Since You Married Me

Since You Married Me
Terlalu Pencemburu



"Honey." Zaya bergumam tanpa sadar.


Aaron melangkah mendekati Zaya dengan ekspresi yang sulit di jelaskan.


Tadi sesampainya dari luar kota, Aaron tak langsung pulang kerumah, melainkan langsung menyusul Zaya yang diketahuinya memeriksakan kandungannya di rumah sakit yang biasa mereka datangi.


Tapi saat di parkiran, Aaron malah bertemu dengan Ginna seorang diri. Ginna mengatakan jika Zaya sedang menyapa temannya terlebih dahulu, hingga Ginna memilih untuk menunggu di mobil.


Awalnya Aaron mengira teman Zaya itu adalah Kara. Tapi siapa sangka jika teman yang di maksud Ginna adalah Evan, saingannya dulu.


Aaron mendekati Zaya yang tampak terlihat agak salah tingkah. Mungkinkah ia merasa tidak nyaman karena Aaron tiba-tiba muncul saat ia sedang mengobrol bersama Evan. Apakah saat ini mereka sedang bernostalgia?


Sebisa mungkin Aaron menepis segala pikiran tak masuk akal yang muncul di benaknya. Istrinya itu tengah hamil besar. Tidak mungkin ia berpikir untuk berhubungan dengan lelaki lain dengan kondisinya saat ini.


"Mama bilang kau sedang menyapa seorang teman." Ujar Aaron. Entah kenapa Zaya merasa jika nada bicara Aaron terdengar tidak senang.


"I-iya. Aku bertemu dengan Kak Evan." Jawab Zaya dengan agak terbata. Mengingat dulu Evan dan Aaron saling tidak menyukai, ia takut Aaron akan marah karena melihatnya berbicara berdua saja dengan mantan saingan Aaron itu.


"Saya ada sedikit urusan di rumah sakit ini, Tuan Aaron. Tidak sengaja saat akan pulang, saya bertemu dengan Dee yang juga baru keluar dari rumah sakit. Kami hanya saling bertanya kabar." Evan berusaha untuk mencairkan suasana.


Melihat dari ekspresi Zaya, Evan tahu jika Zaya takut suaminya salah paham. Dia pun tak punya pilihan selain membantu Zaya menjelaskan agar Aaron tidak marah.


Sepertinya Zaya sangat tidak ingin membuat marah suaminya itu. Sudah terbayang seberapa besar cinta Zaya pada Aaron. Evan benar-benar merasa iri melihatnya.


Aaron merengkuh pinggang Zaya dan tersenyum kearah Evan.


"Senang bertemu dengan Anda, Dokter Evan. Istriku ini sedang hamil besar dan tak bisa berdiri terlalu lama. Jadi maaf, kami harus segera pulang." Ujar Aaron sembari membimbing Zaya untuk mengikutinya pergi dari sana.


Zaya pun sempat menoleh kearah Evan.


"Aku pulang dulu Kak Evan. Semoga kita bertemu lagi di lain waktu." Ujar Zaya sebelum benar-benar berlalu.


Evan mengangguk dan tersenyum pada Zaya. Matanya terus melihat kearah perempuan yang sangat di cintainya itu sampai menghilang dari pandangannya.


Semantara itu, Zaya yang telah berada di dalam mobil Aaron tampak merasa serba salah. Ia tidak berani memulai pembicaraan karena melihat ekspresi wajah Aaron yang sangat tidak bagus.


Zaya bertanya-tanya. Apakah Aaron marah karena melihatnya berbicara dengan Evan tadi?


Masih dengan nada datar, Aaron memerintahkan sopirnya untuk melaju. Mobil yang mereka tumpangi pun bergerak meninggalkan area rumah sakit.


"Apa Mama sudah pulang lebih dulu?" Zaya memberanikan diri bertanya pada Aaron.


"Iya." Jawab Aaron singkat.


Setelah bertemu dengan Aaron di parkiran tadi, Ginna memang pulang terlebih dahulu karena Aaron telah menyusul Zaya. Ia juga tidak berpikiran negatif pada Evan. Menurutnya Evan dan Zaya memang terlihat hanya berteman, sehingga ia tak keberatan jika Zaya menyapa Evan. Lagipula Zaya juga sedang hamil besar, jadi tidak mungkin melakukan hal yang aneh-aneh.


Zaya memberanikan diri melihat kearah Aaron. Suaminya itu terlihat masih mengenakan pakaian kerjanya. Sepertinya sekembalinya dari luar kota, Aaron langsung menyusulnya kerumah sakit tanpa pulang dulu kerumah. Dia pasti sangat lelah. Dan saat dirumah sakit tadi dia justru mendapati Zaya sedang bersama Evan. Zaya tak akan menyalahkan Aaron jika saat ini suaminya itu merasa kesal.


"Honey." Zaya menyentuh punggung tangan Aaron. Aaron hanya diam dan tak merespon.


"Apa kamu marah?" Tanya Zaya ragu.


Aaron menghela nafasnya.


"Menurutmu?" Tanya Aaron balik. Masih dengan wajah datarnya.


"Kamu kelihatan kesal." Gumam Zaya.


"Jika kau sudah tahu kenapa bertanya lagi." Aaron masih menjawab tanpa menoleh kearah Zaya.


"Maafkan aku. Seharusnya aku langsung ikut Mama saja tadi, tidak perlu menyapa Kak Evan dulu. Aku hanya merasa tidak enak jika tidak menyapanya." Ujar Zaya pelan.


Aaron menoleh kearah Zaya.


"Bukankah kau senang bertemu dengannya? Kau bahkan mengatakan semoga bisa bertemu lagi dengannya di lain waktu. Kira-kira kapan itu? Apa saat aku sedang tidak ada?" Tanya Aaron dengan tajam, setajam tatapan matanya pada Zaya.


"Honey, itu kan cuma kalimat basa-basi. Kenapa kamu menganggapnya serius? Aku juga bertemu dengan dia tadi bukannya sengaja. Mana aku tahu dia punya urusan di rumah sakit itu juga."


"Tidak sengaja? Tapi kau senang, kan?" Tanya Aaron lagi.


Zaya agak terperangah mendengar pertanyaan Aaron.


"Sebenarnya apa maksud pertanyaanmu itu? Apa kamu sedang menuduhku main hati dengan lelaki lain?" Tanya Zaya.


Aaron tak menjawab dan hanya menghela nafasnya. Sebenarnya dia juga tahu jika Zaya dan Evan hanya bertemu secara tidak sengaja. Tapi entah kenapa, sekarang pikirannya sering tidak dapat terkontrol jika melihat Zaya berinteraksi dengan lelaki lain, meskipun dia sangat tahu jika Zaya adalah tipe perempuan setia.


Aaron tak bisa menggunakan akal sehatnya jika itu menyangkut Zaya. Dia telah nenjelma menjadi sosok suami yang terlalu pencemburu.


"Harusnya kamu tahu kalau aku tidak mungkin berpaling darimu, Honey. Apalagi dalam kondisiku yang sedang hamil besar seperti sekarang. Saat kita dulu belum menikah saja, aku menolak Kak Evan, apalagi sekarang. Lagipula, siapa juga yang mau dengan perempuan hamil sepertiku." Ujar Zaya membuyarkan lamunam Aaron.


Aaron menoleh kearah Zaya. Tampak Zaya tersenyum kearahnya.


"Maksudku adalah, siapa juga yang mau dengan perempuan hamil yang suaminya sangat pencemburu sepertimu." Ralat Zaya sembari mengenggam tangan Aaron.


Zaya memandang Aaron yang juga sedang melihat kearahnya. Pandangan mereka terkunci untuk beberapa saat. Senyum Zaya kembali mengembang, membuat hati Aaron meleleh dan tak bisa marah lagi.


"Mulai sekarang jangan menyapa orang yang jenis kelaminnya laki-laki, selain aku, Albern dan Papa." Ujar Aaron dengan nada tidak ingin dibantah.


Zaya membulatkan matanya.


"Apa berbicara dengan Pak Adam juga tidak boleh?" Tanya Zaya.


Pak Adam yang dimaksud Zaya adalah sopir pribadi Zaya yang biasa mengantarnya saat ia berpergian.


"Aku akan cari sopir baru yang jenis kelaminnya perempuan." Jawab Aaron.


Zaya menautkan alisnya.


"Lalu Asisten Dean dan Sekertaris Jeff?" Tanyanya.


"Anggap saja mereka udara. Tidak perlu melihat kearah mereka, apalagi menyapa."


"Hah?" Zaya terperangah.


"Tukang kebun di rumah kita? Masa kamu mau mengganti dengan yang berjenis kelamin perempuan juga?"


"Tentu saja. Mereka akan aku beri pekerjaan lain, tapi yang bekerja dirumah kita, akan aku ganti dengan perempuan semua. Tidak boleh ada lelaki yang melihatmu terlalu lama. Nanti mereka bisa jatuh cinta."


Zaya semakin terperangah saat mendengar kalimat terakhir Aaron.


'Dasar gila.'


Bersambung...


Tetep like, komen dan vote


Happy reading❤❤❤