
Zaya duduk diruang kerja kafenya dengan pikiran yang melayang entah kemana. Bayangan tentang Aaron yang menciumnya semalam terus saja memenuhi kepalanya. Sekuat tenaga Zaya berusaha melupakan kejadian itu, tapi tetap saja tidak mau pergi dari pikirannya.
Belum lagi kata-kata Aaron malam itu yang juga terus terngiang ditelinganya.
"Benar, aku sudah tidak waras. Aku kehilangan akal sehatku karena terlalu merindukanmu."
Zaya kembali memijit-mijit pelipisnya sendiri untuk sedikit mengurangi rasa pusing yang menderanya.
Kenapa juga kalimat yang diucapkan Aaron itu harus terus memenuhi kepalanya, seperti rekaman suara yang diputar berulang-ulang.
Zaya mendesah.
Ia tak mengerti kenapa itu semua harus membuatnya merasa terganggu. Bukankah jika ia menganggapnya angin lalu saja, semuanya tidak akan membuat kepalanya pusing. Anggap saja jika Aaron sedang tidak sadar saat mengatakannya. Atau mungkin lelaki itu hanya sedang bermain-main.
Ya. Bukankah belakangan ini sedang tren orang-orang melakukan prank? Kemungkinan besar Aaron memang sedang mengerjainya, kan? Meski Zaya sendiri tidak terlalu yakin dengan hal itu, mengingat Aaron bukanlah orang yang suka berlaku iseng.
Lalu jika bukan sedang mengerjainya, apa sebenarnya yang sedang Aaron lakukan? Benarkah saat ini Aaron memang sedang mengejarnya kembali seperti yang dikatakan Evan semalam?
Huffttt....
Zaya kembali menghela nafasnya.
Tadinya ia mengira setelah bercerai dengan Aaron semuanya akan berakhir. Hubungannya dengan Aaron, perasaannya dan semua hal yang menyangkut dengan Aaron, juga akan berakhir. Tapi kenapa disaat Zaya sudah berusaha untuk hidup tanpa Aaron, lelaki itu malah sangaja datang dan mengusiknya.
Zaya sungguh tidak ingin terlibat lagi dengan Aaron sekarang. Ia tidak ingin dihempaskan dan merasa sakit lagi. Dari pengalamannya terdahulu, setelah bersikap baik padanya, Aaron pasti akan menghancurkan hatinya. Zaya tidak ingin terjebak dengan rasa sakit itu lagi. Ia tidak ingin mengulang penderitaannya selama ini. Tidak akan!
"Bu Bos!" suara khas Kara membuyarkan lamunan Zaya.
Zaya menoleh.
"Ponselmu ketinggalan, ya?" tanyanya sambil duduk di hadapan Zaya.
"Tidak." jawab Zaya.
"Dokter Evan menelfonku tadi. Dia bilang kamu tidak menjawab panggilannya, makanya kupikir ponselmu ketinggalan." ujar Kara lagi.
Zaya tampak menautkan alisnya. Lalu buru-buru dikeluarkannya ponsel miliknya dari dalam tas tangannya. Dan benar saja, ada dua puluh tujuh panggilan tak terjawab dari Evan.
Zaya kemudian menaruh kembali ponselnya itu kedalam tas tangannya.
"Kamu tidak telfon balik?" tanya Kara. Ia heran melihat Zaya yang terkesan tak mempedulikan panggilan tak terjawab dari Evan.
"Nanti saja." kilah Zaya. Sejujurnya Zaya sedang tidak ingin berbicara dengan Evan. Dia takut jika seandainya Evan tiba-tiba membahas tentang permintaannya semalam. Zaya benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa sekarang ini.
"Kalian berkelahi, ya?" tanya Kara lagi.
Zaya menggelengkan kepalanya dengan bingung.
"Tidak."jawabnya cepat.
"Apa jangan-jangan dia melakukan sesuatu padamu hingga membuat kamu marah" Kara kembali bertanya.
Zaya buru-buru menggeleng.
"Tidak terjadi apa-apa. Aku hanya sedang lelah dan tidak ingin berbicara dengannya." kilah Zaya. Tapi jangan panggil gadis itu Kara jika bisa dengan mudah Zaya membohonginya. Kara tahu ada sesuatu antara Zaya dan Dokter Evan. Meski dia tidak yakin itu apa.
"Kenapa kamu terlihat seperti sedang menghindarinya?"
Kali ini Zaya terdiam dan tidak menjawab.
"Hei, ayolah.... ceritakan padaku ada apa." pinta Kara.
Zaya masih terdiam, terlihat enggan mengatakan apapun pada Kara.
"Zaya, bukankah kamu sudah berjanji tidak akan menyembunyikan apa-apa dariku lagi?" Kara tampak memasang mode serius dengan tidak memanggil Zaya dengan sebutan Bu Bos lagi.
Tapi Zaya masih terlihat sedang tak ingin berbicara.
"Zaya...." Kara tampak mulai kesal.
Zaya menghela nafasnya.
"Oke, My Kara..., oke. Aku akan cerita." ujarnya kemudian sembari memutar bola matanya malas.
Kara tersenyum, kemudian melipat kedua tangannya didada.
"Ayo, ceritakan sekarang." ujarnya dengan nada agak memerintah, seolah disini dia adalah bosnya.
Zaya terdiam sesaat. Terlihat sedang menyusun kata-kata.
"Evan memintaku untuk jadi kekasihnya." lirih Zaya akhirnya.
Kara tampak sedikit menautkan kedua alisnya.
"Lalu?" tanyanya menanggapi.
"Lalu apanya?" Zaya balik bertanya.
Zaya terdiam sesaat.
"Aku tidak tahu harus jawab apa. Aku sudah menganggapnya sebagai seorang kakak. Jadi sangat canggung bagiku jika harus berubah menjadi seorang kekasih." ujarnya kemudian.
"Bukankah baik jika sebelumnya kalian sudah saling tahu tentang diri masing-masing?"
Zaya kembali terdiam.
"Tapi bagiku tetap saja terasa agak sedikit aneh. " gumamnya.
Kara tampak berdecak sebal.
"Yang aneh itu kamu, Zaya. Dokter tampan dan baik memintamu untuk menjadi kekasihnya, kok kamu malah menghindar dan tidak menerimanya." gerutu Kara.
"Sepertinya ada yang koslet didalam sana." tambah Kara lagi sambil menunjuk kearah kepala Zaya.
Tentu saja Zaya mendengus sebal mendengarmya.
"Apa jangan-jangan kamu belum bisa move on dari mantan suamimu itu, sehingga tidak bisa menerima lelaki lain?" tanya Kara dengan mimik wajah yang tak bisa dijelaskan.
"Mana ada." sergah Zaya cepat.
"Tentu saja bukan seperti itu. Aku hanya tidak ingin terburu-buru menjalin hubungan baru." ujarnya kemudian.
Belum sempat Kara menanggapi perkataan Zaya, Fina datang menginterupsi.
"Bu Bos." panggilnya sopan.
"Ada kiriman bunga dibawah. Banyak sekali." tambah fina lagi dengan takjub.
Zaya tidak menjawab, tapi ia langsung turun kebawah untuk melihat yang dikatakan oleh Fina tadi.
Mata Zaya terbuka lebar saat mendapati beberapa orang sedang meletakkan banyak bunga segar dibeberapa sudut kafenya. Aromanya wangi dan menenangkan.
"Wah... Jangan bilang ini pernyataan cinta dari Dokter Evan untukmu, Bu Bos." tebak Kara.
Zaya tak langsung menjawab. Kemudian ia mengeluarkan ponselnya dan mendial nama seseorang.
"Halo, Dee. Aku baru saja mau menghubungimu lagi, untungnya kamu sudah menelponku duluan." terdengar suara Evan diseberang sana.
Zaya tampak berpikir untuk mengatakan kalimat apa.
"Kenapa Kakak menngirim bunga ke kafe banyak sekali?" tanyanya kemudian.
"Bunga?" Evan balik bertanya.
"Iya, bunga. Kakak yang mengirimnya, kan?" tanya Zaya lagi.
"Tidak." jawab Evan.
Zaya tertegun.
Bukan Evan yang mengirim bunga-bunga itu? Lalu siapa? Tanpa sadar Zaya memutus panggilan telfonnya dengan Evan.
Belum sempat Zaya menerka-nerka, salah satu petugas pengirim barang tersebut datang menghampiri Zaya dengan satu buket bunga.
"Ini, Nyonya. Tolong tanda tangan disini." pintanya sambil meyerahkan buket bunga itu kepada Zaya, lalu ia menyodorkan tempat Zaya harus membubuhkan tanda tangan.
Zaya pun menurutinya.
"Pak, siapa yang mengirim bunga-bunga ini?" tanya Zaya penasaran.
"Kami hanya bertugas mengantarnya saja, Nyonya. Kami tidak tahu siapa yang mengirimnya." jawabnya sopan.
Zaya pun akhirnya hanya bisa mengangguk.
Lalu setelah para petugas jasa pengiriman barang itu telah pergi, Zaya kembali keruang kerjanya diikuti oleh Kara.
Zaya mengamati buket bunga yang barusan ia terima. Lalu tiba-tiba matanya melihat kertas yang terselip diantara tangkai bunga. Zaya mengambil dan membacanya.
'Maaf.'
Zaya terkesiap membaca tulisan itu.
Itu adalah tulisan tangan yang sangat Zaya kenal. Dari cara pena digoreskan keatas kertas, serta dari gaya penulisannya, Zaya sangat tahu siapa yang telah menulisnya. Tulisan tangan itu adalah milik seseorang yang telah hidup dengan Zaya selama tujuh tahun lamanya. Lelaki yang pernah sangat Zaya cintai dengan sepenuh hati.
Jadi, pengirim bunga-bunga itu ternyata adalah...Aaron?
Bersambung.....
Maaf ya dua hari ini author sibuk sekali jadi baru bisa ngetik cerita dan upnya malem. Semoga ga bosen buat nunggu kelanjutannya.
Jgn lupa votenya ya, besok diusahakan buat up lebih dari satu.
Happy reading❤❤❤