
Sudah tiga hari ini Aaron selalu merasa tidak sehat di pagi hari. Perutnya mual saat mencium aroma roti panggang yang biasanya menjadi menjadi menu wajib sarapannya.
Alhasil, Zaya meminta Bu Asma untuk tidak menyajikan roti panggang selama Aaron masih tidak sehat. Ia juga meminta dokter keluarga untuk memeriksa keadaan Aaron, dan anehnya lambung Aaron serta anggota tubuhnya yang lain tidak ada masalah. Semuanya baik-baik saja. Dokter pun mendiagnosa keadaan Aaron ini terjadi karena saat ini dia sedang stres.
Meski tidak terlalu menerima diagnosa dokter yang memeriksanya, Aaron tidak menampik jika saat ini ada beberapa hal yang sedang menguras pikirannya. Banyak target perusahaan yang harus dia capai dalam waktu dekat ini. Hal itu membuat Aaron harus bekerja keras siang malam. Dan tentu saja itu cukup membuatnya stres akhir-akhir ini, meskipun saat pulang kerumah dia merasa sudah lebih baik.
Ya. Zaya dan Albern sudah seperti mood booster bagi Aaron. Kapanpun Aaron merasa dalam suasana hati yang kurang baik, anak dan istrinya itu selalu menjadi obat paling mujarab untuk menghilangkan segala keluhan yang Aaron rasakan.
Lalu pagi ini, seperti pagi-pagi sebelumnya, Aaron harus kembali merasakan siksaan perutnya yang bergejolak hebat, seakan meminta izin untuk mengeluarkan apapun yang ada didalamnya.
"Honey..." Zaya tampak semakin khawatir melihat wajah Aaron yang pias karena menahan mual.
"Kita kerumah sakit saja, ya?" Bujuk Zaya.
Aaron menghela nafasnya.
"Tidak perlu, Sayang. Dokter hanya akan mengatakan jika aku sedang stres. Lagipula aku ada meeting jam sepuluh nanti, jadi aku masih harus ke kantor setelah ini."
Zaya menatap Aaron iba. Rasanya tak tega melihat suaminya yang biasanya sangat gagah kini tampak tak berdaya. Tapi Zaya tak tahu harus berbuat apa untuk membantu. Yang bisa dilakukannya hanyalah menemani Aaron saat ini.
Opresional kafenya sendiri sudah beberapa hari ini ia pantau dari rumah. Dan untuk hal mendesak disana, sementara ini Zaya menyerahkan tanggung jawabnya pada Kara. Sahabatnya itu kini sudah bisa diandalkan, hingga Zaya tak terlalu khawatir saat ada dirumah.
"Honey, perutmu belum diisi sama sekali. Makanlah sedikit saja. Kalau tidak ada yang masuk kedalam perutmu, tubuhmu tidak punya nutrisi. Nanti keadaanmu malah jadi semakin parah." Zaya membujuk Aaron agar lelaki itu mau makan.
Aaron kembali menghela nafasnya.
"Membayangkan makanan saja perutku rasanya seperti sedang diaduk-aduk, bagaimana aku mau makan." Gumam Aaron.
"Kalau begitu aku buatkan teh jahe supaya perutmu lebih enak."
Aaron kembali menggeleng.
Kini berganti Zaya yang menghela nafas.
"Honey, sebenarnya kamu stres karena apa, sih, sampai bisa jadi seperti ini?" Tanya Zaya sedih.
Aaron tampak berpikir.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Rasanya tidak ada yang membuatku benar-benar tertekan akhir-akhir ini. Meski memang ada beberapa masalah di perusahaan, tapi semuanya masih bisa aku atasi. Jadi aku tidak yakin apa yang membuatku begitu stres."
Zaya tampak bingung. Jika Aaron sendiri mengatakan tak ada yang membuatnya stres, lalu sekarang dia ini kenapa?
Menjelang siang Aaron telah merasa baikan dan tidak merasakan mual lagi. Dia segera pergi kekantor karena ada meeting yang harus dihadirinya.
Zaya pun bisa bernafas lega karena melihat suaminya itu sudah baik-baik saja. Ia berharap besok Aaron sudah sehat dan tidak mengalami mual-mual kembali.
Tapi kemudian, saat waktunya makan siang Aaron menghubungi Zaya agar datang ke kantornya dengan membawa kue coklat.
Meski bingung, Zaya akhirnya datang dengan membawa apa yang Aaron pesan tadi. Ia juga membawakan Aaron makan siang karena ingat Aaron belum makan apapun hari ini.
Zaya masuk keruangan Aaron dan melihat pemandangan yang agak tak biasa.
Asisten Dean tengah berdiri dengan wajah menunduk di sudut ruangan. Tampak pula Aaron yang sedang menatapnya dengan tatapan mengintimidasi. Tampaknya Aaron baru saja memarahi bawahannya ini, entah karena masalah apa.
"Honey." Zaya memanggil Aaron yang terlihat tak menyadari kehadirannya.
Aaron menoleh.
"Kau sudah datang, Sayang. Syukurlah..." Aaron tiba-tiba langsung berhambur memeluk Zaya seperti seorang anak yang senang saat melihat ibunya datang.
Zaya membeku karena terkejut.
"Apa kau mrmbawa kue coklat pesananku?" Tanya Aaron sambil mengurai pelukannya.
Zaya yang masih agak terkejut dengan tingkah Aaron hanya bisa mengangguk mengiyakan. Ia pun duduk di sofa ruang kerja Aaron dan meletakkan makanan yang ia bawa tadi di atas meja dihadapannya.
Aaron mendekat dan ikut duduk didekat Zaya.
"Honey, Asisten Dean kenapa?" Tanya Zaya.
"Aku sedang menghukumnya." Jawab Aaron enteng.
Mata Zaya agak membulat mendengar jawaban Aaron. Ia menoleh kearah Dean berdiri dipojok ruangan dengan wajah tertunduk.
Dean mengangkat wajahnya dan balik melihat kearah Zaya dengan ekspresi memelas, seakan ia tengah meminta untuk diselamatkan.
"Memang apa kesalahannya?" Tanya Zaya penasaran.
"Dia bekerja dengan memakai parfum yang sangat menyengat, membuat perutku mual lagi saat menciumnya. Bahkan dari sini saja aku bisa mencium aromanya." Gerutu Aaron sambil membuka kotak makan yang Zaya bawa.
"Apa ini? Kenapa baunya aneh sekali?" Tanya Aaron sambil menutup kembali kotak makan siang yang dibawa Zaya.
Zaya menoleh dan melihat kearah Aaron dengan heran.
"Itu masakan kesukaanmu, Honey." Jawab Zaya.
Aaron menggeser kotak makan siang itu.
"Tolong singkirkan jauh-jauh. Aku tidak mau mencium aromanya" Pintanya. Mau tidak mau Zaya pun menuruti yang dikatakan Aaron. Disingkirkannya kotak makanan itu.
"Mana kue coklatku?" Tanya Aaron lagi.
Buru-buru Zaya membuka kotak makan yang satunya, dan tampaklah kue coklat didalamnya.
Mata Aaron langsung berbinar melihatnya, seperti anak kecil yang melihat makanan kesukaannya. Tapi tunggu dulu, bukankah Aaron tidak suka makanan manis?
"Sayang, suapi aku."
Belum hilang keterkejutan Zaya, Ia kembali harus terperangah karena sikap Aaron yang tampak manja. Mungkinkah sosok dihadapannya ini sebenarnya adalah alien yang sedang menyamar menjadi suaminya?
"Tapi, Honey...Asisten Dean masih ada disini."
"Dia sedang dihukum. Abaikan saja dia." Ujar Aaron dengan nada tidak ingin dibantah. Zaya akhirnya hanya melihat kearah Dean dengan tatapan tak berdaya. Semoga saja Dean bisa menyelamatkan diri setelah ini pikir Zaya.
Zaya akhirnya menyuapi Aaron kue coklat yang tadi dibawanya. Lelaki itu makan dengan sangat lahap seolah itu adalah makanan kesukaannya. Dan ajaibnya, selain tidak merasa mual, suasana hati Aaron juga langsung membaik setelah makan kue itu.
Dean selamat dan bisa keluar untuk makan siang juga karena kue coklat itu. Zaya pun bisa kembali kerumah dengan tenang karena Aaron sudah terlihat baik-baik saja.
Tapi rupanya drama berlanjut hingga malam hari. Aaron kembali berkelakuan aneh saat mereka akan tidur.
"Sayang, buka pakaianmu." Pinta Aaron pada Zaya.
Zaya baru saja ingin tidur kembali menoleh kearah Aaron.
"Kamu sedang tidak sehat, Honey. Jangan melakukan itu dulu." Ujar Zaya mengingatkan.
"Buka pakaianmu." Ulang Aaron dengan nada tak ingin dibantah.
Zaya menghela nafasnya. Ia pun hanya bisa mengalah. Ditanggalkannya gaun tidur yang ia kenakan.
"Lepaskan semuanya, Sayang." Ujar Aaron lagi.
Zaya kembali menghela nafasnya dan membuka penutup terakhir tubuhnya. Kini tubuhnya benar-benar polos dihadapan Aaron. Entah permainan apa yang akan suaminya itu lakukan kali ini.
Aaron tersenyum puas melihat pemandangan indah dihadapannya. Lalu dia merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
"Berbaringlah, Sayang." Pinta Aaron lagi. Zaya pun kembali menuruti kemauan Aaron. Direbahkannya tubuh polosnya itu disamping sang suami.
Aaron memeluk Zaya dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Zaya yang tak mengenakan sehelai benang pun.
"Sekarang tidurlah. Sudah malam." Gumam Aaron.
"Apa?" Zaya mendelik.
"Kamu menyuruhku membuka pakaian hanya untuk begini?" Tanya Zaya agak tak terima.
"Memangnya kalau sudah buka pakaian harus bagaimana?" Aaron malah balik bertanya tanpa beban.
Zaya mendengus kesal sambil merapatkan selimutnya. Dipejamkan matanya dengan paksa agar ia bisa lekas tidur dan tak perlu menghadapi kelakuan aneh Aaron lebih banyak lagi.
Lelaki itu benar-benar....
Bagaimana bisa dia meminta Zaya menanggalkan semua pakaiannya hanya untuk memintanya segera tidur.
'Apa-apaan?'
Bersambung...
Aaron minta digetok palanya pake palu kayaknya😁
Sabar ya Zaya...
Jangan lupa like, komen dan Vote
Happy reading❤❤❤