
Zaya merasakan ada pergerakan di samping tempat tidurnya.Perlahan dia membuka matanya yang masih terasa berat dengan malas. Dan apa yang dilihatnya setelah ia berhasil membuka mata membuatnya tertegun.
Sosok lelaki yang ia tinggalkan beberapa hari ini tengah terlelap di sofa yang ada di hadapannya
Aaron. Dia di sini.
Zaya merasa seperti sedang bermimpi. Mungkin saat ini ia belum terjaga dari tidurnya dan memimpikan Aaron karena terlalu merindukan lelaki itu.
Sekali lagi Zaya memejamkan matanya dan membukanya kembali. Tapi ternyata sosok yang tengah terlelap itu masih tidak menghilang. Itu berarti saat ini Zaya tidak sedang bermimpi.
Tampaknya Aaron telah berhasil menemukan tempat persembunyian Zaya dan menyusulnya kemari.
Zaya memandang wajah yang ada dihadapannya itu dengan lekat. Kemudian tangannya terulur dan menelusuri setiap lekuknya. Rahang yang tegas, hidung yang tegak, dan kelopak mata yang kini tengah terpejam, menyembunyikan manik kehijauan yang memiliki sorot mata tajam layaknya tatapan elang.
Wajah tampan yang nyaris sempurna, membuat Zaya enggan untuk mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
Zaya merindukan lelaki ini. Sungguh bukan perkara mudah berusaha menjauh dari sosok yang mampu membuatnya jatuh cinta berulangkali. Dan kini, begitu melihat Aaron terlelap setelah jauh-jauh menyusulnya, membuat Zaya tidak sanggup untuk menjauh lagi.
Aaron benar-benar telah menguasai hatinya.
Zaya tidak bisa lagi berpura-pura kuat tanpa Aaron. Ia ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan lelaki ini, meski jalan yang akan dilaluinya mungkin tidak akan mudah. Zaya memilih untuk tetap bersama Aaron, apapun resikonya nanti.
Perlahan Zaya kembali memejamkan matanya dengan bibir yang tampak agak melengkung.
Zaya kembali menemukan ketenangan setelah beberapa hari ini merasa gundah. Zaya pun semakin yakin untuk terus berada disamping Aaron.
___________________________________________
"Sudah bangun?"
Suara berat milik Aaron langsung menyambut Zaya saat ia membuka matanya. Tampak lelaki itu berdiri di samping tempat tidur dengan penampilan yang sudah lebih segar. Tangannya terlihat membawa nampan berisi hidangan sarapan yang disediakan oleh pengelola penginapan.
Pemandangan langka yang sangat jarang terjadi, seorang Aaron Brylee membawakan seseorang sarapan pagi dengan tangannya sendiri.
"Mandilah terlebih dahulu, setelah itu baru sarapan." Ujar Aaron.
Zaya menurut. Ia beringsut dari tempat tidurnya, lalu langsung menyegarkan diri di kamar mandi.
Dua puluh menit kemudian, ia keluar dengan penampilan yang telah segar pula.
Aaron memberi isyarat agar Zaya duduk ditepi tempat tidur, bersebelahan dengannya.
"Kemarilah. Makan sarapanmu." Ujarnya.
Lagi-lagi Zaya patuh. Ia duduk di sebelah Aaron dan menyantap makanannya dengan manis. Sungguh saat ini Zaya persis seperti seekor anak kucing penurut yang mengikuti semua perintah majikannya.
Aaron tersenyum melihat sikap manis Zaya pagi ini. Tanpa sadar tangannya terulur membelai kepala calon istrinya itu.
"Sudah selesai?" Tanya Aaron saat Zaya mengusap bibirnya dengan tisu.
Zaya mengangguk.
"Kalau begitu mari kita bicara."Aaron menyingkirkan nampan tadi dari hadapan mereka.
Lalu keduanya pun hening sesaat.
"Yang kau dengar waktu itu, itu semua tidak benar." Ujar Aaron akhirnya.
Zaya menoleh dan menatap Aaron dengan penuh tanda tanya.
"Aku memang sengaja mengatur itu semua untuk mengecoh musuh yang selama ini ingin menghancurkanku. Aku sedang mengumpulkan bukti untuk memenjarakannya, dan sengaja membuatnya merasa seperti diatas angin agar dia tidak waspada."
Zaya mendengarkan masih dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Apa kau ingat pasangan suami istri yang menanyakan siapa istriku saat perayaan kelahiran Albern?" Tanya Aaron.
Zaya sedikit terkesiap. Bagaimana mungkin ia tidak mengingatnya. Waktu itu Ginna tidak mengakuinya sebagai istri Aaron. Dan Aaron sendiri juga melakukan hal yang sama, hingga membuat Zaya tersedu-sedu dipelukan Bu Asma.
"Dia adalah orangnya." Ujar Aaron membuyarkan pikiran Zaya.
"Lelaki tua itu adalah dalang dari semua kekacauan yang terjadi selama ini. Dia yang telah membocorkan rahasia perusahaan hingga perusahaan mengalami kerugian besar. Dan dia juga yang waktu itu memberikan obat pada minumanku hingga aku memperkosamu. Selama bertahun-tahun ini dia berusaha menghancurkanku karena aku menolak putri tunggalnya."
Zaya menatap Aaron dengan mata membulat.
"Itulah sebabnya Mama dan aku tidak mengakuimu dihadapannya waktu itu. Kami tidak ingin nasibmu sama seperti putri seorang kolega Papa yang mendekatiku. Gadis itu mengalami kecelakaan setelah ada yang merusak rem mobilnya dan meninggal di tempat. Pelakunya tidak lain adalah orang yang sama dengan yang ingin menghancurkanku."
Aaron menghela nafasnya sejenak. Sedangkan Zaya masih setia mendengarkan sambil berusaha mencerna apa yang baru saja di dengarnya.
"Tapi sekarang kau tidak perlu khawatir. Semuanya sudah berakhir. Tadi, pagi-pagi sekali Dean mengabariku jika orang itu sudah di tangkap pihak kepolisian bersama istrinya. Dia akan menghabiskan sisa umurnya di penjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya selama ini."
Zaya masih tercenung sambil masih menatap kearah Aaron.
"Jadi...perusahaanmu tidak apa-apa?" Tanya Zaya kemudian.
Aaron mengangguk.
"Bisa dibilang begitu. Meskipun belum terlalu stabil, tapi sejauh ini baik-baik saja."
Zaya masih menatap Aaron seolah tak percaya.
"Dean juga sudah membuat orang itu setuju untuk menjual sahamnya kepada Papa. Rencananya Papa akan memberikannya padamu sebagai hadiah pernikahan kita."
"Apa??" Kali ini Zaya benar-benar terkejut dan matanya membulat sempurna.
"Setelah kita menikah, kau akan menjadi pemilik saham terbesar setelah Papa, Mama dan aku." Sambung Aaron lagi.
Zaya terperangah. Ia benar-benar tidak mempercayai apa yang didengarnya barusan. Menjadi salah satu pemilik saham terbesar di perusahaan Brylee Group. Astaga. Tak pernah terbayangkan hal itu dibenak Zaya meskipun ia sudah pernah menjadi istri Aaron sebelumnya.
"Itu terlalu berlebihan, Aaron. Aku tidak bisa menerimanya." Ujar Zaya akhirnya setelah ia berhasil menenangkan dirinya sendiri.
"Bukan aku yang akan memberikannya padamu, tapi Papa. Jika kau ingin menolak, katakan langsung pada Papa. Aku tidak akan ikut campur."
Zaya terdiam. Ia tak ada keberanian untuk mengutarakan penolakan pada Carlson. Zaya sangat menghormati calon ayah mertuanya itu. Tentu saja ia tidak ingin sampai menyinggung perasaannya.
"Lalu Mamamu? Apa dia tidak keberatan?" Tanya Zaya.
"Mama? Beliau tidak berkomentar." Jawab Aaron.
"Dan biasanya, diam adalah bentuk persetujuan dari Mama." Tambah Aaron lagi.
Zaya kembali terdiam. Hatinya jadi bertanya-tanya, benarkah saat ini Ginna benar-benar telah menerimanya?
Belum puas ia berpikir, tiba-tiba saja tangan Aaron merengkuh pinggangnya, membuat tubuh Zaya merapat pada lelaki itu.
"Sekarang tidak ada kesalahpahaman lagi, kan?" Tanya Aaron sambil menatap Zaya.
Zaya tersenyum dan menggeleng.
"Jika tidak ada pertanyaan lagi, berarti waktunya aku melepas rindu." bisik Aaron dengan nada menggoda.
Zaya mendelik dan mendorong Dada Aaron.
"Bukankah sudah aku hilang, semuanya baru bisa dilakukan setelah pernikahan!" sergah Zaya.
"Tapi aku telah berusaha keras sampai bisa kemari." Aaron membujuk.
"Tidak."
"Sedikit saja."
"Tidak, Aaron. Kamu berjanji tidak akan bermain-main sebelum kita menikah."
"Aku tidak ingin bermain-main, Sayang. Aku hanya ingin memelukmu sedikit," goda Aaron.
"Aaron!"
Aaron terkekeh.
"Baiklah, baiklah. Aku hanya bercanda." Lelaki itu akhirnya menyerah.
Zaya akhirnya bisa bernafas lega karena bisa meneruskan rencana pernikahannya dengan Aaron tanpa halangan lagi.
Bersambung...
satu part lagi ntar malem, jgn lupa votenya ya
Happy reading❤❤❤