
Zaya menatap pemandangan disekitarnya dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang entah kemana. Meski di hadapannya kini terhampar taman bunga yang sangat cantik, tapi tetap saja ia tidak menikmati pemandangan yang di suguhkan.
Sepertinya selain memberi hukuman pada Aaron, Zaya juga memberi hukuman pada dirinya sendiri. Pasalnya sendiri pun harus menahan rindu pada suaminya itu.
Sudah hampir seminggu ini ia berada disini, ditempat persembunyian Ginna. Sebuah vila yang tak terlalu besar, tapi sangat nyaman untuk ditempati.
Suasananya sangat menenangkan. Di dekat vila terdapat taman bunga yang luas, yang saat ini sebagian besar bunganya sedang mekar sempurna. Tak jauh dari vila itu juga terdapat sungai kecil yang sangat jernih. Gemercik air terdengar hingga ke halaman belakang vila, hingga menambah kesan damai di vila tersebut.
Zaya memang merasa telah lebih tenang. Suasana vila sangat mendukung untuk menjernihkan pikiran. Ia mulai berpikir jika yang terjadi bukanlah salah Aaron sepenuhnya. Mungkin memang ada hal-hal yang di luar jangkauan Aaron. Karena bagaimana pun, suaminya tetaplah manusia biasa.
Dan kini, Zaya sangat merindukan lelaki itu. Selama berada dalam persembunyiannya, terkadang pikiran konyol terlintas di benak Zaya. Ia membayangkan Aaron tiba-tiba datang dan memeluknya, serta memohon agar dirinya segera kembali.
Zaya tersenyum kecut. Entah bagaimana ia bisa sangat tidak masuk akal. Bukankah ia sendiri yang bersikeras untuk pergi dan memohon pada ibu mertuanya agar tak memberi tahu dimana tempatnya bersembunyi. Bahkan ia juga memblokir nomor kontak suaminya itu agar sementara ini tidak bisa menghubunginya.
Aaron telah menerima hukumannya. Lelaki itu jadi begitu kesepian dan merindukan istrinya. Dia tidak bisa menatap wajah yang bisa menghilangkan lelahnya, atau bahkan hanya untuk mendengar suara lembut selalu menyejukan hatinya.
Dia telah menderita karena harus menahan kerinduannya pada Zaya tanpa bisa melakukan apa-apa. Satu-satunya yang bisa Aaron lakukan hanyalah menunggu kapan istrinya itu bersedia untuk kembali dan memaafkan semua kesalahannya.
Aaron telah menerima hukumannya. Tapi bukan rasa puas yang Zaya rasakan, melainkan justru rasa sakit, karena harus membuat menderita orang yang paling di cintainya.
Zaya tak bisa marah lebih lama lagi. Rasanya ia malah semakin sedih saat memikirkan bagaimana keadaan suaminya saat ini. Zaya merindukan lelaki itu. Sangat.
"Nyonya." Suara seorang perempuan membuyarkan lamunan Zaya.
Tampak perempuan dengan usia di pertengahan empat puluhan berdiri tak jauh dari Zaya. Penampilannya telah sangat rapi dengan membawa seikat bunga segar di tangannya.
Perempuan yang Zaya panggil dengan panggilan Bu Nia itu adalah orang yang merawat vila Ginna, sekaligus yang melayani segala kebutuhan Zaya saat ini.
Tampak dari penampilannya, Bu Nia pastilah akan pergi ke suatu tempat, atau lebih tepatnya mengunjungi seseorang.
"Saya permisi keluar sebentar, Nyonya. Hari ini hari peringatan kematian suami saya, jadi saya ingin mengunjungi makamnya." Bu Nia meminta izin pada Zaya.
Zaya terlihat agak terkejut, tapi tak urung ia mengangguk. Ia tak tahu jika suami Bu Nia ternyata sudah meninggal. Pasalnya beberapa hari ini saat menceritakan tentang suaminya, Bu Nia bercerita seolah-olah suaminya itu masih hidup saja.
Zaya ingin bertanya, tapi ia merasa tidak berhak tahu urusan pribadi orang lain. Ia pun mengurungkan niatnya untuk bertanya.
"Saya sudah menyiapkan sarapan untuk Nyonya. Sebaiknya langsung Nyonya makan sebelum makanannya dingin. Nyonya juga jangan berdiri di sini terlalu lama. Terlalu banyak angin, nanti Nyonya bisa sakit." Ujar Bu Nia mengingatkan Zaya.
Zaya tersenyum dan mengangguk.
"Iya, Bu. Sebentar lagi saya masuk. Hati-hati di jalan." Jawab Zaya.
Bu Nia pun berlalu meninggalkan Zaya yang masih berdiri ditempatnya. Tak lama kemudian, Zaya masuk dan menyantap sarapan yang telah di siapkan oleh Bu Nia tadi.
Satu jam kemudian, Bu Nia kembali dengan membawa bahan masakan untuk makan siang. Sepertinya Bu Nia langsung pergi ke pasar setelah mengunjungi makam suaminya.
Beliau langsung menyusun belanjaanya di dapur dan mulai memasak untuk makan siang.
"Saya bantu kupas bumbunya, ya, Bu." Zaya mandekati Bu Nia yang tengah asyik di dapur.
"Tidak usah, Nyonya. Biar saya saja." Tolak Bu Nia lembut.
Zaya tetap mendekat.
"Kalau begitu saya temani Bu Nia ngobrol. Saya agak bosan." Ujar Zaya sambil mendudukkan dirinya di salah satu kursi meja makan.
"Boleh, Nyonya. Nyonya mau ngobrol apa?" Tanya Bu Nia tanpa menghentikan pekerjaannya.
"Apa saja." Jawab Zaya. Lalu ia terdiam sebentar.
"Ngomong-ngomong, sudah berapa lama suami Ibu meninggal dunia?" Tanya Zaya kemudian.
"Sudah lima belas tahun, Nyonya." Jawab Bu Nia.
Zaya agak tercenung.
"Sudah lama ternyata." Gumam Zaya.
Bu Nia mengangguk.
"Iya, sudah lama. Tapi bagi saya tetap saja terasa seakan baru terjadi kemarin." Bu Nia menimpali.
Zaya melihat kearah Bu Nia. Terlihat kesedihan yang teramat sangat di wajahnya yang mulai berkeriput itu. Zaya jadi agak merasa bersalah. Sepertinya Bu Nia sangat mencintai suaminya dan sangat kehilangan sosok suaminya itu.
"Saya tidak bermaksud membuat Ibu sedih, maaf." Ujar Zaya dengan raut menyesal.
Bu Nia buru-buru tersenyum.
"Tidak, Nyonya. Ini bukan karena Nyonya tadi bertanya. Saya memang belum bisa menerima kepergian suami saya setelah bertahun-tahun lamanya. Itu semua karena sebuah penyesalan yang membelenggu saya selama ini. Hingga saya masih saja merasa sedih meskipun suami saya telah pergi sejak lama."
Zaya tertegun.
'Penyesalan?'
"Memangnya penyesalan seperti apa yang yang begitu membelenggu Ibu selama ini? Mungkin Ibu mau berbagi dengan saya agar terasa lebih lega." Zaya tergelitik untuk mencari tahu. Entah kenapa ia tertarik mendengarkan cerita Bu Nia. Siapa tahu ia bisa mengambil pelajaran dari cerita tersebut.
Bu Nia terdiam sesaat, lalu menghela nafasnya.
"Suami saya meninggal karena mengalami kecelakaan setelah bertengkar dengan saya." Ujar Bu Nia dengan suara tercekat. Airmatanya menetes tanpa bisa dicegah.
"Saya menuduh suami saya berselingkuh dengan sahabat saya, karena saya beberapa kali memergoki suami saya pergi dengan sahabat saya itu. Dia berulang kali menjelaskan jika saya hanya salah paham. Tapi saya tidak menerima penjelasannya dan hanya percaya dengan apa yang saya lihat saja."
Bu Nia menghela nafas sejenak.
"Dan hari itu, kami kembali bertengkar hingga saya kabur dari rumah saat hari sedang hujan lebat. Dia panik dan langsung mencari saya. Saat melihat saya disebrang jalan, suami saya langsung berlari menyebrangi jalan karena takut saya tidak mau berhenti. Tapi tiba-tiba ada mobil yang melintas dengan kecepatan tinggi dan menabraknya."
Bu Nia mulai tersedu.
"Dia meninggal dunia tepat di hadapan saya. Dia masih sempat menyebut nama saya di saat-saat terakhirnya. Dan yang membuat saya menyesal hingga saat ini adalah, ternyata dia tidak pernah selingkuh. Setelah pemakaman, sahabat saya datang dan menjelaskan jika dia pergi bersama suami saya karena suami saya meminta bantuannya untuk membelikan hadiah ulang tahun pernikahan kami. Dia meminta sahabat saya merahasiakannya karena ingin memberi saya kejutan." Bu Nia tergugu dengan begitu sedih. Sedangkan Zaya hanya bisa memandang Bu Nia dengan tatapan sendu.
"Saya menyesali semua itu sepanjang hidup saya. Saya berpikir, seandainya saya mendengarkan penjelasannya waktu itu, mungkin saat ini kami masih bersama-sama. Tapi semua sudah terjadi, suami saya sudah tiada dan tidak akan pernah kembali. Saya hanya berharap dia mau memaafkan saya, dan bersedia menunggu istri tak berbaktinya ini disana."
Bersambung...
Votenya ya sayang
Happy reading❤❤❤