Since You Married Me

Since You Married Me
Menjadi Orang Gila



Aaron semakin over protektif terhadap Zaya. Setiap makhluk yang berjenis kelamin laki-laki, tidak akan di perkenankan untuk berinteraksi dengan istrinya itu. Bahkan Asisten Dean pun sekarang tidak leluasa lagi memasuki rumah Aaron.


Aaron hanya akan mengizinkan Dean masuk jika dia sudah memastikan Zaya sedang berada dikamar mereka.


Tentu saja Zaya menjadi sangat pusing menghadapi kelakuan Aaron yang seperti ini. Zaya menjadi sangat tidak leluasa dan terkekang. Semakin lama ia menjadi semakin tidak tahan. Bahkan disaat -saat tertentu, Aaron juga tak menyuruhnya untuk keluar dari kamar.


Pagi itu Zaya telah bersiap-siap untuk ikut ke kantor. Ia mengenakan pakaian semi formal dan menggunakan make up tipis. Ada rapat pemegang saham yang diadakan perusahaan untuk membahas beberapa hal terkait mega proyek yang sedang di kerjakan Brylee Goup.


"Mau kemana?" Tanya Aaron ketika keluar dari kamar mandi. Dia heran melihat penampilan Zaya yang telah rapi.


"Ikut kamu ke kantor?" Jawab Zaya.


"Ikut aku ke kantor?" Tanya Aaron lagi.


Zaya menoleh dan melihat kearah suaminya itu.


"Bukankah ada rapat pemegang saham pagi ini? Apa kamu lupa kalau aku pemegang saham terbesar keempat di Brylee Group?" Zaya bertanya balik dengan agak tajam. Ia kesal dengan Aaron yang kini kerjanya hanya memikirkan bagaimana caranya mengurung dirinya, seakan ia adalah burung peliharaan.


Aaron membuang nafasnya kasar. Benar, dia lupa jika sekarang Zaya adalah salah satu pemilik saham terbesar, yang artinya kehadirannya pada rapat tersebut sangatlah penting. Otak Aaron pun mulai bekerja untuk mencari cara agar Zaya tak perlu pergi ke kantor.


"Kau di rumah saja, aku akan mengatur orang untuk mewakili kehadiranmu." Ujar Aaron kemudian.


"Apa?" Zaya melihat Aaron dengan tidak senang.


"Kau dirumah saja, seseorang akan menggantikanmu." Ulang Aaron lagi.


Zaya menghela nafasnya agar bisa meredam emosinya yang terasa akan meledak saat itu juga.


"Kenapa kehadiranku harus digantikan dengan orang lain? Aku sangat sehat dan sanggup menghadiri rapat itu."


Aaron menghentikan sejenak tangannya yang tengah memasang simpul dasi, lalu menoleh kearah Zaya yang ternyata juga sedang menatap tajam kearahnya.


"Katakan padaku, apa kamu menganggap aku ini hewan peliharaanmu yang harus selalu di kurung agar tidak kabur?" Tanya Zaya lagi dengan tajam. Ia sudah sangat kesal dengan kelakuan Aaron belakangan ini yang sudah sangat berlebihan.


"Apa maksudmu?" Tanya Aaron.


Zaya semakin tajam menatap Aaron.


"Aku akan menghadiri rapat sendiri, tidak mau diwakili dengan orang lain. Cukup kamu mengurungku kemarin-kemarin. Aku sudah tidak tahan lagi." Ujar Zaya marah.


"Tidak boleh. Kau harus tetap dirumah. Aku bukannya mau mengurungmu, aku hanya mau melindungimu. Kau sedang hamil besar, harus lebih banyak beristirahat." Kilah Aaron.


"Bohong! Kamu tidak mengizinkanku kekantor karena disana banyak karyawan lelaki, kan?" Sergah Zaya.


Aaron mendesah.


"Jika kau sudah tahu, kenapa masih mempertanyakannya lagi. Aku memang tidak mau kau di lihat oleh karyawan lelaki di perusahaan. Mereka semua adalah hidung belang yang tidak bisa melihat wanita cantik." Ujar Aaron kemudian.


Berganti Zaya yang menghela nafasnya.


Aaron menautkan kedua alisnya.


"Apa maksud perkataanmu itu?" Tanyanya tidak senang.


"Semua orang diperusahaan tidak ada yang tidak tahu jika kamu sekarang sudah menjelma jadi orang setengah gila yang terlalu cemburuan." Ujar Zaya.


"Apa? Siapa yang bilang seperti itu?" Aaron melebarkan matanya.


"Semua orang yang bilang. Aku juga sependapat dengan mereka. Kenapa? Kamu tidak terima? Bukankah kamu sekarang memang sudah sedikit tidak waras?"


Zaya mengangkat wajahnya seolah menantang Aaron.


"Sayang, apa kau mengatakan jika suamimu ini sudah gila?" Tanya Aaron sambil melangkah mendekati Zaya.


"Kamu memang sudah gila, Honey. Bagaimana bisa kamu mengurungku setiap hari seolah aku ini hewan peliharaanmu. Kamu melarang semua yang ingin aku lakukan. Kamu bahkan tidak mengizinkan aku ikut kelas kehamilan dengan alasan akan bertemu para suami dari peserta kelas yang lain. Sangat tidak masuk akal. Mereka kan juga sudah punya istri semua." Zaya menggerutu dengan sangat kesal hingga hampir menangis.


"Tapi istri mereka tidak secantik istriku, Sayang. Mereka akan langsung jatuh cinta saat melihatmu. Aku tidak mau itu sampai terjadi."


"Astaga, Honey. Istrimu ini bukan bidadari. Tidak semua orang akan jatuh cinta saat melihatku. Bahkan kamu sendiri saja butuh waktu tujuh tahun lebih untuk jatuh cinta padaku." Ujar Zaya dengan sarkas.


Aaron terdiam. Ucapan Zaya barusan begitu menohok dihatinya. Bahkan dia sendiri pun butuh waktu yang sangat lama untuk menyadari perasaannya pada istrinya ini. Entah kenapa serasa ada ribuan belati yang sedang menusuk hatinya. Kalimat terakhir yang Zaya ucapkan seakan mengingatkan Aaron bagaimana ketidakpeduliannya dulu terhadap Zaya. Dan kini dia menjadi begitu takut kehilangan istrinya ini dan cemburu terhadap siapapun lelaki yang berinteraksi dengan Zaya. Tidakkah itu terlalu berlebihan?


Sekali lagi Aaron menghela nafasnya.


"Apa kau merasa tidak nyaman dengan yang aku lakukan akhir-akhir ini?" Tanya Aaron kemudian.


"Tentu saja aku tidak nyaman, Honey. Aku merasa kamu tidak lagi memcintaiku, tapi lebih kepada obsesi. Aku sedih karena kamu tidak mempercayaiku. Bukankah kamu pernah memintaku untuk mempercayaimu? Sekarang aku memintamu untuk mempercayaiku juga. Tidak akan ada lelaki yang bisa membuatku berpaling darimu."


"Kamu percaya padaku, kan, Honey?" Zaya menatap Aaron dengan tatapan memohon.


Aaron terdiam dan tampak berpikir.


Mungkin dirinya memang sudah keterlaluan akhir-akhir ini hingga membuat istrinya merasa terkungkung. Sungguh Aaron tidak bermaksud untuk merampas kebebasan Zaya. Hanya saja dia merasa sangat tidak tenang jika ada lelaki lain yang melihat kearah Zaya, apalagi sampai menyapa istrinya itu.


Aaron benar-benar merasa frustasi. Mungkin Zaya memang benar, dirinya pasti mulai tidak waras. Bukankah saat diabaikan dulu saja Zaya masih tetap setia padanya, apalagi sekarang saat Aaron sudah sangat memperhatikannya.


Harusnya dia tidak perlu khawatir Zaya akan berpaling dan meninggalkannya, terlebih dengan keadaannya yang tengah hamil besar seperti sekarang ini. Zaya tidak mungkin pergi darinya.


Tapi entah kenapa, sekeras apapun Aaron mencoba untuk memberi pengertian pada dirinya sendiri, tetap saja dia tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa cemburu. Rasa takut kehilangan yang sangat berlebihan membuat akal sehatnya pergi entah kemana. Aaron benar-benar telah di buat takluk oleh istrinya ini. Zaya sungguh berhasil membuatnya menjadi gila.


Bersambung...


Gila ama bucin beda tipis yak😅


Tetep like, komen dan vote


Happy reading❤❤❤