
Aaron menatap Zaya dengan tatapan tak percaya. Telinganya bisa mendengarkan dengan jelas apa yang Zaya ucapkan tadi, tapi dia tidak yakin dengan apa yang ditangkap pendengarannya itu. Aaron takut jika saat ini dia sedang berhalusinasi.
"Apa yang kau katakan tadi, Sayang? Ulangi sekali lagi." Gumam Aaron sambil tetap menatap Zaya.
Zaya tersenyum.
"Aku hamil, Honey. Kita akan segera punya anak lagi." Ujar Zaya kemudian.
Aaron masih terus menatap Zaya. Tapi kali ini seulas senyuman terbit diwajah tampannya. Diraihnya Zaya untuk masuk kedalam pelukannya. Aaron memeluk Zaya sembari mengecup kening istrinya itu.
"Benarkah, Sayang? Kau hamil?" Gumamnya tak percaya.
"Iya. Maaf karena sekarang kamu yang harus merasakan ngidamnya." Ujar Zaya lagi.
Aaron mengurai pelukannya dan menatap Zaya dengan penuh tanda tanya.
"Apa maksudnya?" Tanya Aaron.
Tangan Zaya kembali terulur membelai wajah Aaron. Lelaki itu jelas terlihat bingung dengan apa yang diucapkan Zaya.
"Kondisimu sekarang disebabkan oleh kehamilanku. Dokter mengatakan jika kamu mengalami sindrom kehamilan simpatik. Jadi sekarang kamu yang merasakan mual muntah, bukannya aku." Zaya menjelaskan.
"Benarkah?" Aaron terlihat masih agak bingung.
"Iya, Honey. Itulah sebabnya hidungmu menjadi sangat sensitif. Apa yang kamu rasakan setiap pagi, itu disebut dengan morning sickness, biasanya dialami oleh ibu hamil di trimester pertama."
Aaron tampak tertegun.
"Jadi seperti ini yang kau rasakan dulu saat mengandung Albern?" Tanya Aaron kemudian.
Zaya mengangguk.
"Tapi sebenarnya, yang kamu alami masih terbilang normal. Saat hamil Albern dulu, aku mengalami semacam gangguan kehamilan yang gejalanya lebih parah dari mirnong sickness. Aku tidak hanya mengalami mual muntah dipagi hari, tapi sepanjang hari. Dari pagi hingga malam aku merasakan kepalaku selalu pusing, sampai-sampai aku jadi sering pingsan." Zaya kembali menjelaskan.
Aaron semakin tertegun. Kemudian diraihnya kembali Zaya kedalam pelukannya. Diciumnya pipi dan kening Zaya dengan penuh kasih sayang.
"Aku sungguh minta maaf, Sayang." Gumam Aaron lirih.
"Untuk apa?" Tanya Zaya.
"Karena telah membuatmu hamil dan merasakan itu semua."
Zaya menautkan kedua alisnya.
"Jadi kamu menyesal karena sudah membuatku hamil?" Tanyanya.
Aaron terkekeh saat melihat reaksi Zaya.
"Bukan seperti itu. Aku hanya tidak menyangka jika untuk memberikan suaminya keturunan, perempuan harus melewati penderitaan seperti ini. Beruntung sekarang aku yang merasakannya. Jadi aku bisa tahu bagaimana penderitaanmu saat mengandung Albern dulu. Aku sungguh menyesal karena sudah banyak membuatku kesusahan."
Zaya tersenyum dan balas memeluk Aaron.
"Bagi seorang perempuan, penderitaan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kebahagiaan yang dirasakan saat mengandung. Membayangkan ada makhluk lain yang sedang tumbuh didalam dirimu, rasanya sangat menakjubkan. Tidak sabar rasanya menantikan dia untuk segera lahir kedunia." Ujar Zaya sambil menyandarkan kepalanya didada Aaron.
Aaron membelai kepala Zaya dengan lembut sambil sesekali mengecup pucuk kepalanya.
"Terima kasih." Bisik Aaron.
"Aku benar-benar bersyukur Tuhan mengirimkanmu untuk menjadi ibu dari anak-anakku. Terima kasih sudah memberikanku kebahagiaan sebesar ini, Sayang." Aaron kembali mengecup pucuk kepala Zaya.
Zaya mengeratkan pelukannya.
"Jangan meninggalkanku setelah ini." Pinta Zaya tiba-tiba.
"Berjanjilah padaku, setelah anak kita ini lahir, kamu tidak akan mengabaikanku seperti setelah aku melahirkan Albern dulu."
Aaron tertegun. Tiba-tiba saja dia merasakan hatinya seperti tertimpa sebuah batu besar. Dia jadi teringat bagaimana perlakuannya dulu pada Zaya selepas Zaya melahirkan Albern. Aaron hanya memperhatikan Albern saja tanpa menghiraukan ibu dari anaknya itu. Sikapnya juga semakin lama semakin dingin, seakan Zaya adalah orang asing yang tak perlu disapa.
Aaron menghela nafasnya, berusaha mengurangi rasa sesak yang perlahan memenuhi rongga dadanya. Sungguh yang dia lakukan pada Zaya sangatlah kejam. Bagaimana bisa dia setega itu pada perempuan yang telah banyak menderita dan rela mempertaruhkan nyawa demi menghadirkan putranya kedunia.
"Maafkan aku, Sayang." Aaron mengeratkan pelukannya pada Zaya. Rasa penyesalan itu semakin besar saja bersarang dihatinya.
"Dulu aku benar-benar bodoh telah menyia-yiakan dan menyakitimu. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku berjanji. Mulai saat ini kau akan menjadi ratu dirumah kita. Aku tidak akan membiarkan kau merasa sedih lagi. Kami semua yang akan melayanimu dan memastikan kau merasa bahagia." Ujar Aaron sambil terus mencium pucuk kepala Zaya.
"Benarkah?" Zaya mendongak kearah Aaron.
Aaron tersenyum dan mengangguk. Dicubitnya ujung hidung Zaya yang mungil.
"Tentu saja, Ibu Ratu. Kami akan mengabdi padamu selamanya. Mulai saat ini kau yang berkuasa."
Zaya terkekeh.
"Tapi kekuasaan Ibu Ratu masih dibawah kekuasaan Ibu Suri." Ujarnya.
Aaron jadi ikut terkekeh mendengarnya.
"Benar juga. Tapi tidak usah khawatir. Sepertinya saat ini Ibu Suri sudah perpihak pada Ratu. Jika kekuatan mereka bersatu, bahkan kaisar sendiri pun jadi tidak berdaya."
"Kalau begitu, jangan macam-macam jika tidak ingin kedudukanmu dilengserkan. Kalau kamu sampai membuatku merasa tidak senang, mungkin kami akan mempertimbangkan kaisar baru." Ujar Zaya sambil masih tertawa.
Aaron melebarkan matanya.
"Sekarang kau sudah bisa mengancam suamimu rupanya." Aaron pura-pura marah. Dia bangkit dan merebahkan tubuh Zaya ditempat tidurnya.
"Kau minta dihukum, Sayang." Aaron hendak mendekatkan wajahnya ke wajah Zaya, tapi cepat-cepat Zaya menahan dada suaminya itu dengan kedua tangannya.
"Ini rumah sakit, Honey. Jagalah sikapmu, sekarang kamu adalah seorang pasien." Ujar Zaya mengingatkan.
Aaron melihat selang infus yang melekat ditangannya, lalu mendengus kesal.
'Selang infus sialan!' Umpatnya dalam hati.
___________________________________________
Menjelang sore, kondisi Aaron sudah semakin membaik. Tubuhnya sudah kembali segar dan tidak merasakan pusing ataupun mual lagi. Sebenarnya dokter menyarankan agar Aaron pulang keesokan harinya saja. Tapi Aaron bersikeras untuk pulang saat itu juga dan ingin beristirahat dirumah saja.
Zaya jadi curiga dengan keinginan Aaron. Ia merasa jika dia sedang menyimpan maksud lain dari rencana kepulangannya. Jangan-jangan lelaki itu ingin meneruskan aksinya yang tertunda tadi pagi.
Tapi tentu saja Zaya tidak bisa melakukan apa-apa selain menuruti keinginan sang suami.
Mereka pun pulang kerumah setelah menyelesaikan administrasi rumah sakit.
Sesampainya dirumah, Aaron langsung menyegarkan diri dikamar mandi, lalu berganti Zaya setelahnya. Aaron merebahkan dirinya ditempat tidur sembari menunggu Zaya siap untuk turun makan malam.
Tak lama kemudian, Zaya keluar dari kamar mandi dengan baju rumahannya. Lalu ia duduk dimeja rias dan mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari arah pintu kamar mereka.
"Masuk." Ujar Aaron masih dengan diposisinya semula.
Pintu kamar yang tidak terkunci itu pun terbuka. Tampak Albern masuk dan kembali menutupnya lagi.
"Sayang." Zaya melihat kearah Albern yang berjalan mendekati Aaron. Bocah itu lalu duduk dipinggiran tempat tidur, didekat Aaron berbaring. Buru-buru Aaron bangkit dari posisi berbaringnya.
"Hai, Pa." Sapa Albern.
"Hai, Jagoan." Jawab Aaron sambil mengusap kepala Albern.
"Apa Papa sudah tidak sakit lagi sekarang?" Tanya Albern.
Aaron tersenyum. Ternyata putranya ini sedang mengkhawatirkannya.
"Papa tidak sakit, Jagoan. Papa baik-baik saja." Jawab Aaron menenangkan putranya itu.
"Tapi tadi pagi Al lihat Papa muntah-muntah dan dibawa ke rumah sakit." Ujar Albern lagi.
Aaron kembali tersenyum.
"Papa muntah-muntah bukan karena sakit. Tapi karena Al akan segera punya adik." Ujar Aaron menjelaskan.
Albern mengerutkan keningnya dan terlihat bingung.
Zaya yang telah selesai mengeringkan rambutnya ikut mendekat pada ayah dan anak itu. Ia pun duduk di samping Albern.
"Benar, Sayang. Apa yang dialami Papa, itu karena sekarang didalam perut Mama sudah ada adiknya Al." Zaya juga membantu menjelaskan.
"Didalam perut Mama ada adiknya Al?" Tanya Albern masih dengan raut bingung.
Zaya mengangguk mengiyakan.
"Sebentar lagi adik Al akan lahir, dan Al akan menjadi Kakak."
Albern semakin mengerutkan keningnya. Ekspresi wajahnya berubah menjadi tidak suka. Bocah itu menatap Mama dan Papanya bergantian dengan tatapan yang tajam. Berganti Aaron dan Zaya yang menjadi bingung dibuatnya.
"Kenapa diperut Mama bisa ada adiknya Al?" Tanya Albern lantang. Ia pun bangkit dari duduknya.
"Seharusnya Mama dan Papa bertanya dulu pada Al, apakah Al mau adik atau tidak. Kenapa langsung dimasukkan keperut Mama tanpa seizin Al?" Bocah itu marah.
Zaya dan Aaron tertegun dan saling pandang. Mereka tidak menyangka akan mendapatkan reaksi seperti itu saat memberitahukan kehamilan Zaya pada putra mereka itu.
"Mama dan Papa jahat!" Albern berlari keluar kamar dan menutup pintu dengan kasar, meninggalkan Aaron dan Zaya yang masih sama-sama terkejut.
Aaron terperangah, sebelum akhirnya ia menoleh kearah Zaya yang tak kalah syok dengan reaksi Albern.
"Kenapa aku harus meminta izin seseorang untuk menghamili istriku sendiri?"
Bersambung...
Maaf telat updatenya, kemarin emak seharian sibuk sampe mlm, jd baru sempet ngetik sekarang.
Jgn lupa like, komen dan votenya ya
Happy reading❤❤❤