
Aaron menatap kepergian Zaya dengan masih agak terperangah. Dia masih mencerna apa yang baru saja dialaminya saat ini. Istrinya tiba-tiba muncul saat dia sedang membahas beberapa hal penting dengan kliennya. Dan yang lebih membingungkan, Zaya mengeluarkan kalimat yang membuat Aaron kehabisan kata-kata.
Sungguh Aaron tidak tahu harus menanggapinya seperti apa.
Kalimat yang didengar Aaron tadi, meskipun tidak kasar, tapi terdengar begitu sarkas dan provokatif. Apakah istrinya itu saat ini sedang menuduhnya berselingkuh? Benarkah seperti itu? Astaga. Kepala Aaron tiba-tiba saja menjadi pusing dibuatnya.
Aaron menghela nafasnya dengan kasar.
"Tuan Aaron, bukankah perempuan yang tadi itu istri Anda?" Pertanyaan dari perempuan dihadapannya membuat Aaron kembali tersadar dari lamunannya.
"Ah, iya, benar." Jawab Aaron.
"Lalu kenapa Anda tidak mengejarnya? Sepertinya saat ini dia sedang salah paham."
"Tidak perlu, setelah ini saya akan langsung pulang kerumah. Maaf jika Anda harus menyaksikan hal seperti ini." Aaron tampak meunjukkan raut wajah menyesal.
Wanita cantik itu tersenyum.
"Tidak perlu sungkan, Tuan Aaron. Tentu saja itu tidak akan mempengaruhi kerja sama kita. Saya bisa memaklumi apa yang dilakukan istri Anda tadi. Perempuan hamil memang sangat sensitif, sehingga kadang tak bisa menggunakan nalarnya. Bahkan saat saya hamil dulu lebih parah dari itu." Perempuan itu agak terkekeh.
Aaron tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu." Gumam Aaron.
"Saya permisi dulu, Tuan Aaron." Perempuan dihadapan Aaron beranjak dari duduknya.
"Semoga kerja sama kita berjalan sukses." Ujarnya lagi sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Aaron menyambut jabat tangan itu sembari kembali tersenyum.
"Terima kasih. Salam untuk Adrian." Ujar Aaron.
Perempuan itu tersenyum dan mengangguk, sebelum akhirnya berlalu dari hadapan Aaron.
Kini tinggal Aaron sendirian yang masih tercenung ditempatnya. Dia sedang memikirkan cara bagaimana membujuk Zaya nanti. Pasti akan sulit memberi penjelasan pada istrinya itu mengingat kondisinya saat ini.
Bahkan beberapa hari yang lalu, saat Aaron lupa membawa pulang makanan yang dipesan Zaya, dia harus menghabiskan waktu sepanjang malam untuk membujuknya, apalagi sekarang saat Zaya menganggapnya berselingkuh. Aaron tidak tahu bencana apa yang tengah menunggunya dirumah saat ini.
Dia pun kembali menghembuskan nafasnya dengan kasar karena tidak tahu harus berbuat apa.
Tak lama kemudian, Asisten Dean datang menghampiri Aaron.
"Tuan, sudah saatnya Anda kembali kekantor." Asisten Dean mengingatkan sambil sedikit membungkukkan badannya dengan hormat.
"Kau kembalilah duluan kekantor, aku akan pulang dulu kerumah sebentar."
Asisten Dean kembali membungkukkan badannya.
"Baik, Tuan." Jawabnya.
Asisten Dean pun berlalu dengan membawa beberapa berkas yang diberikan Aaron. Sedangkan Aaron sendiri juga bergegas memasuki mobilnya dan meminta sopir untuk mengantarnya pulang.
Suasana rumah tampak tegang. Saat Aaron masuk, beberapa pelayan tampak sedang membersihkan vas bunga yang pecah dan berserakan di lantai. Bu Asma juga terlihat syok dan ketakutan. Apakah tadi Zaya baru saja mengamuk di dalam rumah?
"Hufftt..." Aaron kembali menghela nafas panjang. Untung saja saat ini Albern sedang berada di sekolah. Jika tidak, Aaron tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Albern jika sampai melihat kelakuan Mamanya saat ini.
"Dimana Nyonya?" Tanya Aaron pada para pelayan.
"Nyonya diatas, Tuan." Jawab salah seorang pelayan.
"Keadaan Nyonya sedang tidak baik, Tuan. Sepertinya ada hal yang membuat Nyonya benar-benar marah. Sepulang dari makan siang diluar tadi, Nyonya menangis sambil memecahkan beberapa barang." Bu Asma memberi tahu Aaron.
Aaron agak tertegun. Ternyata benar jika Zaya yang memecahkan barang-barang dirumah. Tidak pernah sebelumnya istrinya ini melakukan hal seperti itu sebelumnya. Apakah pengaruh kehamilan terhadap psikisnya separah itu, atau dirinya yang kali ini sudah keterlaluan?
Aaron pun melangkah kelantai atas dengan cepat. Pikirannya berkecamuk. Dia tidak ingin istrinya itu sampai melakukan tindakan bodoh karena kesalahpahaman ini.
Kamar mandi juga kosong. Aaron jadi sedikit cemas dibuatnya. Tapi sejurus kemudian Aaron bisa bernafas lega saat melihat Zaya yang tengah berdiri di balkon kamar. Perempuan itu terlihat sedang melihat kearah taman rumah mereka dengan posisi membelakangi Aaron.
"Sayang." Aaron memeluk istrinya itu dari belakang.
Zaya tak bergeming. Ia tampak membisu dan tak bergerak sedikit pun layaknya patung.
"Maafkan aku karena tidak bisa menemanimu makan siang hari ini. Yang kau lihat tadi adalah klienku, tolong jangan salah paham." Ujar Aaron sambil mencium pipi Zaya.
Zaya tampak menghela nafasnya. Tangannya kemudian berusaha menyingkirkan tangan Aaron dari tubuhnya, hingga Aaron pun terpaksa melepaskan pelukannya.
"Tentu saja aku tahu. Dia klienmu yang sangat penting."Jawab Zaya dingin.
"Lalu kenapa kamu sekarang ada disini? Bukankah seharusnya kamu masih menemaninya?" Tanyanya lagi dengan tajam.
Aaron menautkan kedua alisnya. Tampaknya Zaya masih menganggap perempuan tadi sebagai selingkuhannya.
"Sayang..." Aaron kembali ingin memeluk Zaya, tapi Zaya langsung berbalik dan menahan dada Aaron.
"Pergilah. Temani klien pentingmu itu, nanti dia bisa marah kalau kamu pulang menemui istrimu. Kalian pasti sudah punya rencana untuk menghabiskan waktu bersama." Ujar Zaya lagi. Kali ini airmatanya jatuh tanpa permisi dari matanya yang memang telah sembab.
Aaron menghela nafasnya. Dia sebenarnya kesal karena telah dituduh berselingkuh oleh istrinya ini. Tapi melihat wajah Zaya yang begitu sendu, hati Aaron jadi lemah dan merasa bersalah, meskipun bagian dari dirinya yang lain mengatakan jika dia tak bersalah.
"Sayang, jangan bicara seperti itu. Dia benar-benar klienku. Aku sungguh tidak berbohong padamu. Apa kau tidak mempercayai suamimu sendiri?" Ujar Aaron lembut sambil membelai wajah Zaya.
Zaya menahan tangan Aaron yang menyentuh wajahnya, lalu meyingkirkannya. Matanya menatap Aaron dengan tatapan yang seakan ingin menelan lelaki itu bulat-bulat.
"Berhentilah berusaha untuk menipuku, Aaron. Apakah dimatamu aku ini perempuan bodoh yang bisa kamu bohongi begitu saja?" Zaya berujar lantang, membuat Aaron terpana mendengarnya.
Zaya berlalu meninggalkan Aaron yang masih membeku di balkon kamar. Lalu ia duduk dipinggiran tempat tidurnya dengan pandangan menerawang. Sesekali airmata jatuh dari pelupuk matanya.
Aaron kembali tersadar dan bergegas mendekati Zaya.
"Sayang, dengarkan aku dulu. Kumohon." Pinta Aaron.
"Cukup, Aaron. Ini bukan salahmu. Aku yang salah karena terlalu berharap banyak padamu. Harusnya aku tahu lelaki yang punya segalanya sepertimu tidak akan cukup dengan satu perempuan saja."
"Zaya!" Tanpa sadar Aaron meninggikan suaranya. Dia benar-benar sudah tidak tahan lagi mendengar kata-kata Zaya yang menyudutkannya. Tidak pernah terbesit dipikiran Aaron untuk melirik wanita lain, apalagi berselingkuh. Tuduhan Zaya yang tak beralasan tadi benar-benar menyakitinya.
"Tidak bisakah kau mendengar penjelasanku dulu?" Tanya Aaron masih dengan suara yang tinggi.
Tapi bukannya mendengarkan Aaron, Zaya justru menangis dengan keras. Airmatanya semakin deras membanjiri pipinya hingga membuat Aaron menjadi semakin serba salah.
"Sayang, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membentakmu. Jangan menangis lagi, kumohon..." Aaron segera membawa Zaya kedalam pelukannya.
Zaya semakin tersedu-sedu didalam pelukan Aaron.
"Kamu jahat, Aaron. Jangan menyentuhku. Menyingkirlah dari tubuhku! Aku membencimu! Aku benar-benar membencimu!" Zaya berontak dan berusaha melepaskan diri, tapi Aaron justru mengeratkan pelukannya.
"Oke, tidak apa-apa jika kau ingin membenciku. Tapi biarkan aku memelukmu." Ujar Aaron berusaha menenangkan Zaya. Tentu Zaya tak terima dan memukul lelaki itu dengan kedua tangannya sebisa mungkin.
"Lepaskan aku! Kamu jahat, jangan berani-berani memelukku." Zaya menangis semakin menjadi.
Aaron hanya bisa menerima perlakuan dari Zaya. Sungguh merepotkan punya istri cengeng dan juga pencemburu seperti ini. Aaron hanya berharap drama ini akan segera berakhir dan Zaya akan kembali menjadi Zaya yang dulu.
'Ya Tuhan, tolong aku. Aku merindukan istri manisku yang dulu...'
Bersambung...
Rasain lu Aaron, makanya kenapa dibikin hamil😂😂😂
Jangan lupa like, komen dan vote ya
Happy reading❤❤❤