Since You Married Me

Since You Married Me
Pertunangan Yang Tak Disengaja



Perasaan Zaya bercampur aduk begitu mengetahui Asisten Dean dan Kara telah bertunangan. Antara senang dan juga kesal. Bisa-bisanya sahabatnya itu tidak memberitahukan hal sepenting itu padanya.


Apa sekarang Kara tidak menganggapnya sahabat lagi?


Cepat-cepat Zaya menepis pemikiran itu. Tidak mungkin Kara seperti itu. Zaya yakin ada cerita tak terduga di balik pertunangan Dean dan Kara yang tak di ketahui siapapun.


Zaya harus menemui Kara dan bertanya langsung padanya. Seharian Zaya terus memikirkan kemungkinan apa yang bisa terjadi sehingga sahabatnya itu tiba-tiba melamar Asisten Dean. Apakan Kara hamil?


Mata Zaya membulat membayangkan hal itu. Benarkah jika Kara dan Dean selama ini menjalin hubungan yang tidak sehat dan melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh pasangan menikah? Astaga, mungkinkah seperti itu?


Tapi melihat bagaimana etika Asisten Dean selama ini, Zaya tidak yakin jika bawahan suaminya itu lelaki yang tak bermoral. Asisten Dean adalah orang yang sangat bisa dipercaya dan bertanggung jawab. Tidak mungkin sampai menggagahi Kara sebelum mereka menikah. Atau jangan-jangan justru Kara yang menggagahi Asisten Dean, mengingat betapa berinisiatif dan bersemangatnya gadis itu.


Lagi-lagi Zaya menepis pemikiran liarnya itu. Sepanjang Zaya mengenal Kara, sahabatnya itu selalu bisa menjaga diri. Pribadinya yang supel dan ramah, tak serta merta membuatnya menjadi perempuan gampangan. Zaya ingat dulu Kara pernah memukul kepala pacarnya dengan menggunakan sepatu yang ia kenakan, karena telah menciumnya diam-diam. Lalu keesokan harinya, Kara meminta putus pada pacarnya itu karena menganggapnya sebagai lelaki mesum.


Zaya pun semakin penasaran dan ingin segera tahu kebenarannya. Ia harus segera menemui Kara. Secepatnya.


Pagi itu, Zaya akhirnya berhasil membujuk Aaron agar mengizinkannya datang ke kafe miliknya, meski tentu saja dengan persyaratan yang sangat panjang.


Aaron mengantar Zaya hingga kedepan kafe.


"Ingat apa perkataanku tadi." Pesan Aaron.


"Oke." Zaya mengangguk dan hendak membuka pintu mobil, tapi kemudian Aaron menahannya.


"Jangan terlalu menanggapi karyawan laki-lakimu." Ujar Aaron.


"Iya, aku tahu." Jawab Zaya malas.


"Jangan duduk dengan posisi kaki menggantung. Nanti kakimu bengkak."


"Iya, Honey, iya."


"Jangan berdiri terlalu lama."


"Astaga, Honey. Kamu sebenarnya mengizinkanku pergi atau tidak, sih?" Zaya mulai merasa kesal.


"Tentu saja tidak. Tapi kau pasti terus merengek jika aku tidak membiarkanmu pergi." Gerutu Aaron.


"Honey, ayolah..."


Aaron menghela nafasnya. Kemudian dia turun dari mobil dan membukakan sendiri pintu mobil untuk Zaya.


"Biar aku antar kedalam." Ujarnya dengan nada tak ingin di bantah.


Zaya hanya bisa pasrah saat Aaron merangkulnya dan mengantarnya hingga sampai kedalam kafe. Karyawan kafe yang senang saat melihat kedatangan Zaya langsung tak berani mendekat begitu melihat Aaron. Mereka semua juga sudah mendengar rumor jika bos Brylee Group itu sangat posesif dan pencemburu terhadap Zaya. Dia akan sangat marah jika ada yang berani menyentuh istrinya itu barang sedikit saja.


"Nanti aku jemput." Ujar Aaron sembari memeluk Zaya dan memcium keningnya.


Aaron pun akhirnya pergi dan meninggalkan Zaya bersama para karyawannya yang meleleh melihat perlakuannya pada Zaya.


Zaya langsung memasuki ruang kerjanya yang kini menjadi ruang kerja Kara. Disana ia mendapati sahabatnya itu tengah termangu dan tak menyadari kehadirannya.


"Sedang menikirkan apa?" Tanya Zaya sembari menyentuh pundak Kara.


"Oh, Astaga!" Kara berlonjak kaget karena merasa terkejut.


"Zaya!" Teriaknya gemas saat menyadari yang membuatnya terkejut adalah Zaya.


Zaya melipat kedua tangannya didada dan melihat kearah Kara dengan tatapan serius.


"Apa yang sedang kamu pikirkan sampai tidak menyadari kedatanganku? Apa kamu sedang memikirkan dosa-dosamu?" Tanya Zaya.


Kara mendelik.


"Hei, apa maksud perkataanmu itu?" Tanyanya tak terima.


"Kamu yakin kalau saat ini tidak sedang melakukan sebuah dosa besar?" Tanya Zaya lagi.


"Berhentilah mengatakan omong kosong." Kara tampak agak kesal.


Kara tak langsung menjawab dan mendesah.


"Jadi kamu sudah tahu." Gumamnya tak bersemangat.


"Kenapa ekspresimu kelihatan tidak senang seperti itu? Bukankah kamu sendiri yang melamar Asisten Dean?" Tanya Zaya lagi dengan bingung.


"Apa aku ini terlihat seperti gadis lajang yang begitu tidak tahan ingin menikah sampai melamar pacarnya duluan, bukannya dilamar? Aku tidak seputus asa itu, Zaya." Kara menggerutu dengan nada agak kesal.


Zaya menautkan alisnya.


"Lalu? Kenapa kamu melamar Asisten Dean kalau begitu?"


Kara kembali mendesah. Kali ini sambil mengacak-acak kepalanya sendiri.


"Aku terpaksa..." Ujarnya kemudian.


Zaya melebarkan matanya.


"Terpaksa?"


Zaya mengamati Kara dengan tatapan yang sulit di jelaskan.


"Kara...., apa kamu hamil?" Tanya Zaya kemudian dengan pelan dan hati-hati.


Kara mengangkat wajahnya.


"Apa?" Kara terlihat syok mendengar pertanyaan Zaya.


"Kamu terpaksa melamar Asisten Dean, apa itu karena kamu hamil?" Ulang Zaya lagi.


Kara mendelik marah.


"Sembarangan." Sergahnya.


"Lalu kenapa kamu melamar Asisten Dean kalau begitu?"


Kara menghela nafasnya dan diam sejenak.


"Dean menemukan kotak cincin dari mantan pacarku sebelumnya. Dulu sebelum kami putus, kami sudah berencana menikah dan membeli cincin kawin bersama-sama. Dia memintaku menyimpannya, sampai akhirnya dia malah menikah dengan perempuan lain."


Kara menghela nafasnya sekali lagi.


"Aku berniat mengembalikannya pada mantan pacarku itu. Harganya lumayan mahal, jadi aku tidak tega membuangnya. Tapi kemudian, karena aku dan mantanku itu tidak pernah bertemu, aku jadi lupa tentang keberadaan cincin itu. Hingga akhirnya kemarin malam Dean menemukannya saat dia kebetulan mencari sesuatu di kamarku."


"Dan bodohnya aku malah tidak berterus terang padanya. Aku malah berbohong kalau itu cincin meman kupersiapkan untuk pertunangan kami dan aku melamarnya. Ahh.... Bodoh..." Kara kembali mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Kemana harga diriku sebagai perempuan." Kara menggerutu pada dirinya sendiri.


Zaya tersenyum kecut. Ingin rasanya ia menertawakan kekonyolan sahabatnya ini, tapi ia tak tega.


"Bukannya berterus terang padanya, aku malah berlutut dihadapannya sambil mengatakan 'Dean, maukah kau menikah denganku?' Astaga...aku sendiri bahkan tidak bisa mempercayai apa yang sudah kulakukan." Kara tampak terlihat kesal dan frustasi.


Kali ini Zaya tak bisa menahan diri lagi. Ia tertawa terpingkal-pingkal hingga perutnya terasa kram.


"Kemudian dia juga dengan bodohnya menjawab 'Iya, aku mau'. Benar-benar keterlaluan. Harusnya kan aku yang dilamar seperti itu." Tambah Kara lagi dengan semakin kesal.


"Cincin sialan itu juga aneh. Bisa-bisanya dia sangat pas di jari Dean, sampai Dean percaya jika itu memang cincin yang aku siapkan untuknya. Harusnya kan cincin itu tidak muat di jari Dean supaya lamaran pura-puranya gagal. Tapi lamarannya malah berhasil."


Ocehan Kara semakin panjang. Membuat perut Zaya semakin terasa kram karena terlalu banyak tertawa.


Sesekali Kara akan menyergah Zaya di tengah ocehannya karena telah menertawakannya. Zaya tidak menyangka jika pertunangan Kara ternyata tak lebih dari sebuah insiden yang tak di sengaja.


Bersambung...


Tetep like, komen dan vote


Happy reading❤❤❤