Since You Married Me

Since You Married Me
Pernikahan Dean Dan Kara



Hari bahagia Dean dan Kara akhirnya tiba. Pasangan ini menyelenggarakan pernikahan secara sederhana dengan mengusung tema pesta kebun.


Kara terlihat mengagumkan dengan gaun pengantin yang Zaya pilihkan untuknya. Gadis heboh dan konyol itu sejenak menjadi sangat cantik dan anggun layaknya putri raja.


Dean juga tak kalah menawan. Lelaki yang kini resmi dinyatakan sebagai suami Kara itu terlihat gagah dan tampan dengan jas pengantinnya. Pasangan yang baru saja mengikat janji pernikahan ini tampak begitu serasi. Rona bahagia tampak jelas sekali di wajah keduanya.


Orang tua Kara hadir, dengan keluarganya masing-masing tentu saja. Keharuan terjadi saat Kara meminta Dean mengabadikan dirinya bersama Ayah dan Ibunya. Selama lebih dari dua puluh tahun perceraian orang tuanya, ini adalah kali pertama Kara kembali diapit oleh Ayah dan Ibunya.


Airmata Kara tak henti mengalir. Perasaannya bahagia, haru dan juga sedih bercampur menjadi satu di dalam hatinya. Sebuah kenyataan bahwa kedua orang tuanya takkan pernah bersama lagi, tapi setidaknya Kara mendapatkan sedikit penghiburannya di hari pernikahannya ini. Kedua orang tuanya itu mau berdampingan mengantarkannya memulai kehidupan yang baru, meski setelahnya mereka akan kembali berpisah lagi.


Hari ini Kara ingin melepaskan beban masa kecilnya dan mengikhlaskan kedua orang tuanya bahagia bersama keluarganya masing-masing. Ia telah menyambut tangan Dean dan mulai membina rumah tangganya sendiri mulai saat ini.


Kara berharap tak akan ada kata perpisahan antara dirinya dan Dean. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak meninggalkan suaminya itu, apapun yang terjadi. Biarlah dirinya saja yang merasakan pahitnya menjadi anak yang terbuang karena perpisahan orang tuanya. Kara berharap anaknya kelak tidak akan merasakan hal yang sama.


"Jangan menangis lagi, Sayang. Ini hari pernikahan kita. Harusnya kamu tersenyum pada semua orang, bukannya menangis seperti ini." Dean menghapus airmata Kara yang masih tak mau berhenti mengalir.


"Dean." Kara mengangkat wajahnya yang beruraian airmata.


"Berjanjilah padaku satu hal." Pintanya.


"Apa itu?' Tanya Dean.


"Berjanjilah, sebesar apapun permasalahan yang nantinya kita hadapi, jangan pernah ada perpisahan di antara kita. Kita boleh marah dan saling memaki, tapi tidak boleh saling meninggalkan. Berjanjilah kita akan melakukannya seperti itu, Dean." Kara kembali terisak sambil memeluk erat suaminya itu.


Dean membalas pelukan Kara dengan sama eratnya. Dibiarkannya Kara menumpahkan segala beban yang ada dihatinya selama ini. Dean tahu, dibalik keceriaannya selama ini, Kara menyimpan luka dan kesedihan yang teramat dalam.


Dean ingin Kara melepaskan semuanya hari ini. Dia berharap istrinya ini bisa menyambut hari-hari selanjutnya dengan hati yang ringan, tanpa beban apapun lagi.


"Kita akan selalu bersama, Sayang. Aku berjanji, hanya kematian yang akan memisahkan kita. Lepaskanlah beban dan ketakutan dalam hatimu itu. Apapun yang terjadi, kita tidak akan saling meninggalkan. Jangan pernah khawatirkan hal itu lagi." Ujar Dean lembut.


Kemudian Dean mengurai pelukannya dan kembali menghapus airmata Kara. Diciumnya kedua mata Kara yang telah mulai sembab itu. Lalu diciumnya pula keningnya dengan penuh perasaan.


"Kara." Suara seseorang membuat Kara dan Dean menoleh secara bersamaan.


Tampak Ibu Dean yang duduk di kursi roda mendekati keduanya dengan dibantu oleh Dira, adik Dean.


"Ibu." Kara melepaskan diri dari Dean, dan mendekat juga kearah ibu mertuanya itu.


Kara duduk disebuah kursi menghadap pada Ibu Dean.


"Aku akan mengatakan beberapa hal padamu." Ujar Ibu Dean membuka pembicaraan.


"Kehidupan rumah tangga tidak selalu berjalan mulus, Kara. Kau dan Dean, kalian berdua dituntut untuk menjadi dewasa agar bisa mengatasi segala permasalahan yang ada."


Ibu Dean mengenggam jemari Kara dan mengulas sebuah senyuman.


"Tetap bertahan, atau lebih baik mengakhiri pernikahan, itu adalah pilihan yang sepenuhnya ada di tangan kalian. Kalian sendiri yang akan menentukan akan dibawa kemana rumah tangga kalian ini saat datang sebuah permasalahan."


Ibu Dean terdiam sejenak.


"Oleh karena itu, Kara. Jangan pernah merasa takut lagi. Tidak perlu khawatir pernikahanmu akan hancur, karena semua tergantung pada dirimu sendiri. Jika kau memilih untuk selalu bertahan, maka badai apapun takkan mampu menghancurkan rumah tanggamu."


Ibu Dean menyentuh pipi Kara dan membelainya. Lalu beralih melihat kearah Dean.


"Dan aku harap kau juga punya komitmen yang sama, Dean. Tak bisa hanya istri saja yang berjuang, suami juga harus ikut berjuang. Jika kalian telah sama-sama berjuang, Ibu yakin kalian akan sanggup menghadapi apa saja." Ujar Ibu Dean lagi.


"Tentu saja, Bu. Aku dan Kara punya komitmen yang sama." Jawab Dean mantap.


Ibu Dean mengangguk dan tersenyum kearah anak dan menantunya itu. Setelah memberikan petuah, yang bisa dilakukannya kini hanyalah berdoa agar Dean dan Kara bisa mengarungi rumah tangga mereka dan di berikan banyak kebahagiaan.


Tak lama kemudian, Zaya dan Aaron datang memberikan selamat pada Dean dan Kara. Keduanya tampak tak membawa serta Albern karena ada kegiatan sekolah yang harus diikuti bocah itu.


"Oh, My Kara. Selamat. Akhirnya kamu menikah juga." Zaya memeluk sahabatnya itu. Lalu ditangkupnya wajah Kara dengan kedua tangannya.


"Aku kira kalau kamu menggunakan make-up akan jadi seperti ondel-ondel, tapi ternyata kamu cantik juga, ya." Zaya terkekeh.


"Aku memang cantik, Zaya. Dasar jahat." Sungut Kara sambil melengos. Zaya tertawa sambil memeluk sahabatnya ini sekali lagi.


"Siap-siap saja, setelah ini terkena amunisi Asisten Dean." Bisik Zaya di telinga Kara. Sontak saja Kara mendelik mendengarnya.


"Dasar ibu hamil mesum." Kara balik berbisik.


"Tapi ngomong-ngomong, seperti apa rasanya?" Tanya Kara kemudian, masih dengan berbisik.


Zaya terkekeh. Setelah mengatainya mesum, Kara justru merasa penasaran dan ingin tahu rasanya seperti apa.


"Kalau baru pertama kali, rasanya sangat sakit, seperti di sodok pakai tongkat bisbol." Jawab Zaya lagi dengan berbisik.


"Apa??" Kara terbelalak ngeri. Ia tampak sangat syok mendengar apa yang dibisikkan Zaya tadi. Lalu secara impulsif ia menoleh kearah Dean yang terlihat sedang berbincang-bincang dengan Aaron.


Kara menelan salivanya dengan susah. Ia bertanya dalam hati, benarkah sesakit itu? Kalau memang iya, lalu kenapa orang-orang melakukannya berulang kali, bahkan ada yang sampai kecanduan.


Zaya terkikik semakin geli. Tak disangka ternyata sahabatnya ini masih lugu seperti dulu. Bahkan dulu Kara punya pemikiran yang sangat konyol. Ia tidak mau berciuman karena takut hamil.


Kara yang melihat Zaya tertawa pun mulai sadar jika Zaya hanya mengerjainya.


"Kamu bohong, ya. Dasar jahat. Pasti rasanya tidak sakit. Makanya kamu dan Tuan Aaron sampai ketagihan. Rasanya enak, kan?" Tanya Kara lagi dengan gamblang dan lantang, hingga Dean dan Aaron yang tengah berbincang menoleh kearahnya.


Cepat-cepat Zaya membekap mulut Kara dengan tangannya.


'Dasar Kara!'


Bersambung...


Tetep like, komen dan vote.


Happy reading❤❤❤