
Kara memijat pelipisnya sembari sesekali menghela nafas. Sudah beberapa hari ini ia merasa tidak enak badan. Kepalanya pusing dan perutnya juga terasa mual, terlebih saat pagi hari. Dan yang membuatnya paling tersiksa adalah saat ia mencium aroma tubuh Dean, suaminya. Entah kenapa Kara merasa jika Dean sekarang sangatlah bau. Tadi pagi saja Kara harus memakai masker saat berdekatan dengan suaminya itu.
Sekali lagi Kara menghela nafasnya. Sepertinya ada yang salah dengan tubuhnya. Tidak pernah sebelumnya Kara memiliki masalah kesehatan seperti ini. Selama ini lambung Kara tidak pernah rewel. Hidungnya pun sebelumnya tidak sensitif seperti saat ini.
Mungkinkah saat ini ia sedang mengidap penyakit yang cukup serius. Atau jangan-jangan...
Seketika Kara teringat akan sesuatu. Diraihnya kalender yang ada di meja kerjanya, lalu ia memperhatikan tanggal yang tertera hari ini.
Kara sedikit membulatkan matanya. Ia baru menyadari jika saat ini ia sudah telat datang bulan. Harusnya Kara mendapatkan siklus bulanannya itu setidaknya seminggu yang lalu, tapi sampai hari ini masih belum mendapatkannya. Apakah itu artinya saat ini ia sedang hamil?
"Kak Kara masih pusing?" Tiba-tiba suara Fina membuyarkan lamunan Kara.
Kara tak menjawab. Ia hanya mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan Fina. Kepalanya memang terasa sangat pusing hingga untuk membuka matanya saja rasanya sangat berat.
"Aku belikan obat di apotik, ya, Kak." Ujar Fina menawarkan bantuan.
"Atau kita langsung ke rumah sakit saja?" Tawar Fina lagi.
Kara menggelengkan kepalanya pelan.
"Tolong belikan aku alat tes kehamilan saja di apotik." Pinta Kara akhirnya.
"Hah?" Fina melongo.
"Kamu mau membantu, kan?" Tanya Kara saat melihat ekspresi Fina.
Buru-buru Fina mengangguk.
"Ya sudah, kalau begitu bantu aku beli alat tes kehamilan. Aku penasaran apa sekarang aku sedang hamil." Ujar Kara lagi.
Fina tampak tercenung sebelum akhirnya mengangguk.
"Tapi, Kak..." Fina tampak ragu.
"Tapi apa?" Tanya Kara.
"Kok rasanya agak seram, ya, aku beli alat tes kehamilan. Nanti di kira aku hamil lagi." Gumam Fina.
"Memangnya kenapa? lagipula yang tahu juga paling-paling penjaga apotiknya." Kara mendesah.
"Ya justru itu, Kak. Hancur sudah reputasiku kalau sampai dia mengira aku hamil."
Kara membuka matanya, lalu melihat kearah Fina dengan penuh tanda tanya.
"Penjaga apotiknya kan pemuda imut yang tempo hari aku ceritakan sama Kakak. Masa Kak Kara lupa."Ujar Fina lagi.
Kara menautkan kedua alisnya. Lalu kemudian mencebikkan bibirnya.
"Dia sudah punya pacar, Fina. Lupakan. Jangan pernah menjadikan diri sebagai orang ketiga dalam hubungan orang lain. Cari lelaki yang belum punya pasangan." Ujar Kara menasehati.
Fina tampak menekuk mukanya.
"Iya juga, sih, Kak. Tapi kan pacarnya selingkuh, jadi tidak apa-apa kalau dia juga selingkuh."
Kara mendelik.
"Maksudmu biar jadi sama-sama selingkuh, begitu?" Tanya Kara.
"Lalu kamu mau jadi selingkuhan dia?" Kara bertanya lagi.
Fina terdiam sesaat lalu menggeleng.
"Kenapa sih lelaki yang aku sukai semuanya punya pacar." Rutuk Fina kemudian.
Kara menghela nafasnya, lalu menepuk-nepuk bahu Fina.
"Sudahlah, nanti juga kamu bakal ketemu dengan jodohmu. Sekarang kerja saja yang rajin biar dapat banyak uang. Kalau kamu banyak uang, banyak lelaki yang bakalan antri buat jadi pacarmu." Kara berusaha menghibur.
"Lelaki materialistis, dong. Tidak mau!" Fina histeris seketika, hingga Kara mau tidak mau terkekeh dibuatnya.
"Kamu, sih. Masih kecil pikirannya cari pacar melulu." Kara masih terkekeh.
"Aku sudah dewasa, Kak Kara. Sudah bisa membuat anak." Kilah Fina.
"Membuat anak bisa, mengurusnya bisa tidak?" Tanya Kara.
"Yah...tidak tahu juga." Fina ikut terkekeh, membuat Kara kembali mencebikkan bibirnya.
"Lalu sekarang, jadi membantuku, tidak?" Tanya Kara.
Fina menghentikan tawanya. Lalu menghembuskan nafasnya kasar.
"Baiklah, aku beli. Awas ya kalau sampai ada rumor aku hamil, lalu tidak ada lelaki yang mau sama aku, Kak Kara harus bertanggung jawab mencarikan aku jodoh." Ujar Fina sambil berlalu. Kara hanya menggelengkan kepalanya sambil menahan senyum.
Rekan kerja yang kini jadi bawahannya satu ini memang sangat ingin punya pasangan, tapi sayangnya setiap lelaki yang dia sukai ternyata sudah punya pacar, hingga dia harus gigit jari untuk kesekian kalinya.
Mungkin setelah ini Kara perlu membantu mengenalkan Fina dengan beberapa teman lelakinya. Siapa tahu ada yang berjodoh dengan Fina.
Tidak berapa lama kemudian, Fina datang kembali dengan membawa apa yang Kara pesan. Raut wajah gadis itu kini tampak ceria, berbeda dengan saat dia pergi tadi.
"Kak Kara tersayang, terima kasih sudah menyuruhku pergi ke apotik. Sekarang ternyata dia sudah putus, lalu tadi minta nomor telponku."
Kara menautkan kedua alisnya.
Fina mendelik.
"Enak saja mau pinjam uang, dia mau pendekatan lah." Ralatnya.
Kara terkekeh lagi.
"Oh... aku kira dia mau pinjam uangmu." Ujar Kara di tengah kekehannya.
"Dasar Kak Kara menyebalkan. Aku bilang sama Tuan Dean nanti." Fina merajuk sambil berlalu.
"Hei, kenapa kamu yang mau mengadu, dia kan suamiku." Kara masih terkekeh.
"Masa bodoh." Fina menyahut dari jauh.
"Eh, ngomong-ngomong, terima kasih, ya." Ujar Kara setengah berteriak.
"Tidak dengar." Jawab Fina masih dengan mode merajuknya.
Kara yang mendengarnya hanya tersenyum geli. Entah kenapa dia sangat suka menggoda Fina. Gadis muda itu sedikit mengobati kerinduannya pada sosok Zaya yang sekarang sudah agak jarang ia temui.
Ya. Setelah punya kehidupan rumah tangga masing-masing, Kara dan Zaya memang sudah agak jarang bertemu. Zaya sibuk mengurus suami dan kedua anaknya. Sedangkan Kara sendiri juga sibuk mengurus kafe Zaya yang kini di percayakan padanya.
Kara seringkali merindukan sahabatnya itu. Tapi untunglah ada Fina yang kini selalu ada di dekat Kara saat sedang di kafe. Gadis muda itu selalu menempel pada Kara meski Kara sering menggodanya, hingga Kara pun mulai dekat dengannya.
Kemudian Kara teringat jika ia tadi ingin melakukan tes kehamilan. Segera Kara pergi ke kamar mandi dan menggunakan alat test pack yang di beli Fina tadi.
Kara menunggu dengan harap-harap cemas. Lalu setelah beberapa detik, alat itu pun bereaksi. Terlihat dua garis merah muncul disana.
Nafas Kara seolah berhenti. Di fotonya segera hasil test pack itu, lalu di kirimnya pada sang suami.
Tak lama kemudian Dean menelfon.
"Sayang, yang kamu kirim tadi foto apa?" Tanya Dean di seberang sana.
"Itu foto hasil test pack-ku barusan. Aku positif, Sayang." Kara tak bisa menahan diri, ia langsung melow saat mendengar suara Dean.
"Hah? Positif apa? Kamu sakit?" Dean terdengar syok.
Kara menautkan kedua alisnya. Rasa harunya tadi langsung menguap, berganti dengan rasa kesal.
"Enak saja sakit." Kara menggerutu.
"Lalu?" Tanya Dean bingung.
"Aku hamil, tahu!" Jawab Kara kesal.
"Hamil?"
"Iya."
"Kamu tidak bercanda, kan?" Dean terdengar tidak percaya.
"Menurutmu?" Kara langsung mematikan ponselnya dengan kesal.
Ada kalanya Dean terasa begitu tidak peka dan menyebalkan. Suaminya itu juga tidak ada romantis-romantinya. Dia bahkan lupa dengan tanggal pernikahan mereka, padahal baru beberapa bulan menikah. Yang ada di ingatnya dengan jelas hanyalah agenda harian atasannya saja. Terkadang Kara merasa gila karena seringkali cemburu dengan Aaron yang bisa menghabiskan waktu seharian bersama Dean.
Tapi apa mau di kata. Itu memang sudah jadi pekerjaan suaminya saat ini. Sejauh ini, meskipun tidak peka, Dean adalah sosok yang penyayang dan bertanggung jawab. Terlepas dari semua kekurangannya, Kara merasa bersyukur mempunyai Dean sebagai suaminya. Dan Kara tidak pernah menginginkan orang lain yang menggantikan posisi itu.
Tak lama kemudian, Kara pun kembali menelfon seseorang. Bukan Dean, melainkan Zaya, sahabatnya.
"Hai, My Kara." Suara Zaya menyapanya. Terdengar pula Baby Zi sedang berceloteh.
"Zaya." Panggil Kara.
"Ya?"
"Kamu tahu, tidak?"
"Tidak." Zaya terkikik di seberang sana. Baby Zi juga tampaknya ikut tertawa.
"Dasar!" Gerutu Kara.
Zaya kembali tertawa.
"Oke, oke. Ada apa?" Tanya Zaya kemudian setelah berhasil menghentikan tawanya.
Kara berdehem dan mengatur kata-kata.
"Aku punya berita baik." Ujar Kara akhirnya.
"Apa itu?"
"Aku hamil, Zaya."
___________________________________________
Happy reading❤❤❤