Since You Married Me

Since You Married Me
Curahan Hati Ginna



Zaya mematut dirinya dicermin. Lalu ia menyemprotkan facemist di wajahnya sebagai sentuhan akhir dari make up yang ia gunakan. Zaya tersenyum. Penampilannya sudah sangat sempurna. Ia yakin tidak akan mempermalukan Ginna nanti.


Terakhir Zaya mengeluarkan sepatu yang ia beli bersama Ginna siang tadi. Zaya mengenakan sepatu cantik dan mahal itu. Meski memiliki heels, sepatu itu masih nyaman di gunakan oleh wanita hamil seperti Zaya. Meski memang tetap saja ia tidak boleh memakainya berlama-lama. Memang benar jika harga akan sebanding dengan kualitas. Buktinya apa yang Zaya kenakan sekarang memang benar-benar terasa nyaman.


Setelah selesai, Zaya turun kebawah untuk menunggu Ginna menjemputnya. Disana ada Albern dan Farah yang baru saja akan naik keatas.


"Sayang, Mama akan pergi ke jamuan makan malam bersama Grandma. Al baik-baik dirumah, ya. Papa mungkin juga akan terlambat pulang hari ini." Ujar Zaya pada Albern.


Bocah itu mengangguk.


"Oke, Ma." Jawab Albern sambil mengacungkan ibu jarinya.


"Farah, tolong jaga Albern selama aku belum pulang." Ujar Zaya lagi, kali ini pada pengasuh Albern.


"Baik, Nyonya." Farah membungkukkan badannya pada Zaya, lalu keduanya berlalu dari hadapan Zaya.


Zaya mengeluarkan ponselnya, berusaha untuk menghubungi Aaron. Tapi nomor lelaki itu sedang sibuk. Sepertinya Aaron sedang menelfon seseorang saat ini. Zaya kembali memasukkan ponselnya kedalam tas tangan yang ia jinjing. Sepertinya ia harus menghubungi suaminya itu lagi nanti. Tapi pasti Ginna juga sudah memberi tahu Aaron jika malam ini mereka akan pergi ke jamuan makan malam, jadi mungkin tidak masalah jika Zaya tidak meminta izin dari Aaron lagi.


Tak lama kemudian, Ginna datang bersama dengan sopir pribadinya. Tidak tampak Carlson di dalam mobil. Sepertinya ayah mertuanya itu punya agenda lain hingga tidak bisa datang bersama Ginna. Pantas saja Ginna sampai meminta Zaya untuk menemaninya. Ginna mungkin tidak nyaman jika harus pergi sendirian.


Setelah sebelumnya sempat berpamitan pada Bu Asma dan kembali menitipkan Albern, Zaya pun masuk kedalam mobil Ginna. Tampak didalam Ginna telah menunggunya.


Mobil mereka pun meluncur menuju tempat diadakannya jamuan makan malam.


"Pakailah ini." Ginna menyodorkan sebuah kotak pada Zaya.


Zaya menerimanya dengan sedikit ragu. Lalu ia terkejut saat membuka kotak itu. Tampaklah satu set perhiasan mewah yang terdiri dari sepasang kalung dan anting didalam kotak itu.


Zaya tidak begitu paham dengan jenis-jenis batu mulia, tapi perhiasan yang ada di hadapannya kini terlihat sangat indah dan jelas sekali jika harganya sangat mahal.


Zaya mengangkat wajahnya kearah Ginna dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Apa ini, Ma?" Tanya Zaya.


"Itu adalah perhiasan yang diberikan secara turun temurun untuk menantu perempuan tertua keluarga Brylee. Dulu ibu mertuaku memberikannya padaku saat aku menikah dengan Papanya Aaron. Sekarang perhiasan ini milikmu. Maaf karena aku terlambat memberikannya padamu." Ujar Ginna.


Zaya menatap Ginna dengan perasaan yang sulit dijabarkan. Ginna memberinya perhiasan yang menjadi simbol diterimanya seorang perempuan sebagai menantu tertua keluarga Brylee. Itu artinya Ginna benar-benar telah menerima Zaya sebagai menantunya. Tiba-tiba saja Zaya merasa terharu dan tak bisa berkata apa-apa.


"Pakailah. Biarkan semua yang hadir nanti tahu jika kau adalah ibu dari calon pewaris Brylee Goup selanjutnya." Ujar Ginna lagi.


Zaya semakin kehabisan kata-kata. Rasa haru itu semakin membuncah di dadanya hingga airmata nyaris jatuh dipipi Zaya. Tapi sekuat tenaga Zaya menahannya. Ia tidak boleh menangis. Matanya tidak boleh sembab lagi jika ia tidak ingin terlihat seperti alien di hadapan semua orang nantinya. Zaya pun hanya bisa menghela nafas beberapa kali untuk menenangkan dirinya.


"Terima kasih, Ma." Lirih Zaya akhirnya.


Ginna tak menjawab. Diambilnya perhiasan dari kotak yang sedari tadi telah dibuka Zaya, dan dibantunya Zaya mengenakan pada leher dan telinganya yang polos.


"Aku yang harusnya berterima kasih padamu. Kau telah membuat Aaron bisa menjalankan perusahaan seperti dulu. Maafkan aku jika selama ini aku telah bersikap kasar padamu. Dan mengenai Albern, apa yang selama ini aku lakukan, semua itu semata karena aku menginginkan yang terbaik untuknya. Aku harap sekarang kau tidak terlalu membenciku."


Zaya menatap Ginna yang telah selesai membantunya mengenakan perhiasan yang tadi ia berikan.


"Aku tidak pernah membenci Mama."Ujar Zaya kemudian.


Ginna terdiam beberapa saat. Kemudian seulas senyuman tipis tersungging di wajahnya yang cantik.


"Berarti kau harus menyiapkan telingamu untuk mendengarkan ocehanku. Biasanya saat aku marah, orang yang kumarahi bahkan sampai menangis karena tidak tahan dengan ucapanku."


Zaya kembali tersenyum.


"Aku yakin Mama tidak akan terlalu kejam dengan putri sendiri."


Ginna menautkan kedua alisnya.


"Siapa bilang? Aku tidak pernah membeda-bedakan. Siapapun yang melakukan kesalahan pasti akan ku hukum sesuai dengan kesalahannya."


"Apa Aaron juga sering Mama marahi?" Tanya Zaya penasaran.


Ginna menggeleng. Kemudian terdiam agak lama dengan mata sedikit menerawang.


"Sedari kecil Aaron selalu melakukan apapun dengan sempurna. Dia tidak menyisakan celah sedikit pun untuk aku memarahinya. Terkadang aku sendiri bingung, apa yang harus dikoreksi dari dia."


"Saat teman-temanku dulu mengeluh tentang anak mereka, aku bingung harus menanggapi seperti apa. Aaron benar-benar tak pernah membuatku mengeluh. Aku selalu dibuat kehabisan kata-kata olehnya. Tapi apa kau tahu? Terkadang aku memimpikan dia sesekali menjadi sedikit bandel dan membuatku mengoceh. Mungkin di dunia ini hanya aku ibu yang memimpikan hal seperti itu terhadap anaknya."


Zaya terdiam. Ia tertegun mendengar penuturan Ginna. Tak disangka ibu mertuanya itu ternyata memiliki sisi seperti ini juga. Ternyata Nyonya besar keluarga Brylee tetaplah wanita biasa yang punya keluhan tersendiri dengan kehidupannya.


"Mulai sekarang Mama bisa mengocehiku. Ada banyak celah dari diriku yang bisa memancing ocehan Mama." Ujar Zaya menanggapi.


Ginna menoleh kearah Zaya sekilas.


"Apa kau yakin tidak akan mengadu pada Aaron jika aku memarahimu?" Tanya Ginna.


Zaya tertawa kecil.


"Tentu saja tidak. Aku bukan orang yang suka mengadu."


Ginna mengangguk-angguk sambil tersenyum.


"Baguslah. Aku kurang suka dengan perempuan pengadu." Ujar Ginna.


"Perempuan hebat itu adalah yang bisa menyelesaikan permasalahannya sendiri, bukan yang hanya tahu caranya mengadu. Karena terkadang suami kita punya hal lebih besar yang harus di atasi, jadi tidak perlu harus mengurusi hal-hal kecil juga." Tambah Ginna lagi.


Zaya mengangguk. Sedikit banyak ia setuju dengan pemahaman Ginna. Kedepannya ia mungkin akan lebih banyak belajar dari ibu mertuanya ini. Semakin Zaya mengenal Ginna, semakin Zaya menyadari jika ibu mertuanya ini adalah sosok yang istimewa.


Bersambung...


Moga ga bosen baca update-an emak. Mau kebut biar bisa lanjut cerita evan.


jgn lupa votenya ya


Happy reading❤❤❤