Since You Married Me

Since You Married Me
Akan Kupertimbangkan



Zaya membeku mendengar pertanyaan Aaron. Ia benar-benar tidak tahu jawaban apa yang harus ia berikan. Saat ini ia tidak bisa terlalu mendefinisikan perasaannya sendiri terhadap Aaron.


Zaya tidak terlalu yakin apakah ia masih mencintai lelaki itu, atau hanya sekedar bersimpati karena sekarang Aaron sedang dalam keadaan yang tidak baik.


Zaya ragu untuk menjawab. Perasaannya terlalu abu-abu untuk ditebak. Ia tidak mau jika harus bertindak implusif dan menerima Aaron begitu saja hanya karena sekarang Aaron sedang terpuruk. Itu hanya akan menyakiti mereka berdua nantinya.


"Jangan mengatakan apapun lagi. Tidurlah. Sekarang kamu sedang mabuk." Elak Zaya sambil sedikit menjauhkan diri dari Aaron.


"Aku memang mabuk tadi, tapi sekarang tidak lagi." Jawab Aaron menyangkal.


"Aku tidak ingin membicarakan apapun denganmu saat keadaanmu seperti ini. Bicaralah jika keadaanmu sudah baik." Elak Zaya lagi.


Aaron terlihat menghela nafasnya, kemudian mengangguk.


"Baiklah..." Gumam Aaron akhirnya.


"Kalau begitu berbaringlah juga." Aaron menggeser posisinya untuk memberi Zaya tempat.


Zaya hanya melihatnya dengan penuh tanda tanya.


"Aku ingin tidur didekatmu seperti saat kita di Paris. Sudah lama aku tidak tidur nyenyak seperti waktu itu." Lanjut Aaron lagi.


Zaya tak bergeming. Ia ingin menolak, tapi melihat keadaan Aaron saat ini ia tidak tega melakukannya.


Huffttt...


Zaya menghela nafas kasar. Entah kenapa saat ini ia merasa menjadi seperti seekor kancil yang terjebak kedalam jerat harimau. Ia tidak bisa melepaskan diri dan lari.


Akhirnya dengan berat hati Zaya pun merebahkan dirinya disamping Aaron. Dapat Zaya lihat senyuman dibibir Aaron dari sudut matanya. Sepertinya lelaki itu terlihat senang.


Ah, sudahlah. Sebentar lagi hari juga akan pagi dan ia bisa segera pergi. Setelah ini ia tidak akan terjebak ke dalam situasi ini bersama Aaron lagi. Zaya berjanji pada dirinya sendiri. Tapi anehnya, dari sudut yang paling dalam, justru hatinya ingin mengingkari janji tersebut.


Aaron benar-benar pintar melemahkan hati Zaya.


Kemudian Aaron juga ikut merebahkan tubuhnya, lalu memeluk Zaya yang berbaring membelakanginya.


Zaya sedikit terkejut dan menahan nafasnya. Aaron mendekapnya dari arah belakang hingga tubuh Zaya seperti tenggelam didalam pelukan lelaki itu.


Posisi mereka sangatlah intim. Zaya bisa merasakan hampir semua anggota tubuh Aaron menempel padanya. Termasuk sesuatu yang agak mengganjal tepat dibokongnya.


Ya Tuhan. Dada Zaya berdegub sangat kencang dibuatnya. Bahkan saat menjadi istri Aaron pun Zaya tidak pernah mengalami hal ini.


"Aaron...Kamu yakin bisa tidur dengan posisi seperti ini?" Tanya Zaya lirih.


"Hm...." Aaron malah semakin mempererat dekapannya.


"Aaron..." Zaya menggeliat berusaha untuk melepaskan diri dari dekapan Aaron.


"Diamlah, nanti aku tidak bisa menahan diri jika kau terus bergerak." Bisik Aaron.


Zaya terkesiap dan sontak membeku. Kata-kata Aaron terdengar begitu menyeramkan ditelinganya. Ia pun diam dan pasrah dalam pelukan lelaki itu.


Zaya memilih untuk memejamkan matanya, berusaha untuk tidur agar bisa melewati situasi ini dengan cepat.


Dan akhirnya Zaya berhasil masuk kealam mimpi meski berada dalam posisi tidur yang tak biasa. Tanpa ia sadari, saraf otaknya merasa rileks saat berada didekat Aaron hingga memudahkannya untuk tertidur.


Mereka berdua terlelap dan terlihat damai layaknya anak kecil yang tak mempunyai beban.


___________________________________________


Zaya membuka matanya saat merasakan matahari sudah menampakkan diri. Terlihat Aaron sudah tampak segar dengan pakaian kerjanya dan tengah menyelesaikan simpul dasinya.


"Sudah bangun?"


Aaron menoleh kearah Zaya. Lelaki itu terlihat sudah kembali pada dirinya yang semula. Pesonanya sudah tampak seperti biasanya. Hanya saja yang membuatnya berbeda kali ini adalah senyum yang tersungging diwajahnya.


Tak ada wajah datar dan aura dingin yang biasanya lekat pada diri Aaron. Gunung es itu kini menjadi sosok yang sangat-sangat berbeda. Bahkan Zaya sendiri hampir-hampir tak mengenalinya.


"Kenapa melamun?" Tanya Aaron sambil mendudukkan dirinya dipinggiran tempat tidur, menghadap kearah Zaya.


"Ti-tidak apa-apa." Jawab Zaya dengan tergagap. Entah kenapa detak jantungnya kembali berpacu saat Aaron mendekat padanya. Kilasan adegan sebelum mereka tertidur semalam kembali berputar di kepala Zaya.


"Aku harus segera kembali." Ujar Zaya lagi sambil beranjak dari tempat tidur. Tapi Aaron lagi-lagi menahan tangan Zaya hingga Zaya kembali duduk ditempatnya.


"Mandilah terlebih dahulu. Beberapa pakaianmu dulu masih ada didalam lemari. Setelah sarapan, aku akan mengantarmu." Ujar Aaron dengan nada tidak ingin dibantah.


Zaya menghela nafasnya. Sekali lagi ia menjadi tak berdaya dan tak punya pilihan selain menuruti keinginan Aaron. Ia pun pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri.


Tak berselang lama, Zaya keluar dengan memakai salah satu pakaian yang ditinggalkannya dulu.


Ternyata Aaron belum turun dan masih menunggunya. Lalu mereka pun turun ke lantai bawah bersama-sama menuju meja makan.


Sudah ada Asisten Dean menunggu di sofa yang terletak di dekat meja makan. Bawahan Aaron itu buru-buru bangkit dan membungkukkan badannya kearah Aaron dan Zaya.


Zaya mengangguk kearah Asiaten Dean dan duduk di salah satu kursi meja makan, sedangkan Aaron menyusul duduk di sebelah Zaya.


Kemudian Bu Asma pun datang dari arah dapur dengan membawa buah segar yang hendak diletakkannya di meja makan. Pelayan paruh baya itu pun agak terkejut melihat Zaya di meja makan.


"Nyonya... Anda di sini?" Tanyanya.


Zaya tersenyum canggung dan hanya bisa mengangguk mengiyakan pertanyaan Bu Asma. Sebenarnya ia merasa sedikit malu pada Bu Asma, tapi karena tak ada yang bisa dilakukan, Zaya pun terpaksa menahan rasa malunya.


Sedangkan Bu Asma sendiri sebenarnya ingin menyapa dan bertanya kepada Zaya lebih banyak. Tapi melihat ekspresi Aaron yang tidak mau diganggu, akhirnya Bu Asma pun memilih kembali ke dapur setelah meletakkan buah segar yang sebelumnya ia bawa.


Diam-diam pelayan paruh baya itu merasa senang dan berharap kehadiran Zaya pagi ini menjadi pertanda baik bagi hubungan Zaya dan Aaron.


"Dimana Albern?" Tanya Zaya saat menyadari putranya itu tak kunjung turun untuk sarapan.


"Dia sedang mengikuti acara berkemah si sekolahnya selama tiga hari. Farah yang mendampinginya." Jawab Aaron.


Zaya menganggukkan kepalanya dan kembali diam. Mereka pun memulai sarapan pagi tanpa mengeluarkan suara.


Setelah sarapan, Aaron benar-benar mengantar Zaya seperti yang dia diucapkan sebelumnya. Dia menyetir mobilnya sendiri tanpa sopir pribadi. Dia juga menyuruh Dean untuk mengantarkan mobil Zaya dan pergi kekantor dengan menggunakan taksi.


Sepertinya Aaron sengaja ingin berduaan dengan Zaya di dalam mobil. Zaya yang menyadari hal itu pun lagi-lagi hanya bisa pasrah. Mau tidak mau ia menurut saja saat Aaron menyuruhnya masuk kedalam mobil.


"Mau di antar ke rumah atau ke kafe?" Tanya Aaron sambil memasangkan sabuk pengaman Zaya.


Zaya hanya menahan nafas menerima perlakuan tak biasa ini. Aroma parfum Aaron yang tertangkap indra penciumannya benar-benar melemahkan imannya. Lelaki ini perlahan membuatnya goyah.


"Ke kafe saja." Jawab Zaya. Ia mengalihkan pandangannya kearah lain, tak ingin Aaron menyadari jika pipinya mulai merona.


Aaron pun melajukan mobilnya meninggalkan kediamamnya menuju kafe Zaya di pusat kota.


Sepanjang perjalanan mereka sama-sama terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Lalu tak berselang lama mereka sampai di depan Kafe milik Zaya.


Zaya agak tergagap saat mobil berhenti. Dan saat ia menyadari jika mereka telah sampai, buru-buru ia melepas sabuk pengamannya.


Tapi saat Zaya hendak membuka pintu mobil, Aaron tiba-tiba menahannya.


Tubuh Aaron condong kearah Zaya hingga jarak mereka menjadi sangat dekat.


"Kau belum menjawab pertanyaanku semalam." Ujar Aaron.


Zaya mengerutkan keningnya dengan penuh tanda tanya.


"Sekarang aku sudah tidak mabuk lagi, keadaanku sudah sangat baik. Jadi apa jawabanmu, Zaya? Bisakah kita memulai semuanya dari awal lagi?" Tanya Aaron. Tampaknya kali ini dia tidak akan membiarkan Zaya mengelak lagi seperti semalam.


Sedangkan Zaya hanya tertegun tanpa bisa menjawab. Ia tak menyangka Aaron akan membahasnya secepat ini. Zaya benar-benar tidak siap dengan pertanyaan itu sekarang.


"Masalah itu... akan aku pertimbangkan dulu." Jawab Zaya akhirnya. Ya. Zaya merasa itulah jawaban paling tepat yang bisa ia katakan saat ini.


"Mempertimbangkan..." Aaron bergumam pada dirinya sendiri. Kemudian lelaki itu mengangguk-anggukkan kepalanya seolah setuju dengan jawaban Zaya.


Zaya yang melihatnya merasa lega. Tapi sejurus kemudian ia kembali bingung saat Aaron justru semakin mendekatkan wajahnya.


"Apa aku boleh membantumu mempertimbangkannya?" Tanya Aaron setengah berbisik.


Zaya melebarkan matanya. Tiba-tiba saja dia merasakan tangan Aaron mengusap kepalanya lembut. Hal yang tak pernah lelaki itu lakukan sebelumnya.


"Sekarang pertimbangkanlah dengan baik. Aku menunggu jawabanmu."


Bersambung....


Aduh..., Aaron udah mulai gesrek ini😁


Kayaknya dia perlu dikasih pelajaran sekali lagi. Enak aja anak emak udah disia-siain mau diajak balikan gitu aja.


Hohoho... Tidak semudah itu, Ferguso!


Kamu mesti ngerasain juga apa yang Zaya rasain dulu.


Zaya mungkin udah maafin, tapi emaknya belum dan masih dendam ama kamu.😅


Jgn lupa like, komen dan vote y


Happy reading❤❤❤