Since You Married Me

Since You Married Me
Penyesalan



Zaya terpana melihat Bu Nia yang tersedu. Begitu besar penyesalan yang dirasakan perempuan paruh baya di hadapannya ini hingga tak bisa bangkit setelah lima belas tahun lamanya.


Zaya tak tahu harus berkata apa untuk menghibur Bu Nia. Yang bisa dilakukannya hanyalah mengusap punggung Bu Nia agar ia sedikit lebih tenang.


Bu Nia menghapus airmatanya dan menghela nafas untuk menenangkan diri.


"Waktu itu, saya sempat merasa depresi karena tidak kuat menerima kenyataan yang ada. Saya sempat beberapa kali ingin mengakhiri hidup saya untuk menyusul suami saya. Hingga akhirnya saya di selamatkan oleh Nyonya Ginna saat akan melompat dari jembatan."


"Nyonya Ginna membawa saya kesini untuk menenangkan pikiran. Suasana disini begitu damai, hingga perlahan saya kembali bisa berpikir normal. Lalu karena saya tidak ada kegiatan, saya mulai mengurus vila ini sebagai ganti telah tinggal secara gratis. Kemudian Nyonya Ginna menawarkan saya untuk bekerja padanya sebagai pengurus vila. Akhirnya saya putuskan untuk bekerja di sini hingga sekarang."


Zaya tampak masih tertegun setelah mendengar cerita Bu Nia. Sungguh berat harus kehilangan seseorang yang paling di cintai karena sebuah kesalahpahaman. Pasti Bu Nia benar-benar tersiksa setiap harinya karena penyesalan itu. Wajar saja jika ia sampai mengalami depresi hingga beberapa kali mencoba bunuh diri.


Jika itu Zaya, entah apakah ia akan kuat menjalaninya. Mendengarnya saja benar-benar membuat dada sesak, apalagi mengalaminya.


Tiba-tiba Zaya teringat pada suaminya sendiri. Seandainya ia juga kehilangan Aaron seperti itu..., ah, tidak! Zaya tidak ingin membayangkannya. Ia tidak sanggup meski itu hanya terjadi dalam angan-angan sekalipun.


"Itulah sebabnya, setiap Nyonya Ginna punya masalah dengan suaminya yang di anggapnya agak berat, atau saat Nyonya Ginna merasa tak sanggup menghadapi suaminya lagi, Nyonya Ginna akan datang kemari. Selain untuk menenangkan diri, Nyonya Ginna juga menjadikan kisah saya sebagai cermin untuk melihat dirinya sendiri. Akan menyesalkah ia jika harus kehilangan suaminya itu. Dan sejauh ini, setelah kembali dari sini, Nyonya Ginna akan kembali berbaikan dengan suaminya." Ujar Bu Nia lagi.


Zaya tertegun. Ternyata itu alasan Ginna datang ketempat persembunyiannya ini saat ada masalah dengan Carlson. Tampaknya ibu mertuanya itu juga menyuruhnya untuk datang kesini juga untuk tujuan yang sama.


Zaya menghela nafasnya. Ia tidak akan sanggup menjalani hidup penuh penyesalan seperti Bu Nia. Ia akan memilih untuk memaafkan Aaron dan memberinya kesempatan lagi nanti.


Toh, sama halnya dengan suami Bu Nia, Aaron juga tak pernah mengkhianatinya. Semua permasalahan mereka hanyalah sebatas salah paham. Zaya tidak mau menjadi orang picik yang terpaku hanya dengan kekurangan, tanpa melihat kelebihan pasangannya.


Zaya memutuskan untuk memaafkan segala kesalahan Aaron padanya. Ia akan pulang dan kembali kedalam pelukan suaminya setelah ini.


___________________________________________


Hujan turun dengan sangat deras, sesekali di sertai dengan kilat dan petir.


Zaya berdiri terpaku dengan berlindung pada sebuah payung ditengah derasnya hujan. Tak jauh dari tempatnya berdiri, tepatnya di seberang jalan sana, tampak Aaron berusaha untuk mengejarnya dengan tubuh yang telah basah kuyup tertimpa hujan.


Lelaki itu seakan tak peduli dengan keadaan sekitar, ia terus berlari kecil sambil meneriakkan nama Zaya.


"Sayang, tolong jangan seperti ini. Pulanglah bersamaku..ku mohon.... Aku tahu aku salah, tidak bisakah kau memaafkanku dan memberiku kesempatan sekali lagi?" Teriak Aaron dengan suara parau. Ia menghentikan larinya sejenak untuk menetralkan nafasnya yang memburu.


"Aku tidak pernah mengkhianatimu, Zaya. Aku hanya mencintaimu saja, kau tahu itu." Gumamnya lagi.


Zaya masih tak bergeming dan seolah tak menghiraukan teriakan Aaron dari seberang jalan sana. Lalu ia berbalik dan mulai melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana.


"Zaya...!!" Aaron kembali berteriak memanggil namanya di tengah derasnya hujan.


"Jangan pergi!! Ku mohon jangan tinggalkan aku, Sayang. Aku tidak bisa kehilangmu lagi. Kau boleh menghukumku, tapi jangan tinggalkan aku. Ku mohon, Zaya...!!" Suara teriakan Aaron sudah mulai terdengar parau.


Zaya tak meghiraukannya dan tetap melangkah.


Aaron yang melihat hal itu pun kembali berlari untuk mengejar Zaya, tapi kemudian tiba-tiba...


Brakkkkk!!!


Suara hantaman yang sangat keras terdengar.


Zaya menoleh. Tampak tubuh Aaron terpental beberapa meter dari tengah jalan setelah sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya. Lelaki itu tergeletak tak berdaya dengan darah yang berlumuran di tubuhnya hingga menggenangi jalan bercampur dengan air hujan.


Zaya terpaku sesaat, tak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini. Lalu dengan ekspresi yang sulit dijelaskan, Zaya melangkah mendekati tubuh yang tergeletak di jalan itu, bersamaan dengan orang-orang yang juga mulai berdatangan untuk melihat lebih dekat.


Mata Zaya membeliak saat telah melihat dengan jelas betapa mengenaskannya keadaan Aaron. Buliran kristal menggenang di sudut matanya, siap jatuh kapan saja. Payung yang di genggamnya sedari tadi terlepas begitu saja hingga membuat tubuhnya basah tertimpa air hujan.


Tubuh Zaya luruh dihadapan tubuh Aaron yang tergeletak bersimbah darah. Tangisnya seketika pecah bersahutan dengan petir yang sesekali menggelegar.


"Aaron..." Zaya memeluk tubuh Aaron yang sudah tak bergerak. Tapi kemudian tangan lelaki itu terangkat meyentuh wajah Zaya. Matanya perlahan terbuka, dan mulutnya tampak berusaha untuk mengucapkan sesuatu.


"Za..ya..."


Tangan Aaron lunglai setelah dia menyebut nama Zaya. Matanya terpejam kembali, dan nafasnya juga ikut berhenti.


Zaya membeku, tak bisa mempercayai apa yang terjadi. Digucangnya tubuh Aaron untuk kembali membangunkan lelaki itu, tapi usahanya sia-sia saja. Aaron tak lagi membuka matanya. dia telah tertidur untuk selama-lamanya. Suaminya itu telah pergi dan tak akan kembali.


Zaya histeris dan menangis sejadi-jadinya sembari memeluk erat tubuh Aaron yang telah tak bernyawa. Sebuah penyesalan datang seperti bongkahan batu besar yang menghantam hatinya hingga hancur berkeping-keping. Karena menuruti egonya, kini ia harus kehilangan suami yang sangat ia cintai dan juga mencintainya.


Zaya menangis dengan penuh penyesalan.


"Aaron..., bangunlah... Ayo kita pulang." Lirih Zaya dengan begitu menyedihkan.


Ambulan datang dan berhenti tepat di hadapan Zaya yang tengah memeluk tubuh Aaron.


Seorang petugas medis datang dan memeriksa tubuh Aaron.


"Tolong... selamatkan suami saya..." Pinta Zaya pelan di tengah tangisnya.


Petugas medis yang telah selesai memeriksa tubuh Aaron tampak memandang Zaya dengan raut prihatin.


"Nyonya, maaf... suami Anda telah tiada sejak beberapa waktu yang lalu." Ujarnya dengan hati-hati.


"Tidak." Zaya menggelengkan kepalanya dengan airmata yang semakin deras. Dipeluknya tubuh Aaron yang mulai dingin dengan semakin kuat.


"Tidak. Suamiku tidak mungkin meninggalkanku. Tidak... Tidak..." Zaya terus mennggelengkan kepalanya dan menangis semakin keras.


"Aaron... Honey... kamu tidak mungkin meninggalkanku, kan?" Zaya mulai meracau. Para petugas medis pun harus sedikit berusaha untuk memindahkan tubuh Aaron kedalam mobil ambulan pasalnya Zaya tetap memeluknya dengan erat dan enggan untuk melepasnya.


"Tidak...jangan ambil suamiku. Kembalikan dia.. Jangan ambil suamiku..."


"Tidakkkk!!!!"


Zaya histeris sambil terbangun dari tidurnya. Ia bangkit dengan nafas terengah dan peluh yang membanjiri keningnya.


Zaya memperhatikan sekitarnya.


'Ternyata hanya mimpi, syukurlah...'


Zaya beranjak dan menenggak air putih yang ia siapkan diatas nakas. Lalu ia melangkah keluar dari kamarnya dan duduk disofa. Diluar tengah hujan deras di sertai dengan gelegar petir. Ia pun berusaha untuk menetralkan perasaannya yang masih terasa tidak enak karena mimpi buruk tadi.


Sepertinya cerita Bu Nia tadi siang sangat membekas di hati Zaya hingga terbawa mimpi.


Tiba-tiba Zaya mendengar suara ketukan pintu diantara suara hujan. Zaya bangkit dan mendekati pintu perlahan. Ia bertanya-tanya, mungkinkah Bu Nia yang datang dari paviliun belakang, hujan-hujan begini?


Zaya melihat kearah luar dengan mengintip dari lubang yang memang telah tersedia untuk melihat siapa yang datang.


Seketika matanya membeliak melihat sosok kedinginan yang terus mengetuk pintu diluar sana.


'Aaron?'


Bersambung...


Lanjut??


vote dulu dong...😁


Happy reading❤❤❤