujuanmu, Nona Natasya?" Aaron menyela dengan pertanyaan yang tajam. Matanya nyalang menatap Natasya yang sudah terlihat semakin panik.
"Honey..." Zaya menyentuh bahu Aaron lembut untuk menenangkan lelaki itu. Hanya Tuhan saja yang tahu jika saat ini ia tengah bersorak dalam hati karena bisa memanggil Aaron dengan panggilan 'Honey' dihadapan semua orang.
Rasanya seperti Zaya sedang mendeklarsikan kepemilikannya terhadap Aaron saat ini. Dapat Zaya lihat tatapan tidak suka dari para perempuan yang menyukai Aaron. Tapi Zaya tak peduli. Aaron adalah suaminya, lelaki miliknya. Tidak akan ia biarkan perempuan mana pun mendapatkan kesempatan untuk mendekatinya.
"Tidak perlu mengambil hati. Ini hanyalah masalah kecil, tidak usah diperbesar." Ujar Zaya lembut. Tak lupa satu tangannya mengusap dada Aaron untuk menenangkan. Wajah Aaron tampak jadi melembut.
"Baiklah, Sayang. Jika kau menginginkan seperti itu aku akan menurutinya. Tapi seandainya ada yang membuatmu tidak senang, katakan saja padaku. Aku akan pastikan orang itu akan mengalami kesulitan sepanjang hidupnya hingga dia lebih memilih untuk mati saja."
Semua orang yang mendengar kata-kata Aaron bergidik ngeri. Mereka semua rata-rata sangat tahu bagaimana Aaron marah. Kedepannya mereka tidak akan berani macam-macam pada Zaya jika ingin selamat. Jelas terlihat jika Aaron sangat peduli pada istrinya itu. Dia pasti akan melakukan apa saja untuk membuat istrinya senang.
"Nyonya Zaya, sekali lagi saya minta maaf. Putri saya tidak bermaksud untuk menyinggung Anda." Johan kembali mengeluarkan suaranya.
"Benar, Nyonya. Saya hanya ingin menyapa, tidak ada maksud untuk membuat Nyonya merasa tidak senang. Saya harap Nyonya bisa memakluminya." Natasya juga ikut menimpali.
"Jangan khawatir. Meski kalian sengaja menyinggungku sekalipun, aku bukanlah tipe pendendam. Jika aku berpikiran picik, maka aku tidak akan sampai pada titik sekarang ini." Ujarnya lembut namun tajam.
"Aku memaklumi jika banyak yang masih belum menerima kehadiranku sebagai Nyonya Muda Brylee. Tapi tidakkah kalian memandang Aaron? Aaron tidaklah buta, dia lelaki cerdas. Dia tidak akan menjadikan aku istrinya jika aku tidak pantas." Suara Zaya terdengar jelas diantara para tamu pesta.
Orang-orang disekeliling Zaya menjadi terdiam dan memperhatikan dengan lekat. Mereka tampak ingin tahu apa yang akan Zaya katakan selanjutnya.
"Sayang..." Aaron mengenggam jemari Zaya untuk mencegah Zaya agar tak hilang kendali. Namun Zaya justru balas mengenggam jemari Aaron seolah meminta Aaron agar percaya dengan apa yang akan dilakukannya.
Zaya menghela nafas lalu menatap kearah orang-orang.
"Sebelum kalian menghakimiku, nilailah aku terlebih dahulu. Lihatlah apakah dimasa depan Brylee Group akan dipermalukan olehku, atau aku justru bisa membuat Aaron membawa kemajuan. Jika memang kedepannya aku membawa pengaruh buruk pada Aaron, kalian berhak mengujatku. Tapi jika kedepannya aku bisa membawa kebaikan untuk Brylee Group, maka tidak ada alasan kalian untuk tidak menghormatiku."
Semua orang terdiam dan tak bisa berkata-kata mendengar ucapan Zaya. Mereka tak menyangka jika perempuan yang awalnya dikira sebuah cangkang kosong, ternyata punya kharisma yang hampir sama seperti yang dimiliki Ginna, Sang Nyonya Besar.
"Jadi selama penilaian itu belum ada hasilnya, tidak perlu diam-diam merendahkanku. Mari kita saling menghormati, dan bekerja sama untuk membuat Brylee Gruop kembali berjaya."
Semua orang masih hening. Lalu tiba-tiba seorang lelaki paruh baya melangkah kearah Zaya sambil bertepuk tangan dengan bangganya.
Carlson berhenti dihadapan Zaya dan Aaron, lalu menepuk-nepuk pundak Zaya.
"Saudara-saudara, apa kalian tahu bunga lotus?" Carlson menatap sekelilingnya.
"Bunga lotus yang tumbuh diatas lumpur lebih cantik dibandingkan yang tumbuh diatas air jernih. Itu karena yang tumbuh diatas lumpur menghisap nutrisi dari lumpur itu sendiri. Dan menantuku ini, dia ibarat bunga lotus yang tumbuh diatas lumpur. Tumbuh di lingkungan yang tak terlalu baik tidak membuatnya menjadi buruk, tapi justru menempanya menjadi istimewa."
"Dia unggul dibandingkan dengan yang lainnya. Putraku tidak akan mendapatkan yang lebih baik lagi dari ini. Dan aku sendiri merasa beruntung bisa menjadi ayah mertuanya "
Zaya mengangkat pandangannya dan melihat kearah Carlson. Ia benar-benar terharu mendengar apa yang diucapkan Carlson. Hatinya benar-benar terasa penuh.
"Terima kasih, Pa." Lirih Zaya. Carlson tersenyum menanggapi.
Tiba-tiba Ginna juga sudah ada disana, entah sejak kapan. Nyonya Besar itu juga melangkah menghampiri Zaya.
"Ayo ikut aku, Istri para kolega kita ingin bertemu denganmu." Ajak Ginna pada Zaya.
Zaya agak bingung. Kemudian ia menoleh kearah Aaron seolah sedang meminta pendapat. Aaron pun mengangguk.
Zaya mengikuti langkah ibu mertuanya dengan agak sedikit cemas. Hatinya bertanya-tanya, apakah ia akan menghadapi pertempuran yang berikutnya?
Tapi sejurus kemudian Zaya tertegun. Ginna menggandeng tangannya seperti layaknya seorang ibu yang tengah menuntun jalan pada putrinya.
Ginna menoleh pada Zaya.
"Tidak perlu khawatir. Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu."
Bersambung....
Jangan lupa like, komen dan vote ya
Happy reading❤❤❤