Since You Married Me

Since You Married Me
Perempuan Gagah Dan Perkasa



Zaya melotot kearah Aaron dengan dengan raut muka yang sangat menyeramkan. Lenyap sudah wajah cantik dan lembutnya, berganti dengan wajah menakutkan yang siap menelan bulat-bulat siapa saja yang saat ini berada dihadapannya.


"Apa katamu tadi? Dia perempuan? Asisten Dean membawa seorang perempuan yang akan menggantikannya bekerja setiap hari bersamamu?" Tanya Zaya dengan penuh emosi.


Aaron yang agak terkejut melihat reaksi Zaya pun hanya bisa mengangguk.


"Apa karena dia akan menikah membuat otaknya menjadi tidak waras? Apa dia tidak ingat kejadian terakhir kali yang hampir mengancam nyawaku?" Tanya Zaya lagi. Ia benar-benar merasa marah, sampai-sampai nafasnya memburu karena menahan lonjakan emosi.


Aaron buru-buru mengusap punggung Zaya untuk sedikit menenangkan istrinya itu.


"Tenang, Sayang. Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Kali ini tidak mungkin sampai terjadi hal seperti itu." Hibur Aaron.


Zaya melihat kearahnya dengan tatapan nyalang.


"Waktu itu juga kamu mengatakan aku yang terlalu paranoid. Kamu lebih percaya pada sekertaris perempuanmu yang gila itu daripada istrimu sendiri. Kali ini kamu juga tetap ingin bilang aku paranoid? Begitu?" Zaya semakin marah.


"Tentu saja tidak, Sayang. Aku pasti akan percaya padamu. Hanya saja kali ini memang tidak seperti yang ada dalam pikiranmu. Aku bahkan tidak yakin jika dia tertarik pada lelaki. Dia terlihat begitu perkasa." Ujar Aaron lagi sambil sedikit mengingat-ingat sosok yang akan menggantikan Dean nanti.


"Maksudmu?" Zaya menautkan kedua alisnya


"Aku agak sulit menjelaskannya, tapi dia tidak akan mungkin diam-diam menginginkanku seperti Anna. Kau bisa melihatnya sendiri besok." Ujar Aaron lagi.


Zaya tampak mencerna apa yang dikatakan Aaron tadi. Ia terlihat bingung.


"Memangnya perempuan seperti apa yang sulit untuk dijelaskan? Dia pasti cantik, kan?" Zaya tetap dengan mode waspsdanya.


"Entahlah. Bagiku definisi cantik itu adalah istriku. Jadi tidak ada perempuan cantik di dunia ini selain dirimu." Jawab Aaron lagi dengan santainya.


Zaya melengos sambil mencebikkan bibirnya.


"Omong kosong." Gumamnya setengah berbisik.


Aaron kembali terkekeh.


"Sudahlah, lebih baik kita tidur." Ujarnya sembari merebahkan diri dan memejamkan matanya.


Zaya tidak terima. Diguncangnya tubuh Aaron agar suaminya itu membuka kembali matanya.


"Jangan tidur dulu, Honey. Kamu berhutang penjelasan padaku. Katakan seperti apa sebenarnya perempuan itu." Ujar Zaya.


"Kau bisa melihatnya besok. Sekarang aku mau tidur." Jawab Aaron masih dengan mata terpejam.


"Kamu mau tidur setelah membuatku kehilangan rasa kantuk. Kejam sekali." Sungut Zaya sembari memukul-mukul dada Aaron.


Aaron menangkap tangan jahat itu, lalu membuka kembali matanya.


"Memang kalau aku tidak tidur, kau mau melakukan apa untuk suamimu ini, Sayang?" Tanyanya sambil tersenyum.


Zaya terkesiap dengan sedikit membulatkan matanya saat melihat senyuman devil itu. Lebih baik Aaron tidur saja daripada meminta hal yang macam-macam padanya. Belakangan suaminya ini semakin liar saja. Seringkali Zaya dibuat syok karena permintaannya di luar nalar.


Cepat-cepat Zaya menarik tangannya kembali dan langsung membaringkan tubuhnya juga.


"Aku lelah. Kita tidur sekarang." Ujar Zaya sembari memejamkan matanya, atau lebih tepatnya memaksakan diri untuk terpejam.


Aaron kembali tertawa melihat istrinya itu. Entah kenapa, kini menggoda Zaya telah menjadi hiburan tersendiri buatnya. Dia selalu suka saat melihat wajah Zaya yang memerah karena malu. Aaron pun mencium kembali kening Zaya, kali ini dengan lebih berperasaan.


Terakhir, ditariknya selimut untuk menutupi tubuh istrinya itu. Lalu dia juga membaringkan lagi tubuhnya dan meraih tubuh Zaya agar merapat padanya.


___________________________________________


Zaya melihat sosok yang saat ini tengah membungkuk hormat kearahnya dengan pandangan yang sulit di jelaskan. Entah kalimat apa yang bisa mendefinisikan apa yang dirasakannya saat ini.


Zaya terdiam dengan agak terperangah. Ia tak bisa berkata-kata.


"Selamat pagi, Nyonya. Perkenalkan, saya Jennifer. Mulai minggu depan, saya yang akan menggantikan Asisten Dean membantu Tuan Aaron selama tiga bulan kedepan." Ujar perempuan itu dengan suara mantap, tegas dan berat.


Zaya semakin terperangah saat mendengarnya berbicara. Bahkan suaranya terdengar jauh lebih berat daripada suara milik Aaron. Dalam hati ia bertanya-tanya, apa benar sosok di hadapannya ini seorang perempuan?


Tapi tadi dia bilang namanya Jennifer, kan? Berarti harusnya dia memang perempuan.


Zaya menelan salivanya dengan agak kesusahan. Benar apa yang dikatakan Aaron semalam jika Jennifer ini terlihat begitu perkasa. Entah perempuan macam apa yang seluruh tubuhnya dipenuhi otot semua. Bahkan Asisten Dean dan Sekertaris Jeff sendiri kalah maskulin dibandingkan dengan asisten baru Aaron ini.


"Hai..Jennifer." Zaya menyapa dengan agak ragu.


"Sekarang kau percaya kalau dia memang berbeda?" Bisik Aaron di telinga Zaya.


Zaya tak menjawab. Ia hanya tersenyum dengan sedikit meringis. Tadinya ia mengira arti dari perkasa yang Aaron maksud semalam hanyalah kiasan semata. Zaya pikir perempuan ini adalah seorang ibu tunggal yang banting tulang menghidupi anaknya seorang diri, sehingga disebut perkasa. Siapa sangka jika ternyata perempuan dihadapannya ini benar-benar perkasa dalam arti yang sesungguhnya.


Seumur hidup Zaya, baru kali ini ia melihat seorang perempuan yang begitu gagah dan perkasa seperti seorang lelaki, bahkan melebihi kebanyakan lelaki itu sendiri.


"Kamu...bisa memasak, Jenn?" Tanya Zaya kemudian. Entah kenapa tiba-tiba ia membayangkan tangan berotot Jennifer memegang panci penggorengan dan panci tersebut langsung penyok.


Astaga. Rasanya Zaya ingin sekali tertawa.


"Saya bisa, Nyonya. Tapi hanya memasak telur dan mi instan." Jawab Jennifer jujur.


Zaya kembali menahan tawa.


Jennifer bilang dia bisa memasak telur, apakah telurnya tidak pecah saat berada dalam genggamannya? Perut Zaya jadi sedikit mengencang karena terus menahan tawanya.


"Jangan pernah mengatakan kata mi instan di rumah ini, apalagi memasaknya." Ujar Zaya sambil melirik Aaron. Lalu ia tersenyum pada Jennifer.


"Aku dengar kamu masih berkerabat dengan Asistem Dean?" Tanya Zaya lagi.


"Benar, Nyonya. Saya dan Asisten Dean masih ada hubungan keluarga. Bisa dibilang sebagai saudara jauh." Jawab Jennifer.


Zaya mengangguk-anggukan kepalanya. Sekali lagi pikiran konyol datang di kepalanya. Mungkinkah Kara sudah mengetahui saudara jauh calon suaminya ini? Bagaimanakan reaksi Kara? Pasti gadis itu sangat heboh saat melihat Jennifer. Tidak tahu kalimat ajaib seperti apa yang akan menjadi komentar Kara terhadap Jennifer. Bahkan petinju wanita yang pernah dilihatnya pun masih tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan asisten baru suaminya ini.


Tak lama kemudian, Sekertaris Jeff pun datang dengan membawa beberapa berkas yang sepertinya harus segera ditandatangani oleh Aaron.


Setelah sedikit membungkukkan badannya, Sekertaris Jeff menyerahkan berkas-berkas itu pada Aaron. Tatapannya bersirobok dengan sosok perempuan tak biasa yang sedari tadi telah berdiri dihadapan Zaya dan Aaron.


Jennifer sedikit menganggukan kepalanya pada Sekertaris Jeff dengan hormat, seulas senyuman tipis tersungging di bibirnya. Dan Zaya baru menyadari jika wajah Jennifer ternyata cukup manis.


Tapi yang lebih mengejutkan Zaya adalah ekspresi dari Sekertaris Jeff saat melihat Jennifer tersenyum.


'Sekartaris Jeff tersipu? Apa aku tidak salah lihat?'


Bersambung...


Tetep like, komen dan vote


Happy reading❤❤❤