
Untuk sesaat Zaya terpana. Dia tampak terhipnotis dan terhanyut dengan tatapan mata Aaron. Tapi hal itu tak berlangsung lama, pasalnya dia cepat menyadari situasi yang dihadapinya saat ini. Segera didorongnya Aaron sekuat tenaga.
Plakk!!!
Tiba-tiba saja sebuah tamparan yang sangat keras mendarat dipipi Aaron.
Aaron tertegun dan sedikit terkejut. Sedangkan Zaya menatapnya nyalang dengan raut wajah murka.
"Dasar brengsek!!!" sentaknya.
"Bahkan setelah bercerai pun kamu masih memperlakukanku seperti ini. Sebenarnya apa kesalahanku padamu, Aaron? Kenapa kamu selalu saja mempermainkanku sesuka hatimu. Apa bagimu, aku ini hanya mainan yang bebas kamu mainkan?" Zaya mengucapkan kalimatnya dengan nada tajam.
Aaron semakin terkejut. Lalu dia tersadar dengan apa yang baru saja dia lakukan.
Karena marah dengan kehadiran Evan yang seakan menantangnya, lalu ditambah pula Zaya yang tak mau menjawab pertanyaannya, membuat Aaron tanpa sadar melakukan sebuah tindakan impulsif yang tak pernah dia rencanakan sebelumnya.
Dan kini, akibat dari perbuatannya itu, wanita dihadapannya ini menjadi benar-benar marah. Zaya murka karena merasa telah dilecehkan oleh Aaron.
Astaga, apa yang sudah kulakukan?
Aaron menarik rambutnya sendiri kearah belakang. Dia merutuki kebodohannya karena telah mencium Zaya tanpa permisi. Bagaimana bisa dia melakukan hal yang dapat membuat Zaya semakin menjauh darinya. Benar-benar bodoh!
"Maaf, aku tidak bermaksud begitu..." sesal Aaron.
Zaya mendengus kesal. Tampak senyuman pahit tersungging dibibirnya.
"Pergilah, Aaron. Aku harap tidak akan bertemu denganmu lagi di lain waktu. Jika Albern merindukanku, kirim saja pesan padaku agar aku bisa menjemputnya. Tidak perlu kau mengantarnya kesini."
Aaron terdiam. Matanya menatap Zaya lekat seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Melihat Aaron yang mematung, Zaya pun melangkah kearah pintu dan membuka pintu semakin lebar untuk mempersilahkan Aaron pergi.
Aaron semakin menatap Zaya dengan raut wajah tak percaya.
"Apa yang kamu tunggu. Silahkan keluar dari rumahku sekarang juga. Dan aku harap kamu tidak pernah datang kemari lagi." tambah Zaya lagi.
"Maaf, Zaya. Aku sungguh tidak bermaksud melecehkanmu. Tadi aku..."
"Pergi!!!" Zaya menyentak tanpa memberi Aaron kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya.
Aaron terdiam. Matanya tajam menatap kearah Zaya. Selama beberapa tahun mengenal perempuan ini, ini adalah kali pertama Aaron mendengar Zaya berbicara dengan nada tinggi kepadanya. Perempuan ini pastilah benar-benar marah.
Sedangkan Zaya sendiri menunggu Aaron pergi sembari memalingkan wajahnya kearah lain. Ia menggenggam jemarinya yang sedikit gemetar.
Jujur saja, sebenarnya Zaya sedikit takut mengusir Aaron seperti sekarang ini. Zaya sangat tahu bagaimana saat Aaron marah, dia akan berubah menjadi sosok tak terkendali yang sangat mengerikan. Tapi kemarahan Zaya mengalahkan rasa takutnya. Ia tidak ingin lagi dilecehkan oleh lelaki itu seenaknya.
Jika saja statusnya masih sebagai istri Aaron, mungkin Zaya akan lebih menahan diri dan menerima perlakuan Aaron tadi. Tapi sekarang, mereka sudah tidak punya ikatan lagi. Tidak sepatutnya Aaron melecehkannya seperti itu. Zaya punya harga diri, tidak akan dibiarkannya mantan suaminya itu berbuat seenaknya begitu saja padanya.
"Pergilah, Aaron Kumohon..." ujar Zaya lagi. Kali ini dengan nada lirih.
Aaron terlihat menghela nafasnya. Matanya menjadi sedikit meredup.
"Baiklah." ujarnya kemudian. Lalu dengan langkah gontai dia meninggalkan Zaya yang masih membuang muka. Langkahnya berhenti saat dia selangkah keluar dari pintu rumah.
"Maaf." ujarnya lagi. Kali ini dia kembali melangkah tanpa menoleh lagi.
Aaron masuk kedalam mobilnya dengan perasaan tak menentu.
'Sial! Sial! Sial!'
Aaron nemukul setir mobil dengan tangannya. Dia benar-benar kesal dengan dirinya sendiri. Karena kebodohannya, semuanya sekarang menjadi berantakan. Seandainya saja dia bisa sedikit menahan diri tadi, pasti saat ini Zaya masih menerima kehadirannya.
Sekarang apa yang harus dia lakukan? Zaya pasti bahkan tidak mau melihatnya lagi.
'Benar-benar sial!'
Aaron memukul setir mobilnya sekali lagi.
Kemudian setelah terdiam didalam mobilnya agak lama, Aaron pun melajukan kendaraannya itu meninggalkan kediaman Zaya.
Aaron perlu menjernihkan pikirannya agar bisa memikirkan cara selanjutnya untuk bisa kembali mendekati Zaya.
Sedangkan Zaya sendiri, setelah Aaron pergi, cepat-cepat ia menutup dan mengunci pintu rumahnya. Ia tidak ingin jika sampai Aaron mendadak kembali dan menerobos masuk kedalam lagi. Zaya tidak ingin melihat lelaki itu, setidaknya untuk saat ini.
Senyum pahit kembali tersungging dibibir Zaya. Seandainya saja tidak ada Albern, Zaya pasti sudah menyerah sejak lama. Ia pasti akan pergi jauh agar tak perlu bertemu dengan Aaron lagi. Ingin rasanya Zaya menjerit sekeras-kerasnya untuk meluapkan segala rasa sakit yang ditahannya selama ini.
Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Tampak nama Evan yang sedang berkedip-kedip dilayar ponselnya. Dengan sedikit menghela nafas, Zaya pun menggeser tombol terima.
"Halo." sapanya, berusaha agar suaranya tidak terlalu bergetar saat berbicara.
"Hai, sedang apa?" tanya Evan dari seberang sana.
"Tidak ada." jawab Zaya
"Maaf, tadi aku pulang tidak berpamitan lagi padamu. Apa Albern sudah tidur?"
"Iya, tidak apa-apa. Sekarang Albern sudah tidur." jawab Zaya.
"Lalu Aaron, mantan suamimu itu, apa dia juga sudah pulang?" tanya Evan lagi.
"Iya." jawab Zaya lagi. Kali ini ia terdengar emosional dan suaranya kembali tergetar.
"Dee...? Ada apa? Apa mantan suamimu itu melakukan sesuatu padamu?" suara Evan terdengar khawatir.
Zaya tak kuasa menjawab. mulutnya seakan terkunci rapat.
"Dee? Apa kamu baik-baik saja? Haruskah aku kesana untuk melihatmu?" Evan terdengar semakin khawatir.
"Tidak, tidak. Aku tidak apa-apa. Tidak perlu khawatir." jawab Zaya berusaha untuk terdengar baik-baik saja.
"Dia pasti mengganggumu, kan? Katakan, apa yang dia lakukan padamu?" Evan tetap bersikeras menanyakan keadaan Zaya.
Zaya menghela nafasnya.
"Aku baik-baik saja, Kak." lirihnya.
Evan tak langsung menanggapi, kemudian terdengar ia menhela diujung telfon.
"Baiklah kalau begitu." Evan pun menyerah.
"Dee, boleh aku minta satu hal?" tanya Evan kemudian.
"Apa?"
Evan terdiam sejenak.
"Tolong pertimbangkan aku." pintanya kemudian.
"Pertimbangkan apa?" Zaya tampak tak mengerti dengan apa yang Evan bicarakan.
"Pertimbangkan aku untuk menjadi kekasihmu, Dee." ujar Evan akhirnya.
Zaya terdiam, tak tahu harus menjawab apa.
"Apa kamu tahu, jika mantan suamimu itu saat ini tampaknya sedang berusaha untuk mengejarmu lagi. Jika aku kekasihmu, aku bisa melindungimu dari mantan suamimu itu. Aku akan melindungimu dengan sekuat tenagaku. Tapi dengan status kita yang sekarang, aku tidak bisa berdiri diantara kalian berdua."
"Makanya aku minta padamu, tolong pertimbangkan aku." Suara Evan terdengar penuh harap.
Zaya diam dan mencerna kata-kata Evan. Aaron berusaha mengejarnya? Terdengar mustahil ditelinga Zaya. Tapi yang juga membuatnya sedikit terkejut, Evan meminta Zaya mempertimbangkannya untuk dijadikan kekasih.
Zaya kembali membuang nafas kasar. Baik Evan maupun Aaron, Kenapa sekarang Zaya malah merasa kedua-duanya sama-sama membuat kepalanya menjadi pusing?
Zaya pun memijit sendiri pelipisnya dengan mata terpejam. Dia butuh istirahat. Sepertinya tidur akan membantunya untuk melepas penat ditubuh maupun pikirannya.
Bersambung...
Maaf yak, hari ini author lg ada gawean, jd upnya segini dulu.
jgn lupa like, komen dan votenya ya...
Abaikan jika banyak typo, efek kecapekan dan ngantuk.
Happy reading❤❤❤