
Kara menatap Zaya dan Dean bergantian. Wajahnya nampak sangat bingung melihat kedua orang dihadapannya ini yang mematung karena sama-sama terkejut.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Kara dengan raut bingungnya.
Baik Zaya maupun Dean, keduanya sama-sama tetap tak membuka suara.
Tiba-tiba Zaya menggeser kursinya dan mendekati Dean. Lalu dengan ekspresi yang tak terbaca, Zaya menarik tangan Dean dan menyeretnya kearah meja makan.
Sontak Kara membeliakkan matanya melihat adegan itu.
"Duduklah, Asisten Dean. Ada yang harus kita perjelas disini." pinta Zaya dengan tatapan mengancam.
Dean yang tampak masih terkejut hanya bisa menuruti apa yang dipinta Zaya. Dia pun duduk dihadapan Zaya, diikuti oleh Kara.
Zaya menatap Dean untuk beberapa saat, lalu menhembuskan nafasnya kasar.
"Sekarang katakan padaku, Apa Tuanmu itu yang mengatur semua ini?" tanyanya kemudian.
Dengan buru-buru Dean menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Nyonya, bukan seperti itu. Hubungan saya dan Kara tidak ada sangkut pautnya dengan Tuan." jawab Dean kemudian.
Zaya yang mendengarnya tampak memandang dengan wajah tidak percaya. Sedangkan Kara yang sedari tadi bingung, terlihat mulai gemas karena tidak ada yang mau menjelaskan sesuatu padanya.
"Tunggu dulu, oke." Kara menginterupsi.
"Kalian berdua tolong jelaskan padaku terlebih dahulu bagaimana kalian saling mengenal." pintanya.
"Sayang, kenapa kamu panggil Zaya dengan sebutan Nyonya?" lanjut Kara lagi, kali ini ia bertanya pada Dean.
Dean tampak diam sesaat untuk mengatur kalimat yang mudah ditangkap oleh Kara.
"Nyonya Zaya adalah mantan istri dari bosku, Sayang." jawab Dean akhirnya.
Mata Zaya agak membulat karena tak percaya melihat interaksi kedua orang didepannya ini. Benar-benar tampak seperti dua orang yang sedang jatuh cinta. Jadi Kara dan Dean benar-benar berpacaran?
Sedangkan Kara tak kalah kagetnya saat mendengar Zaya adalah mantan istri bosnyo Dean. Matanya membelalak tak percaya sembari menatap kearah Zaya.
Kemudian Kara kembali melihat kearah Dean.
"Bukankah kamu bekerja untuk Tuan Aaron Brylee, Sayang?" Kara mengoreksi. Dean mengangguk membenarkan.
Seketika Kara terpana dengan mimik wajah yang sulit dijelaskan.
"Jadi, Zaya adalah mantan istri Tuan Aaron?" Tanyanya lagi tak percaya.
"Benar." jawab Dean.
Kara kembali menganga tak percaya. Kali ini ia kembali menoleh kearah Zaya.
"Jadi, lelaki yang sudah menghamili dan menikahimu tujuh tahun yang lalu itu Tuan Aaron?" Tanya kara kemudian.
Zaya mengangguk.
"Iya." jawabnya.
Kara pun kembali terperangah dan membekap mulutnya dengan telapak tangannya sendiri.
"Benar, Kara. Lelaki yang tempo hari kamu bilang bandot tua itu adalah Aaron brylee." ujar Zaya lagi meyakinkan Kara.
"Dan, putranya Albern. Dia adalah putraku." sambungnya setengah menerawang.
Kara masih terus terperangah dengan segala keterkejutannya. Ternyata sahabatnya ini terlibat dengan seseorang yang sangat tidak biasa. Kara sungguh tidak bisa mempercayainya.
"Kamu benar-benar menyimpan kejutan yang tak terduga sejak menghilang, Zaya. Jangan-jangan setelah ini bakal ada fakta yang lebih mengejutkan lagi. Jangan-jangan kamu ternyata adalah salah satu anggota keluarga kerajaan inggris." racaunya tak percaya. Zaya hanya bisa mengeleng-gelengkan kepala saat mendengarnya.
Ia menatap lelaki berkacamata itu untuk meminta penjelasan. Zaya masih tidak bisa menerima jika saat ini Dean tiba-tiba muncul sebagai kekasih Kara. Zaya curiga jika ini adalah salah satu permainan yang diatur okeh Aaron. Tapi, kenapa juga Aaron mesti repot-repot melakukan semua ini?
Zaya sangat penasaran dan membutuhkan penjelasan dari Dean sekarang juga.
"Saya sungguh berhubungan dengan Kara bukan karena Tuan Aaron, Nyonya. Tuan bahkan tidak mengetahui semua ini. Beliau juga tidak mengenal Kara. Hubungan kami ini sungguh bukanlah hal yang telah diatur sebelumnya. Saya dan Kara benar-benar bertemu dan jatuh cinta secara natural, tanpa direncanakan sebelumnya." terang Dean seakan memahami kekhawatiran Zaya.
Dean paham, selain takut jika ini sekedar akal-akalan Aaron semata, Zaya juga pasti sedang mengkhawatirkan Kara. Zaya pasti tidak ingin gadis itu dipermainkan.
Sedangkan Kara yang ikut mendengar kata-kata Dean mengulas senyumnya. Entah kenapa ia merasa tersanjung karena ucapan Dean barusan. Tanpa sadar tangannya terulur menyentuh punggung tangan Dean.
Dean menoleh dan tersenyum kearah Kara. Tangan Dean balas menyentuh punggung tangan Kara dan mengenggamnya. Keduanya tersenyum satu sama lain sambil saling menatap penuh cinta.
Pemandangan yang akan membuat iri siapa saja yang melihatnya.
Zaya berdehem menyaksikan kemesraan kedua orang dihadapannya ini.Hingga keduanya tersipu dan sama-sama menarik tangan masing-masing.
"Baiklah, kalau begitu. Aku percaya. Jadi kapan kita makan? Aku sudah lapar." ujar Zaya berusaha menetralkan suasana yang mulai canggung.
"Ah, iya. Aku jadi lupa." ujar Kara tidak enak. Kemudian ia mepersilahkan Zaya dan Dean memulai makan malam mereka.
Mereka pun mulai makan malam dengan suasana yang agak canggung. Untung saja Kara adalah orang yang bisa membuat candaan disegala suasana, hingga suasana canggung itu mulai mencair.
Sambil makan, Kara menceritakan bagaimana ia pertama kali bertemu dengan Dean.
Semuanya berawal dari tiga tahun yang lalu, saat itu Dean tengah menunggu Aaron yang tengah meeting disebuah restoran bintang lima. Kemudian melihat seorang gadis pekerja paruh waktu yang hendak dilecehkan salah seorang pengunjung restoran tersebut.
Dean pun menolong gadis itu yang tak lain adalah Kara, lalu mereka berkenalan dan bertukar nomor kontak. Kemudian sebagai ucapan terima kasih, Kara mengundang Dean untuk makan makam seperti sekarang ini.
Akhirnya setelah beberapa kali bertemu lagi, mereka menjadi sama-sama tertarik. Tapi mereka baru benar-benar dekat setelah dua tahun lamanya, hingga akhirnya sekarang mereka memutuskan untuk berpacaran.
Zaya memandangi dua orang didepannya kini. Binar bahagia terpancar dari mata keduanya hingga memaksa Zaya untuk percaya jika mereka benar-benar saling jatuh cinta, bukan dipaksa berpacaran seperti dugaan awalnya saat pertama melihat asisten Dean muncul disini.
Zaya bertanya-tanya didalam hati, setelah ini entah hal apalagi yang akan ia dapati. Zaya benar-benar tak mengerti dengan garis hidup yang menaunginya.
'Ya Tuhan. Takdir macam apakah ini?'
___________________________________________
Aaron tampak sedikit tertegun saat Asisten Dean menceritakan pertemuan tidak sengajanya dengan Zaya kemarin malam. Awalnya Aaron ingin meminta penjelasan Dean karena tidak datang tepat waktu saat Aaron menefonnya malam itu. Aaron ingin marah mengetahui jika saat itu Dean tengah makan malam dengan kekasihnya.
Berulang kali Aaron mengingatkan kepada para bawahannya, jika hubungan pribadi jangan sampai mempengaruhi keprofesionalan kerja, terlebih jika hubungan itu masih dalam jenjang berpacaran.
Tapi saat Dean menceritakan jika Zaya juga ada disana, dan ternyata kekasihnya adalah sahabat dari mantan Nyonyanya itu, ekspresi wajah Aaron langsung berubah menjadi sangat tak terbaca.
Lalu setelah terdiam agak lama, senyum tipis pun mengembang dibibir Aaron.
"Dean, apapun yang terjadi, jangan pernah putus dengan pacarmu itu." gumamnya.
Asisten Dean hanya bisa mematung sembari memikirkan arti dari kalimat yang didengarnya itu. Meski bingung, namun hatinya senang karena selamat dari hukuman kali ini.
'Terima kasih, Nyonya.' batinnya.
Bersambung....
Ngetik part ini drama bgt.
Baru ngetik dikit, mata ga sadar merem, terus melek lagi, ngetik lagi, merem lagi...
pokoknya lama...baru selesaiš
Tetep like, komen dan vote ya...
Happy readingā¤ā¤ā¤