Since You Married Me

Since You Married Me
Sekretaris Baru



Zaya dan Aaron kembali ke vila menjelang waktu makan siang. mereka tidak langsung pulang kerumah karena Bu Nia meminta mereka berdua untuk makan siang disana terlebih dahulu. Bu Nia beralasan jika dirinya terlanjut memasak bahan makanan yang di belinya tadi, sehingga Aaron dan Zaya pun tak bisa menolak.


Selama makan siang, Bu Nia memperhatikan bagaimana perlakuan Aaron kepada Zaya. Lelaki itu begitu memperhatikan istrinya, sampai-sampai sesekali dia menghentikan makannya karena hendak melayani Zaya. meski Zaya sendiri seringkali mengatakan jika ia bisa sendiri.


Bu Nia tersenyum tipis. Ia melihat ada sedikit kesamaan pada sikap Aaron dan sikap mendiang suaminya terhadap istri. Keduanya sama-sama terlihat begitu mencintai dan memanjakan istri meski dengan cara yang agak berbeda.


"Honey, aku bisa sendiri." Zaya protes pada Aaron.


"Kamu makan terlalu sedikit, suapanmu juga kecil. Sini, biar aku suapi saja." Aaron memngambil alih sendok yang ada di tangan Zaya.


"Aku bisa makan sendiri. Kamu juga harus makan. Lihat itu, makanan di piringmu baru berkurang sedikit. Cepat makan sana." Zaya mengambil kembali sendoknya.


Aaron berdecak. Lalu diambilnya kembali sendok Zaya, lalu diarahkannya satu suapan pada istrinya itu.


Zaya mengalah dan menerima suapan dari Aaron sebelum akhirnya merebut kembali sendok itu dan makan dengan tangannya sendiri.


"Honey, aku tahu kamu menyanyangiku dan ingin lebih memperhatikanku. Tapi aku bisa makan sendiri. Simpan rasa sayang dan cintamu itu untuk besok juga, jangan di habiskan hari ini." Ujar Zaya sambil menyodorkan kembali piring makanan Aaron agar dia kembali meneruskan makannya.


"Sekarang kamu juga makan. Biasanya kamu tidak akan mengeluarkan suara sebelum selesai, apalagi bergerak untuk menyuapi orang lain." Tambah Zaya lagi.


Aaron mendesah.


"Baiklah." Ujarnya sambil memegang kembali sendok yang dia gunakan tadi.


"Tapi awas kalau kau makan seperti tadi." Tambahnya dengan nada mengancam. Dia juga kembali menambahkan ikan dan sayuran pada piring Zaya.


Zaya menghela nafasnya, tapi tak membantah. Jika terus berdebat, mungkin makan siang mereka tidak akan selesai sampai sore nanti.


Bu Nia hanya tersenyum simpul melihat pasangan. Entah mengapa, kebahagiaan yang dirasakan Aaron dan Zaya seakan menular padanya. Hanya dengan melihat mereka berdua saling menunjukkan rasa cinta, hatinya ikut merasa senang.


Setelah beberapa saat, makan siang penuh drama itu akhirnya selesai juga. Aaron dan Zaya berpamitan pada Bu Nia untuk pulang.


"Terima kasih sudah menjaga istri saya selama dia di sini, Bu Nia. Maaf kalau dia agak merepotkan." Ujar Aaron sambil sedikit melirik Zaya. Zaya hanya memalingkan wajahnya karena dibilang merepotkan oleh Aaron.


"Nyonya tidak merepotkan sama sekali, Tuan. Saya malah senang Nyonya datang kemari. Nyonya sangat baik dan lembut, pantas saja kalau Nyonya Ginna sangat menyayangi Nyonya dan menganggapnya seperti putrinya sendiri." Balas Bu Nia sambil tersenyum.


Zaya agak tertegun mendengar penuturan Bu Nia. Sedangkan Aaron tampak menautkan kedua alisnya.


"Benarkah?" Tanya Aaron tak percaya.


"Benar, Tuan. Sebelum Nyonya Zaya datang kemari, Nyonya Ginna terus mengingatkan saya agar menjaga menantunya dengan baik, jangan sampai terjadi apa-apa. Dan makanan yang di siapkan untuk Nyonya Zaya juga semua atas rekomendasi dari Nyonya Ginna. Saya hanya menjalankan instruksi dari beliau saja." Ujar Bu Nia lagi.


Zaya tak bisa berkata-kata saat mendengarkan penjelaskan dari Bu Nia. Hatinya menghangat hingga menjalar ke pelupuk matanya. Tapi Zaya menahan sebisa mungkin untuk tidak menangis.


Memiliki suami yang sangat mencintainya dan rela melakukan apa saja untuk membahagiakannya. Lalu sekarang, mendapati kenyataan jika ibu mertuanya juga sangat menyayanginya, hingga menjaganya seperti menjaga putrinya sendiri.


Kini Zaya merasa perjuangannya selama ini tidaklah sia-sia. Hidupnya telah benar-benar sempurna. Dan sebentar lagi seorang anak akan kembali hadir menambah kebahagiaan yang telah diraihnya.


Zaya benar-benar bersyukur dengan apa yang dirasakannya saat ini.


"Sering-seringlah berkunjung kemari, Nyonya. Jangan hanya datang saat ada masalah saja." Bu Nia berseloroh.


"Saya hanya bercanda, Nyonya. Jangan diambil hati. " Bu Nia kembali menambahkan sambil masih terus tersenyum.


"Kami pasti akan datang lagi. Lain kali kami akan membawa putra kami juga. Dia pasti senang melihat pemandangan disini." Jawab Aaron.


"Kami pulang dulu, Bu Nia." Pamit Aaron lagi.


"Kami pulang, Bu Nia. Terima kasih banyak." Zaya juga ikut berpamitan sebelum keduanya berlalu.


"Hati-hati, Nyonya, Tuan."


Bu Nia melambaikan tangannya mengiringi mobil Aaron yang melaju meninggalkan vila. Perempuan paruh baya itu tersenyum sambil melihat mobil itu menghilang di tikungan jalan.


Seperti halnya saat Ginna dan Carlson berbaikan dulu, saat ini Bu Nia juga merasa bahagia. Ia berharap, suatu hari ia juga bisa kembali disatukan dengan suaminya, meski di dunia yang berbeda.


___________________________________________


Aaron membaca profil orang yang telah diterima Asisten Dean menggantikan Anna menjadi sekertarisnya. Dia memang menyerahkan sepenuhnya urusan mencari sekertaris baru pada Asisten Dean. Hal itu di karenakan Aaron ingin fokus menyelesaikan permasalahannya dengan sang istri.


Dan ternyata, Asisten Dean bekerja dengan cepat. Saat Aaron kembali bekerja, sudah ada seseorang yang telah diterima untuk mengisi posisi sebagai sekertaris Aaron sesuai dengan kriteria yang Aaron inginkan.


Seorang lelaki muda yang baru menyelesaikan pendidikannya tahun ini. Tapi dia telah magang di beberapa perusahaan besar sebelumnya, dan nilai akademisnya juga diatas rata-rata.


Lelaki muda itu juga menguasai setidaknya lima bahasa secara aktif, dan beberapa bahasa lainnya secara pasif.


Kemampuan yang jadi pertimbangan Asisten Dean yang lain adalah, selain kemampuannya dalam berkomunikasi sangat baik, lelaki muda ini juga memegang sabuk hitam untuk jenis beladiri karate, sehingga dalam keadaan genting, dia juga bisa menjadi bodyguard dadakan.


Sebuah paket lengkap yang tidak akan di lewatkan oleh Asisten Dean. Tentu saja dengan memberikan imbalan gaji yang sepadan pula.


Tak berapa lama, pintu ruang kerja Aaron diketuk. Asisten Dean masuk bersama dengan sekertaris baru Aaron itu.


"Selamat pagi, Tuan. Nama saya Jeffran Lee. Anda bisa memanggil saya Jeff saja. Mulai hari ini saya yang akan menjadi sekertaris Tuan." Lelaki muda yang masih punya darah Korea dari Kakeknya itu membungkuk hormat pada Aaron.


Aaron mengangkat wajahnya dan melihat kearah Sekertaris Jeff. Seketika keningnya berkerut saat melihat pemuda di hadapannya itu.


Meski wajahnya terlihat tidak jauh berbeda dengan yang dilihatnya di foto, tapi penampilannya sangat berbeda. Sekertaris Jeff tampak jauh lebih menarik dengan balutan pakaian formal yang dikenakannya saat ini.


Melihat lelaki muda tampan dan cerdas dihadapannya ini, entah mengapa hatinya sedikit agak tidak nyaman.


Sekertaris Jeff mengangkat wajahnya dan mengulas sebuah senyuman. Seketika Aaron merasa jika pemuda di hadapannya ini adalah sebuah ancaman.


Bersambung...


Aseekkk...ada berondong😁


Jgn lupa votenya ya...


Happy readingā¤ā¤ā¤