Since You Married Me

Since You Married Me
Menunggu Keajaiban



Dokter bedah itu tertegun sambil menatap kearah Aaron sejenak, seolah ingin meyakinkan atas pilihan yang Aaron buat tadi.


"Aku tidak peduli akan seperti apa kondisi istriku nanti, asalkan nyawanya bisa terselamatkan dan dia bisa kembali berada di tengah-tengah kami, itu sudah lebih dari cukup." Ujar Aaron lagi dengan penuh keyakinan.


Dokter itu pun mengangguk dan masuk kembali ke dalam ruang operasi untuk mulai melakukan tugasnya.


Kini tinggalah Aaron tercenung dengan tatapan yang begitu sendu. Masih jelas diingatannya kalimat Zaya yang memintanya untuk menyelamatkan putri mereka jika memang terjadi sesuatu.


Sungguh sebuah dilema saat harus memilih salah satu dari dua orang yang sama berarti. Zaya pasti akan sangat marah jika sampai ia tahu Aaron memutuskan untuk memilih untuk tidak menyelamatkan putri mereka. Tapi Aaron akan menerima semua kemarahan Zaya. Dia lebih memilih Zaya membencinya dari pada harus kehilangan istrinya itu untuk selamanya.


'Maafkan Papa, putriku. Mungkin Papa adalah orang tua paling kejam yang tega mengorbankan darah dagingnya sendiri. Papa memang egois dan tidak pantas dimaafkan. Tapi Papa tidak bisa jika harus kehilangan Mamamu. Papa sungguh tidak bisa...'


Aaron kembali memejamkan matanya sambil menghela nafas dalam. Dadanya benar-benar terasa sesak memikirkan putrinya yang saat ini masih berada dalam kandungan Zaya. Putrinya yang belum terlahir di dunia dan kemungkinan tidak punya kesempatan untuk melihat dunia karena keputusan yang Aaron buat tadi.


"Maafkan Papa..."Aaron bergumam tanpa sadar.


Tiba-tiba Aaron merasakan ada tangan mungil yang menyentuh punggung tangannya.


Aaron membuka matanya. Tampak Albern telah berdiri di hadapannya dengan tatapan yang sama sedihnya.


"Papa." Panggil Albern lirih. Diulurkannya tangan mungilnya itu dan disentuhnya wajah Aaron dengan ragu-ragu.


"Papa jangan sedih. Al minta maaf karena sudah membuat Papa sedih." Ujar Albern sembari mengusap pipi Aaron.


"Al yang salah. Al minta Mama dan Papa untuk mengajak Al pergi ke puncak. Seandainya kita tidak ke puncak, pasti Mama dan adik tidak akan kenapa-napa."


Albern tampak merasa sangat bersalah dengan kejadian yang menimpa Zaya. Bocah itu pikir karena dialah Zaya dan adiknya yang masih berada dalam kandungan sang Mama sampai jadi sampai mengalami hal ini.


Aaron berusaha tersenyum kearah Albern agar tidak membuat putranya ini semakin merasa buruk. Lalu diraihnya Albern kedalam pelukannya.


"Ini semua bukan salah Al. Kita semua tidak ada yang tahu apa yang akan menimpa Mama saat di puncak tadi. Mama juga pasti tidak ingin Al menyalahkan diri Al sendiri. Jadi jangan pernah berpikir seperti itu lagi, oke?" Aaron membelai lembut kepala putranya itu.


Albern tak langsung menjawab. Ia terdiam beberapa saat hingga akhirnya mengangguk pada Aaron.


"Al janji setelah adik Al lahir nanti, Al akan menjaga adik. Al akan sayang sama adik dan mengajak adik main. Al tidak keberatan lagi walaupun adik Al nanti perempuan.


Albern tampak berjanji dengan sangat serius pada Aaron, membuat Aaron semakin merasa bersalah. Entah bagaimana reaksi Albern jika tahu adiknya kemungkinan tidak akan lahir kedunia. Aaron hanya berharap setelah ini Zaya dan Albern tidak akan membencinya terlalu banyak.


"Baiklah." Ujar Aaron kemudian.


"Tapi sepertinya Jagoan Papa ini butuh istirahat yang cukup supaya besok punya energi lagi." Bujuk Aaron kemudian.


"Al pulang lebih dulu dan istirahat dirumah, ya. Uncle Jeff yang akan mengantar Al." Ujar Aaron lagi.


Bocah pintar itu mengangguk dengan patuh.


"Oke, Papa." Jawabnya berusaha bersemangat, tapi masih tetap terdengar sedih juga.


Lalu setelah berpamitan pada Ginna dan Carlson, Albern pun pulang dengan di antar Jeff dan Jennifer.


"Dia adalah perempuan yang kuat, Aaron. Aku sangat yakin dia akan baik-baik saja." Suara Ginna terdengar menyemangati Aaron. Ginna ikut duduk disamping Aaron dengan mata yang juga agak menerawang.


"Dulu aku pikir dia adalah perempuan yang rapuh dan tak tahu apa-apa. Aku tidak terlalu menyukainya karena menganggap dia hanya akan menjadi beban untukmu."


Ginna menghela nafasnya.


"Aku bahkan memintanya untuk segera meminta cerai padamu, karena merasa jika dia bukanlah perempuan yang pantas untuk menjadi Nyonya Muda Brylee."


"Tapi ternyata aku salah..."


Ginna menoleh kearah Aaron yang masih tak bergeming.


"Istrimu itu ternyata adalah perempuan paling kuat yang pernah aku temui. Dia tak goyah sedikitpun untuk berdiri disampingmu, sebesar apapun rasa sakit yang di dapatnya. Dan dia juga berusaha keras membuat dirinya agar menjadi pantas."


"Aku masih ingat kata-katanya saat aku memintanya pergi dulu. Dengan sangat berani dia bilang padaku jika dia akan pergi hanya jika kau sendiri yang memintanya pergi. Saat itu aku merasa kesal, tapi di sisi lain aku juga kagum dengan kegigihannya mempertahankan dirimu meski saat itu dia tak diakui."


"Melihat begitu banyak luka dan kesedihan yang dia dapatkan selama bersamamu dan itu tidak membuatnya menyerah, saat itu aku pun menyadari jika dia punya cinta yang begitu besar dan tulus untukmu, Aaron. Dalam hidupku, aku tidak pernah melihat seorang wanita yang begitu yakinnya mencintai seseorang meski berada dalam ketidakpastian dan tak dihargai. Dan mulai saat itu aku mulai belajar untuk menerima dirinya."


Ginna kembali melihat kearah Aaron yang kini juga telah melihat kearahnya.


"Dia telah melalui banyak penderitaan untuk bisa bersamamu, Aaron. Jadi aku yakin dia tidak akan meninggalkanmu begitu saja. Dia akan melahirkan putri kalian dengan selamat. Istrimu itu, dia bahkan lebih tegar dari karang. Hal semacam ini tidak akan bisa menumbangkannya begitu saja." Ginna mengusap pundak putranya yang tampak sangat terpuruk itu.


Aaron terdiam dan mencerna kata-kata yang Ginna ucapkan.


"Lihat saja nanti." Ujar Ginna lagi.


"Apa yang dikatakan Mamamu itu benar, Aaron. Menantuku itu adalah perempuan hebat. Bagaimana mungkin dia akan menyerah begitu saja. Dia pasti akan membawa putri kalian hadir di tengah-tengah kita." Kali ini Carlson yang menyemangati.


Perlahan Aaron mengangguk dan mengulas senyuman tipis.


"Mama dan Papa benar. Zaya pasti akan mampu menghadapi semua ini. Dia pasti akan melewatinya dengan baik seperti biasanya."


Aaron memutuskan untuk berpikir lebih positif lagi. Ia berharap akan ada keajaiban yang datang dan membuat keadaan Zaya dan calon anak mereka baik-baik saja.


Yang bisa dilakukannya saat ini hanyalah menunggu, meski dengan harap-harap cemas.


Namun tiba-tiba indra pendengaran Aaron terusik.


Oeekk... Oeekk... Oekkk..


Suara tangis bayi membuat Aaron sontak berdiri dari duduknya.


Bersambung...


Jgn pernah bosen buat like, komen dan vote


Happy reading❤❤❤