Since You Married Me

Since You Married Me
Berpacaran?



Seharian Zaya tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya. Usapan lembut Aaron di kepalanya saat lelaki itu mengantarnya ke kafe tadi pagi masih terus terbayang di kepalanya. Pipi Zaya langsung memerah jika teringat adegan tersebut.


Saking tidak berkonsentrasinya, Zaya sampai beberapa kali salah merespon orang-orang yang mengajaknya berbicara. Hingga akhirnya, dengan gemas Kara mengajak Bu Bosnya itu masuk keruang kerjanya.


"Kamu tidak terlihat seperti orang sakit, tapi tingkahmu hari ini juga tidak terlihat sehat. Kamu kenapa, sih?" Tanya Kara penasaran.


Zaya hanya menggelengkan kepalanya dengan agak bingung.


"Aku tidak apa-apa." Jawabnya.


Kara mendengus sebal.


"Lalu kenapa dari tadi kamu sulit diajak bicara? Fina sudah berapa kali menanyakan hal yang sama sejak tadi, tapi jawaban kamu malah ngawur, sampai-sampai dia bingung harus melakukan apa. Lihat saja dia dibelakang sekarang sedang kelabakan." Ujar Kara lagi.


Zaya agak melebarkan matanya.


"Benarkah?" Tanyanya.


"Ada yang tidak beres denganmu, Zaya." Gumam Kara. Kemudian gadis itu mengamati Zaya dengan seksama.


"Aku lihat tadi kamu datang diantar mobil mewah, pasti mobil Tuan Aaron, kan?" Tanyanya dengan nada menyelidik.


Zaya tampak agak gelagapan mendengar pertanyaan Kara.


"Ah..., benar. Pasti itu ada hubungannya dengan tingkahmu yang aneh hari ini. Apa kalian habis melakukan sesuatu yang sulit untuk dilupakan?" Tanya Kara lagi dengan nada menggoda.


Zaya mendelik. Lalu tangannya langsung terulur menutup mulut Kara.


"Jangan bicara sembarangan." Sergah Zaya salah tingkah. Kara sontak langsung berontak karena tangan Zaya juga menutup hidungnya.


Kara menepis tangan Zaya yang membekapnya.


"Kamu mau membunuhku, ya? Aku tidak bisa bernafas, tahu!" Ujarnya agak marah dengan nafas yang terengah-engah.


Zaya meringis.


"Maaf..maaf. Kamu sih, suka bicara sembarangan. Aku kan jadi tidak sengaja membekap mulutmu."


Kara mencebik


"Dasar tidak berperasaan." Gerutunya.


"Tapi tebakanku tadi benar, kan?" Tanya Kara lagi. Belum sempat Zaya menjawab, sebuah ketukan pintu mengalihkan perhatian Kara dan Zaya.


Fina masuk dengan membawa seikat mawar merah.


"Bu Bos, ada yang mengirim bunga untuk Bu Bos." Ujar gadis itu sambil menyerahkan bunga yang dibawanya kepada Zaya.


Zaya menerimanya dengan agak bingung.


"Dari siapa?" Tanya Zaya.


Fina mengangkat bahunya tanda tidak tahu.


Zaya tercenung untuk sesaat. Kemudian dengan ragu ia mendekatkan hidungnya pada mawar-mawar itu.


Harum.


Zaya menghirup Aromanya sekali lagi.


"Asyik...sepertinya Bu Bos punya pacar baru." Ujar Fina dengan girang.


Zaya mendelik pura-pura marah.


"Anak kecil sudah tahu pacar-pacaran. Kerja yang benar sana." Sergahnya.


"Siapa yang anak kecil, Bu. Saya sudah hampir dua puluh tahun." Jawab Fina tak terima.


Zaya tampak menahan diri untuk tersenyum.


"Masih kecil itu." Ujarnya bersikeras.


"Iya, Bu, saya anak kecil. Tapi anak kecil yang sudah bisa membuat anak kecil juga." Fina terkekeh, diiringi oleh Kara.


"Kamu ini, ya..." Zaya pura-pura marah.


Fina buru-buru kabur dengan Masih terkekeh.


"Peace, Bu.... Peace." Ujarnya disela kekehannya.


Sepeninggalan Fina, suasana pun hening sejenak. Zaya tampak memandangi bunga ditangannya sambil agak berpikir.


"Ehem..." Suara Kara membuyarkan lamunan Zaya.


Tiba-tiba saja ponsel Zaya berdering. Tampaklah nama Aaron terpampang dilayar ponselnya.


Zaya menjawab panggilan itu.


"Ya, Aaron." Ujarnya


"Apa kau sudah menerima bunganya?" Tanya Aaron dari seberang sana.


Zaya terdiam sesaat. Ternyata Aaron yang mengirimkan bunga padanya. Entah apa tujuan lelaki itu kali ini.


"Ya. Bunganya sudah aku terima." Jawab Zaya akhirnya.


"Ternyata pengirimannya cukup cepat. Baguslah."


"Itu jenis mawar kesukaanmu, bukan?" Tanya Aaron lagi.


Zaya sedikit menghela.


"Iya, benar, ini mawar kesukaanku. Tapi kenapa kamu mengirimnya?" Zaya balik bertanya.


Apa? Gadis pujaan katanya?


Astaga!


Zaya sampai agak ternganga mendengar kata-kata Aaron tadi. Sejak kapan lelaki kaku itu berubah menjadi perayu ulung.


"Apa malam nanti kau ada waktu? Aku ingin mengajakmu keluar untuk makan malam." Suara Aaron kembali terdengar.


Zaya sedikit berdehem menetralkan keterkejutannya.


"Aku sedang agak lelah, jadi langsung ingin beristirahat pulang dari kafe nanti." Jawabnya berusaha menolak.


"Baiklah. Kalau begitu kita makan malam di rumahmu saja." Ujar Aaron lagi.


"Tapi aku tidak pandai memasak. Biasanya saat malam aku hanya makan masakan sederhana buatanku sendiri." Ujar Zaya lagi, masih berusaha menolak.


"Tidak apa-apa. Aku akan makan apapun yang kau masak." Aaron bersikeras.


"Aku sedang ada meeting. Nanti malam aku akan datang kerumahmu." Aaron memutuskan sepihak tanpa menunggu persetujuan dari Zaya. Lalu panggilan pun terputus.


Zaya terperangah sambil menatap layar ponselnya tak percaya. Sedangkan Kara yang sedari tadi diam dan memperhatikannya pun akhirnya mengeluarkan suara.


"Tampaknya Bu Bos kita memang sudah punya pacar baru. Pacar baru rasa lama." Kara terkekeh sambil berlalu meninggalkan Zaya.


Zaya mematung seorang diri. Ia agak kesal dengan Aaron yang ingin datang tanpa persetujuannya. Tapi alih-alih merasa marah, Zaya justru merasakan dadanya menjadi berdebar saat membayangkan akan bertemu kembali dengan lelaki itu.


Ya Tuhan. Zaya kembali merasakan pipinya memanas untuk kesekian kalinya. Ingin rasanya ia menggali lubang ke dasar bumi dan bersembunyi disana agar tak perlu bertemu dengan Aaron lagi.


Lelaki itu benar-benar telah membuatnya jadi serba salah.


___________________________________________


Akhirnya Zaya tetap kalah. Mau tidak mau ia tetap menyediakan masakan untuk makan malam bersama Aaron dirumahnya.


Sore tadi, saat Zaya baru pulang, lelaki itu kembali menelfonnya dan mengatakan akan segera datang kerumah Zaya setelah pulang dari kantor. Hingga Zaya terpaksa memasak makanan seadanya untuk lelaki itu.


Selesai memasak, hari sudah merambat malam. Zaya menata masakannya diatas meja makan dan kekamarnya untuk mandi.


Aaron datang tepat saat Zaya baru saja selesai berganti pakaian.


Lelaki itu juga terlihat segar dan berpenampilan lebih santai. Tampaknya dia juga baru selesai mandi sebelum datang kerumah Zaya.


"Kamu tidak mengajak Albern?" Tanya Zaya saat mendapati Aaron hanya seorang diri.


"Albern belum pulang dari acara berkemahnya. Besok baru akan pulang." Jawab Aaron. Zaya hanya mengangguk, kemudian mempersilahkan Aaron masuk.


Mereka pun makan malam berdua dengan suasana yang entah kenapa menjadi agak tak biasa. Lilin yang tadinya Zaya nyalakan dengan tujuan agar masakanya tak didatangi lalat saat menunggu Aaron, justru membuat kesan romantis pada makan malam mereka.


Sesekali Zaya melirik Aaron yang terlihat sangat menikmati makanannya. Padahal yang Zaya masak hanyalah masakan sederhana.


Selesai makan, Zaya membereskan meja makan dan mencuci piring. Lalu ia menyusul Aaron yang tengah duduk diruang tv.


"Mau minum teh atau kopi?" Tanya Zaya dengan sedikit canggung.


Aaron menoleh, kemudian dengan agak tiba-tiba dia menarik tangan Zaya, hingga Zaya terduduk tepat disebelahnya hampir tanpa jarak.


Tubuh Zaya nyaris menempel pada tubuh Aaron, sampai-sampai Zaya bisa mencium aroma parfum lelaki itu. Dada Zaya kembali bergemuruh dibuatnya. Berdekatan dengan Aaron benar-benar tidak baik untuk kesehatan jantungnya. Zaya pun sedikit menggeser tubuhnya menjauh.


"Aku tidak mau teh ataupun kopi. Aku mau dirimu." Bisik Aaron. Tentu saja Zaya langsung mengambil jarak semakin jauh.


"Padahal baru semalam kita bersama, sekarang aku sudah merindukanmu lagi." Tambah Aaron lagi.


Zaya kehabisan kata-kata. Lelaki ini, benarkah dia Aaron Brylee yang dulu pernah menikahinya? Kenapa sekarang Zaya merasa jika Aaron sudah menjelma menjadi sosok lain. Mungkinkah dia belakangan ini mendapatkan sebuah benturan keras di kepalanya hingga otaknya menjadi sedikit terganggu?


Zaya menggaruk tengkuknya yang tak gatal sembari sekali lagi menggeser tempat duduknya.


"Aku sudah memikirkannya, Aaron. Bagaimana kalau sekarang kita saling mengenal saja terlebih dahulu. Mungkin kita bisa berteman sambil meyakinkan perasaan kita masing-masing," ujar Zaya kemudian.


Aaron terdiam sesaat mendengarnya.


"Aku setuju untuk saling mengenal. Tapi aku tidak mau kita berteman." Jawabnya kemudian.


"Aku ingin kita menjalani proses perkenalan itu dengan menjalin hubungan seperti yang dilakukan Dean dan temanmu." Tambah Aaron lagi.


Zaya menautkan kedua alisnya.


"Maksudmu...berpacaran?" Tanyanya dengan ragu.


Aaron mengangguk mengiyakan.


Zaya agak tercenung, Kemudian wajahnya berubah ekspresi seperti sedang menahan tawa.


"Pftt ... hahaha ...." Akhirnya Zaya terbahak-bahak tanpa bisa ditahan lagi. Wajahnya sampai memerah karena tertawa. Permintaan Aaron tadi benar-benar terdengar lucu di telinganya.


Sedangkan Aaron terdiam melihat tawa Zaya yang begitu lepas. Baru kali ini Aaron melihat perempuan ini tertawa saat mereka saling berhadapan. Wajah Zaya berkali-kali lipat lebih mempesona saat ia tertawa. Tanpa sadar senyum tipis tersungging dibibir Aaron.


Tawa Zaya pun mereda, menyisakan senyuman yang masih melekat dibibirnya. Tapi sejurus kemudian ia terkesiap saat menyadari Aaron tengah menatapnya lekat.


Pandangan mereka seakan terkunci. Zaya terkesiap saat Aaron kembali mendekat ke arahnya. Untung saja dia masih sadar dan buru-buru bangkit dari duduknya dan berpindah duduk di seberang sofa yang diduduki Aaron.


Bersambung....


Maaf baru update, soalnya ada yg mesti dikerjakan dulu.


Btw, hari ini Aaron masih selamat, emak blm bls dendam. Tapi tunggu aja y ron, ntar tak bikin nangis kamu😈


Jgn lupa vote ya sayang...


Happy readingā¤ā¤ā¤