
Zaya menyuruh para pelayan meletakkan barang-barang yang dibelinya tadi dikamar yang terletak di sebelah kamarnya. Kamar yang baru saja selesai di renovasi dan di dominasi dengan warna pink ini rencananya akan menjadi kamar putrinya yang akan lahir nanti.
Pernak-pernik bayi perempuan telah tertata sebagian, dan sebagiannya lagi masih belum selesai Zaya rapikan.
Para pelayan menawarkan diri untuk membantu Zaya, tapi Zaya menolaknya. Zaya ingin menata sendiri kamar calon putrinya. Ia merasa begitu bahagia hanya dengan menyentuh semua barang-barang itu sambil membayangkan bagaimana saat nanti putrinya telah hadir ditengah-tengah mereka.
Zaya penasaran akan seperti apa wajah putri kecilnya. Apakah akan mirip dirinya? Atau seperti Kakaknya, mirip dengan Aaron.
Kandungannya kini hampir menginjak bulan ke sembilan. Semakin dekat dengan persalinan. Zaya semakin tidak sabar ingin bertemu dengan putrinya itu. Ia berharap persalinannya nanti akan berjalan lancar tanpa kendala apapun.
Setelah ini, keluarganya akan semakin sempurna dengan hadirnya seorang putri ditengah-tengah mereka.
"Mama." Suara Albren menginterupsi apa yang sedang Zaya lakukan.
Zaya menoleh. Tampak Albern yang baru saja menyelesaikan pelajaran tambahannya menyusul Zaya ke kamar baru untuk adiknya.
"Sayang." Sapanya sambil tersenyum. Lalu tangannya memberi isyarat agar Albern mendekat.
"Mama sedang apa?" Tanya Albern sambil mendekati Zaya.
"Mama sedang membereskan barang-barang untuk adik Al nanti." Jawab Zaya.
"Apa adik Al sebentar lagi akan keluar dari perut Mama?" Tanya Albern lagi dengan polosnya.
Zaya mengangguk.
"Iya, Sayang. Sebentar lagi adik Al akan keluar dari perut Mama. Lalu bisa menemani Al belajar dan bermain."
Albern menautkan kedua alisnya.
"Bukannya kalau baru keluar itu masih bayi? Mana bisa di ajak main." Protes Albern.
Zaya tertawa kecil sambil mengusap kepala Albern lembut. Ia terkadang lupa jika putranya ini sangatlah cerdas dan kritis.
"Iya, Al benar. adik yang baru lahir tentunya masih bayi. Tapi setelah beberapa bulan, adik Al sudah tumbuh lebih besar dan bisa Al ajak main." Jawab Zaya lagi.
Albern tampak mengangguk setuju.
"Tapi kenapa kamar adik Al warnanya jelek seperti ini, tidak bagus seperti kamar Al?" Tanya Albern lagi.
Kali ini Zaya agak melebarkan matanya.
"Ini warna pink, Sayang. Cantik, tidak jelek." Zaya agak protes.
"Tapi Al tidak suka warna ini, Ma. Jadi menurut Al jelek. Pasti adik Al nanti tidak suka warna kamarnya seperti ini."
Zaya kembali tersenyum mendengar penuturan putranya ini, sangat jujur dan berterus terang. Mengingatkan Zaya pada Ginna.
"Al tidak suka karena warna ini memang identik untuk anak perempuan. Kalau Al suka berarti Al pinky boy." Zaya tertawa sambil kembali mengusap lembut kepala Albern.
"Tapi adik Al pasti suka, karena adik Al nanti perempuan." Ujar Zaya menjelaskan.
"Adik Al perempuan?" Albern kembali menautkan kedua alisnya.
"Iya. Adik Al nanti perempuan. Kenapa memangnya?" Tanya Zaya.
Albern tampak menghela nafasnya.
"Al maunya adik laki-laki. Biar bisa Al ajak main bola. Kalau adik perempuan kan main boneka. Al tidak mau main boneka." Albern protes keras.
Zaya kembali tertawa mendengar apa yang di katakan Albern.
"Siapa bilang adik perempuan cuma bisa main boneka, adik perempuan juga bisa main bola. Mama dulu masih kecil juga sering main bola."
"Tapi perempuan itu merepotkan." Ujar Albern lagi.
Zaya membeliakkan matanya.
"Hei, siapa yang bilang seperti itu?" Zaya pura-pura marah.
"Papa."
Zaya semakin membeliakkan matanya, kali ini benar-benar bulat sempurna.
"Papa yang bilang?" Tanya Zaya meyakinkan.
Albern mengangguk.
Zaya menghembuskan nafasnya sambil melipat tangan di dada.
"Berarti Papa harus Mama hukum karena sudah mengajarkan sesuatu yang salah pada anak Mama." Gumam Zaya.
Tiba-tiba orang yang mereka bicarakan datang masih dengan pakaian kerjanya.
Zaya dan Albern menoleh kearah Aaron secara bersamaan.
"Papa dengar ada yang yang menyebut-nyebut Papa tadi?" Tanya Aaron.
Aaron menautkan kedua alisnya. Rasanya ada yang janggal dari tatapan dua orang kesayangannya ini, terutama istrinya.
"Apa Papa mengganggu?" Tanya Aaron pada Albern.
Bocah itu menggeleng.
"Tapi Papa datang di saat yang tidak tepat." Jawab Albern.
Aaron semakin menautkan kedua alisnya.
"Papa datang di saat Mama mau menghukum papa." Tambah Albern lagi.
"Mama mau menghukum Papa? Kenapa?" Tanya Aaron agak bingung.
"Karena Papa sudah mengajarkan sesuatu yang salah pada Al." Jawab Albern lagi dengan jujur.
Aaron menoleh kearah Zaya yang masih melihat kearahnya.
"Sayang, aku tidak pernah mengajarkan hal yang aneh-aneh pada anak kita." Ujar Aaron sambil mendekati istrinya yang tampak tidak senang itu.
Dalam hati Zaya merasa geli dan ingin tertawa melihat mimik wajah Aaron. Bos Brylee Group yang sangat di segani ini terlihat sangat takut di marahi oleh istrinya.
"Lalu kenapa anak kita mengatakan jika perempuan itu merepotkan sampai dia tidak ingin punya adik perempuan?" Tanya Zaya.
Aaron terdiam sesaat.
"Kenapa Jagoan Papa bisa menganggap perempuan itu merepotkan?" Tanya Aaron kemudian pada Albern.
"Papa yang bilang." Jawab Albern jujur.
Aaron agak terkejut.
"Papa yang bilang? Benarkah?" Tanyanya tak percaya.
"Iya. Waktu Mama dulu marah sama Papa. Papa bilang perempuan itu merepotkan. Masa Papa sudah lupa. Al saja masih ingat." Jawab Albern lagi dengan polosnya.
Bocah itu tak menyadari jika ucapan jujurnya itu bisa saja menyulut ledakan membuat Mama Papanya berperang.
"Pasti tidak seperti itu, Jagoan. Al pasti salah mengartikan ucapan Papa saja." Aaron berusaha berkilah.
"Al cuma dengar Papa bilang perempuan itu merepotkan. Memangnya apa artinya?" Tanya Albern lagi.
Zaya berdehem, menyudahi perdebatan ayah dan anak dihadapannya. Tatapannya tetap tertuju kepada Aaron yang terlihat salah tingkah.
"Sayang, dokter bilang kau tidak boleh marah-marah menjelang persalinan. Jika ada hal yang bisa memicu kemarahanmu, abaikan saja." Aaron tampak berusaha membujuk Zaya.
"Abaikan saja?" Ulang Zaya.
"Istriku, suamimu ini baru pulang kerja dan kelelahan. Masa kau tega memarahinya? Apa kau sudah tidak mencintainya lagi?" Ujar Aaron lagi dengan nada memelas.
Sontak Zaya tertawa. Ia tidak bisa lagi menahan geli dan berpura-pura marah melihat ekspresi suaminya itu.
"Baiklah, kali ini aku tidak marah. Awas kalau lain kali Albern sampai mendengar lagi kamu mengatakan yang aneh-aneh." Ujarnya Zaya setelah berhasil menghentikan tawanya.
Aaron tersenyum dan tanpa sadar langsung memeluk Zaya.
"Mama, Papa."
Sontak Zaya mendorong tubuh Aaron menjauh.
"Mama tidak jadi menghukum Papa?" Tanya Albern.
"Mama menghukum Papa lain kali saja." Jawab Zaya.
"Kalau begitu boleh Al bilang sesuatu?"
"Al mau bilang apa?" Tanya Zaya lembut.
"Al mau makan jagung bakar."
Zaya terdiam sesaat, lalu tersenyum.
"Oke, nanti Mama bilang pada Bu Asma supaya membuatkan Al jagung bakar."
Albern menggeleng.
"Al mau makan jagung bakar di puncak."
Bersambung...
Tetep like, komen dan vote
Happy reading❤❤❤