
Setelah bersiap-siap, Zaya dan Ginna pun meluncur menuju pusat perbelanjaan dengan diantar oleh sopir pribadi Ginna.
Sepanjang perjalanan suasana tampak hening. Baik Zaya maupun Ginna, keduanya tampak tak ada yang memulai pembicaraan. Ginna tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sedangkan Zaya masih belum sepenuhnya mempercayai jika saat ini ia sedang duduk bersebelahan dengan ibu mertuanya yang dingin dan kaku, didalam satu mobil yang sama, dan tujuan mereka adalah untuk berbelanja dan melakukan perawatan tubuh bersama.
Ya Tuhan. Sungguh sulit dipercaya. Saat ini mereka terlihat seperti mertua dan menantu yang sudah dekat sejak lama. Mungkin memang sudah saatnya untuk mengubur semua kenangan masa lalu, dan membuka lembaran yang baru.
Zaya mencuri pandang kearah Ginna sekilas, sebelum akhirnya memalingkan wajahnya kearah luar jendela.
"Bagaimana dengan kehamilanmu? Tidak ada masalah, kan?" Suara Ginna membuyarkan lamunan Zaya.
Zaya kembali menoleh kearah ibu mertuanya itu, lalu tersenyum.
"Kondisi janinku sehat. Seminggu yang lalu kami baru memeriksakan kandunganku. Semuanya dalam kondisi baik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Jawab Zaya.
Ginna mengangguk. Kemudian menoleh kearah Zaya.
"Kurangi aktivitasmu diluar rumah. Bila perlu serahkan dulu kepengurusan kafemu pada orang yang kau percaya untuk sementara ini. Jangan sampai kau kelelahan dan terjadi hal yang tidak diinginkan." Ujar Ginna menasehati. Cara bicaranya tetap datar seperti biasa. Tapi kali ini Zaya bisa menangkap kekhawatiran dari nada bicara Ginna. Sepertinya ibu mertuanya ini mulai perhatian padanya.
"Baik, Ma." Jawab Zaya.
"Akan lebih baik jika kau benar-benar melakukannya, bukan hanya sekedar jawaban dibibir saja." Ujar Ginna lagi.
Zaya diam dan tak tahu harus menjawab apa. Sedangkan Ginna tampak mengalihkan pandangannya sembari menghela nafas.
"Jangan sampai nantinya kau menyesal seperti aku." Gumam Ginna kemudian dengan nada lirih.
Zaya menautkan kedua alisnya. Ia tak mengerti apa yang baru saja Ginna katakan.
"Seharusnya Aaron punya seorang adik. Pada saat usianya lima tahun aku sudah mengandung lagi. Tapi pada saat itu karirku sedang bagus-bagusnya. Hingga aku mengabaikan saran dokter untuk sering beristirahat."
Ginna berhenti sejenak.
"Akhirnya aku kelelahan dan mengalami pendarahan. Saat dibawa kerumah sakit, janinku sudah tidak tertolong lagi. Aku keguguran. Dan yang semakin mengejutkanku, setelah itu dokter mengatakan jika aku tidak bisa hamil lagi."
Ginna kembali menghela nafasnya. Sedangkan Zaya tampak agak terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar. Ternyata itu alasannya Aaron menjadi anak tunggal.
"Cukup Aaron saja yang tidak punya saudara dan sering merasa kesepian. Albern jangan sampai merasakan hal yang sama. Itulah sebabnya kau harus menjaga dirimu dengan benar. Jika hal buruk sudah terjadi, menyesal pun sudah tak ada gunanya."
Zaya mencerna kata-kata Ginna. Meski tidak menasehati dengan lembut, tapi yang diucapkan Ginna memang benar. Jika hal buruk sudah terjadi, menyesal pun sudah tak ada gunanya. Zaya akan mengingat apa yang dikatakan Ginna hari ini.
"Baiklah, Ma. Aku akan lebih memperhatikan kandunganku dan lebih banyak beristirahat di rumah. Lagipula aku memang mudah merasa lelah akhir-akhir ini." Ujar Zaya kemudian.
Ginna mengangguk dan terlihat lega.
"Baguslah kalau begitu." Gumamnya.
Mereka pun kembali hening hingga akhirnya sampai di tempat yang dituju.
Ginna mengajak Zaya ke salon kecantikan yang menjadi langganannya. Disana produk kecantikannya menggunakan bahan-bahan herbal alami, sehingga aman sekaligus mahal.
Mereka pun melakukan perawatan dari ujung rambut hingga ujung kuku.
Hasil yang didapat benar-benar memuaskan. Baik Zaya maupun Ginna, keduanya tampak lebih berseri dari sebelumnya. Pantas saja kalau Ginna masih terlihat cantik meski usianya yang tidak muda lagi. Itu semua pasti tak lepas dari perawatan yang dilakukannya selama ini. Sungguh usaha yang tidak murah untuk bisa terlihat selalu cantik.
Disana Zaya juga kembali dibuat terkejut, pasalnya Ginna memesankan makanan kesukaaan Zaya. Meski berdalih jika hanya kebetulan saja Ginna memesannya, tapi Zaya yakin jika Ginna telah mencari tahu tentang Zaya sebelumnya.
Semakin lama Zaya semakin merasa jika Ginna sangatlah mirip dengan Aaron. Kaku dan dingin, tapi juga punya sisi perhatian. Zaya bersyukur akhirnya diberi kesempatan untuk dekat dengan ibu mertuanya ini.
Makan siang selesai. Mereka lanjut mencari gaun dan sepatu.
Ginna mengajak Zaya memasuki sebuah toko yang hanya bisa dimasuki oleh kalangan atas saja. Tanpa kartu pelanggan, jangan harap bisa masuk dan dilayani disana. Seumur hidup Zaya, ini kali pertama Zaya masuk kesebuah toko yang begitu eksklusif.
Ginna meminta seorang pelayan untuk memilihkan beberapa Gaun untuk Zaya. Ia sendiri pun tampak sedang mencoba beberapa gaun juga.
Kemudian setelah beberapa kali mencoba, pilihan Zaya jatuh pada gaun berwarna hitam yang terakhir dicobanya. Modelnya terlihat sederhana tanpa banyak aksen, tapi sangat elegan dan sangan cocok dikenakan Zaya.
"Ma, bagaimana dengan yang ini?" Tanya Zaya meminta pendapat.
Ginna menoleh dan melihat kearah Zaya untuk memberikan penilaian. Sejurus kemudian ia pun mengangguk tanda setuju.
Zaya langsung melepas gaun yang dicobanya tadi di ruang ganti, dan mengenakan pakaiannya kembali. Karena penasaran, Zaya pun tergelitik untuk melihat label harga gaun yang ada di tangannya itu. Ia langsung membeliakkan matanya saat melihat harga yang dibandrol.
Harga gaun yang kini ada di tangan Zaya setara dengan harga sebuah mobil baru.
Astaga. Kenapa mereka harus membayar nominal yang fantastis hanya untuk sebuah gaun pesta yang kemungkinan hanya di pakai sekali saja? Orang kaya memang rumit. Zaya hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya saja.
Setelah selesai memilih gaun, Ginna juga mengajak Zaya memilih sepatu yang sesuai. Kali ini Zaya meminta Ginna saja yang memilihkan. Zaya bingung saat pelayan toko mengeluarkan koleksi model terbaru sepatu mereka. Semuanya terlihat bagus dan sulit bagi Zaya untuk memilih.
Dan harga sepatu itu pun tak kalah fantastis. Zaya memperkirakan jika harga sepatu dan gaun tadi digabungkan, itu bisa untuk memberi makan anak-anak satu panti selama beberapa tahun. Sungguh bukan jumlah uang yang sedikit. Tapi karena ibu mertuanya yang mengajak berbelanja, tentu saja Zaya tak bisa menolak.
Setelah semuanya selesai, Zaya dan Ginna pun langsung meluncur pulang.
Didalam mobil mereka berdua kembali hening. Mertua dan menantu ini larut dalam pikiran masing-masing.
"Mulai sekarang, jika akan bertemu dengan para kolega, kau harus membiasakan diri menggunakan barang-barang branded. Bukan untuk menyombongkan diri, tapi agar mereka tidak meremehkanmu." Suara Ginna memecah kesunyian.
"Aku juga sebenarnya tidak terlalu suka dengan barang-barang mahal, tapi demi menjaga nama baik suami dan juga perusahaan, aku harus tampil sebaik mungkin agar tak ada celah bagi mereka untuk merendahkan."
"Tentu kau tidak ingin kan orang-orang mengatakan jika Direktur Utama perusahaan Brylee Group pelit pada istrinya, sehingga istrinya selalu tampil dengan menggunakan barang-barang jelek."
Zaya menoleh pada Ginna dan menggeleng.
"Itulah sebabnya kau harus selalu mengenakan barang-barang bagus, minimal saat menghadiri acara resmi seperti jamuan nanti malam. Buat mereka tak bisa berkata-kata saat melihatmu." Ujar Ginna lagi.
Kali ini Zaya mengangguk. Ia pun mengerti, untuk menjadi Nyonya di keluarga Brylee yang merupakan wajah dari perusahaan Brylee Group, tidak hanya dituntut mempunyai kecerdasan dan kemampuan bisnis yang mumpuni, tapi juga harus mempunyai penampilan yang sempurna. Tentu itu ditunjang dengan meggunakan barang-barang bagus.
Zaya sedikit menghela nafas. Ternyata menjadi seorang Nyonya Muda itu repot juga. Tapi tentu ia harus membiasakan diri mulai dari sekarang.
Bersambung...
Tetep like, komen dan vote
Happy reading❤❤❤