Since You Married Me

Since You Married Me
Terbangun



Aaron kembali melihat kearah putrinya dengan tersenyum tipis.


"Dia sangat mirip denganmu. Sangat cantik dan mengagumkan. Aku harap dia juga akan sebaik dan sekuat dirimu." Ujar Aaron lagi sambil kembali meneteskan airmatanya.


Entah sudah berapa banyak airmata yang tumpah dari mata Aaron hari ini. Zaya dan putrinya telah berhasil membuat Aaron menjadi lelaki cengeng, yang tak bisa menahan diri untuk tidak menangis.


Bahkan saat Kakeknya meninggal dulu saja, Aaron bisa menahan emosinya dan tidak meneteskan airmata, padahal dulu usianya masih sangat muda. Tapi sekarang lihatlah, dia menjadi begitu emosional layaknya remaja labil yang tak punya pengendalian diri.


Aaron kembali menangis di hadapan Zaya, untuk ke sekian kalinya di hari yang sama, seakan airmatanya hari ini di produksi dalam jumlah yang lebih besar dari biasanya.


Tiba-tiba putri mereka bereaksi. Melihat Papanya menangis, wajah bayi mungil ini mulai berubah ekspresi.


"Oeekkk.... Oeekkk....Oeekkk...." Bayi cantik yang tadinya tidak rewel itu kini menangis dengan sangat kencang, hingga membuat Aaron terkejut dan sedikit kelabakan.


Cepat-cepat Aaron menghapus airmatanya dan bangkit dari posisi duduk.


"Ssssttt..., jangan menangis, Sayang. Cup..cup... diamlah..." Aaron menimang putrinya, mencoba menenangkan bayi itu.


Ginna mendekat dan mengambil alih cucunya dari gendongan Aaron.


"Kau membuatnya terganggu Aaron. Bayi biasanya sangat sensitif, akan sangat mudah merasakan perubahan emosi dari orang terdekatnya. Jika tidak ingin dia rewel, maka bersikaplah tenang." Ginna menenangkan cucunya sambil mengocehi Aaron.


"Maaf, Ma." Ujar Aaron dengan nada menyesal.


Tak lama kemudian, putrinya kembali tenang dalam gendongan Ginna.


"Aku harus membawanya kembali ke ruang perawatan bayi. Sepertinya dia lapar dan mau minum susu. Karena ibunya masih belum sadar, untuk sementara terpaksa dia minum susu formula dulu." Ujar Ginna sambil meletakkan cucunya kembali ke dalam troli bayi.


"Istirahatlah juga, Aaron. Jangan sampai tubuhmu tumbang karena tidak tidur semalaman." Tambah Ginna lagi sambil mendorong troli bayi tadi keluar dari ruang perawatan Zaya.


"Kau tidak ingin Zaya bangun melihatmu berantakan seperti ini, kan?" sekali lagi Ginna menambahkan sebelum benar-benar menghilang dari hadapan Aaron.


Aaron menghela nafasnya. Yang di katakan Ginna benar. Dia harus istirahat sekarang agar lebih segar saat menyambut istrinya esok pagi. Aaron tidak ingin Zaya melihat wajah penatnya saat ini. Dia harus segera tidur.


Direbahkannya tubuh lelahnya di atas sofa yang ada di ruangan itu. Tapi setelah beberapa saat mencoba memejamkan matanya, dia masih tak kunjung tertidur juga.


Akhirnya Aaron bangkit lagi dan duduk dikursi dekat brankar Zaya.


Aaron memandangi wajah istrinya itu, lalu merebahkan kepalanya disisi Zaya berbaring. Tangannya pun terulur untuk mengenggam tangan Zaya yang tak terpasang jarum infus.


Aaron mengecup tangan itu sekilas sebelum kembali meletakkannya. Dan tak lama kemudian, rasa kantuk pun datang secara ajaib. Aaron tertidur di sisi istrinya yang sedang berbaring dengan damainya.


Ginna yang telah kembali setelah mengantarkan cucunya ke ruang perawatan bayi, tampak menghela nafasnya melihat Aaron tertidur di dekat Zaya. Putranya ini sekarang benar-benar tak bisa lagi jauh dari istrinya. Entah Ginna harus merasa senang atau sedih dengan perubahan Aaron ini.


Tapi setidaknya Aaron memiliki perempuan yang sangat tulus mencintainya, tanpa melihat statusnya sebagai pewaris tunggal Brylee Group. Dan Ginna merasa sangat bersyukur akan hal itu.


Ginna akhirnya memutuskan untuk beristirahat juga. Ia merebahkan tubuhnya di atas sofa yang sebelumnya sempat di gunakan Aaron. Tak lama kemudian Ginna juga tertidur menyusul putranya.


Mata Ginna kembali terbuka saat fajar telah tiba. Dilihatnya jam di ponselnya yang menunjukkan waktu pukul lima lebih. Nyonya besar ini duduk dan menggeliatkan tubuhnya yang terasa sakit semua. Seumur hidupnya baru kali ini dia tidur di atas sofa, jadi wajar jika tubuhnya tak terbiasa.


Sepertinya Zaya telah berhasil mendapatkan dua hal yang sangat di harapkan semua wanita di dunia ini. Di cintai suami dan di sayangi mertua. Setelah perjuangannya yang tak mudah selama bertahun-tahun, akhirnya kini Zaya lah yang keluar menjadi pemenangnya.


Ginna bangkit dan menyegarkan wajahnya ke kamar mandi. Tak lama kemudian ia kembali melihat Aaron yang tampak masih tertidur. Kemudian pandangannya bersirobok pada mata Zaya yang perlahan terbuka


Ginna terkesiap. Lalu setelah beberapa saat, cepat-cepat ia membangunkan Aaron.


"Aaron, Aaron, bangunlah! Zaya sudah sadar."


___________________________________________


Zaya terbangun dan membuka matanya perlahan. Pandangannya awalnya buram, tapi kemudian menjadi semakin jelas seiring kornea matanya yang dapat menyesuaikan cahaya.


Mata Zaya langsung tertuju pada sosok yang sedang tertidur di sampingnya. Wajah tampan yang selalu bisa membuat bibirnya menyungging sebuah senyuman. Kini wajah itu tampak terlihat sangat lelah.


Suaminya tertidur sambil masih memegang satu tangannya.


"Aaron, Aaron, bangunlah! Zaya sudah sadar." Terdengar suara Ginna membangunkan Aaron.


Zaya baru menyadari jika ibu mertuanya itu juga berada disini.


"Apa?" Aaron mengangkat wajahnya dan melihat kearah Ginna.


"Istrimu sudah bangun. Cepat panggil dokter!" Ujar Ginna lagi dengan nada memerintah. Sontak Aaron langsung melihat kearah Zaya yang juga sedang melihat kearahnya. Pandangan mereka bertemu beberapa saat.


"Sayang..." Aaron berguman dengan nada tak percaya.


"Kau sudah bangun? Aku tahu kau akan segera bangun." Aaron tak bisa mengendalikan dirinya dan langsung memeluk istrinya itu. Sedangkan Zaya tak bergeming dan hanya mengulas senyuman tipis.


Perlahan Zaya mengangkat tangannya yang tidak terpasang jarum infus, dan mengusap-usap punggung Aaron, seakan ingin menenangkan suaminya.


"Cepatlah panggil dokter, Aaron! Setelah dia sembuh, kau bisa memeluk dia sepuasnya nanti." Suara Ginna menginterupsi apa yang saat ini Aaron lakukan.


Aaron pun terpaksa melepaskan pelukannya dan memanggil dokter lewat saluran telpon yang tersedia di sana. Tak lama kemudian seorang dokter dan beberapa perawat datang untuk memeriksa Zaya.


Sejauh ini kondisi Zaya baik-baik saja. Jika selanjutnya tidak ada masalah, kemungkinan dia sudah di izinkan pulang dalam beberapa hari.


Setelah pemeriksaan selesai, dokter dan para perawat itu undur diri. Dan begitu hari telah benar-benar pagi, bayi Zaya pun akhirnya diantarkan oleh perawat untuk menemui ibunya. Ia akan mulai diberikan Asi eksklusif.


Zaya menolak memberikan Asinya dengan di pompa terlebih dahulu seperti saat ia menyusui Albern dulu. Ia meminta agar perawat itu membantunya untuk menyusui putrinya secara langsung.


Zaya sungguh terharu dan senang saat menggendong serta menyusui anak perempuannya itu. Tak di hiraukannya tubuhnya yang terasa sakit semua serta ****** susunya yang begitu pedih. Kali ini ia tak ingin kehilangan momen apapun lagi. Zaya akan menjadi ibu normal seperti perempuan lain juga.


Bersambung...


Tetep like, komen dan vote.


Happy reading❤❤❤