
"Apa?" Tanya Ginna tanpa rasa bersalah.
"Ada yang salah dengan kata-kataku? Jangan kira karena kau adakah putraku, aku jadi menutup mata pada kesalahanmu. Justru karena kau putraku, aku jadi merasa malu. Seakan aku tidak bisa mengajarimu dengan benar." Omel Ginna pada Aaron.
Aaron tercenung. Sangat jarang Ginna mengoceh padanya, apalagi dengan kata-kata tajam seperti barusan. Dia jadi semakin menyadari jika kesalahannya memanglah besar. Tapi bukan berarti ibunya harus ikut-ikutan menghukumnya juga, kan? Tidak cukupkah hanya istrinya saja yang marah?
Aaron menghela nafasnya. Awalnya dia berpikir pasti akan sangat menyenangkan jika ibu dan istrinya bisa akur. Tapi ternyata tidaklah semenyenangkan itu. Yang ada mereka malah kompak untuk membuatnya menderita.
"Aku tahu aku salah, Ma. Tapi apa harus seperti ini. Tidak bisakah Zaya menghukumku dengan hukuman lain?"
Ginna mengangkat bahunya.
"Mana aku tahu. Itu bukan urusanku. Kau tanyakan sendiri pada yang bersangkutan." Jawab Ginna acuh.
"Sayang.." Aaron melihat kearah Zaya lagi.
"Bisakah kau ganti dengan hukuman yang lain? Apapun, asal kau tidak pergi dari rumah. Aku akan sangat khawatir jika kau berada jauh dariku." Pinta Aaron.
"Apapun? Apa kau yakin?" Tanya Zaya.
Aaron mengangguk sambil tersenyum. Dia sangat berharap Zaya akan berubah pikiran.
"Baiklah..." Ujar Zaya akhirnya.
Senyum Aaron pun semakin mengembang mendengarnya.
"Kalau begitu, bagaimana jika kita tidur di kamar terpisah dan tak ada kontak fisik selama setahun." Ujar Zaya lagi.
"Apa?" Aaron berseru tanpa sadar.
"Kalimat tak masuk akal apa yang kau katakan itu?" Tanya Aaron lagi.
"Bukankah kamu bilang tadi 'apapun'?" Zaya balik bertanya.
"Tapi tidak seperti itu juga, Sayang. Mana ada suami istri tidak melakukan kontak fisik selama setahun?" Protes Aaron.
"Kau mau menghukumku, atau ingin meyiksaku? Kenapa tidak sekalian saja kau jadikan aku seorang kasim." Ujar Aaron lagi tak terima.
"Sepertinya itu ide yang bagus juga. Mungkin jika kamu di kebiri, tidak akan ada lagi yang tertarik padamu, jadi kamu akan aman dari gangguan perempuan penggoda." Balas Zaya asal.
Aaron mendelik.
"Apa kau yakin bisa hidup tanpa 'itu'?" Tanya Aaron.
"Itu apa?" Tanya Zaya.
"Ya..itu. Apa kau yakin tidak akan merindukannya jika kau mengebiriku. Bukankah sekarang kau mulai suka menghisapnya dengan mulutmu?"
"Mana ada!"Sergah Zaya.
"Bahkan beberapa waktu yang lalu kau juga baru melakukannya. sekarang kau pura-pura tidak ingat?"
"Bahkan jika aku melakukannya, itu karena kamu yang menyuruhku." Kilah Zaya.
Carlson hanya bisa mengeleng-gelengkan kepalanya mendengar pertengkaran suami istri di hadapannya ini. Dia pun hanya bisa berdehem agar Zaya dan Aaron menyadari jika saat ini masih ada orang lain di antara mereka yang ikut mendengarkan pertengkaran mereka yang mulai tidak rasional.
"Apa kalian tidak punya tata krama?" Tiba-tiba suara Ginna menginterupsi Pertengkaran Aaron dan Zaya.
"Apa pasangan menikah di dunia ini hanya kalian saja, hingga kalian mengatakan hal memalukan itu seolah sebuah kebanggaan? Sepertinya sudah ada yang salah dengan otak kalian berdua." Ginna mendengus marah.
Sedangkan Aaron masih terlihat kesal dan tak mengatakan apapun.
"Sudahlah. Kalian selesaikan saja permasalahan kalian. Kami pulang dulu." Carlson akhirnya memutuskan untuk mengajak Ginna pulang.
Ginna pun beranjak dan mengikuti suaminya itu.
"Jaga dirimu baik-baik. Jika kau jadi pergi, hubungi saja aku." Ujar Ginna pada Zaya. Zaya pun mengangguk mengiyakan.
Lalu kedua orang tua Aaron itu pergi meninggalkan Aaron dam Zaya yang masih sama-sama kesal.
___________________________________________
Setelah dua hari, Zaya sudah diizinkan untuk pulang. Lukanya sudah membaik, kandungannya pun tidak ada masalah, sehingga tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Zaya pulang, tapi bukan untuk benar-benar pulang, melainkan untuk menyiapkan barang-barang yang akan dia bawa selama dia pergi.
Albern sendiri sudah diberi tahu jika Zaya akan pergi untuk melakukan terapi dan tidak akan pulang selama beberapa waktu. Albern mengerti dan tak mempertanyakan lebih jauh lagi. Sepertinya bocah itu tahu jika urusan orang dewasa itu agak rumit, tidak akan dipahami oleh anak kecil seperti dirinya.
Zaya sendiri sebenarnya sedikit merasa bersalah karena harus membohongi putranya itu, meskipun tidak sepenuhnya berbohong juga. Karena pada kenyataanya ia memang akan melakukan terapi untuk pikirannya agar bisa berpikir dengan lebih jenih.
Malam harinya, Zaya mengemasi barang-barangnya dan memasukkannya pada sebuah koper. Tak banyak yang ia bawa, hanya pakaian untuk sehari-hari saja. Ia tak tahu berapa lama akan berada di tempat persembunyian Ginna. Mungkin seminggu atau sebulan. Semua tergantung bagaimana suasana hatinya nanti. Yang jelas saat ini ia harus pergi.
Aaron memperhatikan apa yang Zaya lakukan. Hatinya terasa sedih. Melihat Zaya mengemasi barang-barang dan akan pergi meninggalkannya, membuat Aaron teringat saat dulu Zaya pergi dari rumah ini setelah bercerai dengannya.
Aaron tak ingin berpisah lagi dengan Zaya. Meski tahu jika Zaya tidak pergi untuk selamanya, tapi tetap saja Aaron tidak bisa mencegah hatinya untuk tidak merasa sedih.
Berpisah dengan Zaya, entah itu lama ataupun sebentar, bagi Aaron sama saja. Dirinya tetap terasa hampa dan tidak bisa menjalani harinya dengan baik.
Sungguh bodoh dia membuat istrinya terluka, hingga perempuan itu memilih untuk meninggalkannya, meski untuk sementara.
Aaron berjalan mendekati Zaya, lalu meletakkan sebuah mantel diatas koper yang akan dibawa Zaya.
"Masukkan ini juga didalam kopermu. Sekarang sudah mulai sering hujan. Jangan sampai kau kedinginan dan sakit." Ujar Aaron lembut.
Zaya tak bergeming. Tapi tak bisa ia pungkiri jika ia tersentuh dengan apa yang coba Aaron lakukan.
"Sayang, jangan sampai karena ingin menghukumku, kau juga jadi ikut menderita." Ujar Aaron lagi.
Sungguh, Zaya harus berjuang setengah mati agar tidak berhambur memeluk Aaron. Ia tidak ingin lemah kali ini. Zaya benar-benar ingin menghukum suaminya itu, meski mungkin itu berarti ia juga menghukum dirinya sendiri.
"Maafkan aku karena terus membuatmu merasa sedih, hingga kau harus pergi seperti ini." Ujar Aaron lagi dengan pelan. Suaranya terdengar agak bergetar. Sepertinya Aaron sedang menahan sesuatu di dalam dirinya saat mengatakan kalimat terakhirnya pada Zaya.
Aaron memandang Zaya dengam raut wajah yang sangat sedih. Diulurkan tangannya untuk menyentuh lembut wajah istrinya itu.Lalu tangannya turun mengusap perut Zaya yang telah membulat.
"Jaga dia," Pinta Aaron.
Kemudian tangannya kembali membelai wajah Zaya lembut.
"Dan cepatlah kembali." Sambungnya lagi.
Aaron mencium kening Zaya dengan penuh perasaan. Lalu ia menjauhkan wajahnya dan berbalik meninggalkan Zaya. Aaron tak berdaya untuk mencegah Zaya agar tidak pergi. Dia pasrah.
Bersambung...
Tetep like, komen dan vote
Happy reading❤❤❤