Since You Married Me

Since You Married Me
Diluar kendali



Zaya keluar dari kamarnya untuk menuju lantai bawah. Hari ini dia harus menyingkirkan Anna dari perusahaan maupun dari kehidupan rumah tangganya.


Jika memang Aaron masih tidak mempercayainya, Zaya terpaksa akan menggunakan kekuatannya sebagai salah satu pemegang saham terbesar di Brylee Group. Bila perlu Zaya akan meminta bantuan Ginna dan Carlson untuk mendepak Anna dari sisi Aaron.


Biarlah jika ada yang menyebutnya menyalahgunakan kekuasaan, atau sewenang-wenang. Yang penting hari ini Anna enyah dari kehidupannya dan Aaron untuk selamanya.


Zaya melangkahkan kakinya dengan dada bergemuruh. Ia berusaha untuk menenangkan dirinya agar tak melakukan hal bodoh saat menemui Anna di bawah nanti.


Tapi kemudian Zaya agak terkejut ketika Aaron berjalan mendahuluinya sambil mengambil ponsel yang berada dalam genggaman Zaya.


Zaya agak terkesiap saat melihat Aaron yang tampak marah. Lalu bergegas ia menyusul Aaron ke lantai bawah.


Tampak Anna yang menunggu disana bangkit dari duduknya saat melihat Aaron dan Zaya datang.


"Anda sudah siap, Tuan?" Tanya Anna. Tapi sejurus kemudian ia terlihat bingung melihat Aaron yang tak membawa barang apapun, terlebih saat melihat tatapan nyalang dari Aaron.


"Aku ingin kau menjelaskan padaku tentang ini, Anna." Aaron memperlihatkan layar ponsel Zaya yang dibawanya, dan memutar video yang tadi dilihatnya.


Anna membeliak. Ia benar-benar terkejut saat melihat video percakapannya dengan Bryan beberapa waktu yang lalu bisa berada ditangan Aaron. Dia ketahuan. Tapi tentu saja yang harus dilakukannya sekarang adalah menyangkal video itu.


"Itu...dari mana Anda mendapatkan video itu, Tuan?" Tanya Anna memcoba bersikap tenang.


"Tidak penting dari mana aku mendapatkannya. Yang aku inginkan adalah penjelasan darimu, kenapa sampai kau melakukan itu"


"Tuan, wanita yang ada didalam video itu bukan saya. Pasti ada yang sengaja membuatnya dengan menggunakan perempuan yang mirip saya. Saya pasti telah di jebak, Tuan." Anna mengeluarkan jurus andalannya, memasang wajah polos tanpa dosa.


Aaron tersenyum miring.


"Jadi perempuan didalam video ini bukan dirimu, tapi perempuan yang mirip denganmu?" Tanyanya.


"Ya, Tuan." Anna mengangguk mantap.


"Lalu apakah lelaki di video ini adalah Bryan palsu juga?" Tanya Aaron sarkas.


Anna terkesiap. Sepertinya Aaron tidak percaya pada kata-katanya tadi. Dia harus lebih meyakinkan lagi untuk membuat Aaron percaya.


"Saya tidak tahu ada dendam apa orang yang membuat video palsu ini pada saya, tapi yang jelas dia sedang ingin menjebak saya agar terlihat buruk dimata Tuan. Saya tidak bersalah, Tuan. Percayalah pada saya." Anna tampak memelas.


"Jadi maksudmu istriku saat ini ingin menjebakmu, Anna?" Tanya Aaron lagi dengan tajam.


Anna pura-pura terkejut.


"Nyonya?"


Anna beralih melihat kearah Zaya.


"Saya tidak tahu apakah saya pernah menyinggung Nyonya. Jika saya punya salah saya minta maaf, Nyonya. Katakan saja apa kesalahan saya. Saya akan berusaha untuk tidak akan mengulanginya lagi. Tapi Anda tidak perlu melakukan hal sejauh ini pada saya." Ujar Anna dengan mata berkaca-kaca.


Zaya takjub dengan kemampuan akting Anna. Perempuan ini layak mendapatkan piala oscar untuk aktingnya yang sangat memukau.


Zaya tak bergeming. Ia tengah menunggu reaksi Aaron mendengar kata-kata Anna barusan. Apakah Aaron akan kembali percaya pada perempuan itu?


Plakk!!


Sebuah tamparan melayang di pipi Anna, membuatnya terkejut setengah mati. Matanya seketika membeliak tak percaya saat menyadari jika yang menamparnya adalah Aaron.


"Tuan?" Anna memegangi bekas tamparan Aaron.


"Berani-beraninya kau menuduh istriku menjebakmu. Apa kau sudah bosan hidup?" Aaron menatap Anna nyalang.


"Saya tidak bermaksud begitu, Tuan." Anna semakin memelas.


"Bagamana bisa aku sampai tertipu perempuan licik sepertimu." Gumam Aaron pada dirinya sendiri.


"Enyahlah dari hadapanku sekarang juga, dan segera ambil gajimu serta pesangonnya. Mulai besok jangan datang lagi ke perusahaanku. Aku memecatmu!"


Anna terkejut mendengar Aaron memecatnya. Ia mendekat pada Aaron, berusaha untuk memelas dengan lebih meyakinkan.


"Saya tidak bersalah, Tuan. Tolong jangan pecat saya. Saya benar-benar dijebak. Mungkin Nyonya masih marah karena waktu itu saya mengajak Tuan berdansa bersama saya, sehingga Nyonya membuat seolah saya yang mengatur hal itu. Saya sungguh tidak masalah jika memang seperti itu yang terjadi. Asal Tuan membiarkan saya untuk tetap bekerja pada Tuan, saya akan menganggap tidak pernah terjadi apa-apa."


Aaron semakin meradang mendengar penuturan Anna. Didekatinya perempuan itu, dan tiba-tiba Aaron mencekiknya tanpa Ampun.


"Tu...aann" Anna tampak kesakitan dan kesulitan bernafas.


"Kau benar-benar mau mati rupanya. Bukannya mengakui perbuatanmu, kau malah ingin melempar kesalahanmu pada istriku. Aku akan mengabulkan keinginanmu, Anna." Aaron mengeratkan cekikkannya hingga Anna semakin kesulitan bernafas.


Para pelayan yang tak sengaja melihat Aaron mencekik Anna terpekik ngeri. Baru kali ini mereka melihat Aaron semarah ini, apalagi terhadap perempuan.


Zaya yang melihat hal itu langsung memeluk Aaron dari belakang.


"Honey, tolong lepaskan dia. Jangan seperti ini. Jika dia mati, kamu bisa masuk penjara." Zaya berusaha untuk menenangkan Aaron yang sedang murka.


Aaron tampak masih belum melepaskan Anna. Anna semakin kesulitan bernafas dan mulai kehabisan oksigen.


"Honey... Kumohon..." Lirih Zaya.


Akhirnya Aaron melonggarkan cekikannya pada leher Anna. Lalu dilepasnya Anna dengan kasar.


Tubuh Anna terdorong hingga menyenggol guci pajangan.


Pranggg!!!!


Keramik mahal itu pecah bersamaan dengan tubuh Anna yang terdorong hingga jatuh kelantai.


"Pergilah, Anna. Sebelum aku berubah pikiran dan benar-benar membunuhmu." Desis Aaron geram.


Anna bangkit sambil mengambil salah satu pecahan keramik yang tajam seperti mata pisau. Kemudian dengan secepat kilat dia mengarahkan benda itu pada Zaya yang berada tak jauh dari Aaron.


Karena terlalu marah, Aaron menjadi tidak fokus. Dia kecolongan. Dalam sekejap Anna berbalik dan berhasil menyergap Zaya dan mengarahkan pecahan keramik tajam itu tepat ke leher Zaya.


"Ya, benar. Aku memang merencanakan semua itu, Kak Aaron. Aku memang ingin membuat istrimu ini mati bersama anak yang dikandungnya." Anna menyeringai dengan ekspresi yang sangat mengerikan.


Hilang sudah wajah polos tak berdosa yang selama ini dia tampilkan. Berganti dengan wajah seorang psikopat yang sangat menakutkan. Anna akhirnya menunjukkan dirinya yang sebenarnya.


"Dia tidak pantas menjadi istrimu. Perempuan ini hanya orang rendahan yang lebih cocok menjadi pelayanmu saja, bukan menjadi Nyonya Muda di rumahmu." Ujar Anna lagi sambil masih mengarahkan pecahan keramik tajam keleher Zaya.


Aaron membeku. Berusaha untuk mecari celah agar bisa melepaskan Zaya dari Anna.


"Tapi kamu tidak usah khawatir, Kak Aaron. Aku akan membantumu menyingkirkan istri rendahanmu ini selama-lamanya. Setelah itu, mari kita menikah." Anna tertawa lantang.


Aaron menghela nafasnya sembari menatap kearah Anna yang tengah tertawa dengan lepasnya.


'Perempuan gila!'


Bersambung...


Ngantuk gaesss...besok lagi😪😪😪


Happy reading❤❤❤