Since You Married Me

Since You Married Me
Memeluk kembali



Zaya tertegun, tapi kemudian ia tersadar dan buru-buru membukakan pintu.


"Honey." Zaya bergumam saat melihat suaminya itu.


"Akhirnya kau membukakan pintu juga." Aaron terlihat lega. Kemudian dia buru-buru masuk tanpa menunggu tawaran dari Zaya.


Sedangkan Zaya sendiri terlihat memperhatikan kearah luar, ingin melihat Aaron kemari dengan diantar oleh siapa. Tapi tampaknya tidak ada siapa-siapa diluar. Aaron sendirian. Ia datang seorang diri entah dengan mengendarai apa. Pasalnya Zaya tidak melihat mobil Aaron terparkir di depan vila.


"Sayang, dimana handuk?" Pertanyaan Aaron membuyarkan lamunan Zaya. Buru-buru ia menutup pintu dan menguncinya kembali.


Lalu ia ke kamar dan mengambil handuk untuk Aaron.


Tubuh Aaron basah. Sepertinya dia sempat kehujanan di luar sana sebelum sampai kemari.


Zaya membantu Aaron mengeringkan tubuh dan kepalanya. Lalu ia meminta Aaron untuk mengganti pakaiannya yang basah. Karena tak ada pakaian lelaki, Aaron hanya menggunakan bathrobe sebagai pakaian gantinya.


"Ini, minumlah." Zaya menghidangkan teh jahe pada Aaron. Lalu ia duduk di samping suaminya itu.


"Terima kasih." Jawab Aaron sambil menyesap tehnya.


"Kamu kesini bersama siapa?" Tanya Zaya setelah terdiam agak lama.


"Sendiri." Jawab Aaron.


"Sendiri?" Zaya menautkan kedua alisnya.


"Aku membawa mobil sendiri. Tapi mobilnya mogok tidak jauh dari sini. Makanya aku kehujanan sampai basah semua seperti ini." Aaron menjelaskan.


Zaya terdiam sesaat.


"Apa Mama yang memberitahumu aku berada disini?" Tanya Zaya kemudian.


"Tidak. Sekutumu itu tidak mengkhianatimu. Aku mencari tahu sendiri keberadaanmu." Jawab Aaron.


Zaya kembali terdiam, tak tahu harus berbicara apa lagi. Zaya ingin sekali memeluk suaminya ini, tapi saat ini ia sangat gugup karena berdekatan dengan Aaron. Seolah mereka adalah pasangan yang baru resmi berpacaran.


"Sayang..." Tiba-tiba Aaron menghadapkan tubuhnya pada Zaya.


"Ya?." Zaya agak terkejut.


"Kita tutup saja agenda hukum-menghukumnya, oke? Aku sudah tidak sanggup lagi." Ujar Aaron kemudian dengan nada agak memelas.


Zaya tak menjawab. Dipandangnya wajah suaminya itu dengan lekat. Wajah yang di dalam mimpinya tadi berlumuran banyak darah.


Zaya sungguh bersyukur apa yang dialaminya tadi hanya mimpi, hingga ia masih bisa melihat wajah tampan ini. Diulurkan kedua tangannya untuk merangkum wajah Aaron dan mendekatkan wajahnya sendiri. Diciumnya bibir Aaron dengan lembut, lalu di kecupnya bibir itu berulang kali.


"Apa ini artinya 'ya', Sayang?" Tanya Aaron sambil menahan tubuh Zaya agar tak menjauh darinya.


"Aku memang akan pulang besok." Jawab Zaya.


"Benarkah?" Tanya Aaron tak percaya.


Zaya mengangguk.


Aaron berdecak, pura-pura kesal.


"Harusnya aku bersabar sampai besok." Rutuknya.


Zaya kembali tersenyum.


"Tapi sebenarnya aku ingin sekali bertemu denganmu malam ini." Ujar Zaya lagi.


Aaron menoleh.


"Benarkah?" Tanyanya lagi tak percaya.


Zaya mengangguk sambil masuk kedalam pelukan Aaron.


"Honey, apa kamu baik-baik saja berapa hari ini?" Tanya Zaya sambil menelusupkan kepalanya di dada Aaron.


Aaron tersenyum sambil membalas pelukan Zaya. Tidak sia-sia dia mengemudi sendiri malam-malam begini, ditambah drama mobil mogok dan kehujanan pula. Ternyata istrinya ini sedang merindukannya juga.


Aaron mencium pucuk kepala Zaya dan mengecupnya beberapa kali.


"Bagaimana aku bisa baik-baik saja. Istriku pergi meninggalkanku dan memblokir nomor telponku. Aku bahkan tidak bisa mendengar suaranya. Untung saja aku tidak sampai mati karena merindukannya."


"Jangan mengatakan hal seperti itu lagi. Aku tidak mau mendengarnya, itu terlalu menakutkan." Sergah Zaya.


Aaron melepaskan bekapan tangan Zaya pada mulutnya. Lalu mengecup punggung tangan itu satu persatu.


"Tapi itulah kenyataannya. Aku benar-benar hampir mati karena kau tak ada di dekatku."


Zaya kembali memeluk Aaron. Kali ini dengam lebih erat.


"Tolong berhentilah mengatakan kata mati. Aku akan gila jika kamu benar-benar mati." Pinta Zaya dengan agak memelas.


"Baiklah, maafkan aku." Aaron kembali mengecup pucuk kepala Zaya.


Tiba-tiba suara gemuruh dari perut seseorang menginterupsi kemesraan suami istri yang tengah melepas rindu ini.


Zaya membeliakkan matanya. Sedangkan Aaron terkekeh, menertawakan dirinya sendiri.


"Perut tidak tahu diri. Bisa-bisanya dia berbunyi disaat-saat berharga seperti ini." Gerutu Aaron.


"Kamu belum makan?" Tanya Zaya dengan agak kaget. Pasalnya waktu sudah menunjukkan hampir dini hari. Tidak biasanya suaminya ini belum makan di jam segini.


"Aku terlalu bersemangat saat Dean memberi tahu tempat persembunyianmu tadi, sampai tidak ingat untuk makan. Yang ada di pikiranku hanya bagaimana cara agar bisa bertemu denganmu secepatnya." Ujar Aaron jujur.


Zaya menghela nafasnya. Rasa bersalah datang menyusup dihatinya. Sepertinya suaminya ini sangat kacau karena kepergiannya beberapa hari ini hingga perutnya pun dia abaikan.


Diam-diam Zaya berjanji dalam hati, jika ia tidak akan kabur seperti ini lagi di lain waktu.


"Tunggu disini sebentar. Aku periksa di dapur apa masih ada bahan makanan." Zaya berlalu meninggalkan Aaron. Aaron pun mengikuti istrinya itu menuju dapur.


"Honey, cuma ada mi instan, telur dan sayuran. Sepertinya Bu Nia hanya belanja cukup untuk sehari saja setiap pagi." Zaya bergumam.


"Apa tadi kau makan mi instan?" Tanya Aaron. Suaranya terdengar tidak senang.


"Tidak. Mungkin Bu Nia yang suka makan itu." Jawab Zaya.


Aaron terlihat lega.


"Tidak apa-apa, malam ini aku makan itu saja. Tapi kau jangan sekali-kali memakannya." Ujar Aaron mengingatkan.


"Oke..." Jawab Zaya. Bibirnya agak mencebik.


Saat ini Aaron sangat marah jika dirinya kedapatan makan mi instan, karena dia menganggap makanan itu adalah makanan sampah yang tak bernutisi sama sekali. Andai Aaron tahu jika dulu sebelum menjadi istrinya, Zaya selalu mengkonsumsi makanan sampah itu pagi, siang, dan malam. Tiga kali sehari, hanya rasanya saja yang diubah-ubah.


Zaya pun memulai acara memasaknya.


Zaya mengenakan apron dan mengikat tinggi rambutnya. Kemudian ia mulai merajang sayuran dan meletakkan panci berisi air diatas kompor.


Aaron memperhatikan Zaya yang tengah asyik dengan kegiatannya itu. Istrinya itu sangat cantik meski rambutnya hanya diikat asal-asalan, membuat Aaron tak bisa menahan diri lebih lama lagi untuk mendekat.


Aaron memeluk Zaya dari belakang hingga Zaya sedikit terkejut dan menghentikan kegiatannya sejenak.


"Honey, tunggulah disana dulu. Aku akan segera selesai." Pinta Zaya.


"Teruskan saja memasakmu. Aku ingin seperti ini sebentar." Ujar Aaron sambil menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Zaya.


Zaya menghela nafasnya. Lalu berusaha meneruskan kegiatannya meski sedikit kesulitan. Zaya tahu Aaron merindukannya, jadi ia membiarkan saja suaminya itu melampiaskan rasa rindunya.


"Sayang..." Panggil Aaron sambil masih memeluknya.


"Ya?"


"Lain kali memasaklah hanya saat bersamaku saja." Pinta Aaron.


"Kenapa?"


"Karena kau terlihat sangat seksi ketika sedang memasak."


Bersambung...


Zaya seksi pas lg masak, lah kalo emak??seksi kagak, bau bawang iya😂😂😂


tetep like y


Happy reading❤❤❤