
Taksi yang ditumpangi Evan sudah menghilang di ujung jalan, tapi tak juga membuat Zaya beranjak dari tempatnya berdiri sebelumnya.
Zaya masih mematung dengan airmata yang tak henti jatuh di pipinya. Tiba-tiba saja kilasan masa kecilnya bermunculan satu persatu, membuat dadanya menjadi semakin sesak.
Flashback on
"*Hiks...hiks... Kak Evan....dia jahat...dia ambil kue Dee...padahalkan punya dia sudah dimakan duluan tadi....hiks...hiks...."
Zaya kecil menangis karena jatah kuenya dari orang yang berkunjung ke panti diambil oleh teman pantinya yang lain.
Evan mendekat dan langsung mengelus pucuk kepalanya untuk menenangkan bocah perempuan itu.
"Siapa yang ambil?" Tanya Evan.
Zaya menunjuk seorang bocah gempal yang tengah melahap kue miliknya.
"Bobi...Kak....Bobi jahat.....hiks...hiks..." Zaya masih menangis, sedangkan anak lelaki yang ditunjuk oleh Zaya langsung memasukkan semua sisa kue yang dia pegang kedalam mulutnya. Dia pun menjulurkan lidahnya kearah Zaya sambil berlari menjauh.
Zaya yang melihatnya menjadi semakin kesal dan menangis semakin keras.
"Sudah, sudah... Dee jangan nangis lagi, ya. Ini punya Kakak belum Kakak makan. Dee saja yang makan." Evan menyodorkan kue miliknya kepada Zaya. Tangis bocah itu sontak berhenti, lalu ia memandangi kue yang disodorkan Evan dan memandang wajah Evan secara bergantian.
Evan tersenyum dan menyuapi kue yang ada ditangannya ke mulut Zaya. Zaya pun menerima suapan itu dan mengunyahnya dengan lahap.
"Enak, ya?" Tanya Evan.
Zaya hanya mengangguk karena mulutnya penuh dan tak bisa menjawab.
"Kakak tidak mau?" Zaya menahan potongan terakhir yang akan disuapkan Evan padanya.
Evan menggelengkan kepalanya.
"Kakak sudah kenyang. Dee saja yang makan." Ujarnya berbohong. Mata Zaya kecil pun berbinar dan menerima potongan terakhir itu dengan senang.
Evan tersenyum melihatnya. dia senang jika perut Zaya bisa terisi.
Itu bukan kali pertama Evan menahan lapar demi Zaya. Sudah sangat sering Evan merelakan jatah makannya untuk bocah kecil itu.
Lalu di lain hari, Zaya menangis karena belum bisa menulis namanya sendiri.
Dari semua teman sekelasnya, hanya Zaya sendiri yang masih belum bisa mengenal semua huruf dengan baik. Alhasil Zaya kembali menjadi bahan ejekan teman-temannya dengan mengatakan jika dirinya adalah anak bodoh berotak udang.
Zaya kembali tersedu-sedu.
Sepulang sekolah ia tak langsung pulang ke panti dan duduk di tempatnya biasa bermain bersama Evan.
Lagi-lagi Evan datang mencarinya dengan membawa makanan.
"Sudah...Jangan menangis lagi. Setelah ini Kakak akan ajarkan Dee cara menulis nama Dee sendiri." Bujuk Evan.
"Tapi mereka bilang Dee bodoh, punya otak udang. Udang kan buat dimakan, Dee tidak mau di makan seperti udang." Zaya mengadu pada Evan dengan polosnya. Ia masih menangis sambil sesekali menyeka matanya dengan punggung tangan.
Evan terkekeh, lalu mengelus punggung Zaya untuk menenangkannya.Kemudian Evan mencubit hidung mungil Zaya dengan gemas.
"Siapa bilang Dee punya otak udang. Dee adalah anak paling pintar yang pernah Kakak kenal."
Evan merogoh saku bajunya dan menyodorkan beberapa butir permen coklat pada Zaya.
Tangis Zaya terhenti meski sesekali ia masih sesegukan. Dipandangnya Evan dengan mata berbinar.
"Ini buat Dee?" Tanyanya.
Evan tersenyum dan mengangguk.
"Iya. Ambilah. Setelah ini kita makan sama-sama, ya. Kakak tadi bantu Bu Imas cuci piring, lalu di kasih nasi sama ayam goreng." Ujar Evan dengan raut wajah senang. Bu imas yang dia maksud adalah pemilik warung nasi yang terletak tak jauh dari panti. Evan memang sering membantu disana saat ada waktu luang, dan sebagai imbalan, dia akan diberi makanan atau sedikit uang jajan.
Zaya berjingkrak senang.
"Asiiikkk...ayam goreng...." Serunya.
Hilang sudah tangisan sedihnya tadi saat mendengar kata ayam goreng. Zaya kecil memang sangat menyukainya, tapi tentu saja dapur panti sangat jarang menyajikan menu itu, sehingga Zaya hanya bisa membayangkan saja rasanya seperti apa.
Flashback off*
Zaya semakin tersedu. Setelah banyak hal yang telah banyak Evan lakukan untuknya, kini hanya luka yang Zaya berikan pada malaikat pelindungnya itu sebagai balasannya.
Zaya pun merasa menjadi orang paling tak tahu terima kasih di dunia ini. Bagaimana bisa ia menghancurkan hati orang yang paling mempedulikannya dulu. Zaya benar-benar sedih membayangkan sakitnya Evan saat ini.
Tiba-tiba sebuah tangan kokoh menyentuh bahu Zaya dengan lembut, hingga mau tak mau Zaya menoleh.Tampak Aaron telah keluar dari mobilnya dan berdiri dibelakang Zaya.
Lelaki itu membalik tubuh Zaya dan membawa Zaya kedalam pelukannya. Diusapnya kepala dan punggung Zaya, seolah ingin memberikan ketenangan untuk perempuan itu.
"Menangislah jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik." Gumam Aaron sambil mempererat pelukannya.
Zaya menuruti kata-kata Aaron. Ia menangis semakin kencang didalam pelukan Aaron, seolah tidak takut jika tiba-tiba Aaron tidak suka dengan sikapnya ini. Tapi memang tampaknya Aaron tak berkeberatan dan membiarkan Zaya menumpahkan semua kegundahannya.
Zaya menangis hingga ia mulai sesegukan.
Aaron menuntun Zaya menuju mobil, kemudian membimbing Zaya untuk masuk.
Aaron memberikan Zaya air mineral yang ada didalam mobilnya. Zaya pun menerimanya dan meneguk air itu beberapa tegukan.
Terlihat Zaya sudah mulai tenang dan berhenti menangis. Mereka pun hening untuk beberapa saat.
"Aaron, maaf..." Suara Zaya yang serak terdengar memecah keheningan. Tampaknya Zaya mulai sadar dengan situasinya saat ini. Ia menangisi Evan saat ada Aaron di dekatnya. Apakah sekarang lelaki di sampingnya ini akan marah?
Tapi di luar dugaan, Aaron malah menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis, seolah ingin menenangkan Zaya.
"Jika ada yang ingin kau katakan, katakan saja." Ujar Aaron dengan lembut, jauh sekali dari kesan marah.
Zaya menelan salivanya. Ia berusaha menyusun kalimat yang tepat untuk di sampaikan pada Aaron tentang dirinya dan Evan.
"Kak Evan dan aku...kami berasal dari panti asuhan yang sama. Dia sudah melakukan banyak hal untukku saat kami kecil dulu. Aku banyak berhutang budi padanya. Itulah kenapa aku sangat sedih dia pergi dengan cara seperti ini." Tutur Zaya mencoba menjelaskan.
Aaron menatap Zaya lekat.
"Aku tahu." jawab Aaron kemudian.
"Aku bisa memaklumi apa yang terjadi hari ini" Ujar Aaron lagi. Zaya tampak menghela nafas lega.
Tapi sejurus kemudian Aaron merubah mimik wajahnya.
"Tapi Zayaku sayang. Aku hanya ingin melihat yang seperti tadi hari ini saja. Di kemudian hari, aku tidak mau kau menangisi lelaki lain lagi, terlebih dihadapanku."
"Cukup sekali ini saja." Ulang Aaron lagi dengan penuh penekan.
Sebenarnya lelaki ini sangat cemburu dan ingin marah sejak tadi, tapi Aaron tahu jika Evan sudah Zaya anggap sebagai Kakaknya sendiri, hingga Aaron sebisa mungkin berusaha menerima apa yang terjadi hari ini.
Tapi dorongan rasa cemburu itu membuat Aaron sedikit menghela napas.
"Zaya, apa kau tahu hal yang bisa memperbaiki mood?" tanya Aaron.
Zaya menatap Aaron sesaat dan menggeleng.
Aaron tersenyum.
"Akan aku tunjukkan padamu." Gumamnya sambil mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.
"Coklat?" Zaya menatap Aaron dengan penuh tanda tanya.
"Ya, makan ini dan perbaiki moodmu. Entah kenapa sejak tadi aku menyimpan ini," ujar Aaron.
Meski agak bingung, Zaya pun menerima coklat dari Aaron. Dia memakannya meski dengan agak enggan. Meski mungkin tak akan terlalu berpengaruh padanya, tapi setidaknya dia mesti menghargai usaha Aaron menghiburnya.
Bersambung....
Entah kapan ga sibuk biar bisa up 2 part😣
Jangan lupa votenya ya..
Happy reading❤❤❤